
"Kami telat pulang, Sayang. Ban mobil bocor, sekarang ada di bengkel. Bentar lagi kami lanjutkan perjalanan pulang setelah diganti bannya." Mendengar penjelasan Tante Iren, aku bernapas lega.
"Wulan tunggu, Tan."
"Mam, kita masuk dulu! Banyak orang di sini." Suara itu milik Om Purnomo. Suaranya terdengar.
"Tante, kalau gitu Wulan udahi dulu ya." Setelah mendapat respon, aku menutup panggilan.
"Mereka baik-baik saja, kan?" tanya Ibu.
"Iya Bu, mereka ada di bengkel karena ban mobil bocor. Makanya telat pulang." Aku duduk bersandar dengan nyaman, tak seperti tadi yang begitu tegang dan cemas.
"Kamu harus rileks, Nak! Lusa hari akad dan resepsi. Buang pikiran negatif dan selalu berdoa meminta perlindungan." Ibu mengelus rambutku berkali-kali.
"Iya, Bu. Perasaan Wulan tadi gak enak, makanya cemas dengan keadaan mereka." Aku memeluk ibu dengan erat.
Selang beberapa lama kemudian, ketiga orang yang aku khawatirkan tadi, pulang dengan selamat. Tapi, yang membuatku bertanya-tanya, wajah mereka kecewa dan marah.
"Polisi sudah gak mau mengusut ya?" tebakku setelah mereka duduk di ruang keluarga bersama kami.
"Mereka mau mengusutnya, tapi, sikap mereka yang seolah-olah mengacuhkan rekaman itu membuat kami kecewa." Damar terlihat mengendalikan emosinya.
"Kita tidak bisa berbuat banyak. Anak konglomerat memang beda, kita bukan tandingan mereka." Tante Iren mengembuskan napasnya.
"Sudahlah, kita ikhlaskan saja! Usaha kita sudah maksimal, kita serahkan ini pada keadilan Tuhan. Biar Allah saja yang menghukum Laura dan Dimas dengan cara-Nya." Om Purnomo mulai bersuara.
"Iya, mau tak mau kita pasrah. Asalkan kamu baik-baik saja, Nduk." Ibu meyakinkan aku dengan keputusan bersama.
"Sekarang kita beristirahat sejenak. Hari sudah siang, Bibi pasti memasakkan makanan untuk kita." Tante Iren beranjak dari tempat duduk. Beliau pasti pergi ke dapur.
"Om harus kembali ke kantor setelah makan siang. Banyak dokumen yang harus ditandatangani." Om Purnomo menyusul istrinya.
"Ibu panggil bapak dulu. Biar dia gak di kamar terus." Beliau meninggalkan kami berdua. Ya, kini, hanya ada aku dan Damar.
"Kamu tidak perlu takut! Mereka berdua tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi." Dia berjanji padaku.
"Memangnya setelah kita menikah, kita tinggal tinggal di mana, Mas?" tanyaku. Tidak mungkin aku kembali ke apartemen di mana ada Dimas di sana.
"Kita tinggal di rumah lama sebelum aku menyuruh orang untuk membersihkan apartemenku. Tapi, unit apartemenku masih bangunan lama, tidak sebagus unit apartemen yang kamu huni." Tangannya terulur meraih lengan ini.
"Tak apa, Mas. Asalkan udah punya tempat tinggal, itu udah cukup. Apalagi ada kamu di sampingku." Entah kenapa aku tidak mau berpisah dengannya walau pun hanya sebentar.
"Kalian, ayo makan! Siang-siang malah pelukan." Tante Iren membuatku malu. Sontak membuat kami melepaskan pelukan.
__ADS_1
Kami berdua berjalan mengikuti nyonya rumah ini. Makan siang bersama setelah hidangan tersaji di atas meja makan.
***
Dua hari berlalu dengan cepat, kemarin, aku melakukan perawatan di salon kecantikan. Kalau bukan calon mama mertua yang menyuruhnya, siapa lagi.
Hari pernikahan kami tiba, dua keluarga besar berkumpul di satu tempat. Akad nikah akan dilaksanakan siang ini, sekarang baru pukul sepuluh siang. Aku mematut diri di cermin, rasanya tak sama dengan acara pertunangan beberapa bulan silam. Kali ini, jantungku berdetak lebih cepat.
"Wah, kamu cantik sekali Sayang. Hijabnya membuat kamu lebih anggun." Tante Iren menatapku tanpa kedip.
"MUA-nya nih yang keren, Tante." Aku berusaha tersenyum tipis.
"'Ck, jangan panggil Tante gitu! Panggil Mami, gimana sih, udah jadi mantu masih ajah manggil Tante." Calon mertuaku merajuk.
"Maaf Tan, maksudnya Mami."
"Kita kembali ke aula, sudah hampir jam sebelas. Pak penghulu sudah datang." Beliau menjelaskan.
"Ibu di mana, Tan, eh Mam?" Aku masih belum terbiasa.
"Ibumu menangis sesenggukan di aula. Ini pasti ulah kamu." Aku dibimbing oleh beliau. Dua orang di belakang mengikuti langkah kami.
"Memangnya ibu kenapa, Mam? Bukankah dia yang menginginkan aku menikah dengan Damar?" Entahlah, aku masih belum mengerti.
"Kenapa Mami gak ngasih tahu Wulan? Padahal Wulan ingin melihat ibu dan bapak berbaikan dengan kakek dan nenek." Aku bahagia sekaligus sedih.
"Sengaja biar kamu gak terharu, nanti dandananmu luntur kalau nangis sebelum akad." Mami menoel daguku.
"Sudah, gak usah dipikirkan! Akad nikah sepuluh menit lagi akan dilaksanakan. Dari semalam Damar belajar mengulang kata-katanya agar tidak salah. Semoga dia tidak grogi dan lancar mengucapkan ijab kabul." Mami merapatkan tubuhnya padaku.
"Kak Wulan, duh cantik banget sih. Oh iya, Mas Adit datang lho, Kakak ngundang dia ya?" Selena menghampiri kami.
"Adit? Enggak, kakak gak ngundang dia. Mungkin Mas Damar yang ngundang." Aku heran melihatnya yang heboh seperti ini menanyakan Adit.
"Kak, mas Adit orangnya gimana?" tanyanya yang berjalan di samping kiri.
"Sel, kakakmu mau menikah malah ditanya macem-macem. Buka pintunya! Kakakmu mau masuk nih." Selena diusir oleh ibunya sendiri.
Selena menghentakkan kakinya, tampilannya tak kalah cantik. Walau dia tidak berhijab, kebaya modern yang dia kenakan begitu elegan. Dua keluarga menggunakan seragam yang sama. Warnanya senada.
"Wulan." Nenekku menghampiri, beliau memelukku, tubuh membungkuk agar ketinggian kami sama.
"Mbah, kita masuk dulu ya!" Tante Iren berusaha menenangkan kami.
__ADS_1
"Maaf, aku gak sangka kalau dia sudah besar dan sekarang malah menikah. Ibumu memang keterlaluan." Nenekku kembali melanjutkan langkahnya ditemani pamanku.
Aku melangkah masuk perlahan, semua pasang mata tertuju padaku. Pakaian akad yang dikenakan membuat mereka berdecak kagum. Aku saja tadi waktu melihat cermin terkejut dengan wajah sendiri. MUA yang mendandaniku memang tidak bisa diragukan lagi kualitasnya.
Damar sudah duduk di samping om Purnomo. Seberang meja mungil itu ada bapak dan seorang pria paru baya lainnya yang tidak dikenal. Mungkin dialah orang yang menikahkan kami. Benar saja, setelah aku masuk, acara pun dimulai. Satu persatu acara berlangsung.
Tibalah saatnya Damar mengucapkan janji suci. Aku duduk tepat di sebelahnya, kami berpandangan sejenak sebelum prosesi ijab kabul. Tak ada rasa gugup dalam raut wajahnya. Senyumnya membuat jantungku semakin berdenyut kencang.
Suara pak penghulu begitu merdu didengar, setelah Damar mengucapkan ijab kabul, dan diiringi kata 'sah' dari dua saksi, pak penghulu memulai doa bersama, mendoakan pernikahan kami.
Satu jam kemudian, acara ijab kabul selesai. Dia tidak mau jauh dariku, sejak tadi dia mengikutiku kemana pun aku pergi. Aku jadi risih karena godaan keluarga kami.
"Kalian berdua istirahat saja dulu! Kami sudah pesan kamarnya. Malam nanti resepsi pernikahan kalian, kalian berdua harus menjaga kondisi tubuh biar fit." Mami menyuruh kami pergi.
"Tapi, Mam, Wulan ingin melihat ballroom lebih dulu. Ingin tahu tempatnya seperti apa." Aku penasaran dengan acara nanti malam. Mereka belum mengajakku ke tempat acara di hotel ini. Tadi waktu akad nikah, acara diselenggarakan di ruang meeting yang disulap sedemikian rupa.
"Nanti malam saja! Kalian berdua sana pergi! Istirahat dulu!" Beliau masih saja mengusirku.
"Damar, ingat! Jangan apa-apakan Wulan! Kalian berdua harus benar-benar beristirahat!" Mami berkacak pinggang, memperingatkan anaknya.
"Alah Mam, udah halal masih saja dilarang. Apa kata nanti, kalau dia gak godain Damar, Damar mah bisa santai." Dia tersenyum licik sambil menatapku. Aku menyenggol pinggangnya.
"Sudah, sudah! Sana pergi ke kamar kalian!" Jam enam, kalian harus turun ke ruang ganti yang tadi. Mengerti!" Beliau mendorong kami.
Kami berdua masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh. Damar memeluk pinggangku ketika ke luar dari lift. Kami berjalan beriringan menuju kamar hotel. Aku begitu mengantuk, setelah membersihkan make-up dan berganti pakaian. Aku merebahkan tubuh di ranjang yang ditaburi kelopak mawar merah. Wanginya membuatku terlena. Kamar ini dihiasi bulu-bulu angsa di lantai. Ada confetti yang tersebar dan lilin aromaterapi yang wanginya begitu semerbak.
"Kok malah tidur, emangnya gak mau ehem-ehem dulu?" Dia menggodaku. Suamiku itu begitu bersemangat.
"Mas, inget ucapan Mami? Malam ini resepsi pernikahan kita. Kita istirahat dulu ya." Jujur saja, walau ini bukan pertama kalinya berduaan dengan Damar, aku merasakan debaran jantung yang tidak biasa. Apalagi nanti aku harus diunboxing olehnya. Aku semakin cemas karena harus melayani hasratnya. Takut, cemas, ragu, penasaran, semuanya bercampur menjadi satu.
Kami pun beristirahat, dia mengecup keningku sebelum berbaring di sebelahku. Kami berdua berbaring saling berpelukan. Aku merasakan embusan napas Damar, ternyata dia lebih cepat tertidur daripada apa yang dibayangkan. Pasti dia letih harus urus sana-sini sebelum pernikahan berlangsung. Aku tersenyum melihat wajahnya yang terlelap, dengkuran halus mulai terdengar. Aku pun menyusulnya memejamkan mata.
Malamnya, pernikahan kami akhirnya berlangsung meriah. Banyak sekali tamu undangan yang hadir, tak lupa Damar mengundang sekaligus membayar beberapa awak media agar Laura dan Dimas mengetahui pesta pernikahan ini. Kami mendapatkan banyak doa baik dari para tamu yang hadir. Aku tidak menyangka dari pertemuan pertama kami, sampai saling membenci, sekarang kami sudah sah sebagai pasangan suami-istri.
"Wulan," panggil suamiku di daun telinga.
"Wulan, kamu memang untuk Damar. Kamu benar-benar menjadi orang yang aku cintai." Dia meraih tanganku, mengecupnya kemudian beralih mengecup keningku. Aku tersenyum lebar, rasanya aku dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli padaku.
Aku kini memiliki keluarga besar, kakek nenekku bahkan menyaksikan sendiri bagaimana resepsi pernikahan cucu mereka berlangsung. Ibu dan bapak pun sudah berbaikan dengan orang tua masing-masing, dan mertuanya. Aku jadi penasaran kehidupan setelah pernikahan nanti. Semoga aku bisa mendampinginya dalam keadaan apa pun.
"Damar memang tercipta untukku." Senyum ini terkembang sempurna.
'TAMAT'
__ADS_1