Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Dibalik Penculikan


__ADS_3

"Jangan-jangan apa?" timpal Selena yang tertarik.


"Wulan mengenal mereka, makanya mereka menutup wajahnya dengan masker dan kacamata." Damar yang menjawabnya.


"Betul, itu yang Papi pikirkan tadi." Beliau menatap Damar.


Aku tahu siapa pria itu, aku saja tidak menyangka dia bisa berbuat sekejam itu padaku. Semoga saja pihak kepolisian bisa meringkus mereka berdua. Semoga saja mereka berdua tidak bisa membeli hukum dengan uang yang mereka punya.


"Sayang, kamu kenapa melamun?" Damar menghampiriku di ranjang.


"Aku laper, belum makan, hehe." Cengirku tanpa rasa malu. Toh mereka juga akan menjadi keluargaku, buat apa aku malu untuk urusan perut? Sengaja aku berbohong agar mereka tidak bertanya hal yang kualami. Jujur saja, aku tidak mau mengingatnya lagi. Rasa ketakutan masih terasa walau sejak tadi berkurang, tetap saja masih membekas.


"Astaga, aku lupa kalau kamu belum makan sejak tadi." Dia mengelus kepala ini dengan penuh kasih sayang.


"Bu Ningsih udah pergi ambil makanan, Mas." Selena menghentikan langkah abangnya.


Setibanya Ibu di kamar ini, beliau menyuapiku dengan pelan.


"Makan yang banyak, setelah ini tidur lagi. Besok pagi kita periksa ke dokter, Ibu takut ada apa-apa yang terjadi padamu." Rasa khawatir ibu terlalu berlebihan.


"Tidak usah, Bu! Biar Wulan istirahat ajah," tolakku.


"Bu, biarkan Wulan tinggal di sini sebelum H-1 pernikahan. Damar akan menjaganya." Mendengar ucapan Damar yang tiba-tiba, membuatku semakin yakin kalau dia benar-benar tulus mencintaiku.


Om, Tante dan Selena pamit pada kami.


"Kita bahas masalah ini besok saja. Biarkan Wulan makan dengan tenang dan nyaman!" Kepala keluarga ini menepuk pundak anaknya sebelum melangkah pergi.


"Selamat malam semuanya." Aku tersenyum pada mereka bergantian.

__ADS_1


Bapak duduk di sofa tunggal yang ada di kamar ini. Ibu masih menyuapiku, sementara Damar duduk di pinggiran ranjang.


"Nak Damar, sudah tengah malam ini. Sebaiknya beristirahat saja." Bapak membuka suara.


"Iya, Pak. Kalau begitu Damar ke kamar." Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Setelah makan tengah malam selesai, aku berusaha bergerak dan mengibaskan tangan karena rasa kebas. Sedikit perih karena tadi sempat berontak melepaskan diri.


"Bu, ada pakaian ganti gak? Badan Wulan lengket, mau mandi air hangat biar nyaman tidurnya."


"Ada, di lemari masih ada pakaian tidur yang kemarin-kemarin. Punya ibu dan bapak juga terlipat rapi di sana." Ibu menggosok punggung ini.


"Kalau begitu Wulan mandi dulu." Aku berusaha bergerak, beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Ibu mengetuk pintu sebelum aku selesai mandi, beliau menyodorkan handuk dan pakaian tidur setelah pintu dibuka.


Badanku terasa segar walau masih ada rasa pegal, setidaknya sudah berkurang, tak seperti tadi. Setelah berganti pakaian aku ke luar dari kamar mandi, kembali berbaring di ranjang.


Kami bertiga tidur dengan posisi Ibu di tengah.


Tiga hari telah berlalu sejak penculikan, Damar kesal karena polisi belum juga menemukan dua pelaku selain Zayn dan dua orang pria yang sudah ditangani. Kami berdua kini berada di kantor kepolisian ditemani tante Iren, bapak dan ibu.


"Kalian semua, mana Dimas dan sepupunya? Seharusnya mereka berdua diseret bersamaku. Mereka otak di balik penculikan itu," teriak suara seseorang.


"Itu suara Zayn, mana dia? Aku ingin bertanya lebih lanjut." Terlihat Damar begitu emosi.


"Damar, ini kantor polisi. Bisa tenang tidak?" Tante Iren menarik lengan anaknya yang mendadak berdiri.


"Maaf, Pak. Anda tidak boleh bertemu tersangka. Kami tidak akan mengizinkan siapa pun menemui tersangka." Polisi di depan kami menghentikan langkah Damar.


"Dimas dan Laura, saya mengenal mereka, Pak. Mereka dalang dibalik penculikan itu. Jangan sampai kalian membela mereka karena mereka memiliki kekuasaan." Dimas begitu berang.

__ADS_1


Setahuku, orang tua Laura adalah salah satu anak konglomerat yang ada negeri ini. Namanya juga orang kaya, mereka pasti mampu membeli hukum dengan mudah.


"Damar, sebaiknya kamu tenang dulu, Nak! Mami punya ide yang menarik untuk membalas mereka," bisik tante Iren tepat di daun telinga anaknya, namun aku masih bisa mendengar karena jarak tempat duduk kita berdekatan.


"Kita pulang sekarang saja! Tidak ada gunanya kita berada di sini." Tante Iren menarik lengan Damar.


"Silakan, Bu. Tersangka utama kasus ini sudah ditangkap. Kalian sekeluarga bisa tenang." Senyum tersungging dari bibir bapak penegak hukum tadi.


Kami tak menanggapi, kami semua menjauh dari tempat ini. Aku penasaran dengan ide tante Iren. Damar menyetir kendaraan ini kembali ke rumahnya. Entah berapa lama di perjalanan, akhirnya kami tiba di sana.


Kami duduk di ruang tamu, sengaja sejak tadi tante Iren tidak mau berbincang tentang idenya di dalam perjalanan.


"Mam, ide apa yang Mami punya? Laura itu anak orang kaya, dia tidak mungkin ditangkap semudah itu." Damar memulai pembicaraan.


"Ya, benar sekali Tante. Mereka bisa menyalahkan Zayn sepenuhnya karena tidak terbukti ada di sana. Anggota kepolisian itu tidak mengetahui keberadaan Laura dan Dimas di dalam bangunan terbengkalai itu," timpalku cepat.


"Mami punya ide, kita permalukan saja Laura di depan umum. Kita undang dia di sebuah restoran ternama, kita pancing emosinya. Wulan tidak boleh datang lebih dulu! Anggap saja mami mau menseleksi calon mantu mami. Pernikahan kalian berdua anggap saja masih lama, bukan tiga hari lagi." Beliau menyampaikan idenya tersebut.


"Laura suka sama kamu, kan? Pasti dia terpancing dengan acara makan malam itu. Kabarkan pada Dimas dan Laura bahwa pernikahan kalian diundur, kita jebak perasaan mereka saja. Setidaknya mereka berdua memiliki rasa sakit karena tak disukai orang yang mereka sukai." Wanita paru baya itu kembali menjelaskan.


"Kalau mereka berdua malah semakin dendam dengan kami, bagaimana, Tan?" Aku merasa ide ini tidak efektif untuk membalas perlakuan mereka. Mereka berdua bisa bertindak lebih nekat lagi.


"Kita hubungi saja orang tua Laura, jangan lupa siapkan buktinya kalau benar-benar anaknya itu yang bersalah. Kita harus memiliki video dokumentasi tentang Laura ketika nanti makan malam bersama di restoran." Entahlah, ucapan tante masih tidak bisa diterima.


"Mereka pasti membela anaknya, Mam. Tidak usah seperti itu, cukup kita undang saja mereka pada acara pernikahan kami berdua, tapi, undangannya tepat ketika acara ijab kabul biar mereka terbengong kalau kami berdua sudah sah menjadi suami istri. Ada orang yang mengarahkan mereka ke tempat akad nikah agar waktunya pas." Ide yang ini boleh juga, Damar memikirkan ide yang menarik.


"Tapi, bukankah undangan kalian sudah disebar? Tentu saja mereka tahu kalau kalian benar-benar menikah," timpal calon mertua.


"Kita sebarkan rumor dulu kalau pernikahan ini diundur, mengenai itu serahkan saja pada Damar. Laura itu bisa dibujuk, dia tidak keras kepala kalau Damar yang meminta." Mendengar ucapan Damar membuatku jumpalitan.

__ADS_1


"Jadi, Mas mau membujuk Laura? Berpura-pura menjadi pria yang dia sukai?" Aku mulai emosi, tak masuk akal kalau dia sampai berbuat sejauh ini. Rumor itu lekas berkembang dan bisa menjadi boomerang bagi pernikahan ini. Aku bingung harus berbuat apa.


__ADS_2