Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Bertemu Kembali Dengannya


__ADS_3

Pantas saja Wulan yang melayani mereka, ada Adit dan beberapa temannya. Mereka tampak akrab dan berbincang sambil memesan sesuatu.


Kaki ini melangkah cepat menuju meja mereka berempat. Namun, sebelum sampai di sana, ada seseorang yang menarik lenganku.


"Mas Damar, jangan aneh-aneh deh." Selena menghalangi pandanganku.


"Aneh-aneh gimana maksudnya?" Aku tak mengerti.


"Mas pikir Selena gak tahu ya? Mas Damar tuh suka banget buat keributan, kemarin sudah bawa kak Wulan ke hotel, berantem dengan temennya Kak Wulan, banyak sekali kelakuannya." Selena menggeretku menuju mejanya.


"Elu tahu darimana, Sel?" Bukankah aku tidak pernah bercerita tentang kejadian kemarin, tahu darimana ini bocah.


"Udah, gak penting gue tahu darimana. Gue tahu semua apa yang kalian lakukan kemarin. Kalau sekarang ini Mas Damar masih menuruti ego, pasti mereka gak akan mau ke tempat ini lagi. Kak Wulan itu bekerja, Mas. Bukan ganjen dan genit-genitan sama pelanggan." Selena mulai seperti Mami, dia mengoceh seperti burung beo.


"Damar, duduk di sini saja!" Papi menoleh pada kami berdua yang tengah berbincang sambil berbisik.


"Iya, Pap." Terpaksa aku mengurungkan niat untuk melabrak mereka. Kucoba untuk menahan emosi diri.


"Gak usah cemburu buta gak jelas, Mar! Wajar saja kalau Wulan tersenyum pada pelanggan, bukankah itu standar SOP di coffee shop ini? Pelayan harus ramah pada pelanggannya." Baru kali ini Papi ikut campur dalam urusan coffee shop.


"Iya, Pap." Aku hanya bisa mengiyakan tanpa harus ada bantahan.


Kami bercengkrama sekaligus melihat kondisi tempat ini. Dua jam kemudian, mereka semua pulang satu persatu. Sayangnya, aku pun harus pergi ke kampus untuk mengajar.


Kucari keberadaan Wulan, beruntung dia ada di balik kasir.


"Lena, gantikan Wulan sebentar! Ada yang harus kukatakan padanya!" titahku.


"Baik, Bos." Lena segera menggantikan posisi Wulan.


Bola mataku tertuju pada satu meja yang sejak tadi masih ada di sini, mereka belum pulang juga.


"Ada apa, Pak Damar?" Wulan menunduk hormat.


"Ke ruanganku sekarang!" Aku berbalik arah, berjalan ke ruang kerja yang berdekatan dengan loker.


Setibanya kami di sana, aku memperingatkannya agar dia tidak sembarangan memberikan perhatian pada tamu.


"Lan, aku harus pergi ke kampus. Sore baru bisa pulang. Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah dekat-dekat dengan Aditya!" Aku mempertegas lagi peringatan ini.


"Sana berangkat bekerja!" Dia mendorong tubuhku.


"Aku pergi dulu." Dia mengangguk singkat.


Kaki ini kembali ke pelataran parkir, mengendarai mobil ke kampus. Sesampainya di sana, ada Lusi yang berbincang dengan seorang mahasiswi. Sengaja aku tidak menyapa, kaki ini bergerak cepat ke ruangan kampus.


"Damar."

__ADS_1


"Ck, udah cepet-cepet masuk masih saja terlihat," gumamku sepelan mungkin.


Aku berbalik arah, menatapnya dengan satu alis terangkat. Tak ada ucapan basa-basi dari mulutku.


"Damar, bukannya hari ini pembukaan cabang yang baru? Baru ajah gue mau ke sana, ngajak Zayn dan teman-temannya. Kenapa Elu malah ngampus?"


"Ada kelas, gue harus ngajarin mereka. Gak mungkin gue tinggalkan tanggung jawab."


Tanpa menoleh ke arahnya, aku bergegas menuju ke ruangan kelas. Tak kupedulikan Lusi yang masih memanggil namaku.


Semua mahasiswa yang ada di sini menyapaku, langsung saja menyampaikan materi dan beberapa tugas yang harus mereka kerjakan. Banyak keluhan dari mereka karena aku terlalu banyak memberikan tugas. Ini semua demi kebaikan mereka, sebentar lagi mereka harus menyiapkan bahan-bahan skripsi. Kalau tidak digenjot dari sekarang, kapan lagi?


Waktu demi waktu berlalu, aku bisa menghela napas lega. Pekerjaan di kampus sudah selesai. Aku kembali ke coffe shop, melihat kondisi di sana. Tapi, sebelum membahas pekerjaan mereka, aku beristirahat sebentar di ruangan yang tersedia di sana.


"Wulan, maaf kamu harus bekerja keras. Aku ingin mengumpulkan energi dulu." Kurebahkan diri di atas ranjang mungil ini. Hanya muat untukku seorang saja.


Mata mulai terpejam karena letih menguasai.


***


Tubuhku berguncang beberapa kali, kepala rasanya pusing. Terpaksa aku menyipitkan mata, berusaha membuka kelopak mata untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Pak Damar, hari sudah senja. Bapak tidak mau pulang?" Dia Riki, pria itu membangunkanku.


"Apa? Sudah jam segini?" Riki mengangguk singkat.


"Tak apa, gak bagus kalau jam segini masih tidur."


"Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu!" ucapku lagi.


"Baik, Pak." Dia berpamitan dan berlalu pergi dari tempat ini.


Sepeninggal Riki, aku mandi di kamar mandi yang bersebelahan dengan kamar ini. Memakai pakaian ganti yang sengaja aku bawa dari rumah, menjalankan kewajiban sholat maghrib. Kini, tampangku sudah segar kembali. Penampilan pun sudah seperti anak muda pada umumnya. Hanya saja, tingkat ketampanan kami berbeda.


Dengan tubuh wangi dan tampilan kece, aku kembali berbaur dengan para pekerja.


" Kalian sudah makan, siang tadi?" tanyaku ketika Lena dan beberapa karyawan yang tidak aku kenal namanya mulai terlihat lesu.


"Sudah, Pak." Jawab Riki sebagai perwakilan mereka.


"Kenapa tampangnya lesu? Masih lapar ya?" Apa mereka kewalahan menghadapi pelanggan yang ada di tempat ini? Kawasan ini memang banyak perkantoran, pabrik, perumahan bahkan dekat stasiun.


Tak ada yang menjawab pertanyaanku, Wulan baru saja datang membawa piring bekas snek pelanggan. Melihatnya yang seperti itu menimbulkan rasa kasihan. Ternyata selama ini dia sudah bekerja sampai sekeras ini.


"Wulan, ikut saya! Saya belikan martabak manis untuk kalian agar lebih semangat bekerja." Wulan menghampiri, dia membuka celemek, melipatnya dan mengantongi di saku celana.


"Kalian tunggu sebentar lagi!" Mereka mengangguk mantap, tampak raut wajah yang berbinar.

__ADS_1


Padahal cuma martabak, tapi, tampang mereka seperti mendapat rezeki nomplok saja. Wulan mengikuti langkahku, tak ada suara yang ke luar dari mulutnya.


Kami masuk ke dalam mobil, sebelum menyetir kendaraan ini, aku menatapnya. Dia bersandar pada kepala kursi.


"Lan, kamu capek banget? Banyak pelanggan yang datang?" Dia menghela napasnya sejenak.


"Belum pernah kerja dari jam sembilan pagi sampe jam sepuluh malam. Padahal ini baru jam tujuh kurang." Dia menatapku sayu.


"Maaf ya karena harus membuat kalian lembur. Mau bagaimana lagi, namanya juga pembukaan. Banyak promo pasti banyak juga yang datang."


"Iya, gak apa. Aku bisa kok." Gadis ini menampakkan senyuman.


"Kita pergi ke tempat yang jualan martabak lebih jauh dari sini. Biar kamu bisa beristirahat sejenak."


"Gak usah, Mar. Kasihan mereka nungguinnya. Aku gak bisa kek gitu." Dia menolak.


"Aku cari yang dekat-dekat sini kalau begitu."


"Sebaiknya begitu." Aku langsung menancap gas.


Selang beberapa menit berlalu, aku menemukan penjual martabak yang sepi, pembelinya hanya satu dua orang saja. Sementara di gerobak yang lainnya, banyak pelanggan yang mengantri.


"Beli di sana saja!" Dia menunjuk pedagang yang sepi pembeli.


"Ngapain beli di sana, pasti gak enak. Beli di tempat yang ramai ajah!" Aku membantah perkataan Wulan.


"Kasian bapaknya, beli di sana saja! Lagipula kami mau mengantri sampai lama di tempat yang ramai itu?" Benar juga apa yang dia katakan.


Kami berdua turun, menghampiri si bapak pedagang yang sedang melamun karena pembelinya sudah tidak ada lagi. Melihat kami berdua, beliau begitu sumringah, kami membeli dua porsi martabak mania dan dua porsi martabak telur.


"Banyak banget." Wulan terkejut.


"Pasti abis itu, tenang saja." Orangnya ada belasan, kalau empat kotak pasti habis dalam sekejap.


Kubiarkan Wulan masuk ke dalam mobil lebih dulu, dia pasti ingin beristirahat di sana. Tak sampai setengah jam, pesananku sudah siap. Aku kembali masuk ke mobil setelah membayarnya.


"Sampe tidur segala." Wulan tidur begitu pulas. Aku tidak mau mengganggunya.


Kukendarai mobil ini kembali ke coffee shop, mereka menyambut kedatanganku dengan penuh suka cita. Mereka bergantian makan martabak yang dibelikan.


"Hai Damar." Suara itu berasal dari pintu masuk utama coffee shop ini.


"Elu, sejak kapan Elu ada di Indonesia lagi?" Aku seperti mengalami dejavu, orang yang tidak pernah aku ingat lagi mendadak muncul di tempat yang tidak terduga.


"Gue udah semingguan ini pulang ke Indonesia. Daddy menyuruh gue pulang." Dia tersenyum lebar.


"Damar, gue rindu banget sama Elu." Perkataannya membuatku melangkah mundur.

__ADS_1


__ADS_2