
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" apa rencana kita akan berjalan dengan lancar, jangan sia sia kan pengorbanan ku selama ini ibu suri. "
ucap seseorang dengan wajah yang di tutupi sebuah topeng.
ibu suri yi hua terkekeh pelan kemudian menyesap teh nya dengan anggun.
" tenang lah.. aku tau apa yang harus aku lakukan, kau hanya perlu menjadi bidak ku yang akan melumpuhkan semua lawan saat waktu yang di perlukan. "
Pria bertopeng itu hanya menatap datar wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan dingin tampa ekspresi.
" kita akan segera menguasai tahta kekaisaran hongly , jika saja pria tua bangka itu tidak mengacau semua nya. "
ucap ibu suri yi hua dengan tangan memegang erat pinggir cangkir teh nya.
" aku sudah pernah mengatakan, mentri pertahanan itu hanya akan membawa petaka untuk kita. Dan kau membiar kan nya bebas seperti lintah yang terus menghisap darah. "
balas pria bertopeng dengan suara tetap tenang.
" cepat lah bertindak, permaisuri kaisar malai ziyu itu tidak bisa di anggap remeh. Aku mendengar desas-desus tentang nya di luar sana. "
sambung nya lagi lalu bangun dari tempat duduk , kemudian berjalan lambat kearah pintu.
ibu suri yi hua mengeram kesal dan membuat cangkir teh di genggaman nya pecah seketika, membuat tangan wanita paruh baya itu berdarah.
Para pelayan segera berlutut dengan membawa kain untuk menyeka darah yang mulai menetes.
" Berani nya dia mengancam ku.. aku akan melenyap kan nya jika tidak mengingat bahwa dia putra ku .
pria bertopeng yang masih berada di balik daun pintu menyeringai tipis, membuat diri nya terlihat begitu menakutkan.
" aku belajar banyak dari mu.. IBU. "
kemudian setelah nya pergi meninggal kan bangunan besar itu, dan kembali ke sebuah bangunan yang berada di belakang bangunan utama.
" yang mulia.. "
pria bertopeng itu menghentikan langkah nya, kemudian menolehkan sedikit kepala nya .
seorang pria berpakaian prajurit membungkuk sebagai salam.
" jendral huang cheng.. "
secara perlahan di buka topeng yang menutup wajah nya, kemudian membalik kan tubuh menghadap jendral yang bekerja untuk ibu suri yi hua .
" yang mulia pangeran keempat, kaisar malai ziyu telah kembali ke istana dan menghabisi semua prajurit kita tampa sisa. "
pangeran malai huali bukan nya khawatir, dia malah tersenyum tipis.
" biar kan dia melakukan apa pun."
"yang mulia.. "
__ADS_1
panggil jendral huang cheng lagi saat pangeran malai huali akan melangkah pergi.
pria berwajah tampan dan selalu bersikap ramah itu menghentikan kembali langkah nya.
" kau cukup amati saja ketiga saudara ku dari kejauhan. aku sedang menunggu seseorang yang sangat penting. "
pangeran malai huali kembali menyeret kaki nya dan menjauh dari bangunan utama.
🥀🥀🥀
" kau tunggu di sini bersama xio, pastikan ci hua hua itu tidak kabur. "
ucap quen, lalu bergerak mundur.
" kau ingin kemana? "
tanya serena dengan tatapan penasaran.
quen memutar kepala nya sedikit, namun pandangan nya tak lepas dari objek yang dia awasi.
" aku akan memastikan sesuatu yang penting.. "
serena hanya mengangguk setuju, kemudian kembali menatap lekat bangunan di hadapan nya.
quen melesat cepat meninggal kan serena dan xio, tujuan nya hanya satu.. hanya untuk menghilangkan rasa penasaran nya terhadap pangeran malai huali, mendadak dia merasakan jika pria humoris itu menyimpan banyak rahasia di balik sifat nya yang menyenang kan.
Kini jarak quen dari tempat serena dan xio berada terasa cukup jauh. Dia tidak mengerti kemana pangeran keempat itu akan pergi, sampai titik dimana pangeran malai huali berhenti dan menyandar kan tubuh nya kesebuah pohon besar.
Samar samar dari arah berlawanan muncul beberapa pria yang juga mengunakan penutup wajah.
Dari yang terlihat, jelas orang yang di temui pangeran keempat itu memiliki latar belakang yang tak biasa.
Pakaian sutra yang indah melekat pada tubuh tinggi nya, kulit putih dengan rambut panjang yang di gelung ke atas.
" salam pangeran malai huali.. "
Deg..
quen mengedip ngedip kan mata nya, dan berusaha mengenali suara yang tampak tak asing di pendengaran nya.
" Aku seperti sangat mengenal suara pria itu, tapi dimana? "
quen mencoba untuk mengingat, setiap nama orang yang pernah dia temui berkeliling di kepala nya.
" Salam yang mulia putra mahkota Lan si, senang kembali bertemu. "
jawab pangeran malai huali seraya membuka topeng nya.
Duaar..
" putra mahkota lan si, pria aneh ber aura dingin yang pernah baku hantam dengan putra mahkota lian shi. "
quen mendesis kaget hingga membuat nya menutup mulut dengan kedua tangan.
" apa apaan ini.. "
sambung quen lagi tak percaya.
__ADS_1
putra mahkota Lan si juga ikut membuka topeng nya, kemudian mengambil posisi bersandar di sebatang pohon.
" kau tentu tahu apa tujuan ku bertemu dengan mu pangeran malai huali..? "
pangeran malai huali tersenyum tipis, kemudian ikut bersandar di pohon yang bersebelahan dengan putra mahkota kekaisaran yu tersebut.
" kita telah berteman sejak lama, aku cukup mengenal akan diri mu putra mahkota. Jadi, bagaimana kau bisa terjebak dengan hal yang cukup rumit? "
tampak mata putra mahkota Lan si langsung terpejam mendengar pertanyaan dari pangeran ke empat.
"huhh... "
putra mahkota Lan si membuang kasar nafas nya, membuat pangeran malai huali terkekeh pelan.
" Jangan mentertawa kan kehidupan ku, kau juga pantas ditertawa kan. Seorang pangeran yang begitu terlihat menyayangi saudara nya sekarang berada disini. "
putra mahkota lan si balik mencibir dengan senyum sinis di bibir nya.
pangeran malai huali makin mengeras kan tawa nya, hingga putra mahkota Lan si yang terpejam segera membuka mata nya.
" kita jelas berbeda putra mahkota, kau datang kepada ku untuk merebut sesuatu. Sedang kan aku di sini untuk mempertahan kan sesuatu. "
di toleh kan kepala nya kesamping.
" kau datang membutuh kan bantuan, aku menerima mu karna kau bisa memberi ku dukungan. "
sambung pangeran keempat masih dengan senyum di bibir nya.
Takk..
Tampa sengaja saat ingin mundur, kaki quen menginjak ranting kering yang membuat pangeran malai huali dan putra mahkota Lan si menegak kan tubuh nya dengan tatapan tajam seakan mengunci tempat quen berada.
" Sial... "
umpat quen karena merasa ceroboh.
Pangeran malai huali langsung menarik pedang dari sarung nya, dan berjalan mengendap kearah sumber suara. Sedangkan putra mahkota Lan si memberi kode kepada bawahan nya untuk segera waspada.
"Happ..
pangeran huali mengerut kan alis nya saat tak mendapati siapa pun di balik pohon besar itu. putra mahkota Lan si yang penasaran kemudian ikut memastikan.
" Bagaimana? "
pangeran malai huali hanya mengangkat bahu nya sebagai jawaban.
" ayo.. kita harus segera pergi dari sini.. "
quen mengintai dari atas cabang pohon yang berdaun rimbun, mengamati kepergian para pria yang entah mempunyai intrik apa di balik topeng mereka.
" aku harus segera kembali ketempat serena dan xio.. "
.
. bersambung.
note: hay hay all, makasi uda pada setia menunggu. jangan lupa tinggal kan like, vote and coment yah. maaf baru bisa up, author lagi gak fit. sekali lagi makasi🥰
__ADS_1