
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang gadis tampak membaringkan tubuh nya di rerumputan pinggir danau yang di penuhi bunga bunga teratai bermekaran.
Dari arah belakang, seorang pria tampan memperhatikan nya dengan sangat intens, seakan sedang mengamati tingkah laku sang gadis sejak tadi.
"Xio lily.. "
Gadis itu segera membangun kan tubuh nya dengan tergesa gesa, lalu menoleh dengan cepat. Senyum nya mengembang saat mengetahui siapa yang kini mendatangi nya.
"Salam kakak huang, apakah kau baru saja kembali dari istana? "
Tanya nya dengan wajah berbinar.
Orang yang tak lain adalah panglima muda kekaisaran Han itu segera berjalan mendekat, kedua tangan nya tersilang di belakang tubuh nya yang kekar.
"Benar, aku baru kembali dari menemui yang mulia kaisar. "
Di usap nya pucuk kepala gadis manis itu dengan penuh kasih sayang.
"Yang mulia permaisuri quen sudah melahirkan putra dan putri mahkota kekaisaran hongly. "
Kini pria gagah itu menghempaskan bokong nya keatas rerumputan.
Mata xio membulat dengan raut wajah bahagia, dengan cepat dia juga ikut menjatuh kan tubuh nya.
"Benar kah? Pasti mereka sangat menggemas kan, andai saja aku... "
Tiba tiba xio menurun kan suara nya, dari yang tadi nya bersemangat.. kini gadis yang beberapa bulan ini menjadi sangat pendiam dan hobby menyendiri itu mulai tertunduk lesu.
Panglima huang menoleh kearah saudari nya itu, bulir bulir beningan kristal mulai kembali menetes dari sana.
"Jangan bersedih, aku tahu kau sangat merindukan yang mulia putri quen. Walau bagaimana pun, diri nya tetap menjadi putri kita. "
Ucap panglima huang mencoba memberikan semangat kepada saudari satu satu nya itu.
Xio mengusap pelan pipi nya yang mulai basah, dengan susah payah di terbit kan senyuman dibibir tipis nya itu, namun semua gagal. Senyuman yang terlihat patah tak sempurna menambah kesan kesedihan yang mendalam.
Sangat berbekas di ingatan nya, hari yang dimana dia berpisah dengan sang putri mahkota kekaisaran han itu dan juga wanita cerewet istri pangeran kedua. Kenangan bersama kedua wanita itu begitu membuat lubang yang sangat dalam di hati nya.
"Yang mulia.. apakah anda baik baik saja tampa hamba ? "
Xio tersenyum tipis saat memikirkan putri yang tidak ada anggun anggun nya itu jika sedang marah.
"Hamba yakin, anda akan baik baik saja. Karna disana, anda memiliki orang orang baik bersama anda. "
ucap nya lagi dalam hati nya sendiri.
Panglima huang menghela nafas berat nya, kemudian mengusap pelan pucuk kepala gadis yang kini kembali melamun itu sebelum kemudian bangun dari duduk nya.
"Cepat lah masuk kedalam paviliun, berada di luar ruangan telalu lama.. tidak bagus untuk kondisi tubuh mu. "
__ADS_1
xio mendongak kan kepala nya, kemudian tersenyum tipis.
"Aku baik baik saja kakak.. "
Baru saja panglima huang ingin berbalik untuk pergi, seorang pengawal kediam huang berlari dengan tergesa gesa.
Membuat panglima huang mengerut kan kening nya.
"Salam panglima huang. "
"Salam."
jawab panglima huang dengan wajah penasaran.
"apa yang membuat mu berlari dengan sekuat tenaga untuk menemui ku? "
Tanya nya lagi.
Sang pengawal mengatur nafas nya sejenak sebelum menyampaikan berita penting.
"izin menjawab panglima, sebuah pesan telah tiba di istana kaisar Han. "
"Pesan? pesan dari mana? "
kini wajah panglima huang berubah terlihat kebingungan. Pikiran nya melayang tentang pesan yang dimaksud dari pengawal pribadi nya itu, pesan apa yang membuat pihak istana memberitahukan pada kediaman jendral. Apakah kekaisaran dalam bahaya?.
"Utusan istana mengatakan jika pesan tersebut di tulis oleh kaisar malai ziyu, kaisar kekaisaran hongly yang agung. "
Degg...
"Apakah yang mulia putri mahkota menyampai kan pesan? "
xio segera bangun dari duduk nya, menatap penuh harap kewajah pengawal yang tertunduk.
Panglima huang ikut menunggu penuh harap jawaban dari sang bawahan.
"kaisar malai ziyu menuliskan sebuah pesan, yang di sampai kan kepada yang mulia kaisar Xian. jika kurang dari dua hari, sebuah utusan dari kekaisaran yang bersahabat dengan kekaisaran hongly akan datang berkunjung. Panglima diminta untuk segera menemui yang mulia kaisar. "
pengawal itu menjelaskan panjang lebar tentang isi pesan dari istana Han.
Xio menghela nafas nya dengan wajah kecewa, tampa mengatakan apa pun gadis pendiam itu langsung berlalu dari sana. Panglima huang hanya bisa menatap punggung yang kini mulai menjauh itu dengan perasaan yang ikut terluka.
"Maaf panglima, kaisar malai ziyu juga mengatakan jika rombongan kekaisaran daratan utara itu di pimpin oleh seorang pangeran muda. "
Sambung pengawal itu lagi.
Panglima huang mengangguk pelan.
"Pergilah kembali ketempat mu bertugas, aku akan menemui kaisar secepat nya. '
Pengawal itu pun kembali membungkuk kan badan nya, setelah itu berbalik dan pergi kekediaman utama untuk bertugas.
Panglima huang menatap datar kearah dimana sosok pengawal itu pergi.
"Apa yang akan di lakukan orang orang dari daratan utara itu di sini? seorang pangeran... "
__ADS_1
panglima huang memijat pelan pelipis nya kemudian melangkah dengan aura yang tegas untuk kembali ke istana Han.
🥀🥀 Istana Han🥀🥀
"Salam yang mulia.. "
Para pelayan dan pengawal berdiri berbaris saat kedatangan pria yang kini menduduki tahta tertinggi di kekaisaran Han itu, kemudian membungkuk hormat.
Kaisar Xian hanya mengangguk pelan, lalu masuk kedalam kedimaan milik nya setelah seharian berada di istana utama.
Hari ini merupakan hari melelah kan bagi nya, ditambah dengan kedatangan pesan rahasia yang datang dari kekaisaran hongly, yang tidak lain tempat saudari nya kini tinggal.
Dengan cepat satu pelayan pribadi kaisar muda itu dengan sigap membantu sang kaisar untuk melepas kan baju kebesaran nya.
Pelayan paruh baya itu, adalah pelayan yang di tugas kan mengurus segala hal didalam kediaman milik kaisar Xian, bahkan jauh sebelum pria itu dewasa.
"Paman.. "
panggi kaisar xian sopan.
Pria paruh baya yang baru saja kembali dari menggantungkan pakaian kebesaran kaisar otu segera datang dan membungkuk hormat.
"Hamba yang mulia. "
Kaisar Xian membuang nafas nya pelan, seorang pelayan tampak meminta izin untuk masuk dengan sebuah napan di tangan nya. Kaisar xian menunda untuk menyambung kalimat yang ingin dia ucap kan, sampai ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.
"Terimakasih paman. "
ucap kaisan Xian saat sebuah cangkir berisi teh di suguhi di hadapan nya. Pria datar itu bukanlah orang yang tidak tahu cara untuk menghargai orang lain. Karena, mempelajari suatu hal dari kesalahan dan memperbaiki nya itu yang harus dia lakukan.
Pria paruh baya itu membungkuk kan sedikit tubuh nya dengan tangan di silang kan di dada.
Tampak jelas raut penasaran di wajah tua itu, saat melihat sang junjungan nya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
Kaisar xian lalu menyesap teh nya dengan anggun, kemudian meletakkan cangkir teh nya kembali di atas meja.
"Paman.. kau tentu tahu, jika kini putri mahkota telah hidup bahagia dengan menjadi bagian penting dari kekaisaran berpengaruh, seperti kekaisaran hongly. "
Ditatap nya wajah tua itu dengan hangat, kemudian kembali melanjutkan ucapan nya.
"Kini saudari ku sudah menambah kebahagiaan nya dengan melahirkan dua orang penerus untuk mereka. "
"Benar yang mulia. "
Jawab pria paruh baya itu dengan perasaan yang juga ikut bahagia.
"Sudah pantaskah aku mengikuti jejak nya, untuk mencari seorang permaisuri untuk istana ku? "
Kini wajah tua itu menatap lekat wajah sang kaisar lalu kembali menunduk.
"Anda sudah harus memikirkan nya yang mulia. "jawab nya sopan.
.
. bersambung
__ADS_1