
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita telah sampai.. "
Pangeran malai hian, mengajak xio untuk mengunjungi satu ruangan khusus di samping kediaman nya, dimana tempat dia meletak kan hasil hasil lukisan nya yang dia ciptakan.
Xio menatap takjub dengan berbagai macam jenis lukisan yang berada di dalam ruangan yang terlihat begitu rapi.
Pangeran malai hian tersenyum dengan kedua tangan nya dia silang kan kebelakang.
"Kau tau.. aku tidak pernah mengizin kan siapa pun kesini kecuali.. "
pangeran malai hian menghentikan kalimat nya, lalu mematung sesaat sebelum kembali merubah ekspresi wajah nya yang sempat berubah sendu.
''Mari..Aku membutuh kan pendapat mu, karena ini akan aku hadiah kan kepada kedua saudara ku. "
Sambung nya, seakan mengembalikan kecanggungan yang sempat menghampiri kedua nya.
Xio hanya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu ragu kedalam ruangan. Sedang kan para pengawal berhenti dan berjaga di depan ruang lukis milik pangeran ketiga.
Dua buah lukisan besar masih melekat di atas kayu penyangga yang menjadi sarana pangeram malai hian untuk menggores kan tinta nya.
Dua kain sutra yang menutupi lukisan lukisan yang hampir sempurna itu segera disingkirkan. Memperlihat kan maha karya yang sangat sangat membuat mata tak mampu untuk berpaling.
"Sempurna.. ini sangat indah. "
Tangan xio hampir terjulur kedepan untuk menyentuh lukisan kaisar malai ziyu dan permaisuri quen, yang tercipta sangat sempurna.
"Jangan.. Tinta cat nya belum mengering sempurna. "
pangeran malai hian menghentikan jari lentik xio yang hampir menyentuh lukisan milik nya.
Xio yang terkejut segera menarik kembali tangan nya.
"Maaf kan kelancangan hamba yang mulia. "
ucap nya seraya membungkuk kan badan.
Pangeran malai hian hanya mengangguk pelan, lalu mata mereka beralih menatap lukisan lain nya.
Mata bulat milik xio seketika membulat, saat melihat lukisan kedua milik pangeran malai kettu dan istri sah nya, erenan er.
Kedua nya yang seketika saling bertatapan menjadi salah tingkah. Dengan cepat, pangeran malai hian kembali menutup lukisan nya.
"emm.. maaf untuk yang ini, tidak seharus nya aku memperlihat kan nya pada mu. "
Pangeran malai hian menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal akibat suasana canggung yang terjadi.
Dia mengutuk kebodohan nya, karna menunjuk kan lukisan yang begitu intim.
Semua karena permintaan saudara nya, yang tak lain adalah pangeran malai kettu. Pria itu yang tahu tentang keahlian pangeran ketiga dalam melukis, meminta secara khusus untuk melukiskan sebuah lukisan pangeran malai kettu dan istri nya erenan er dalam posisi saling berciuman. Siapa yang tidak mengetahui tentang tingkat kemesuman pria berstatus pangeran itu, bahkan sekarang selir yang berubah status menjadi istri sah nya memiliki kesamaaan dalam segala hal seakan melengkapi.
Dua orang berlainan jenis itu semakin salah tingkah dan merasa sangat canggung, beruntung kedatangan seseorang menyelamat kan mereka dalam situasi tidak mengenakkan itu.
"Salam yang mulia pangeran ketiga. "
__ADS_1
seorang pengawal masuk dan membungkuk kan tubuh nya.
Pangeran malai hian segera membalik tubuh nya, saat mendengar sapaan untuk nya. Alis nya saling bertautan ketika melihat dari mana pengawal itu berasal.
"Pengawal kediaman permaisuri quen, untuk apa dia datang kemari? "
tanya nya pada diri nya sendiri.
Seolah dapat membaca ekspresi terkejut dari raut wajah pangeran ketiga itu, pengawal dari kediaman phonix itu kembali melanjut kan ucapan nya.
"Hamba di utus yang mulia permaisuri untuk menjemput nona xio ly kembali ke kediaman phonix. "
Pangeran malai hian menghela nafas nya sejenak, lalu kembali menoleh kearah gadis yang masih menunduk kan kepala nya.
"Terima kasih karena telah ikut bersama ku, permaisuri seperti nya membutuhkan bantuan dari mu. Kembali lah.. "
ucap pangeran malai hian dengan wajah teduh nya.
Xio lalu membungkuk kan tubuh nya sedikit, lalu mundur kebelakang bersama pengawal yang tadi di utus sang permaisuri.
"Salam yang mulia. "
ucap kedua nya bersamaan, setelah mendapat anggukan dari pangeran malai hian. Mereka segera berbalik dan keluar dari ruang lukis itu dengan langkah yang sedikit tergesa gesa.
Xio menghela nafas nya di sepanjang perjalanan, seakan merasa bersyukur atas kedatangan pengawal utusan atasan nya itu.
"Ah... aku sangat tidak menyukai situasi yang seperti tadi. Itu sangat membuat ku tidak nyaman. "
guman xio di dalam hati nya.
Sedangkan di dalam ruangan lukis, pangeran malai hian menghempaskan tubuh nya di sebuah kursi santai yang berada di sudut ruangan. Melepas kan jubah tebal milik nya, dan menyisakan sehelai hanfu yang dia pakai sebagai dalaman.
" Aku semakin merasa penasaran dengan nona kekaisaran han itu, dia sama menarik nya dengan permaisuri quen. "
"Di tambah seperti nya tuan muda wang hilin juga memiliki perasaan lebih pada nona manis itu. Arti nya, nona xio ly memiliki sesuatu yang lebih. Membuat pria pendiam itu bahkan menjatuh kan hati nya. "
Kini senyuman tipis itu berubah menjadi seringaian yang tampak memiliki maksud tersembunyi .
"Nona xio ly, putri tunggal jendral huang, dan saudari satu satu nya panglima muda kekaisaran han. "
Pangeran menggoyang goyang cangkir berisi anggur di tangan nya, lalu kembali menyesap dengan pelan .
"Sangat menarik.. "
🌾
🌾
🌾
"Quen... "
Serena menyadarkan punggung nya di sebuah kursi di ruang tamu kediaman quen, mengusap usap pelan perut nya yang kian membuncit.
"Hemm.. "
Quen hanya menjawab dengan deheman sambil ikut bersandar. Tubuh nya sedikit kelelahan saat mereka berdua memutuskan untuk berkeliling istana.
Serena menghirup pelan udara segar yang berasal dari jendela yang terbuka lebar , lalu menghembus nya kembali.
"Aku sangat merasa kasihan dengan pria tampan tadi. "
__ADS_1
ucap nya sambil menoleh kearah sang sahabat.
"Kenapa? "
tanya quen singka dengan sebelah alis terangkat.
"Ish.. kau ini, tidak peka sekali. " ucap serena dengan wajah kesal.
"Bukan kah tadi kita sama sama melihat, jika pria tampan itu seperti nya begitu menyukai xio. kau tau.. mencintai dalam diam itu sangat menyakit kan, pria itu bahkan terlihat sangat sedih mengetahui jika saingan nya tak lain adalah adik ipar. "
sambung nya lagi, lalu bangun dari duduk nya dan berdiri di samping jendela yang memperlihat kan pemandangan di samping kediaman quen.
Quen ikut menghela nafas nya, dia juga sangat tahu jika bawahan suami nya itu memiliki perasaan lebih untuk gadis berwajah lugu itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? "
Tanya nya kepada serena.
Serena terlihat sedang berfikir, menimbang nimbang tentang apa yang harus mereka lakukan.
"Tapi, menurut ku.. Kita tidak bisa memasuki terlalu jauh urusan hati dan perasaan seseorang seren. Aku tidak ingin melukai perasaan siapa pun, kita hanya bisa memberi kan nasehat, bukan pilihan. Aku mengenal xio dari pertama kali hidup di dunia baru ini, gadis itu seperti kertas putih tampa coretan. Begitu lugu dan polos. "
quen tersenyum tipis, dia mengingat hari pertama nya di kediaman sederhana di istana megah kekaisaran han. Mata nya begitu tertarik dengan dua orang gadis yang tampak sangat berbeda dengan gadis lain nya. Hati nya memang tidak pernah salah dalam menilai kepribadian seseorang. Dua gadis lugu itu bahkan siap mempertaruh kan nyawa nya demi melindungi hidup nya.
Serena menatap lekat wajah quen yang tiba tiba berubah sendu, dengan air mata yang menggenang di kelopak mata bulat milik nya.
Dia paham, jika wanita hamil itu saat ini sedang mengenang sesuatu yang mungkin membuat nya sangat tersentuh.
"Karna kita menyayangi nya, maka kita harus melakukan yang terbaik bukan? "
ucap serena yang di balas anggukan oleh quen.
"Kita memang tidak mengetahui takdir hidup seseorang, tapi seperti yang kau katakan pada tuan muda itu. Istana bukan lah tempat yang aman untuk gadis lugu seperti xio. Istana ini penuh dengan kekejaman, dia butuh seseorang yang tidak gampang menjatuhkan hati pada seorang wanita. Dan aku melihat hal itu, dimata pria tampan berwajah lembut itu. "
sambung serena lagi.
"Kau benar.. "
angguk quen, lalu bangun dari duduk nya.
"kau akan pergi kemana? "
Tanya serena saat melihat sahabat nya itu seperti akan melangkah kearah pintu.
"aku akan memanggil nya kembali. "
jawab quen tampa menghenti kan langkah nya.
"Siapa? "
tanya serena lagi dengan kening berkerut.
"Malai kettu... " jawab quen ketus, membuat mata serena melebar.
"Ya.. tentu gadis polos itu, untuk apa aku memanggil suami mu yang memiliki tinggkat kemesuman yang sama dengan mu itu. "
Quen menekan setiap kalimat yang dia ucap kan.
Serena hanya mendengus, lalu kembali membuang pandangan nya keluar jendela.
.
__ADS_1
.
. bersambung