
"Siapa yang mengirim foto itu kepada Susan?" tanya Devan dalam hatinya.
Susan mendorong dada Devan dengan keras hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah!
"Aku tidak percaya ucapan mu, Mas," ucap Susan sembari melangkah pergi meninggalkan Devan!
"Susan! Susan! Tunggu. Dengarkan penjelasan ku dulu."
"Aku mau tidur bersama Ayana di kamar ini," ucap Susan sembari terus berjalan menuju kamar yang terletak di sebelah kamarnya!
"Susan, jangan seperti ini."
Bug!
Susan menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya.
Devan berdiri di depan pintu kamar yang didalamnya ada istri dan anaknya.
"Susan, aku memang jatuh cinta pada Shena untuk yang kedua kalinya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta lagi padanya dan aku akui sekarang dia lebih cantik darimu," ucap Devan didalam hatinya.
Di dalam kamar.
Susan menangis dengan tangan yang ia letakan di dadanya, dia meremas bajunya dengan sangat erat betapa dia kecewa dan sakit melihat suaminya bersama dengan mantan istrinya.
"Kenapa aku merasakan sakit seperti ini padahal aku tahu Devan sudah menjadi milikku. Aku yang menang dalam pertarungan mendapatkan hati Devan dan Shena yang kalah, Shena sudah kalah," ucap Susan dalam hatinya.
...****************...
"Terimakasih, Mas sudah mengantar aku pulang dan terimakasih juga untuk traktirannya," ucap Shena kepada Reyhan.
Shena dan Reyhan berdiri di depan rumah Pak Rudy.
"Iya, sama-sama. Udah kamu masuk sana! Sampaikan salam ku pada Bapak dan Ibumu."
"Iya nanti aku sampaikan. Maaf ya aku gak bisa ngajak Mas mampir soalnya udah malam."
Reyhan tersenyum kepada Shena, "gak apa-apa. Kalau gitu aku langsung pulang ya."
"Iya, hati-hati di jalan."
Reyhan langsung masuk ke dalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Reyhan sudah tak terlihat lagi, Shena segera masuk ke dalam rumahnya!
"Assalamu'alaikum! Pak! Bu!" ucap Shena.
"Waalaikumsalam, kamu baru pulang, Nak?" tanya Bu Ayu.
"Iya, Bu. Maaf ya aku pulangnya kemalaman tadi Pak Reyhan mengajak aku ngobrol banyak," jelas Shena.
"Pak? Tadi kamu manggil dia Mas sekarang manggil dia dengan sebutan Pak?" tanya Pak Rudy.
"Ternyata Bapak juga belum tidur," ucap Shena sembari tersenyum tipis.
"Pak, Bu, dia itu Bos aku di kantor," sambung Shena.
"Apa! Bos kamu?" Bu Ayu terkejut saat tahu laki-laki yang mengajak Shena jalan adalah Bos Shena di kantor tempat Shena bekerja.
"Iya, Bu. Dia Bos aku."
"Kamu bisa jadi Ibu Bos kalau gitu," ucap Pak Rudy.
Shena tersenyum lebar. "Bapak bisa aja, jadi Ibu Bos juga kalau Pak Reyhan menikahi aku Pak, kalau tidak ya aku tetap jadi Shena, karyawannya dia."
"Kalau dia udah ngajak kamu makan malam bersama berarti dia ada rasa sama kamu, Nak," ucap Bu Ayu.
"Ibu sama Bapak ini gimana, belum apa-apa udah mikir kesitu. Ya udah deh kalau gitu, Pak Bu, boleh aku istirahat?"
"Boleh dong, cepat istirahat karena kamu harus kerja besok," ucap Bu Ayu.
"Ibu betul," sahut Shena singkat.
Shena langsung masuk ke kamarnya karena dia harus tahu tentang kabar Dania!
Setelah berada di dalam kamarnya, Shena duduk di tepi ranjang lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya!
Shena melakukan panggilan video kepada Dania karena dia ingin melihat langsung wajah Dania.
["Iya, Bu ada apa?"] ucap Dania setelah menerima panggilan video dari Shena.
["Laki-laki itu sudah pergi atau masih disitu?"] tanya Shena.
["Dia sudah pergi, Bu untunglah dia segera pergi, saya takut Bu karena Pak Devan berani mencolek-cokek dagu saya dan memegang tangan saya"]
["Kenapa sekarang kamu masih di tempat itu?]
[Saya lagi makan bersama teman saya. Oh Ibu harus tahu ini!"]
Dania mengeluarkan uang yang diberikan Devan untuknya dari dalam tasnya lalu mengarahkan kamera ponselnya pada tumpukan uang yang diberikan Devan padanya itu.
__ADS_1
["Apa itu? Uang siapa itu?"]
["Itu uang Pak Devan yang diberikan kepada saya."]
["Ambil saja uang itu untuk kamu. Dania karena kamu baik-baik saja,udah dulu ya, saya takut orang tua angkat saya mendengar pembicaraan kita."]
Shena mematikan sambungan teleponnya lalu segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya!
...****************...
"Bu Shena? Siapa Bu Shena?" tanya Laura kepada Dania.
"Dia adalah mantan istrinya Pak Devan," sahut Dania.
"Apa! Mantan istrinya Pak Devan? Kamu gak salah, kamu pacaran sama Pak Devan tapi berhubungan baik dengan mantan istrinya?"
"Laura aku berpacaran dengan Pak Devan karena permintaannya dia dan karena aku merasa berhutang budi padanya akhirnya aku menyetujui permintaannya."
"Jadi sebenarnya kamu gak suka sama Pak Devan."
"Nggak lah, kamu lihat saja dia membayar ku dengan uang sebanyak ini atas jasaku menemaninya malam ini."
"What!" Laura terkejut mendengar perkataan temannya itu.
"Berarti Pak Devan tidak benar-benar cinta dong sama kamu?" sambung Laura.
"Pastinya tidak karena Pak Devan sudah punya istri. Kamu tahu 'kan Ibu Susan?"
"Ya tahu lah."
"Udah malam nih. Kita pulang yuk! Tenang ongkosnya aku yang traktir," ucap Dania.
"Ongkos doang, gak sekalian kasih aku persenan?"
"Kamu 'kan kerja. Ini uang mau aku kasih ke panti asuhan atau orang yang membutuhkan."
"Terserah kamu saja deh. Ayo kita pulang!"
Laura bangkit dari duduknya lalu mulai berjalan meninggalkan kafe itu!
...****************...
Di kediaman Riky.
Malam itu Riky belum bisa tertidur, dia teringat dengan wajah Shena yang cantik dan selalu menampakkan senyum yang indah.
"Apa Shena orang yang harus aku jadikan Ibu baru untuk anakku? Apa dia mau padaku?" tanya Riky pada dirinya sendiri.
"Kamu memang membutuhkan sosok seorang Ibu, Nak tapi Ayah belum bisa memberikannya padamu karena Ayah belum menemukan wanita yang seperti Ibumu," ucap Riky sembari terus mengelus kepala putri kesayangannya.
Riky mencium kening sang putri lalu meninggalkannya sendiri di kamarnya tak lupa sebelum pergi Riky menutup separuh tubuh putrinya dengan selimut!
"Selamat malam dan semoga mimpi indah."
Riky tersenyum lalu pergi!
Bersambung.
Teman-teman yuk mampir ke novel author yang lainnya.
Judul: Terpaksa Menikah
Cuplikan Bab:
"K_kakak kenapa menatapku seperti itu?" Rea merasa gugup dengan tatapan Raka yang aneh.
"Kakak, sudah lama menanti ini. Kamu tidak lelah setelah seharian mengikuti acara wisuda?" ucap Raka.
Rea menggelengkan kepalanya lalu membuka satu persatu kancing bajunya Raka.
Raka membawa Rea berbaring di tempat tidur! Terucap doa dari mulut Raka lalu perlahan Raka mulai melakukan permainannya.
Rea sangat menikmati setiap perlakuan dari sang suami hingga setelah beberapa menit berlalu Raka mulai masuk ke permainan inti.
"Katanya ini akan terasa sakit. Maaf ya," ucap Raka dengan suara yang lembut.
Rea tak menanggapi perkataan Raka saat itu ia sedang berada dalam kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Raka mulai masuk pada permainan inti, dan benar saja Rea memekik kesakitan Rea mencengkram kedua belah bahu Raka dengan sangat kencang.
Setelah beberapa menit berlalu, Raka mempercepat gerakannya pada akhir permainannya.
Tiga puluh menit berlalu Raka dan Rea sudah selesai menjalankan kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri.
Kamar itu dan beserta isinya menjadi saksi bisu atas menyatunya cinta diantara Rea dan Raka.
Raka terkulai lemas, hasrat yang selama ini tersimpan kini sudah tersalurkan seulas senyum terukur dibibir Raka ada rasa bangga dihatinya karena sudah memiliki Rea seutuhnya.
Rea menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang dirasakannya tangannya meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
"Terimakasih dan maaf sudah membuatmu kesakitan," ucap Raka.
Raka mencium kening Rea berkali-kali.
"Tidurlah, kamu pasti lelah," ucap Raka.
Rea hanya diam tanpa kata **** ************* masih terasa sakit.
Raka mulai menutup matanya perlahan pergi ke alam mimpi dengan posisi memeluk sang istri.
Karena lelah Rea pun ikut tertidur menyusul sang suami ke alam bawah sadarnya.
*** *** ***
Pagi telah tiba matahari mulai menampakkan sinarnya.
"Rea dan Raka belum turun?" ucap Santi kepada Tika.
"Belum," sahut Tika.
"Gak biasanya mereka seperti ini," ucap Santi.
Tika menaik turunkan bahunya menanggapi perkataan Santi, dua wanita itu sedang duduk di kursi meja makan, keduanya hendak sarapan namun tertunda karena menunggu Rea dan Raka terlebih dahulu.
"Bik, tolong panggilkan Raka sama Rea!" Santi meminta tolong kepada salah satu asisten rumah tangga di rumah Raka.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi ke lantai dua rumah majikannya itu!
Tok!
Tok!
Tok!
"Den! Nyonya besar sudah menunggu untuk sarapan!" ucap pelayan itu tanpa menunggu pintu kamar yang diketuk nya terbuka.
"Bilang sama mereka sarapan duluan saja!" sahut Raka dari dalam kamarnya.
Pelayan itu segera kembali untuk menyampaikan pesan dari Raka.
Didalam kamar Rea dan Raka.
Raka sudah selesai membersihkan diri, ia juga sudah berpakaian lengkap.
"Aku kesiangan ya?" ucap Rea yang baru membuka matanya.
"Hari ini kamu gak akan pergi kemana-mana. Tidur saja sepuasnya," ucap Raka.
Rea hendak duduk namun niatnya ia urungkan karena area perut bawahnya terasa sakit.
Raka yang melihat raut wajah Rea yang seperti orang kesakitan langsung mendekati Rea!
"Kenapa?" ucapnya.
"Sakit," lirih Rea.
"Masih sakit, maaf ya." Raka meminta maaf lagi kepada Rea.
Rea berusaha bangun karena ia merasa ingin buang air kecil!
"Awh!" Rea meringis.
Raka mulai khawatir kepada Rea, semalam adalah yang pertama bagi Rea dan Raka keduanya sama-sama tidak tahu bagaimana efek setelah melakukannya.
Raka segera membantu Rea untuk duduk!
"Apa sesakit ini?" tanya Raka.
"Ini gara-gara kamu, aku jadi sulit bergerak," ucap Rea.
"Maaf." Raka memangku Rea lalu mengantarkannya ke kamar mandi!
Raka masih berdiri didalam kamar mandi setelah menurunkan Rea dari pangkuannya.
"Kakak, keluar! Aku mau mandi," ucap Rea.
"Mandi saja, kakak mau nungguin kamu," ucap Raka dengan santainya.
"Kakak keluar gak! Kalau tidak, sabun ini melayang dan akan mendarat di kepala Kakak," ucap Rea sembari memegang botol sabun cair miliknya.
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal!
"Iya, Kakak pergi," ucap Raka.
Raka pergi meninggalkan Rea di kamar mandi!
Raka tersenyum saat melihat bercak darah berwarna merah jambu di sprei.
"Ternyata semalam adalah yang pertama bagi kamu Re," gumam Raka.
__ADS_1
Raka mengusap bahunya yang terluka karena terkena cengkraman Rea semalam!
"Gak rugi meski aku harus terluka seperti ini," gumam Raka lagi.