
Sudah beberapa hari, Dania tidak datang ke restoran tempat dia bekerja.
Laura sudah mencoba menghubunginya, namun tidak satu kali pun Dania menerima telpon dari Laura. Hal itu membuat Laura khawatir terhadap temannya itu.
Siang itu, saat Laura beristirahat, dia meminta izin kepada Devan untuk pergi ke rumah Dania, Laura ingin sekali bertemu dengan temannya itu untuk menanyakan apa yang terjadi pada Dania.
"Pak, saya boleh pergi? sebentar saja," ucap Laura kepada Devan.
"Kemana?" tanya Devan tanpa menatap Laura.
"Saya mau ke rumah Dania dan kemungkinan saya agak lama di sana itupun kalau Anda mengizinkan saya untuk pergi."
Devan tak langsung memberi izin kepada Laura, dia terlihat berpikir sejenak.
"Aku sudah mencoba menghubungi Dania tapi dia tak mau menerima telpon dariku," ucap Devan didalam hatinya.
Devan menatap Laura dengan senyum tipis di bibirnya.
"Baiklah, saya izinkan kamu pergi tapi kamu beneran pergi ke rumah Dania Kan?"
"Iya, Pak tentu saja," sahut Laura.
"Ya udah, pergi sana. Bujuk Dania agar dia mau bekerja lagi di sini."
"Baik, Pak."
Laura pun segera pergi, dia sangat ingin sekali berbicara dengan temannya!
...****************...
Bruk!
Aulya mendorong Shena hingga Shena terjatuh.
"Ups, maaf, Shena ski tidak sengaja," ucap Aulya tanpa berniat membantu Shena untuk berdiri.
"Shena!" seru Rita dan Shendy.
Dua gadis itu berlari menghampiri Shena yang masih terduduk di lantai!
Setelah tiba di dekat Shena, Rita langsung membantu Shena untuk berdiri sedangkan Shendy berdiri sembari menatap Aulya dengan tatapan tajam.
"Lo sengaja kan mendorong Shena?" ucap Shendy kepada Aulya.
"Shena, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rita sembari membantu Shena.
"Aku gak apa-apa kok, santai saja," sahut Shena sembari memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
"Siapa yang mendorong Shena? Gue udah bilang kalau gue gak sengaja dan tadi gue juga udah minta maaf sama Shena," ucap Aulya.
"Lo ya, pinter banget ngeles nya. Jelas-jelas tadi gue lihat lo mendorong Shena!" sungut Rita.
"Udah-udah, kalian apaan sih? Aku gak apa-apa ko, ayo kita pergi saja dari sini," ucap Shena.
Aulya tersenyum sinis ke arah tiga wanita cantik itu.
"Pergi sana, jangan dekat-dekat sama gue. Gak level gue sama kalian," ucap Aulya.
__ADS_1
Shendy ingin sekali menampar mulut Aulya yang selalu berbicara tidak mengenakkan hatinya.
"Jangan berani lo sentuh gue," ucap Aulya saat tahu kalau Shendy sudah bersiap akan memukulnya.
Shena menarik tangan Shendy dan membawanya pergi dari tempat itu.
Aulya menatap kepergian mereka dengan tangannya yang ia sedekapkan di dadanya, sebuah senyuman licik terukir di bibir Aulya.
"Gue gak akan biarkan lo hidup tenang di kantor ini," ucap Aulya didalam hatinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Shaka mengetuk pintu ruangan Reyhan.
"Masuk!" seru Reyhan dari dalam ruangannya.
Shaka membuka pintu itu lalu segera masuk ke dalam ruangan itu.
"Anda memanggil saya?" tanya Shaka sembari berjalan menghampiri Reyhan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Iya," sahut Reyhan tanpa memalingkan pandangannya dari laptop di depannya.
Shaka masih berdiri di depan meja kerjanya Reyhan, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Reyhan kepadanya.
Reyhan terlihat mengotak-atik keyboard laptopnya lalu sedetik kemudian menutup laptopnya.
"Duduklah," ucap Reyhan.
"Ada apa Pak?" tanya Shaka.
"Saya butuh karyawan baru untuk menggantikan posisi Shena, tolong kamu sebar pengumuman ini ya."
Shaka terdiam sembari menatap Reyhan dengan tatapan bingung.
"Pak, tapi kenapa? Bukankah selama ini Shena bekerja dengan baik, dia tidak pernah melakukan kesalahan dan lagi dia belum lama juga bekerja di sini," ucap Shaka panjang lebar.
"Kamu kerjakan saja apa yang saya katakan. Jangan banyak tanya."
"B_baik, Pak. Akan segera saya laksanakan."
Shaka segera pamit undur diri, terlihat raut wajahnya yang tak setuju dengan keputusan Reyhan.
...****************...
Di pinggir jalan, Susan sedang berbicara dengan dua laki-laki yang penampilannya sangat jauh berbeda dengan orang-orang kalangan menengah ke atas.
Susan memberikan sebuah foto kepada dua laki-laki itu.
"Apa ini?" tanya salah satu dari laki-laki itu.
"Itu foto, Shena. Dia itu mantan suami saya, kalian buat dia tidak bisa bertemu dengan suami saya lagi," ucap Susan.
"Kami tidak bisa membunuh, karena kami bukan pembunuh," sahut laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya tidak menyuruh kalian untuk membunuh dia. Kalian culik saja dia dan buang ke mana kek, ke tempat yang jauh yang tidak mungkin bisa dia kembali lagi ke sini," jelas Susan.
Dua laki-laki yang ternyata adalah preman jalanan itu saling menatap satu sama lain lalu kembali menatap Susan.
"Berapa bayaran yang akan kami dapat?" tanya preman itu.
"Sepuluh juta. Sekarang saya kasih lima juta dan sisanya nanti setelah kalian berhasil mengerjakan tugas kalian."
"Baik, akan kami lakukan."
"Bagus, kalau sudah selesai hubungi saya di nomor ini," ucap Susan sembari memberikan secarik kertas yang sudah dia tulis nomor ponselnya disana.
...****************...
Di rumah Dania tepatnya di kamar Dania.
"Kamu kenapa sih udah tiga hari gak kerja?" tanya Laura kepada Dania.
"Aku sedang tidak enak badan," sahut Dania.
"Sampai kamu gak bisa menerima telpon dari aku?"
"Maafkan aku, Laura kemarin aku lupa menaruh ponselku dimana dan bau ketemu semalam," jelas Dania.
Laura menarik nafasnya panjang lalu membuangnya dari mulut sembari menatap Dania.
"Lain kali, jangan begitu ya. Aku khawatir sama kamu," ucap Laura.
Dania dan Laura saling berpelukan.
"Aku harap kamu cepat kembali ke restoran ya, aku merasa asing tanpa kamu," ucap Laura.
"Aku malah ada rencana mau berhenti," ucap Dania.
"Apa! Apa maksudmu?" Laura berucap sembari menatap Dania dengan matanya yang terbuka lebar.
"Ceritanya panjang, nanti setelah aku ada waktu, aku akan cerita semuanya sama kamu."
"Kenapa, Dania? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Kejadian memalukan, bahkan sampai membuat aku merasa malu untuk keluar dari rumah ini."
"Astaga, Dania kamu sabar ya. Aku pasti selalu ada untuk kamu, kamu tenang saja ya."
Dania tersenyum tipis ke arah Laura lalu kembali memeluk temannya itu!
"Pada ngobrolin apa sih?" tanya Widya.
Dania dan Laura menatap ke arah suara.
"Bibi," ucap Dania dan Laura secara bersamaan.
Widya tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri dua gadis itu!
"Laura, kamu gak dimarahin sama Bos kamu, berlama-lama di sini?" tanya Widya.
Sudah hampir dua jam, Laura di rumah Dania, karena Widya sudah mengenal Laura dengan baik, tanpa ragu dia mengingatkan gadis itu.
__ADS_1
Laura memang sering berkunjung ke rumahnya untuk menemui Dania karena itulah Widya juga mengenal Laura dengan baik.
Bersambung