Dendam Cinta

Dendam Cinta
Dendam Cinta bab 54


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah, Shena berhasil mencapai tujuannya, kini dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menendang mereka dari rumahnya.


Hari ini keluarga, Devan sedang sarapan bersama.


"Shena, satu minggu lagi kita nikah ya," ucap, Devan sembari mengunyah makanannya.


"Iya, Mas. Aku bahagia banget dan udah gak sabar menunggu hari itu." Shena tersenyum ke arah, Devan.


"Iya, sayang aku juga gak sabar menunggu hari itu."


"Bukan hari pernikahan yang aku tunggu, Mas tapi hari dimana aku mengembalikan kamu ke tempat mu," ucap, Shena didalam hatinya.


"Mas, Zafira sedang sakit kamu malah mikirin nikah sama dia," protes, Susan.


"Zafira kan sudah ditangani dokter. Kamu jangan khawatir karena aku akan terus membiayai kalian meski aku sudah menikah dengan, Shena," ucap, Devan kepada, Susan.


"Susan, kamu harus mengikhlaskan suamimu untuk aku ya. Kita akan berbagai suami mulai minggu depan," ucap, Shena. Senyuman manis terus membingkai di wajah, Shena.


Susan tak menanggapi perkataan, Shena dia malah memalingkan wajahnya ke arah, Devan.


"Mas, hari ini jadwalnya, Zafira kontrol. Kamu temani aku ke rumah sakit ya," ucap, Susan pada, Devan.


"Aku sibuk. Aku mau membeli semua kebutuhan pernikahan aku dan Shena."


"Mas, kamu bisa belanja setelah mengantar aku ke rumah sakit kan? Astaga kenapa kamu terus memikirkan, Shena tapi tidak pernah memikirkan aku dan Zafira."


"Drama terus. Pagi-pagi kamu sudah bersandiwara," gumam, Devan.


"Mas, sebaiknya kamu antar saja mereka dulu. Aku akan belanja sendiri," ucap, Shena.


"Kamu tidak apa-apa pergi sendiri?"


"Tidak. Aku bisa melakukan semuanya sendiri."


*******


Di kantor, Reyhan.


Reyhan duduk di kursi kebesarannya sambil terus memikirkan tentang, Shena. Dia terlalu besar menaruh harapan pada, Shena.


"Sayang, kenapa kamu terus melamun? Apa ada masalah pada perusahaan kita?" tanya, Anthika pada, Reyhan.


"Tidak, Bu. Perusahaan baik-baik saja," sahut, Reyhan.


"Lalu kenapa kamu terlihat banyak pikiran gini?"


"Ma, jujur aku cinta sama, Shena tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawaban dari dia. Aku tidak tahu sebenarnya dia cinta atau tidak padaku."


"Kenapa tidak kamu tanyakan pada dia?"


"Sudah aku tanyakan tapi jawabannya selalu sama. Dia ingin mengejar sesuatu yang dia inginkan."


"Kalau gitu, serahkan semua sama, Mama. Mama akan menanyakannya pada, Shena. Tapi tunggu, secinta ini kah kamu sama dia sampai-sampai kamu tidak bisa melihat wanita lain yang mungkin lebih baik dari, Shena."


"Ma, aku sukanya sama, Sheila. Dia berbeda, Ma dia berbeda dari wanita lainnya."


"Terserah kamu saja. Nanti sore antar, Mama untuk ketemu sama, Shena, kamu jangan melamun terus bekerjalah dengan benar." Anthika pergi meninggalkan, Reyhan di ruangannya.


"M_ma tunggu. Ma!" Reyhan ingin mengatakan bahwa, Shena tidak bisa di temui karena sekarang dia tidak ada di rumahnya namun, Anthika tidak menghiraukannya.


"Terpaksa aku harus datang ke rumah itu lagi," gumam, Reyhan.


*******


Susan dan Devan sudah pergi sejak pagi, kini di rumah itu hanya ada, Shena dan asisten rumah tangganya.


"Mbak, tolong kemasi pakaian, Susan dan anaknya ya," ucap, Shena kepada asisten rumah tangganya.


"Kenapa, Bu?" tanya, asisten rumah tangga itu.


"Turuti saja perkataan saya."

__ADS_1


Asisten rumah tangga itu langsung mengerjakan perintah, Shena.


Sementara asisten rumah tangga itu memasukkan pakaian, Susan dan Zafira kedalam koper, Shena memasukkan pakaian, Devan kedalam koper tanpa satupun yang tersisa.


Setelah itu, Shena membawa koper itu ke ruang tamu!


"Sudah selesai?" tanya, Shena.


"Sudah, Bu."


"Tidak ada yang tersisa kan?"


"Tidak, Bu."


"Bagus, sekarang bawa koper itu ke ruang tamu."


Shena akan melakukan rencana terakhirnya.


*******


Hari sudah sore. Saat, Reyhan sudah selesai dengan pekerjaannya dia langsung pergi menjemput, Anthika! Sore ini mereka akan menemui, Shena dan akan langsung melamarnya.


Tak butuh waktu lama akhirnya, Reyhan tiba di depan rumahnya dan ternyata, Anthika sudah siap untuk pergi.


"Kita langsung pergi saja, Sayang," ucap Anthika.


"Tapi aku belum mandi dan belum–"


"Kamu sudah tampan, sayang." Anthika langsung masuk ke dalam mobil itu dan tanpa penolakan, Reyhan langsung mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal, Shena.


*******


Hari sudah sore, waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat tiga puluh menit. Devan dan Susan baru tiba di rumahnya.


Mereka turun dari mobilnya lalu berjalan menuju pintu utama rumahnya!


Shena sedang menunggu mereka pulang di depan pintu. Sebuah senyuman terukir di bibirnya saat melihat orang yang ditunggu nya sudah tiba.


"Shena, kamu menunggu kami di sini?" tanya, Devan.


"Apa maksudmu? Aku lelah," ucap, Susan sembari berusaha masuk ke dalam rumahnya.


Shena menghentikan langkah, Susan dan mendorongnya agar menjauh dari pintu masuk!


"Mbak! Keluarkan semua barang-barang mereka," ucap Shena kepada asisten rumah tangganya.


Asisten rumah tangga itu pun mengeluarkan beberapa koper yang berisi pakaian mereka.


"Ini pakaian kalian. Pergilah dari sini dan jangan pernah kalian menginjakkan kaki kalian di di rumah ini." Shena melemparkan koper-koper itu ke halaman rumahnya.


Reyhan dan Anthika baru tiba di depan rumah Shena. Mereka mendengar adanya keributan dan mereka pun langsung turun dari mobilnya dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini, Reyhan?" tanya, Anthika.


"Aku tidak tahu, Ma."


Reyhan dan Anthika tidak berani masuk karena sedang ada keributan, mereka hanya berdiri didepan gerbang sambil menyaksikan kejadian itu.


"Shena! Berani-beraninya kamu mengusir aku dari rumahku sendiri!" bentak, Devan.


Devan berjalan memasuki rumah itu meski, Shena sudah melarangnya!


"Kamu mau kemana?" Shena berjalan mengikuti langkah, Devan.


Devan nampak mencari sesuatu miliknya yang dia simpan dendam rapi.


"Ini! Kamu mencari ini kan?" Shena memperlihatkan surat-surat yang sudah dia alihkan nama kepemilikannya.


Devan meraih surat-surat itu dari tangan, Shena dengan kasar lalu dia membaca semuanya.


Devan menatap, Shena dengan tatapan tajamnya. "Kamu!"

__ADS_1


Shena mendorong, Devan agar keluar dari rumahnya!


"Ya, aku sengaja masuk ke dalam kehidupan kamu untuk mengambil ini. Aku tidak pernah mencintai kamu sedikitpun."


"Shena, tolong jangan usir aku dari sini. Aku gak punya tempat untuk pulang," ucap, Susan.


"Aku tidak perduli. Pergi kalian dari rumahku!"


Susan menangis, memohon agar, Shena mengasihani dirinya.


"Shena tidakkah kamu kasihan pada bayi yang tak berdosa ini? Setidaknya kasihanilah kami walau sedikit. Kamu perempuan, aku perempuan kamu juga punya anak kan. Tolonglah, anakku sedang sakit."


Shena tertawa kecut. "Sekarang kamu bisa berkata seperti itu. Dimana kamu waktu dulu aku ditendang dari rumahku sendiri? Waktu itu kalian mengusirku dari rumah aku sendiri, apa ada sedikit saja kalian merasa kasihan padaku? Apa ada yang perduli pada anakku yang waktu itu sedang sakit keras?" Shena menggelengkan kepalanya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


Sebenarnya, Shena tak tega melihat mereka tapi karena dendamnya, dia harus bisa melakukan itu semua.


"Tidak. Saat itu tidak ada sedikitpun kalian mengasihani aku, kalian membiarkan aku pergi dimalam hari dengan keadaan hujan deras," sambung, Shena dengan sedikit berteriak.


"Shena aku mohon maafkan aku. Sekarang aku benar-benar mencintaimu, aku benar-benar ingin berubah. Kembalilah, Shena," ucap, Devan dengan berurai air mata.


Shena tak menghiraukan perkataan, Devan hanya ada air mata yang terus keluar dari pelupuk nya.


"Shena, demi anak kita," sambung, Devan.


"Demi anak, kamu bilang. Kemana saja kamu selama ini, saat aku dan anakku butuh kamu?"


"Shena aku mohon jangan usir aku, aku ingin bertemu dengan anak kita," ucap, Devan.


"Shena, tolong jangan usir aku dari sini, aku gak punya tempat lain selain rumah ini," ucap, Susan.


"Aku tidak perduli. Pergi kamu dari rumah aku!" Shena berteriak sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu gerbang rumahnya.


"Dan kamu, Mas. Kalau kamu ingin bertemu dengan, Deshyana silahkan kamu mati dan temui dia di atas sana!" Shena berteriak kepada, Devan dengan volume tinggi.


Shena mendorong, Susan dan Devan dengan keras hingga, Susan dan Devan melangkah mundur beberapa langkah.


Shena, masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dengan sangat keras! Shena menyandarkan punggungnya dibalik pintu, dia menangis deras perlahan tubuhnya merosot hingga dirinya duduk di lantai.


Susan dan Devan pergi dari rumah itu dengan rasa penyesalan yang besar.


Asisten rumah tangga itu, menghampiri, Shena dan membantunya berdiri!


"Bu, sudahlah. Jangan menangis, saya tidak tahu dengan apa yang terjadi diantara, Ibu dan mereka, saya tidak tega melihat, Ibu seperti ini."


Tak lama setelah, Shena duduk di kursi itu, Reyhan dan Anthika masuk ke rumah, Shena tanpa mengetuk pintu. Mereka berjalan menghampiri, Shena yang terus saja menangis!


"Shena, jadi ini yang selama ini ingin kamu gapai?" tanya, Reyhan.


Shena mendongakkan kepalanya menatap orang yang bertanya padanya.


"Mas Reyhan, iya selama ini aku mengejar semua ini. Sekarang kamu sudah tahu bagaimana aku, aku tidak akan memaksa kamu untuk mencintai aku lagi," ucap, Shena disela tangisnya.


Reyhan memeluk, Shena lalu menghapus air matanya!


"Aku tetap cinta sama kamu. Aku tetap akan menikahi kamu," ucap, Reyhan.


Anthika tersenyum lalu memeluk, Shena dan Reyhan!


"Mama akan urus pernikahan kalian secepatnya," ucap, Anthika.


Tamat.


Teman-teman, mampir yuk ke karya temanku yang berjudul dibawah ini.


Judul: Belenggu Pernikahan Semu


Author: teh ijo


~Pernikahan tanpa cinta, tak selamanya berakhir dengan bahagia~


Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.

__ADS_1


Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?



__ADS_2