Dendam Cinta

Dendam Cinta
Dendam_Cinta_Bab_31


__ADS_3

"Gimana, Dania? Kamu diterima?" tanya Shena kepada Dania.


"Ibu, tahu? Pak Reyhan langsung menerimaku," sahut Dania dengan senyuman bahagia.


"Apa, pantas saja kamu tidak sampai lima menit berada di dalam sana."


"Mungkin karena, Ibu yang merekomendasikan saya ke Bos."


"Tidak, Dania itu mungkin karena kamunya emang udah berpotensi."


"Bu, terimakasih ya."


"Jangan berterimakasih. Oh ya, Dania panggil sayang Shena saja jangan panggil, Ibu. Kita teman kan."


Dania tersenyum ramah, "baik Bu, eh maksudku S_shena."


"Lama-lama akan terbiasa. Aku lanjut kerja ya, Dania dan selamat datang di perusahaan ini."


...****************...


Di tempat tinggal Dania.


"Bu gulanya satu kilo sama terigu satu kilo ya," ucap Widya.


Saat itu, Widya sedang berada di warung yang terdapat di dekat rumahnya.


"Apa lagi, Bu Widya?" tanya Ibu pemilik warung itu.


"Udah itu saja, Bu," sahut Widya.


Ibu pemilik warung itu langsung menghitung barang belanjaan milik Widya dan memasukannya ke dalam kantong kresek!


"Enak ya, punya keponakan cantik. Pengen hidup enak tinggal godain bosnya dan setelah itu dapat uang banyak deh," ucap seorang Ibu-ibu yang baru tiba di tempat itu.


"Maksudnya apa? Saya tidak mengerti," ucap Widya.


"Jangan pura-pura bego, Widya. Saya tahu kalau si Dania, keponakan kamu itu jadi simpanan bosnya kan? Biar kalian bisa hidup enak."


"Maaf ya, Bu kalau tidak tahu apa-apa lebih baik Ibu tidak usah ikut campur. Ini urusan keluarga kami dan lagi, Dania bukan wanita seperti itu."


Widya segera membayar belanjaannya lalu segera pergi dari tempat itu sebelum amarahnya memuncak.


Ibu pemilik warung dan tetangganya, Widya itu pun menatap kepergian Widya.


"Udah ketahuan juga, masih saja mengelak."


"Bu, mau belanja apa?" tanya si pemilik warung.


"Beras sama telor," sahut Ibu itu.


"Eh, Bu sekarang kita harus lebih ketat dalam menjaga suami kita karena sekarang di komplek ini ada wanita penggoda," sambung Ibu itu.


"Tidak baik, Bu membicarakan orang. Belum tentu kita juga baik di mata orang lain, saya sih gak percaya kalau, Dania wanita seperti itu karena saya kenal dia sejak dia masih kecil," jelas Ibu pemilik warung itu.


...****************...


"Selamat siang, Pak," ucap Tantie kepada Devan.


Hari itu Devan ke restoran lebih dianggap daripada biasanya. Semenjak Dania berhenti bekerja di restoran itu, Devan selalu datang siang bahkan kadang sama sekali tidak datang.


"Laura, tolong buatkan saya kopi dan antarkan ke ruangan saya," ucap Devan kepada Laura.


"Baik, Pak," sahut Laura.

__ADS_1


Devan langsung berjalan memasuki ruangannya sedangkan Laura segera mengerjakan tugasnya.


"Kak, Pak Bos emang jutek kayak gitu ya?" tanya Tantie.


Gadis yang masih berusia delapan belas tahun itu belum tahu banyak tentang Bosnya jadi dia banyak bertanya kepada Laura.


"Biasanya, tidak," sahut Laura. "Kamu jangan panggil aku kakak, panggil, Laura saja," sambung Laura.


"Baik, Kak eh Laura. Tapi rasanya lebih nyaman manggil kakak."


"Ya sudah, terserah kamu saja deh."


Laura segera mengantarkan kopi pesanan Bosnya tadi!


...****************...


"Rupanya ini kantor tempat, Shena bekerja," ucap Pak Rudy yang kebetulan lewat sana.


Pak Rudy menatap bangunan tinggi didepannya dengan tatapan penuh bahagia. Dia bangga kepada Shena karena bisa bekerja di perusahaan besar.


"Bapak," gumam Shena.


Shena yang melihat Pak Rudy berdiri di depan kantornya, berjalan menghampiri Pak Rudy.


"Pak, Bapak ngapain di sini?" tanya Shena.


"Shena ... kebetulan, Bapak lewat sini dan melihat kamu. Ini tempat kamu kerja, Nak?"


"Iya, Pak aku kerja di sini."


"Kamu hebat bisa kerja di perusahaan besar ini, Nak."


"Semua karena doa dari Bapak dan Ibu."


"Iya, Pak hati-hati ya."


"Siapa itu?" tanya Rita yang melihat Pak Rudy dari belakang.


"Bapakku," sahut Shena.


"Oh, aku pikir mantan suamimu."


"Bukan, masa mantan suamiku tua begitu."


Shena dan Rita tertawa renyah sembari menatap Pak Rudy yang sudah menjauh dari mereka.


...****************...


Di kediaman Devan.


Susan sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar, dia akan menemui preman yang sudah dia bayar untuk menyingkirkan Shena. Susan ingin menanyakan apakah mereka sudah menjalankan pekerjaan mereka atau belum karena sudah beberapa hari mereka belum mengabarinya.


"Mbak, saya titip Zavira ya," ucap Susan kepada asisten rumah tangganya.


Setiap dia akan pergi, Susan selalu menitipkan putrinya kepada asisten rumah tangganya karena dirinya memang tak ingin kerepotan dengan bayinya itu.


"Baik, Bu," sahut asisten rumah tangganya itu.


"Kalau, Bapak pulang lebih dulu dari saya, katakan padanya Saya sedang ke rumah sakit untuk berobat. Ingat jangan mengatakan apa pun tentang saya apalagi tentang saya yang selalu keluar rumah setiap hari."


"Iya, Bu saya mengerti."


"Jaga, Zavira dengan baik kalau sampai terdapat luka memar atau bayi saya kenapa-kenapa. Saya tidak akan segan-segan untuk menjebloskan kamu ke penjara."

__ADS_1


Asisten rumah tangga itu hanya mengangguk pelan dengan kepalanya yang tertunduk ke bawah.


...****************...


"Apa yang harus aku lakukan agar aku cepat merebut hartaku dari, Mas Devan," gumam Shena.


Setiap hari, Shena selalu memikirkan bagaimana caranya dirinya merebut kembali hartanya dan membuat Susan dan Devan menyesal karena sudah memperlakukannya seperti itu.


"Aku harus bisa masuk ke dalam rumah itu, agar aku bisa mengambil semua dokumen penting. Jalan satu-satunya adalah, aku harus membujuk Devan agar segera menikahi aku lagi."


Shena meraih ponselnya lalu menelpon, Devan.


[Halo, Shena ada apa? Tumben kamu telpon aku?] ucap Devan dari sebrang telepon.


[Mas, aku ada yang mau dibicarakan dengan kamu. Bisa kita bertemu, malam nanti?] sahut Shena.


[Tentu saja, Shena, kamu mau bertemu denganku di mana?]


[Nanti aku kabari lagi lewat chat ya.]


[Baiklah, aku tunggu ya.]


[Syukur kalau kamu ada waktu.Ya udah aku lanjut kerja lagi ya, Mas.]


Shena menutup telponnya tanpa menunggu Devan berucap.


"Dalam waktu dekat aku harus bisa mengambil alih semua usahaku, aku harus bisa. Demi Deshyana," ucap Shena didalam hatinya.


...****************...


Malam harinya.


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah Pak Rudy, saat itu kira-kira pukul sembilan belas lewat dua puluh lima menit.


Bu Ayu membuka pintu rumahnya dan nampak Riky yang sedang berdiri di depan rumahnya itu.


"Mas Riky," ucap Bu Ayu.


"Iya, Bu. Bu Shena nya ada?" ucap Riky.


"Ada tamu ya, Bu?" ucap Shena sembari berjalan menghampiri Bu Ayu.


Shena sudah berpakaian rapi, dia sudah siap untuk pergi malam itu.


"Shena, kamu mau kemana?" tanya Riky.


"Mas Riky. Ngapain ke sini?" Shena malah bertanya balik.


"Tadinya aku mau ngajak kamu makan malam tapi kayaknya kamu sudah ada acara malam ini."


"Iya, aku ada janji dengan teman. Maaf ya, Mas aku gak bisa makan bareng dengan kamu."


"Tidak perlu minta maaf, kamu kan gak salah."


Shena tersenyum lalu segera berpamitan kepada Bu Ayu dan Riky, sebelumnya di dalam rumah, Shena sudah berpamitan kepada Pak Rudy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2