
Setelah berusaha mencari, akhirnya, Shena menemukan apa yang dia cari dari dalam sebuah tas kecil yang diletakkan di belakang lemari besar berwarna hitam itu.
Shena memeriksa semuanya dan memastikan surat-surat itu lengkap tanpa kurang satupun juga.
Setelah memastikan semuanya sudah lengkap, Shena segera mengambil surat-surat itu dan meletakkan tasnya ke tempat semula agar, Devan tak curiga dan tak tahu bahwa dirinya mengambil surat-surat berharga itu.
"Akhirnya aku menemukannya juga," gunakan, Shena.
Shena tersenyum lega, kini tinggal satu langkah lagi untuk dia mendapatkan kembali semua miliknya.
Dia segera keluar dari ruangan itu dengan membawa surat berharga miliknya untuk kemudian dia alihkan menjadi atas namanya lagi. Kini dia tinggal memikirkan bagaimana caranya agar, Devan menandatangani surat pengalihan aset-aset tersebut.
Sesampainya di dalam kamarnya, Shena menyimpan surat-surat itu di bawah tumpukan tempat tidurnya untuk menjaga-jaga jika, Devan curiga padanya.
Shena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan dia pun mulai tertidur.
*******
Pagi hari di kediaman, Devan.
"Mas, aku minta uang dong. Aku perlu perawatan biar aku tetap cantik," ucap, Shena pada, Devan saat mereka sedang sarapan.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya, Devan.
"Terserah kamu saja mau ngasihnya berapa, nanti aku tinggal sesuaikan perawatan ku dengan uang yang kamu kasih."
"Nanti aku transfer ya. Lima juta cukup gak?"
"Cukup, Mas. Terimakasih ya."
"Mas, kamu jangan menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang gak jelas gitu dong. Anak kita lagi butuh perawatan intensif dari dokter," ucap, Susan.
Susan tak terima dan tidak suka dengan, Devan yang terus memanjakan, Shena dengan uang sedangkan saat itu, Zafira sedang berobat jalan dan membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatannya.
"Susan, Shena harus cantik karena sebentar lagi dia akan bersanding denganku di atas pelaminan," ucap, Devan.
"Mas, anak kamu sedang sakit tapi kamu masih mikirin pernikahan kamu dengan wanita ini? Tega kamu, Mas." Susan membanting sendok yang dia pegang lalu pergi meninggalkan, Devan dan Shena di ruang makan!
Devan dan Shena hanya menatap kepergian, Susan dan setelah itu mereka melanjutkan sarapannya.
Di kamar, Susan.
Susan menangis sembari terus mengelus pipi, Zafira. Dia merasakan sakit di hatinya saat mendengar perkataan, Devan yang menyatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan menikah dengan, Shena.
__ADS_1
"Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran, Papamu, Nak. Kenapa dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan kita," ucap, Susan pada bayi mungil itu.
Susan sudah mencoba mempertahankan keutuhan rumah tangganya dengan, Devan namun ternyata suaminya itu selalu tergoda dengan wanita lain. Entah apa yang dicari oleh, Devan dari wanita-wanita itu padahal menurut, Susan semua wanita pasti sama.
Susan memejamkan matanya mencoba mengumpulkan semua kesabarannya. Dirinya tidak mungkin meminta, Devan untuk menceraikannya selain karena dirinya masih mencintai, Devan kehadiran, Zafira juga menjadi alasan untuk, Susan tetap bertahan dalam rasa sakitnya.
"Aku harus kuat, demi anakku demi masa depan anakku," gumam, Susan.
Susan menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
Di ruang keluarga.
"Kamu mau berangkat bareng aku atau mau bawa mobil sendiri?" tanya, Devan pada, Shena.
"Aku pergi sendiri saja, Mas lagian aku berangkatnya agak siangan soalnya dokter kecantikan aku lagi ada jadwal sama klien lain," jelas, Shena.
"Oh, ya udah kalau gitu aku pergi sekarang ya." Devan mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.
"Mas, tunggu!"
Baru, Devan melangkah beberapa langkah, Shena memanggilnya.
Devan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menjadi menghadap, Shena.
"Kamu gak mau lihat anakmu dulu? Tadi kata, Susan anakmu sedang sakit."
"Tidak, aku buru-buru. Zafira kan sudah dibawa ke rumah sakit, pasti dia sudah membaik."
Shena hanya tersenyum tipis dan tak berucap lagi.
Devan langsung pergi meninggalkan rumahnya!
Setelah, Devan pergi, Shena juga langsung pergi tak lupa dia membawa surat-surat berharga itu karena dia akan mengurus pengalihan nama pemilik dari semua sertifikat itu.
"Mau kemana kamu?" tanya, Susan saat melihat, Shena yang akan pergi dari rumah.
Shena menghentikan langkahnya lalu menatap, Susan. "Kamu gak dengar tadi aku bilang apa, Sama, Mas Devan? Aku mau ke salon kecantikan lah, mau kemana lagi."
"Shena seharusnya kamu tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk merawat diri."
"Suka-suka aku. Toh, Mas Devan nya juga gak keberatan aku pakai uang banyak untuk keperluan pribadi aku." Shena kembali melanjutkan langkahnya namun belum sampai ke depan pintu, Shena kembali menghentikan langkahnya.
Dia kembali mendekati, Susan dan berdiri sembari menatap, Susan dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Oh ya, Susan setelah aku nikah sama, Mas Devan aku mau ajak dia bulan madu ke Jepang. Kamu siapin air mata kamu ya untuk menangisi malam indah kami, jangan sampai pas aku dan, Mas Devan mau pergi kamu sudah kehabisan air mata karena sekarang kamu lebih sering menangis dibandingkan tertawa."
Susan mengeratkan rahangnya, ingin sekali dia menampar mulut, Shena dengan sekuat tenaganya namun hal itu tidak dia lakukan karena tahu, Shena akan membalasnya.
Shena langsung pergi meninggalkan, Susan sendirian di rumahnya!
"Menangis lah, Susan menangis lah. Nikmati rasa sakit yang dulu pernah kamu berikan padaku, sekarang aku datang untuk mengembalikan semuanya padamu," ucap, Shena didalam hatinya sembari terus berjalan ke luar dari rumahnya.
*******
Di suatu tempat.
Shena menemui seorang laki-laki yang sudah dia kenal, ya laki-laki itu adalah pengacara pribadi keluarganya yang dulu membantu, Devan untuk mengalihkan semua aset milik, Shena menjadi miliknya. Kini, Shena juga akan meminta bantuannya untuk melakukannya hal yang sama seperti yang, Devan lakukan padanya dulu.
"Jadi kapan semuanya selesai?" tanya, Shena pada laki-laki itu.
"Belum tentu, nanti kalau sudah selesai saya akan mengabari, Mbak Shena," sahut pengacara itu.
"Baiklah, saya tidak bisa berlama-lama. Saya permisi ya." Shena beranjak dari duduknya lalu mulai meninggalkan tempat itu!
"Semoga yang aku lakukan ini adalah yang terbaik, untuk aku dan juga keluarga, Mas Devan. Semoga dia bisa berubah dan menyadari semua kesalahannya," ucap, Shena didalam hatinya.
Meski, Shena merasa dendam kepada, Devan dan Susan tapi dirinya masih mempunyai sedikit rasa kasihan kepada mereka.
Bersambung.
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Jangan lupa mampir ke karya temanku yang ini ya, semuanya. Ceritanya pasti seru.
Judul: Penelusuran Gaib Rania
Author: Novi putri ang
Mobil hitam melintas di atas tanah berlumpur, diluar nampak hujan deras yang tak kunjung reda. Dan kilatan guntur terlihat di langit menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar.
Malam ini terasa mencekam. Dari kejauhan, bayangan sebuah rumah kuno terlihat di antara pepohonan besar, bersembunyi di balik kegelapan.
"Aah. Perasaan apa ini, kenapa perasaan tidak enak mengganggu pikiranku?" batinku berkata seakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.
Ya, benar saja. Kisah mistisku belum berakhir. Meskipun aku telah meninggalkan Desa Nenekku, Desa Rawa Belatung. Aku selalu saja berurusan dengan hal-hal gaib. Penelusuran gaib yang terus membawaku bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata, yang terus mengikuti setiap perjalanan hidupku.
__ADS_1