Dendam Cinta

Dendam Cinta
#Dendam_Cinta_Bab_22


__ADS_3

Setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan Shena dengan cara sembunyi-sembunyi dari Susan kini hubungan diantara Devan dan Susan sudah diketahui oleh Susan.


Hal itu membuat hubungan Devan dan Susan berantakan, setelah Susan mengetahui hubungannya dengan Shena, Devan tak lagi menutup-nutupi segalanya dari Susan hal seperti itu pernah Devan lakukan pada Shena saat Devan masih berumahtangga dengan Shena dan berpacaran dengan Susan.


Hari itu Shena sengaja datang ke rumah Devan dan Susan, dia semakin berani dalam melanjutkan hubungannya dengan Devan demi tujuannya.


"Susan! Mana pacarku?" tanya Shena dengan suara yang sedikit tinggi.


"Shena, kamu ini wanita macam apa sih? Berani-beraninya kamu mengakui laki-laki yang sudah beristri sebagai pacarmu," ucap Susan.


Shena tak mendengarkan perkataan Susan, dia terus berjalan menuju ruangan tempat Devan berada!


Susan menarik tangan Shena lalu menyeretnya ke luar rumahnya!


"Dasar wanita tidak punya harga diri, bisanya hanya merebut dan menggoda suami orang."


Shena tak melakukan perlawanan, dia terus melangkah mengikuti kemana Susan membawanya dan setelah mereka berada di luar rumah Shena baru membuka suaranya.


"Aku rasa perkataan mu tadi itu bukan untukku tapi untuk dirimu sendiri. Aku senang akhirnya kamu menyadari siapa dirimu sebenarnya," ucap Shena pada Susan.


Susan terdiam tanpa kata dengan posisi masih berdiri di tempat semula.


"Permisi," ucap Shena lagi.


Shena segera pergi meninggalkan rumah itu karena tak ingin membuat keributan!


...****************...


Di restoran.


Dania dan Laura sedang bekerja, seperti biasa mereka selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik, mereka melayani setiap pengunjung yang datang dengan ramah dan dengan senyuman terbaik yang mereka miliki.


Saat kondisi Restoran agak sepi, Dania dan Laura memiliki waktu untuk beristirahat sejenak.


"Dania, kamu masih berhubungan sama Pak Devan?" tanya Laura.


"Masih," sahut Dania singkat.


"Kamu masih perawan 'kan?"


Dania menatap temannya itu dengan tatapan aneh.


"Maksud kamu apa bertanya seperti itu?"


"Ya, mendengar curhatan kamu selama ini membuat aku penasaran ingin menanyakan hal ini."


"Aku masih perawan lah, kamu pikir aku akan memberikan diriku sama laki-laki gak tahu diri itu?"


"Ya gak gitu juga sih. Kalau Pak Devan mau, dia bisa memaksa kamu meskipun kamu gak mau 'kan."


"Iya sih, tapi sepertinya untuk melakukan itu Pak Devan juga masih mikir dua kali deh soalnya dia gak pernah mengajak aku untuk melakukan itu."


"Bagus lah kalau gitu. Aku jadi gak khawatir lagi sama kamu."


"Terimakasih ya, Laura kamu memang teman aku yang terbaik."


"Iya. Baru sadar ya kalau aku memang yang terbaik."


Dania dan Laura tertawa renyah, mereka memang selalu membagi keluh kesah mereka.


...****************...


Shena sedang berjalan santai memasuki kantor tempat dirinya bekerja! Setelah beristirahat untuk makan siang, kini dia tinggal menunggu jam untuk memulai pekerjaannya lagi.


"Shena!"


Aulya memanggil Shena sembari menarik tangan Shena dengan kasar!


"Apa sih? Bisa gak kamu jangan main kasar gini sama aku," ucap Shena.


"Kamu yang memaksa aku untuk berbuat kasar gini! Aku udah peringatkan berkali-kali ya untuk kamu jangan deketin Pak Reyhan tapi kamu malah semakin dekat sama dia."


"Maaf ya, Aulya aku gak pernah deketin Pak Reyhan, Pak Reyhan sendiri yang ngedeketin aku."


"Kamu jangan macam-macam ya sama aku. Aku ini sekretarisnya Pak Reyhan, aku bisa saja memecat kamu," ucap Aulya dengan nada tinggi.


Merasa punya jabatan tinggi dan sudah bekerja lumayan lama di tempat itu membuat Aulya menjadi egois dan selalu ingin menang sendiri seolah-olah dirinya adalah satu-satunya karyawan yang boleh dekat dengan Reyhan.


Shena tak berucap lagi, dia lebih memilih pergi meninggalkan Aulya daripada nantinya dirinya beneran dipecat dari pekerjaannya!

__ADS_1


Shena duduk di kursi tempatnya bekerja! Dia menaruh tasnya di atas meja kerjanya dengan sedikit kasar.


"Kamu kenapa, datang-datang pasang raut kesal gitu?" tanya Rita.


"Aku kesel sama sekretarisnya Pak Reyhan, masa dia mengancam akan memecat aku dari sini," ucap Aulya dengan raut wajahnya yang keki.


"Jangan dipikirkan, wanita itu hanya iri padamu karena kamu jauh lebih diperhatikan oleh Pak Reyhan dibandingkan dengan dirinya," ucap Rita.


"Itu dia Ta, Aulya gak suka kalau aku dekat-dekat dengan Pak Reyhan, makanya dia ngancam aku kayak gitu."


"Jangan takut, aku yakin Pak Reyhan gak akan memecat kamu karena alasan yang gak jelas lagipula si Aulya itu tidak punya bukti kalau kamu kerjanya gak bener 'kan?"


"Bisa saja, Ta. Aulya 'kan sekretarisnya Pak Reyhan, dia bisa memberikan alasan apapun terhadap bos kita itu."


"Sudahlah jangan dipikirkan."


...****************...


Riky sedang membawa Alesha berjalan berkeliling taman yang terdapat tidak jauh dari kantornya.


Gadis kecil itu memang kadang suka ingin ditemani jalan-jalan oleh sang Ayah mungkin karena dia bosan terus bermain dengan babysitter nya.


"Pa, sebenarnya Mama kemana sih? Kok Mama gak pernah pulang?" tanya gadis kecil itu pada Riky.


Alesha yang tak tahu kalau Mamanya sudah meninggal itu, mulai penasaran dengan sosok Mamanya.


Riky menang tidak memberitahu lebih tepatnya lagi belum memberi tahu Alesha bahwa Mamanya sudah meninggal, menurutnya Alesha masih terlalu kecil untuk memahami semua itu.


"Sayang, Mama ada kok. Mama selalu mendoakan kita agar kita baik-baik saja, O ya. Jangan lupa kamu juga doain Mama agar Mama selalu bahagia," sahut Riky.


"Tapi Alesha mau ketemu sama Mama, Alesha pengen kenalan sama Mama."


Gadis kecil yang masih polos itu berucap dengan nada bicaranya yang lucu dan menggemaskan.


"Iya, sayang Papa tahu itu, nanti kalau udah waktunya pasti Papa ajak kamu ketemu sama Mama."


Riky tersenyum sembari mengusap kepala putrinya dengan sangat lembut.


'Maafkan Papa, Nak. Bukannya Papa tidak ingin berkata jujur padamu tapi diusia mu saat ini, rasanya Papa tidak tege mengatakannya padamu," ucap Riky didalam hatinya.


"Kapan, Pa? Aku ingin mengenalkan Mama ke teman-teman aku di sekolah. Setiap hari mereka diantar Mamanya sedangkan aku hanya diantar oleh Mbak Sari," ucap gadis kecil itu sembari menatap Papanya.


Mendengar perkataan putrinya, hati Riky terasa ada yang menusuk dengan pisau tajam, dia merasa sakit namun tak berdarah.


"Pa, kenapa Papa menangis?" tanya Alesha yang tak tahu kalau dirinya lah yang membuat Papanya bersedih.


"Tidak, siapa yang menangis? Papa hanya kelilipan, sayang."


Riky berbohong kepada Alesha karena tak ingin terlihat lemah dihadapan putrinya.


Bersambung.


Hai teman-teman, gak ada bosan-bosannya author ini akan mengajak kalian ke karya author yang lain.


Yuk kepoin karya author yang satu ini!


Judul: Terpaksa Menikah


Cuplikan Bab:


"Ini, Kakak bawakan makanan untuk kamu sarapan," ucap Raka.


Rea mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah tidak ingin makan."


Melihat sikap Rea, Raka merasa gemas, ingin sekali dirinya mencubit pipi sang istri.


Raka meletakkan makanan yang ia bawa di meja!


"Kalau gak mau makan, mending tambah ronde kedua yuk!" Raka menaik turunkan alisnya.


"Apa! Lagi? Kakak mau menyiksa aku?" ucap Rea dengan menaikan nada bicaranya.


Raka tersenyum sembari menatap wajah sang istri.


"Bukan menyiksa tapi memberimu kenikmatan."


"Nggak! Aku gak mau. Bekas semalam saja masih sakit," ucap Rea.


"Kalau aku tahu akan seperti ini, aku gak mau melakukannya," sambung Rea lagi.

__ADS_1


"Sakit karena semalam adalah yang pertama bagimu. Berarti malam itu Kakak gak melakukan apapun terhadapmu," ucap Raka.


Rea menatap Raka. Yang diucapkan Raka ada benarnya juga.


"Kalau gitu ... ."


"Kamu masih gadis," ucap Raka.


"Itu kemarin, sekarang udah nggak lagi," ucap Rea.


"Sekarang sudah terbukti kalau Kakak tidak melakukan apapun terhadapmu pada malam itu. Apa kita sudahi saja pernikahan kita?" ucap Raka dengan tatapan serius.


Rea memukul Raka! "Terus semalam apa?"


"Anggap saja itu sebagai cara untuk membuktikan tuduhan kalian terhadap Kakak," ucap Raka dengan santainya.


"Ternyata ini sifat aslimu Kak, kamu tidak jauh berbeda dengan laki-laki brengsek." Rea mulai menangis.


Raka tertawa kecil lalu memeluk Rea!


"Gitu aja nangis. Kakak hanya bercanda dan hanya ingin tahu seberapa besar cintamu pada Kakak," ucap Raka.


Raka menghapus air mata Rea lalu mengecup keningnya!


"Kakak gak mungkin ninggalin kamu, kamu begitu berarti buat Kakak," ucap Raka.


"Bercandanya jangan keterlaluan, aku takut."


"Maaf, lain kali tidak akan seperti ini lagi."


Rea dan Raka saling berpelukan.


****************


"Aku gak bisa biarin kamu bahagia di atas penderitaan aku, Raka," lirih Lisa.


Setelah beberapa kali lolos dari orang-orang suruhannya Raka, Lisa semakin menggila. Keinginannya untuk menghancurkan Raka semakin besar.


Lisa mulai menghalalkan segala cara untuk membuat hidup Raka tidak tenang.


Dengan kecantikan wajah yang Lisa miliki dan berbagai perkataan manisnya dengan gampangnya ia mendapatkan laki-laki yang bersedia memberinya uang dan kemewahan.


Lisa menggunakan uang dari laki-laki lain untuk menyewa preman yang bersedia melakukan apa yang ia inginkan.


Saat ini target utamanya adalah Rea dalam pikirannya jika Rea tiada Raka akan merasa tersiksa seperti yang ia rasakan saat kehilangan Bara dan Raka secara bersamaan.


****************


Alina dan Aldo sedang berada di sebuah kafe, keduanya tengah menikmati kebersamaan setelah memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih serius.


"Mas, aku harus bekerja. Aku tidak mungkin bergantung padamu terus," ucap Alina.


"Aku tidak bisa melarang apa yang ingin kamu lakukan, karena saat ini aku tidak berhak untuk itu. Kamu mau kerja apa?"


"Apa saja, yang penting halal dan bisa menghasilkan uang," sahut Alina.


"Nanti aku tanyakan sama temen-temen aku apakah ada lowongan pekerjaan di kantor mereka," ucap Aldo.


"Terimakasih."


"Pertama aku tanya sama Raka dulu."


"Kak Raka? Aku jadi kangen sama Rea," ucap Alina.


"Baru sehari gak ketemu udah kangen."


"Aku gak punya teman lagi selain Rea."


"Rea sudah punya teman baru, dia gak mungkin ingat kamu," ucap Aldo.


"Gak mungkin, Rea tidak seperti itu."


"Kamu tahu gak kalau Rea sudah menikah?" (Aldo)


"Menikah? Kapan dia menikah dan sama siapa dia menikah?" ucap Alina tak percaya.


"Sebenarnya Rea dan Raka bukan saudara, sebenarnya mereka adalah sepasang suami-istri," jelas Aldo.


Alina semakin tidak percaya dengan perkataan Aldo.

__ADS_1


"Kita temui mereka nanti sore, aku juga masih banyak pertanyaan untuk mereka," ucap Aldo.



__ADS_2