Dendam Cinta

Dendam Cinta
#Dendam_Cinta_Bab_25


__ADS_3

Dania menemui Shena untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya.


Dania langsung memeluk Shena dengan sangat erat dan air matanya yang mulai menetes membasahi pipinya.


Shena membalas pelukan Dania!


"Dania ada apa ini? Apa yang terjadi padamu?" tanya Shena.


"Bu Susan datang ke rumah saya, dia ...." Susan tak meneruskan pembicaraannya.


"Kenapa, Dania. Apa yang Susan lakukan padamu?"


"Dia menjambak rambut saya dengan sangat keras dia juga berteriak-teriak kalau aku merebut suaminya. Itu sangat memalukan, Bu sekarang semua orang di lingkungan saya membenci saya dan mencemooh saya."


Dania menangis sesenggukan di pelukan Shena.


Shena mengusap-usap punggung Dania lalu setelah itu melerai pelukannya!


"Minum dulu, Dania."


Shena memberi Dania minum agar gadis itu sedikit lebih tenang.


"Maafkan saya, Dania saya tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini," ucap Shena lagi.


Dania tak mengucapkan apa-apa, dia hanya diam sembari menggenggam botol air mineral yang diberikan oleh Shena.


"Bu, saya ingin lepas dari Pak Devan. Tolong bantu saya agar Pak Devan berhenti mengejar-ngejar saya," ucap Dania setelah beberapa menit terdiam.


"Saya akan bantu kamu. Saya yang meminta kamu untuk meladeni Devan. Saya pastikan Devan akan melepaskan kamu," sahut Shena.


...****************...


"Susan, aku minta kamu jangan ikut campur urusan pribadi aku! Jangan pernah kamu datang lagi ke rumahnya Dania!" ucap Devan dengan sedikit berteriak.


Saat itu malam hari sekitar jam dua puluh dua lewat lima belas menit.


Devan baru tiba di rumahnya dan langsung marah-marah kepada Susan.


"Mas, aku begini karena aku cinta sama kamu, aku gak mau kamu membagi cintamu dengan wanita lain," ucap Susan.


"Cukup Susan. Kamu tidak berhak melarang-larang aku."


"Aku berhak, Mas karena aku ini istrimu."


"Kamu hanya cinta pada uangku saja kan? Setiap bulan aku selalu mencukupi kebutuhan kamu lalu apa lagi yang kamu inginkan?"


"Aku ingin kamu selalu ada buat aku, aku ingin kamu hanya menjadi milikku."


"Tidak bisa Susan." Devan membentak Susan dengan suara tinggi.


"Jujur aku tidak mencintai Dania tapi aku mencintai Shena. Jangan pernah kamu melarang ku atau pun menyakiti Shena."


...****************...


Di kediaman Reyhan.


"Reyhan, kamu sudah lebih dari cukup umur untuk menikah. Kapan kamu akan menikah dan membahagiakan Mama," ucap Mamanya Reyhan.


Reyhan yang sedang asyik main ponsel mengarahkan pandangannya pada wanita cantik di depannya meski usianya sudah tak muda lagi.


"Ma, apa aku se_tua itu? Umurku baru tiga puluh satu tahun," ucap Reyhan.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini kamu seharusnya sudah memiliki dua anak, Reyhan."


"Ma, aku belum menemukan yang seperti dia."


"Reyhan, Nadya sudah tidak ada dan tidak akan ada gadis yang sama persis seperti dia. Kamu tidak bisa seperti ini terus."


Reyhan menundukkan kepalanya, dia tahu yang diucapkan oleh Mamanya itu sangat benar tapi sampai saat ini dia belum bisa melupakan Nadya yang telah tiada.


...****************...


"Assalamu'alaikum," ucap Shena saat tiba di rumah orang tuanya.


"Shena, kenapa pulang sampai se_larut ini?" tanya Bu Ayu.


"Bu, maaf ya karena sudah membuat Ibu khawatir tadi aku lembur di kantor," ucap Shena berbohong.


"Kenapa tidak mengabari Ibu atau Bapak? Kami di sini khawatir."


"Maaf ya, Bu."

__ADS_1


"Ya sudah, istirahatlah. Sudah larut malam."


Shena segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Setelah tiba di dalam kamarnya, Shena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai menutup matanya.


...****************...


Pagi telah tiba.


Hari itu Dania memutuskan untuk tidak bekerja lagi, Dia masih takut untuk datang ke tempat kerjanya karena takut Susan akan datang dan mempermalukan dirinya lagi.


"Dania, kamu kok masih tiduran? Sekarang udah jam berapa ini?" tanya Widya.


"Bi, aku gak masuk kerja lagi hari ini. Maaf ya Bi mungkin bulan ini gaji ku tidak akan full karena sering bolos kerja."


Widya menghela nafasnya lalu mengusap rambut Dania.


"Dania, Bibi tidak mengharapkan uang gaji mu. Kalau pun kamu berhenti bekerja, Bibi tidak akan marah, untuk makan sehari-hari kan Bibi masih bisa mendapatkan uang dari berjualan kue."


"Aku tahu Bi tapi jadinya kita gak punya tabungan lagi."


"Sudahlah, Dania jangan berpikir macam-macam. Kalau kamu masih takut untuk datang ke tempat kerja lebih baik kamu berhenti kerja dari sana agar Bos mu itu bisa mencari karyawan baru."


Dania terdiam, sebenarnya dia ingin berhenti bekerja tapi dirinya takut akan susah mencari pekerjaan di tempat lain.


"Bi, maafin aku ya karena aku sudah membuat Bibi malu sama tetangga."


"Jangan minta maaf, Dania, Bibi tahu kamu tidak menjadi selingkuhannya bos mu. Bibi percaya sepenuhnya sama kamu."


Bersambung.


Hai Teman-teman mampir yuk ke karya author yang baru.


Dengan judul: Gadis Bogor.


Cuplikan bab:


"Heh indah! Kalo udah beres masaknya. Nanti cuciin baju saya!" Ucap Vira kakak tirinya Indah.


"Iya teh," jawab Indah singkat.


"Indah! Indah!" Teriak ibu tirinya Indah.


Vina menjambak rambut Indah. "Indah! Kalo nyuci yang bersih! Kamu gak liat baju saya masih kotor!" Vina berucap dengan suaranya yang tinggi.


Wanita paruh baya itu memang tidak pernah berucap dengan nada lembut kepada Indah.


"Aww! Sakit bu," ringis Indah.


"Cuci lagi bajunya!" Ucap Vina.


Indah pun langsung mengerjakan perintah dari Ibu tirinya itu.


*******


Asep sudah pulang dari sawah, dia memang hanya menengok sawahnya sebentar karena semalam ada hujan badai jadi dia melihat kondisi sawahnya yang padinya sedang berbuah itu.


"Mau kemana A'?" tanya Asep yang melihat Rendi sudah berdandan rapi.


"Pak, saya mau pulang," sahut Rendi.


"Memangnya mobilnya sudah bisa jalan?"


"Sudah Pak, tadi dengan dibantu warga saya sudah memindahkan mobil saya ke jalan dan syukurnya mesin mobilnya tidak mati," jelas Rendi.


*******


Hari ini Rendi sudah berada di jakarta. Kini, ia sedang duduk melamun di ruangannya.


"Surya ... kamu sudah pulang?" tanya Firman (Papanya Rendi)


Rendi memang biasa dipanggil dengan nama Surya orang Firman namun dia lebih dikenal dengan nama Rendi di luaran.


"Eh, Papa. Iya pa," jawab Rendi singkat.


"Gimana, kamu suka ngga sama Tiara? dia cantik kan?" Tanya Papanya lagi.


Tiara adalah nama gadis yang Firman pilihkan untuk Surya.


"Aku gak ketemu sama Tiara, Pa. Kemarin aku kecelakaan dan alamat yang Papa kasih ke aku, hilang entah kemana," jelas Rendi.

__ADS_1


"Kamu ini gimana, Surya! ko bisa, kecelakaan?"


"Namanya juga musibah, Pa. Lagian mungkin Tiara bukan jodohku!" ucap Rendi.


Firman menggelengkan kepalanya. "Surya, bulan depan kita akan ke Bogor, untuk menemui Tiara dan keluarganya. Papa harap kamu mau menuruti kemauan Papa," ucap Firman lalu meninggalkan Rendi di ruangan itu.


"Aaaah! gimana bisa gue nikah sama orang yang nggak gue kenal," ucap Rendi seraya memukul meja kerjanya dengan tangannya.


*******


Di kediaman Indah.


Seakan tak ada hari tanpa siksaan, bagi Indah. Gadis malang itu selalu jadi bahan siksaan dan omelan Ibu dan Kaka tirinya.


"Bu ... kenapa ibu, nggak usir aja sih, si Indah dari rumah ini!" ucap Vira, kakak tirinya indah.


"Ga bisa sayang. Karena semua aset yg kita miliki ini, masih atas nama Indah," jawab Vina, ibu tirinya Indah.


"Ya udah kalo gitu, cepat balik nama. Jadi nama Ibu,"


"Ya ga bisa, segampang itu vira, Indah mana mau menandatangani surat pengalihannya,"


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah mereka.


Cklek!


Vina membuka pintu.


"Tuan, mari masuk!" ucap Vina pada tamu laki-laki yang dipanggilnya dengan sebutan tuan.


"Gimana, bu Vina? apa bu Vina jadi memberikan Indah pada saya?" tanya laki-laki itu.


"Mmm ... gimana ya, tuan?"


"Ibu tenang aja, saya akan beli Indah dengan harga 200 juta. Tapi kalo benar Indah masih gadis," ucap laki-laki itu.


Indah yang malang. Bukan hanya kejam ternyata Ibu tirinya juga berniat menjual gadis malang itu, pada laki-laki hidung belang.


"200 juta ... baik tuan! saya akan berikan Indah pada tuan. Nanti malam, saya akan bawa Indah ke hotel tempat Anda menginap."


******


Malam hatinya.


"Indah, pakai baju ini! dan dandan yg cantik!" ucap Vina sembari memberikan gaun seksi dan bisa di bilang kurang bahan.


"Kita mau kemana, Bu?" tanya Indah.


"Kita mau ke kota. Menemui teman bisnis Bapakmu," ucap Vina berbohong.


*******


Di hotel itu, seorang laki-laki sedang menunggu kedatangan Vina dan Indah. Tak lain dan tak bukan laki-laki itu adalah orang yang akan membeli Indah.


"Bu ... Indah gak nyaman pakai baju ini," ucap Indah sembari menurunkan roknya yang kependekan.


Karena tak biasa dengan pakaian seksi, Indah merasa tak nyaman dengan penampilannya sekarang.


Di kejauhan Vina sudah melihat keberadaan laki-laki bejat yang akan membeli Indah.


"Indah, ayo! ikut ibu ke sana!" ucap Vina sembari menarik tangan Indah.


"Bu, kita mau kemana?" tanya Indah.


"Udah, kamu, ikut aja!"


Sesampainya di tempat yang dijanjikan Vina dan laki-laki bejat itu.


"Tuan! maaf, saya telat," ucap Vina.


"Oh, jadi ini, Indah. Cantik!" ucap laki-laki itu sembari mencolek dagu Indah.


Karena tak nyaman dengan perlakuan laki-laki itu. Indah segera membuang muka menoleh ke sembarang tempat.


"Maaf, Tuan. Maklumlah masih, gadis," ucap Vina.

__ADS_1


"Tak, apa. saya suka dengan yang jutek seperti ini,"



__ADS_2