
Di kediaman Dania.
Dor!
Dor!
Dor!
Pagi itu seseorang menggedor pintu rumah Dania dengan begitu keras sehingga suaranya mengagetkan Dania dan Bibirnya yang sedang sarapan di dalam rumah mereka.
"Dania!"
"Dania keluar kamu!"
...----------------...
Di dalam rumah.
"Astaghfirullah, siapa itu, Dania? Kenapa dia sampai teriak-teriak gitu?" tanya Bik Widya kepada Dania.
"Gak tahu, Bik coba aku lihat dulu," sahut Dania.
Dania berjalan menghampiri pintu utama rumahnya! Untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sudah berteriak-teriak sepagi ini di depan rumahnya.
Cklek!
Dania membuka pintu rumahnya dan langsung nampak sosok Susan di depan pintu rumahnya.
"Bu Susan?" gumam Dania.
Pkak!
Tanpa aba-aba, Susan menampar pipi Dania.
"Aw," lirih Dania sembari memegangi pipinya.
"Berani ya kamu godain suami saya!" ucap Susan dengan menaikan nada bicaranya.
"Ada apa ribut-ribut, Dania?" tanya Widya yang mendengar keributan.
"Heh, Bu. Anda bilangin ya sama anak Ibu ini suruh dia cari laki-laki lain yang masih sendiri, jangan ngambil suami saya," ucap Susan kepada Widya.
"Apa? Maksud Anda apa? Dania tidak mungkin menyukai suami orang," sahut Widya.
"Maaf, Bu Susan sepertinya Anda salah orang, saya tidak pernah menggoda suami Anda. Silahkan Anda tinggalkan rumah saya," ucap Dania.
Susan murka kepada Dania, dia langsung menjambak rambut Dania dengan keras.
"Aaaah, sakit. Lepaskan saya Bu," ucap Dania sembari merintih kesakitan.
"Ini pelajaran buat kamu karena kamu berani menggoda suami saya," ucap Susan.
"Lepaskan! Lepaskan Dania," ucap Widya sembari mencoba melepaskan tangan Susan dari rambut panjang Dania.
Susan terus menarik-narik rambut Dania meski Dania sudah menangis kesakitan.
Tak lama Devan datang dan segera melepaskan tangan Susan yang mencengkram kuat rambut Dania.
__ADS_1
"Susan, lepaskan. Kamu apa-apaan sih!" ucap Devan dengan suara keras.
"Mas, kamu ngapain ke sini? Kamu mau membela wanita perebut suami orang ini?" ucap Susan.
"Pulang! Pulang sekarang juga Susan!" ucap Devan kepada Susan.
Dania menangis dipelukan Widya, dia tak menyangka Susan akan memperlakukan dirinya seperti ini.
Dania tinggal di perumahan yang ramai penduduknya, jelas saja banyak tetangga yang melihat dan mendengar setiap perkataan Susan padanya.
"Mas, aku minta kamu tinggalkan wanita ini! Dia hanya menginginkan uang kamu saja."
"Diam Susan! Pulanglah!" teriak Devan.
"Pergi! Pergi kalian!" teriak Widya kepada Susan dan Devan.
Widya membawa Dania masuk kedalam rumahnya lalu menutup pintu dengan kasar!
"Keterlaluan kamu," ucap Devan sembari menunjuk wajah Susan dengan jari telunjuknya.
Devan meninggalkan Susan yang masih berdiri di halaman rumah Dania itu!
"Mas!"
"Mas!"
Susan berteriak sembari mengejar Devan!
"Mas, aku melakukan ini demi keutuhan rumah tangga kita!"
Devan terus melanjutkan langkahnya meski Susan terus bicara padanya!
...****************...
"Shena, kamu mau kemana? Pagi-pagi gini udah rapi, sekarang kan hari libur," ucap Bu Ayu.
"Iya, tumben hari libur udah rapi gini biasanya juga masih mainin sapu di depan rumah," sambung Pak Rudy.
Shena tersenyum kepada Ibu dan Bapaknya.
"Pak, hari ini aku mau keluar buat cuci mata. Bu maaf ya aku gak bisa bantu Ibu bebersih rumah," ucap Shena.
"Kamu kok malah minta maaf. Pekerjaan rumah kan memang bukan tugas kamu, biarkan Ibu yang meng_handle pekerjaan rumah," ucap Pak Rudy.
"Bapak benar, Shena. Tapi ngomong-ngomong kamu mau pergi ke mana dan sama siapa? Bukannya Ibu kepo tapi biar Ibu u sama Bapak lebih tenang gitu," sambung Bu Ayu.
"Aku mau pergi ke taman sama Mas Riky," sahut Shena jujur.
Hari itu, Shena memang akan pergi bersama Riky dan anaknya, mereka sudah janjian sejak dua hari lalu.
"Sama, Mas Riky? Bukannya kamu sedang dekat dengan bos mu?" tanya Bu Ayu.
Bu Ayu memang tahu tentang kedekatan Shena dengan Reyhan, karena itulah dia berkata seperti itu pada Shena.
"Shena, jangan memberikan harapan kosong kepada laki-laki karena mereka bisa melakukan apapun saat merasa kecewa," ucap Pak Rudy.
"Nggak kok, Pak aku tidak ada hubungan apa-apa sama Mas Riky ataupun sama Pak Reyhan. Kami hanya berteman."
__ADS_1
"Tapi sepertinya Reyhan menganggap kamu lebih dari teman," ucap Bu Ayu.
"Nggak Bu. Ibu sama Bapak tenang saja, jangan khawatir aku tidak akan mempermainkan perasaan laki-laki aku hanya membalas apa yang suamiku lakukan padaku dulu," ucap Shena.
Pak Rudy dan Bu Ayu menatap Shena secara bersamaan dengan tatapan tajam.
Shena tertawa kecil lalu mengelus lembut punggung tangan Bu Ayu.
"Aku hanya bercanda, kenapa kalian begitu serius?" ucap Shena.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah mereka dari luar.
"Itu pasti Mas Riky," ucap Shena.
Shena berjalan menuju pintu utama rumahnya untuk membukakan pintu untuk Riky!
...****************...
"Dania, katakan sama Bibi. Apa benar kamu memiliki hubungan percintaan dengan bos mu?" tanya Widya.
Widya menatap Dania dengan matanya yang masih basah karena air matanya.
Dania menggelengkan kepalanya pelan! Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Widya karena dia tahu Bibinya itu pasti kecewa padanya.
"Kalau tidak, lalu apa maksud istri bos mu itu melabrak mu? Jujur sama Bibi, Dania!"
"Aku memang tidak ada hubungan apa-apa sama Pak Devan, mungkin Bu Susan cemburu karena Pak Devan terlihat dekat denganku. Bi, tolong percaya sama aku Bibi tahu kan kalau aku gak mungkin merebut suami orang?"
"Bibi percaya sama kamu, Dania tapi perkataan istri bos mu itu sangat melukai hati Bibi."
Dania terdiam dengan kepalanya yang ia tundukkan ke bawah, dia tak berani menatap Widya karena wanita paruh baya itu pasti tahu bahwa dirinya sedang berbohong.
"Maafkan aku, Bi aku sudah berbohong padamu tapi percayalah, sedikitpun aku tidak menyukai Pak Devan meski aku memiliki hubungan percintaan dengan dia, semua aku lakukan hanya sebatas perintah dari Bu Shena saja," ucap Dania didalam hatinya.
"Hari ini kamu tidak perlu bekerja, Bibi takut wanita itu menyiksamu di tempat kerjamu," ucap Widya.
"Iya, Bi. Kepalaku jadi pusing dan sakit akibat dijambak oleh Bu Susan," sahut Dania sembari memegangi kepalanya.
"Yasudah, kamu istirahat saja di kamar ya."
...****************...
Susan sudah tiba di rumahnya, dia membanting tasnya ke tempat tidurnya dengan sangat keras.
"Aaaaa!"
"Aaaa!"
Susan berteriak-teriak di dalam kamarnya sembari menangis, untunglah anaknya yang masih bayi sedang bersama pengasuhnya kalau tidak bisa saja bayi itu terkejut dan nangis histeris.
"Belum selesai masalah dengan Shena, muncul lagi masalah dengan Dania," lirih Susan.
__ADS_1
Susan berusaha menghentikan air matanya yang terus keluar dari pelupuk nya.
Bersambung