Dendam Cinta

Dendam Cinta
#Dendam_Cinta_Bab_23


__ADS_3

Di salah satu Mall besar di kota itu.


Shena sedang berjalan santai, dia hendak pulang setelah selesai dengan urusannya di tempat itu.


Tak diduga dia berpapasan dengan Susan yang juga sedang berada di Mall itu.


"Oh rupanya pelakor ini sedang berbelanja! Atau mungkin sudah selesai berbelanja dengan menggunakan uang hasil minta-minta dari suami orang."


Susan berbicara dengan nada tinggi agar orang-orang disekitarnya mendengar perkataannya.


Terlihat beberapa orang yang lewat menatap Susan dan Shena namun mereka tak terlalu memperdulikan setiap perkataan yang terucap dari mulut Susan.


Susan merampas barang belanjaan Shena dari tangan Shena dengan kasar!


"Pasti belanjaan ini dibayar pakai uang suamiku, jadi aku ambil ini semua karena ini bukan hak kamu," ucap Susan.


Shena masih terdiam dengan tatapannya yang terus tertuju kepada Susan, setelah beberapa saat akhirnya Shena angkat bicara.


"Pelakor? Uang suamimu?" Shena berucap dengan sedikit menekan nada bicaranya.


Shena kembali merebut barang belanjaannya yang tadi dirampas oleh Susan.


"Ini belanjaan aku dan aku membayarnya menggunakan uang aku, uang hasil kerja kerasku," ucap Shena.


"Oh, ya dan satu lagi, jangan pernah kamu bilang kalau aku ini seorang perebut suami orang karena itu tidak pantas untuk diriku. Kamu punya cermin kan, coba kamu berkaca dan aku yakin kamu pasti bisa melihat siapa dirimu yang sebenarnya," sambung Shena.


Shena hendak pergi meninggalkan Susan namun Susan tak membiarkannya pergi. Susan menarik tangan Shena lalu menampar pipinya!

__ADS_1


"Jangan pernah kamu dekati suamiku apalagi meminta uangnya!" ucap Susan dengan sedikit berteriak.


Shena memegangi pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Susan.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kamu ingat kata-kataku ini, sampai kapanpun aku akan memperjuangkan semua yang sudah aku miliki yang sudah kamu rampas dariku."


Shena segera pergi meninggalkan, Susan di tempat itu!


Susan menatap kepergian Shena dengan tatapan penuh kekesalan.


"Sialan! Aaaa!" Susan berteriak sembari mengacak rambutnya.


...****************...


"Pak Reyhan," ucap Riky yang melihat Reyhan sedang duduk di kursi taman.


"Pak Riky, Anda disini juga?" tanya Reyhan.


"Iya, saya sedang mengajak putri saya jalan-jalan," sahut Riky.


Reyhan dan Riky memang sudah saling mengenal satu sama lain karena mereka bekerja sama dalam usahanya.


"Pak Reyhan sendiri sedang apa di sini?" tanya Riky.


"Saya di sini sedang menemani Mama saya berkeliling kebetulan taman ini yang terdekat dari rumah kami," sahut Reyhan.


"Oh, begitu. Saya pikir Anda kesini bersama kekasih atau tunangan Anda."

__ADS_1


Riky berucap dengan senyuman lebar di bibirnya.


Reyhan hanya tersenyum menanggapi perkataan Riky padanya.


"Pak Reyhan, kalau gitu saya duluan," ucap Riky lagi.


"Oh iya silahkan, eh tapi Pak Riky seperti ada yang kurang."


"Masa, saya rasa tidak."


"Istri Anda tidak diajak kesini?" tanya Reyhan.


Reyhan memang tidak tahu kalau istrinya Riky sudah meninggal, meski mereka sering bertemu namun mereka tidak pernah membicarakan hal lain selain tentang pekerjaan.


Riky tersenyum tipis sembari mengusap kepala Alesha.


"Saya ...." Riky menggantung ucapannya.


"Kata Papa, Mamaku sedang pergi, Om. Nanti kalau aku udah besar baru Papa ajak aku ketemu sama Mama," ucap Alesha karena Riky tidak menjawab pertanyaan Reyhan.


"Benarkah? Kalau gitu kamu yang sabar ya," sahut Reyhan dengan senyum manis di bibirnya.


Riky tersenyum tipis sembari menatap Reyhan.


"Kami pergi dulu ya," ucap Riky lalu mereka pergi dari taman itu!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2