
"Mbak saya mau tanya, dimana alamat ini?" tanya seorang laki-laki kepada Shena.
Laki-laki itu memperlihatkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.
Shena tersenyum ramah lalu melihat tulisan yang ada dalam kertas itu.
"Oh, Ini tidak jauh lagi dari sini, Mas," ucap Shena.
"Arahnya kemana ya, Mbak?"
"Dari sini, Mas tinggal lurus aja dan nanti ada pertigaan belok kanan setelah itu tanya lagi pada orang yang ada di sana ya, Mas. Biasanya di sana selalu ramai," jelas Shena
"Oh, gitu terimakasih ya, Mbak."
"Sama-sama."
Shena hendak pergi dari tempat itu namun sesaat kemudian, laki-laki itu membekap mulut, Shena dengan saputangan yang sudah dibubuhi obat bius.
"Mmph! Mmmph!"
Shena berusaha berteriak sambil meronta, sesaat kemudian dia jatuh pingsan.
Dua rekan laki-laki itu langsung membantu laki-laki itu untuk membawa tubuh, Shena masuk ke dalam mobil mereka!
"Cepat! Sebelum ada yang melihat kita," ucap laki-laki yang tadi menanyakan alamat kepada, Shena.
Satu orang dari mereka terus mengedarkan pandangannya ke semua arah, memastikan tidak ada yang melihat aksi mereka.
...****************...
"Shena, mana sih? Tadi katanya udah di jalan, kok belum datang juga," gumam Rita.
Ya, hari itu, Shena hendak bertemu dengan Rita di salah satu tempat perbelanjaan, rencananya mereka akan berbelanja bareng.
"Hai Ta, udah lama nunggu?" tanya Shendy yang baru tiba di tempat itu.
"Eh, kamu udah sampai Dy. Aneh kok, Shena belum tiba juga ya padahal tadi pas kamu bilang kamu masih di rumah, si Shena udah di jalan," ucap Rita.
"Hah, masa? Kok dia lama banget?"
"Aku juga gak tahu. Coba aku telpon deh."
Rita mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu menelpon, Shena.
Beberapa kali mencoba menghubungi, Shena namun telponnya tidak tersambung.
"Telponnya aktif tapi tidak diangkat," ucap Rita.
Shendy berjalan mendekati, Rita.
"Mungkin dia terjebak macet," ucap Shendy.
"Semoga dia baik-baik saja. Ayo kita belanja duluan saja."
Shendy dan Rita pun pergi tanpa menunggu, Shena!
__ADS_1
...****************...
Setelah berkendara cukup lama, mereka tiba di sebuah gubuk yang terpencil. Mereka membawa, Shena masuk ke dalam gubuk itu dengan paksa!
"Aaa! siapa kalian dan mau apa kalian?" teriak Shena.
Tangan dan kaki, Shena diikat dengan menggunakan tali agar dia tidak bisa lari.
"Maaf, Mbak. Kami harus melakukan ini," ucap salah satu dari tiga laki-laki itu.
Mereka melepas tali yang mengikat kaki dan tangan, Shena setelah mereka membawa, Shena kedalam sebuah kamar.
Mereka segera keluar dari ruangan itu lalu menutup pintunya tak lupa mereka juga mengunci pintu itu.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong keluarkan saya dari sini!"
Shena terus berteriak sembari menggedor pintu yang tertutup rapat itu.
...****************...
Di kediaman, Shena.
"Pak, sudah malam kenapa, Shena belum pulang juga?" tanya Bu Ayu kepada Pak Rudy.
Bu Ayu yang dari tadi bolak-balik melihat keadaan di luar dari balik jendela, berharap putrinya kembali ke rumahnya.
"Bu, Bapak juga khawatir sama, Shena tapi kita tunggu saja sebentar lagi ya. Shena pergi bersama teman-temannya, mungkin dia terlalu asyik sehingga lupa mengabari kita," ucap, Pak Rudy.
Bu Ayu melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit.
"Ini sudah malam, Pak."
"Bapak tahu, Bu. Semoga anak kita baik-baik saja di luar sana."
...****************...
Salah satu dari tiga preman itu menelpon, Susan untuk mengatakan bahwa mereka sudah menyelesaikan tugas mereka.
["Halo, Bu kami sudah mendapatkan wanita itu,] ucap laki-laki itu setelah, Susan mengangkat telponnya.
["Bagus, pastikan dia tidak bisa kabur,"] ucap Susan.
[Lalu apa yang harus kami lakukan setelah ini? Kami tidak mungkin menyembunyikan wanita ini terlalu lama?"]
["Bodoh, kenapa kamu bertanya pada saya? Kamu habisi wanita itu.]
[Maaf, Bu kami tidak bisa menghilangkan nyawa orang karena resikonya berat kami tidak mau berurusan dengan polisi.]
["Kamu ini gimana sih. Buang saja dia ke hutan yang jauh dari pemukiman warga agar dia tidak bisa kembali ke kehidupan suami saya.]
Susan mematikan telponnya secara sepihak, dia tak ingin sampai, Devan tahu dengan rencananya itu.
__ADS_1
"Gimana, katanya?" tanya salah satu dari laki-laki itu.
"Bu Susan tidak mau tahu apapun tentang wanita itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita buang saja wanita itu ke hutan."
"Aku menyesal karena sudah melakukan ini," ucap salah satu dari mereka.
"Kita sudah terlanjur menerima uang dari, Bu Susan."
Shena terus mendengarkan pembicaraan tiga laki-laki itu.
"Susan ... Susan yang sudah membayar mereka untuk menculik ku," ucap Shena didalam hatinya.
"Aku harus mencari cara untuk bisa terlepas dari mereka," gumam Shena lagi.
Di luar ruangan tempat, Shena di sekap.
"Aku butuh uang untuk biaya pengobatan anakku," ucap salah satu dari tiga laki-laki itu.
"Aku juga butuh uang untuk beli susu anakku."
"Pada intinya kita melakukan ini demi uang, demi mencukupi kebutuhan keluarga kita. Sekarang kita harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita mulai," ucap laki-laki yang menerima tawaran dari, Susan itu.
"Kita tidak perlu melukai wanita itu. Kita tinggalkan saja dia di pedesaan, jangan di hutan karena kalau kita tinggalkan dia di hutan dia akan dimakan hewan buas."
Mereka pun menunggu datangnya, pagi karena mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka saat pagi tiba.
...****************...
"Ya Allah, Pak udah jam segini, Shena belum pulang juga," ucap Bu Ayu.
Raut wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan, Shena.
"Bapak juga tidak bisa tidur, Bu karena memikirkan, Shena."
"Ibu takut terjadi apa-apa sama, Shena, Pak. Ibu sudah coba menelpon dia tapi telponnya tidak aktif."
"Ibu sudah coba menelpon, Rita atau Shendy belum, Bu?" tanya Pak Rudy.
"Ibu sudah menghubungi mereka berdua tapi katanya mereka tidak tahu, Pak."
"Ya Allah, semoga engkau melindungi, Shena." Pak Rudy berjalan menghampiri pintu utama rumahnya dan mengintip dari jendela.
"Belum ada tanda-tanda, Shena akan pulang. Apa sebaiknya kita lapor polisi ya, Pak," ucap Bu Ayu.
"Bu polisi tidak akan menerima laporan kita karena polisi baru akan menerima laporan kalau, Shena sudah tidak ada kabar selama dua kali dua puluh empat jam," jelas, Pak Rudy.
"Tapi, Ibu sangat khawatir sama dia, Pak. Kita harus minta tolong sama siapa?"
"Tunggu besok pagi saja, Bu. Semoga, Shena pulang dan kalau tidak pulang juga, Bapak akan mencari dia."
Bu Ayu tak bisa menghentikan air mata yang terus saja keluar dari pelupuk nya. Dia sangat khawatir pada putri angkatnya.
__ADS_1
Bersambung