Dendam Cinta

Dendam Cinta
Dendam_Cinta_Bab_29


__ADS_3

"Pagi, Mas," ucap Shena dengan senyumannya.


Pagi itu, Shena sengaja datang ke rumah Devan. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Susan saat ada selingkuhan suaminya datang ke rumahnya.


Devan yang masih bersantai di kursi yang berada di depan rumahnya terkejut dengan kedatangannya Shena. Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Shena yang sudah ada didalam area pekarangan rumahnya.


"Shena, kamu ngapain kesini?" tanya Devan.


Devan menatap satpam yang bertugas berjaga didepan gerbang rumahnya.


"Pak satpam, menyuruhku masuk padahal aku sudah bilang padanya kalau aku ingin bertemu denganmu di luar saja," ucap Shena.


Devan tersenyum yang dipaksakan, meski dirinya sudah jujur kepada Susan tentang perasaannya kepada Shena tapi Devan belum siap untuk menghadapi keadaan hari itu.


Devan menarik tangan Shena, membawanya ke luar gerbang!


"Shena, kenapa kamu gak bilang kalau kamu mau kesini?" tanya Devan.


"Mas, aku butuh uang," ucap Shena berbohong.


"Untuk apa? Berapa yang kamu butuh?"


"Untuk biaya pengobatan anak kita. Lima juta."


"Nanti aku transfer, sekarang kamu pergi dari sini ya. Aku takut Susan tahu kamu ada disini."


"Memang itu yang aku inginkan, Mas. Aku sudah berbohong mengatasnamakan Deshyana hanya karena aku ingin melihat wanita itu cemburu," ucap Shena didalam hatinya.


Shena tersenyum lalu meraih tangan Devan!


"Terimakasih, Mas. Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya."


Shena mengelus tangan Devan dengan lembut sebelum akhirnya dia pergi dari depan gerbang rumahnya Devan.


Devan terus menatap Shena dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Aku ingin cepat-cepat mendapatkan kamu lagi, Shena," ucap Devan didalam hatinya.


Devan menatap lalu mengusap punggung tangannya yang bekas belaian lembut dari sang mantan istri.


Setelah Shena sudah hilang dari pandangannya, Devan segera masuk ke dalam rumahnya!


"Pak!" seru Devan kepada satpamnya.


"Iya, Pak ada yang bisa saya bantu?" sahut satpam itu.


"Jangan sampai, Susan tahu kalau tadi Shena kesini, kalau dia sampai tahu saya pecat kamu!"


"B_baik, Pak saya tidak akan mengatakan hal ini kepada Ibu Susan."


"Bagus."


Devan segera masuk ke dalam rumahnya!


...****************...


"Hari ini aku gagal, lihat saja, Devan aku akan membuat hubungan kamu dengan Susan berantakan seperti hubungan pernikahan kita dulu," gumam Shena.


Shena menghentikan taksi yang kebetulan lewat di jalan itu.


Setelah Shena masuk ke dalam taksi sang sopir langsung melajukan mobilnya ke tempat yang dituju oleh Shena.


...****************...


"Bi, aku mau cari kerja dulu do'akan aku ya semoga aku cepat dapat pekerjaan yang baru," ucap Dania kepada Bibinya.


"Dania, kalau mau istirahat, istirahat saja dulu jangan buru-buru cari kerja," ucap Widya.


"Aku sudah cukup beristirahat beberapa hari ini, lagipula aku bosan di rumah terus, Bi."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


Dania mencium punggung tangan Widya lalu segera pergi.


Saat Dania berjalan melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran, tak sengaja dirinya mendengar perkataan para tetangganya yang kurang mengenakkan hatinya.


"Gak nyangka ya, Si Dania ternyata perebut suami orang."


"Iya, padahal selama ini dia anaknya baik dan sopan."


"Ibu-ibu, yang keliatannya baik dan sopan itu yang berbahaya, bisa saja diam-diam dia mengincar para bapak-bapak di Komplek ini."


Mendengar perkataan tetangganya itu, Dania menghentikan langkahnya! Ingin sekali dia menampar mulut tetangganya itu sambil berteriak bahwa dirinya tidak seperti yang mereka pikirkan.


Dania mengepalkan tangannya, dia bersikap menghampiri mereka namun sedetik kemudian dirinya sadar bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang dirinya dan mereka tidak perlu mengetahui semua tentang dirinya.


"Astaghfirullah, Dania sabar kamu harus bisa menahan emosimu," gumam Dania lalu segera melanjutkan langkahnya.


...****************...


Di restoran tempat Laura bekerja.


"Laura! Mana gadis penggoda itu?" tanya Susan kepada Laura.


"Siapa, Bu?" Laura bertanya balik kepada Susan.


"Kamu jangan pura-pura gak tahu ya, saya yakin kamu tahu tentang hubungan, Dania sama suami saya."


"Maaf, Bu saya tidak tahu."


"Sekarang mana si Dania itu?"


"Dia sudah tidak bekerja di sini lagi, Bu."


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Sejak beberapa hari lalu," jelas Laura.


Susan tak bertanya lagi, dia langsung pergi dari restoran milik suaminya itu!


"Kesini cuma mau nanyain, Dania doang. Gue pikir mau naikin gaji," gumam Laura.


"Siapa itu, Kak?" tanya Tantie~ karyawan baru di restoran itu.


"Dia istrinya, Bos kita," sahut Laura.


"Lalu siapa, Dania?" tanya Tantie lagi.


"Dia karyawan lama di sini, dia teman saya juga."


"Oh. Istri, Pak Bos galak juga ya."


Laura tertawa kecil lalu menatap Tantie.


"Kamu belum tahu aja, tadi itu belum seberapa nanti kalau kamu udah lama kerja di sini kamu akan tahu horornya saat dimarahi sama Ibu Bos."


"Ih, se_serem itu kah, Ibu Bos?"


"Lihat saja nanti. Ayo kita kerja lagi sebelum, Pak Bos datang dan memarahi kita," ucap Laura.


Tak lama setelah Susan pergi seorang pelanggan laki-laki datang ke restoran itu.


Dia duduk di meja nomor tujuh.


Sebelum pelanggan memanggilnya, Laura langsung datang dengan membawa buku menu!


"Silahkan, Pak," ucap Laura.


Laura berdiri menunggu pelanggannya memilih-milih menu yang tersedia di restoran mereka.


"Mbak, saya pesan ini saja," ucap laki-laki itu sembari menunjuk gambar makanan yang ada di buku menu itu.


"Baik. Minumnya, Pak?"


"Jus mangga saja."


"Baik, Pak silahkan tunggu sebentar."


Devan datang ke restorannya, dia berjalan dengan santainya melewati Riky yang sedang duduk.


"Laki-laki itu?" ucap Riky didalam hatinya.


Riky merasa pernah melihat Devan di suatu tempat namun dirinya lupa kapan, dimana dan dengan siapa waktu itu.


Tak lama pesanan Riky datang.


"Silahkan, Pak," ucap Laura.


"Terimakasih," sahut Riky.


...****************...


"Dih kayak udah lama gak ketemu aja," ucap Rita.


Shena nyengir lalu duduk di tempat kerjanya.


"Shena, dipanggil, Pak Reyhan suruh ke ruangannya," ucap Shaka.


"Baru juga duduk, ada apa, Pak Bos manggil aku?" ucap Shena.


"Mau ngelamar kamu tuh," ucap Rita.


"Sut! Jangan sembarangan kalau ngomong, nanti aku dilabrak Aulya lagi."


Rita dan Shaka saling tatap lalu tertawa bersama.


"Kalian, malah ketawa. Senang ya kalau aku kesusahan," ucap Shena.


Shena segera pergi ke ruangan pribadi Bosnya tanpa mendengar perkataan Rita dan Shaka!


"Yah, ngambek dia," ucap Rita.


"Kamu sih," ucap Shaka.


"Kamu kok nyalahin aku? Kamu juga kan."


Tok!


Tok!


Tok!


Shena mengetuk pintu ruangan Reyhan!


"Anda, manggil saya?" tanya Shena setelah masuk ke ruangan itu.


"Iya, Shena. Silahkan duduk," ucap Reyhan.


Shena pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya Reyhan.


"Shena, saya akan memposisikan kamu di bagian keuangan."


Bersambung.


Teman-teman, mampir yuk ke karya baru aku.


Judulnya: Gadis Bogor


Cuplikan Bab :


Laki-laki paruh baya itu berjalan sempoyongan sembari memegangi kepalanya! Dia berusaha mencari Indah disekitar hotel tempatnya menginap.

__ADS_1


"Sial, gadis itu kabur," ucap laki-laki setengah tua itu.


Dia terus berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke semua tempat, berharap dirinya bisa menemukan Indah yang sudah dia beli dengan harga mahal.


Dia langsung menelpon Vina untuk memberitahukan bahwa Indah telah kabur.


["Bu Vina! Indah kabur. Saya tidak mau tahu, Anda harus bertanggungjawab,"] ucap laki-laki itu setelah Vina menerima telpon darinya.


["Apa! Indah kabur? A_anda tenang saja saya akan mencari Indah sampai dapat,"] sahut Vina.


["Saya tunggu kabar dari Anda,Bu Vina."]


Laki-laki tua itu langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


*******


Di kediaman Vina.


Vina segera memerintahkan semua orang suruhannya untuk segera mencari Indah sampai dapat.


Wanita licik itu tidak ingin kehilangan uang dia ratus juta yang sudah berada ditangannya.


"Kamu, kerahkan semua anak buah mu untuk mencari Indah!" titah Vina kepada orang kepercayaannya.


"Sekarang, Bu?" tanya laki-laki yang kira-kira baru berusia dua puluh tahun atau lebih itu.


"Iya, sekarang!"


Vina berucap dengan sedikit berteriak.


Laki-laki itu langsung pergi untuk menjalankan tugasnya!


Vira yang saat itu sudah masuk ke dalam kamarnya, keluar lagi dari kamarnya karena mendengar teriakan Ibunya!


"Ada apa sih, Bu teriak-teriak dimalam hari?" tanya Vira.


"Si Indah Kabur," sahut Vina.


"Apa! Indah kabur? Ini gak bisa dibiarkan,kita harus cepat mencari gadis itu."


Vina dan semua orang suruhannya langsung mencari Indah malam itu juga.


*******


Beberapa hari kemudian, setelah Vina menyebar foto Indah di kota bogor tempat Indah melarikan diri. Kini sudah ada orang yang memberi tau keberadaan Indah.


Vina dan Virapun langsung menuju ketempat yang diberitahukan orang tersebut.


"Indah ... ternyata kamu disini! Ibu khawatir nak," ucap Vina dengan air mata penuh kepalsuan.


"Terimakasih, pak. Karna bapak, saya bisa menemukan putri saya," ucap Vina pada pemilik warung makan tempat Indah bekerja.


Rupanya selama beberapa hari ini, Indah bekerja di sebuah warung makan yang terdapat dipinggir jalan.


Ya. Si pemilik warunglah yang memberitahu Vina tentang keberadaan Indah.


"Indah, kemarin saya liat kertas ini terpajang disepanjang jalan. Jadi saya hubungi ibu kamu untuk jemput kamu," jelas pemilik warung.


"Tapi pak. Indah betah disini. Indah ga mau pulang," ucap Indah.


"Sayang. Ibu sayang sama kamu, ayo kita pulang nak!" ajak Vina, wanita kejam itu memang pandai berakting.


"Ga mau bu. Indah gak mau pulang!"


"Indah, pulang sana sama ibu kamu. Kasihan dia udah cari-cari kamu," ucap si pemilik warung.


Andai saja pemilik warung itu tau kalau Indah akan di jual. Tak mungkin ia mengizinkan Indah pulang.


*******


Di ibukota laki-laki bejat itu sedang mengatur tempat untuknya menikmati t***h Indah. Dia sudah tahu bahwa Vina sudah menemukan Indah.


Drrt!


Drrt!


Drrt!


Suara getaran handphon milik laki-laki itu tanda adanya pesan masuk, ia segera melihat pesan dari siapakah itu.


Ternyata pesan dari Vina yang memberitahu kalau mereka sudah sampai di jakarta.


Laki-laki itu langsung menyuruh Vina membawa Indah kesebuah villa miliknya yang terletak jauh dari keramaian.


*******


Indah terus menangis sembari memohon pada ibu tirinya agar bermurah hati padanya.


"Bu, tolong jangan lakukan ini pada Indah, Indah mohon," ucap Indah dengan suara parau khas orang yang sedang menangis.


"Diam! Indah. Awas jika kamu mencoba kabur lagi. Akan ibu bunuh kamu nanti!" ancam Vina.


"Bu, tolong biarkan Indah pergi, Indah janji gak akan hadir dikehidupan kalian lagi," lirih Indah.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam lebih, akhirnya mereka tiba di tempat yang sudah diberitahukan oleh laki-laki hidung belang itu.


Sopir itu menghentikan mobilnya lalu memaksa Indah untuk keluar dari mobilnya.


Orang suruhannya Vina itu menarik tangan Indah dengan paksa!


"Ayo! Masuk Indah!"


Seorang laki-laki suruhan Vina itu menarik Indah dan memaksanya masuk ke dalam villa tersebut.


"Aaaa!" Indah berteriak sembari meronta.

__ADS_1


"Indah gak mau pak," sambung Indah.


__ADS_2