
"Memang semalam saya dan Shena mau belanja bareng, Pak tapi, Shena tidak datang, saya pikir dia balik lagi krn rumah," ucap Rita.
"Tidak, Nak. Shena belum pulang sampai saat ini," ucap Pak Rudy.
Terlihat dengan jelas ada kekhawatiran di wajah laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu.
"Astaga, dia kemana ya, Pak?"
"Bapak tidak tahu. Kalau gitu, Bapak permisi dulu ya, Nak karena Bapak harus mencari, Shena lagi."
"Pak, kenapa tidak lapor polisi saja."
"Bapak akan lapor polisi jika, Shena tidak ditemukan hari ini."
"Biar saya bantu cari dia yang, Pak."
"Silahkan, sebelumnya terimakasih."
Pak Rudy segera pergi meninggalkan tempat itu karena dia harus segera menakutkan pencariannya terhadap, Shena.
*******
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!"
Bu Ayu mengetuk pintu itu. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan, Dania.
Cklek!
Tak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu itu dari dalam rumah.
"Cari siapa ya, Bu?" tanya Widya.
Ya, Widya lah yang membukakan pintu itu.
"Apa benar ini rumahnya, Dania?" tanya Bu Ayu.
"Iya betul, ada keperluan apa ya, Ibu mencari, Dania?"
"Ada hal yang ingin saya tanyakan kepadanya."
"Siapa, Bi?" tanya, Dania sembari berjalan menghampiri Widya dan tamunya.
Saat itu, Dania sudah berpakaian rapi ala kantoran, saat itu dia memang mau berangkat kerja.
"Dania," ucap Bu Ayu.
"Ibu ... Ibu ngapain pagi-pagi udah ke sini?" tanya, Dania.
"Kamu mengenal Ibu ini?" tanya Widya kepada, Dania.
"Iya, Bi," sahut Dania.
__ADS_1
"Ayo masuk, Bu! Bicaranya di dalam saja," ucap Widya setelah tahu bahwa mereka saling mengenal.
Bu Ayu segera mengikuti langkah, Widya dan Dania!
"Silahkan duduk, Bu," ucap Dania.
"Ada apa, Bu?" tanya Dania setelah mereka duduk.
"Apa semalam kamu bersama, Shena?"
"Tidak, Bu. Semalam saya tidak pergi keluar," ucap Dania.
Tak lama, Widya datang dengan membawa teh untuk, Bu Ayu.
"Silahkan diminum, Bu," ucap Widya sembari meletakkan gelas berisi teh itu di atas meja.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkan," ucap Bu Ayu.
"Bu memangnya, Shena belum pulang dari semalam?"
"Belum, Nak. Ibu sangat mengkhawatirkan dia."
"Astaghfirullah, dia kemana, Bu?"
"Ibu tidak tahu. Ya udah kalau gitu, Ibu pamit ya karena, Ibu harus mencari, Shena lagi."
"Silahkan, Bu nanti saya coba tanyakan pada teman-teman yang lain ya, Bu semoga saja ada salah satu dari mereka yang tahu dimana keberadaan, Shena."
Bu Ayu tersenyum hambar lalu mulai melangkahkan kakinya dari rumah, Dania!
*******
Saat itu, tiga preman gadungan itu sudah berhenti di dekat hutan. Rencananya mereka akan meninggalkan, Shena di hutan itu.
"Saya pastikan, Susan tidak akan melaporkan kalian ke polisi karena saya tidak akan membiarkan itu terjadi," sambung Shena lagi.
"Kami tidak percaya padamu," ucap salah satu dari tiga laki-laki itu.
"Kenapa? Kalian bisa percaya pada, Susan kenapa sama saya tidak?"
Mereka berempat masih berdiri di samping mobilnya.
"Kalau saya mau, saya bisa saja lari dari sini. Tapi saya tidak melakukan itu karena saya masih ingat melakukan beberapa penawaran kepada kalian." ucap Shena.
Saat itu memang, Shena tidak diikat ataupun dipegangi oleh mereka. Sebenarnya bisa saja dia melarikan diri dari tempat itu, tapi, Shena tak melakukannya, dia masih penasaran sekuat apa mereka menolak uang dari dirinya.
"Kamu berani membayar kami berapa?"
"Berapapun yang kalian minta."
"Dua puluh juta. Apa kamu sanggup?"
"Saya kasih tiga puluh juta agar kalian bisa membaginya sama rata."
"Apa yang bisa kamu jaminkan agar kami percaya?"
"Dimana tas saya?" tanya Shena.
__ADS_1
Seorang preman masuk ke dalam mobil untuk mencari tas milik, Shena!
"Ini tas lo!" Preman itu memberikan tas milik, Shena.
Shena meraih tasnya lalu mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Saya hanya pegang uang cash segini, sisanya saya transfer belakangan."
"Kami tidak percaya, bagaimana kalau ternyata kamu membohongi kami."
"Baiklah begini saja. Antar saya ke bank untuk mencairkan uang senilai tiga puluh juta itu," ucap Shena.
"Tapi setelah saya kasih uang itu kalian antarkan saya pulang karena di sini tidak ada angkutan umum ataupun taksi."
"Baiklah, ayo kita jalan sekarang!"
Mereka semua langsung masuk ke dalam mobilnya dan mulai melakukan perjalanan menuju sebuah bank!
*******
"Pak, Dania tidak mengetahui dimana keberadaan, Shena," ucap Bu Ayu.
Pak Rudy dan Bu Ayu bertemu di jalan, keduanya sengaja tidak langsung pulang ke rumah mereka karena mereka akan terus mencari, Shena seharian ini.
"Teman kantornya juga tidak ada yang tahu dimana, Shena, Bu."
Bu Ayu menangis lagi, dia takut terjadi apa-apa kepada putrinya itu.
"Ibu sabar ya, semoga, Shena baik-baik saja," ucap Pak Rudy sembari mengusap-usap pundak Bu Ayu.
**********
Di kantor.
"Shena dimana? Kenapa sudah siang gini dia belum datang?" tanya Reyhan kepada, Shaka.
"Tidak tahu, Pak. Dia tidak mengabari saya. Sudah saya telpon tapi ponselnya tidak aktif," ucap Shaka.
"Kemana dia?"
"Saya tanyakan pada, Rita atau Shendy dulu, Pak barangkali mereka tahu."
Shaka langsung keluar dari ruangannya Reyhan dan langsung menghampiri, Rita dan Shendy!
"Di mana, Shena? Pak Reyhan ingin bertemu dengannya," ucap Shaka pada Rita.
"Itu dia. Tadi pagi, Ayahnya Shena datang dan menanyakan Shena katanya dari semalam dia tidak pulang," jelas Rita.
"Apa! Shena hilang. Kamu jangan bercanda ya."
"Kenapa aku harus bercanda kalau memang kenyataannya seperti itu. Shena memang tidak pulang semalam."
"Pak Reyhan harus tahu ini karena dia bisa saja memecat, Shena karena tidak masuk kantor tanpa izin."
Shaka segera berjalan cepat untuk memberi tahu Reyhan tentang, Shena yang kemungkinan hilang, entah kemana.
Bersambung
__ADS_1