
Malam hari, setelah selesai dengan urusan masing-masing semua orang yang tinggal di rumah itu segera memasuki kamarnya. Mereka akan beristirahatlah karena hari sudah malam.
Saat sedang makan malam, Shena membubuhi air minum, Susan dengan obat tidur tak lupa dia juga membubuhi minuman asisten rumah tangganya dengan obat yang sama dengan yang dia berikan kepada, Susan.
Malam itu, Shena akan menjalankan rencana terakhirnya. Dia sengaja tidak memberikan, Devan obat tidur karena dia akan memberikan sesuatu yang berbeda dengan mereka.
Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua lewat dua puluh lima menit. Saat itu semua orang penghuni rumah itu sudah tertidur.
Shena berjalan memasuki dapur lalu membuat teh untuk, Devan tak lupa dia membunuhi teh itu dengan serbuk yang sudah dia siapkan.
"Semoga malam ini adalah malam terakhir aku menjalani sandiwara ini. Aku sudah muak dengan laki-laki itu," ucap, Shena didalam hatinya.
Shena berjalan menuju kamar, Devan!
Tok!
Tok!
Tok!
Shena mengetuk pintu kamar, Devan beberapa kali.
Tak butuh waktu lama, Devan membuka pintu kamarnya!
"Shena, kamu belum tidur?" tanya, Devan saat melihat, Shena berdiri di depan pintu kamarnya.
Shena tersenyum lebar, "aku gak bisa tidur, Mas dan aku tahu kamu juga belum tidur. Ini, aku buatkan teh untuk kamu," ucap, Shena.
Devan membalas senyum, Shena dengan senyumannya yang manis itu. Ya laki-laki tampan itu memang memiliki lesung pipi yang membuat setiap senyumannya terlihat selalu lebih manis tak jarang para wanita jatuh hati padanya karena senyumnya yang membuat para wanita tergila-gila.
"Terimakasih ya." Devan mengambil alih cangkir berisi teh itu dari tangan, Shena lalu meminum teh itu.
"Kamu gak mau masuk ke sini?" tanya, Devan karet, Shena hanya berdiri di depan pintu.
"Apa boleh? Aku belum pernah masuk ke kamar kamu, Mas."
"Kenapa tidak, sebentar lagi kita akan menikah kan." Devan menarik tangan, Shena dan membawanya masuk ke dalam kamarnya!
Sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir, Shena.
Mereka berdua duduk di sofa yang terdapat tak jauh dari tempat tidur itu.
Devan duduk di sebelah, Shena perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah, Shena.
Shena hanya terdiam mematung mencobanya membaca pikiran laki-laki yang telah mengkhianati dirinya itu.
Sepersekian centi lagi wajah mereka akan saling beradu satu sama lain, Shena tak membiarkan laki-laki itu mencumbu nya, dia memalingkan wajahnya lalu menahan dada, Devan agar tidak semakin mendekat.
"Mas, teh mu keburu dingin. Habiskan lah dulu," ucap, Shena.
Menolak dengan cara halus, menjadi andalan, Shena dari setiap perilaku, Devan yang ingin melakukan hal tak senonoh padanya.
__ADS_1
Devan tersenyum lalu segera menghabiskan teh itu.
Shena tersenyum bahagia saat melihat teh itu tandas tak tersisa.
"Bagus, Mas. Tanpa harus aku memaksa, kamu sudah menghabiskan teh itu," ucap, Shena didalam hatinya.
Beberapa menit kemudian setelah, Devan menghabiskan teh itu.
Devan mulai berbicara ngelantur, rupanya obat yang, Shena bubuhkan pada teh itu mulai bereaksi.
"Mas," ucap, Shena.
Devan menatap, Shena. "Sayang. Maafkan aku, aku sangat mencintai dirimu."
"Kamu mencintai aku?"
"Ya, sangat mencintaimu. Tapi bohong." Devan tertawa terbahak-bahak.
Shena sengaja membubuhi obat keras pada teh itu agar, Devan mengalami mabuk berat sehingga dia tidak akan mengingat apa-apa setelah pengaruh obat itu hilang.
"Mas, aku sudah mengurus pernikahan kita dan aku sudah mengajukan permohonan kepada KUA. Dan mereka meminta kamu untuk menandatangani beberapa dokumen."
"Apa, kamu sudah mengurusnya? Bagus sayang. Kalau gitu ayo kita lakukan malam pertama kita." Devan yang sedang dalam pengaruh obat keras itu terus berbicara ngawur dan terus menggerayangi, Shena.
Shena mengambil lembaran dokumen yang harus ditandatangani oleh, Devan dan meminta, Devan untuk menandatanganinya.
"Kita akan melakukannya, Mas. Sebelum itu tandatangani lah ini dulu."
"Kenapa banyak sekali ya. Sekarang mau nikah saja ribet," ucap, Devan.
"Iya, Mas."
Setelah semuanya sudah ditandatangani. Shena merapikan semua itu lalu memasukkan ke dalam bajunya untuk berjaga-jaga kalau, Susan melihatnya keluar dari kamar, Devan.
"Shena, Shena." Devan membuka bajunya dan mendekati, Shena yang sedang memasukkan lembaran dokumen itu ke dalam bajunya.
Shena terkejut melihat, Devan yang sudah tak mengenakan baju.
"Mas."
Devan memeluk, Shena dan menciumnya tanpa henti.
Shena berusaha melepaskan diri dari rangkulan, Devan namun tenaganya tak bisa membuatnya terlepas dari dalam pelukan, Devan.
"Astaga. Bagaimana ini, aku tidak mungkin melakukan itu bersama, Mas Devan," ucap, Shena didalam hatinya.
*******
Di kediaman, Pak Rudy.
"Pak, Ibu curiga dengan, Shena. Sekarang dia pasti tinggal bersama mantan suaminya," ucap, Bu Ayu.
__ADS_1
"Sudahlah, Bu. Shena sudah dewasa dia sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk dia juga pasti bisa memilih antara yang harus dia lakukan dan yang tidak dia lakukan. Mungkin, Shena masih mencintai mantan suaminya karena itulah dia mencoba mengambil hatinya lagi," ucap, Pak Rudy.
"Ibu khawatir, Pak."
*******
Di kediaman, Reyhan.
Malam semakin larut tapi Reyhan belum menutup matanya. Dia terus teringat dengan perkataan, Susan padanya.
Apakah benar, Shena berusaha merebut suami orang lain sementara ada dirinya yang sangat mencintai, Shena.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin kamu gapai, Shena?" gumam, Reyhan.
Reyhan tak berhenti memikirkan tentang, Shena. Dia sangat sulit untuk membuka hati untuk wanita tapi setelah dirinya membuka hatinya dia malah seperti tidak dihiraukan oleh wanita itu.
"Apa yang kurang dariku sehingga kamu memilih menggapai impianmu sendiri, apa menurutmu aku tidak cukup kaya untuk memenuhi semua keinginan kamu?" tanya, Devan pada dirinya sendiri.
*******
"Mas, jangan!"
Shena berusaha untuk terlepas dari, Devan. Terpaksa dia menendang bagian inti dari, Devan hingga laki-laki itu kesakitan.
Shena segera keluar dari kamar, Devan dan berlari ke kamarnya!
Shena langsung mengunci pintu kamarnya karena takut, Devan akan mengejarnya.
Setelah hampir lima menit, Devan tak mengetuk pintu kamarnya. Shena merasa lebih tenang, dia duduk di tepi ranjang lalu memeriksa satu persatu lembaran dokumen berharga miliknya.
"Syukurlah, semuanya sudah ditandatangani," gumam, Shena.
Shena tersenyum lebar, dia merasa bahagia karena usahanya tidak sia-sia.
Bersambung
Selamat malam semuanya. seperti biasa, aku datang dengan membawa rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Mampir yuk ke karya temanku yang satu ini!
Judul: Kurebut Calon Suamimu
Author: Yeni Sri Wahyuni
Silvia Lestari tertabrak mobil yang di kendarai oleh Devan Alvandra, seorang Pria yang ia kenali adalah calon suami dari mantan sahabat lamanya. Mantan sahabat yang pernah membuat hidup dan reputasinya hancur seketika. Di tinggalkan oleh kekasih sekaligus kehilangan Ayah tercintanya.
Karena kecelakaan yang tak disengaja membuat tulang kaki Silvia mengalami keretakan parah dan tak mampu lagi berjalan dalam waktu yang lama, sehingga Silvia memanfaatkan kondisi itu dan meminta Devan untuk menikahinya sebagai pertanggungjawabannya dan juga sebagai jalan untuk membalaskan dendamnya terhadap sang mantan sahabat.
Akankah Silvia mampu membuat Devan mencintai dirinya, dan berpaling dari Cathrine, mantan sahabatnya sendiri?
__ADS_1