
"Pagi, sayang." Shena yang baru saja tiba di rumah, Devan langsung merangkul, Devan yang sedang duduk di kursi makan.
Shena tak menghiraukan, Susan yang sedang duduk di depan, Devan. Dirinya kini lebih berani dalam melakukan sesuatu yang tak terduga, misalnya memeluk dan mencium, Devan didepan, Susan.
Susan berdiri lalu menarik lengan, Shena dengan sangat kuat!
"Wanita murahan, wanita tidak tahu malu. Mau apa kamu pagi-pagi datang ke sini hah?" Susan berucap dengan nada bicaranya yang tinggi.
"Kamu gak lihat apa? Aku ke sini mau menemui kekasihku," ucap Shena.
"Dasar wanita perebut suami orang. Kamu itu benalu didalam rumah tangga kami!" Susan terus mengucapkan kata-kata tajam pada, Shena namun, Shena sedikitpun tak mengindahkan setiap ucapan, Susan padanya.
"Susan, hentikan. Jangan terus menghina, Shena!" Devan tak terima orang yang dia cintai terus dicaci oleh istrinya akhirnya dia membela, Shena didepan, Susan.
"Oh jadi kamu sudah terang-terangan mengakui hubungan kamu dengan wanita ini? Tega kamu, Mas. Selama ini aku cinta sama kamu tapi kamu ...." Susan tak melanjutkan perkataannya.
"Tapi suami mu malah membagi cintanya dengan wanita lain," sambung, Shena.
"Susan, aku sudah memutuskan, Shena akan tinggal di sini sebelum aku mendapatkan rumah baru untuknya," jelas, Devan.
"Apa maksudmu, Mas?" Susan bertanya dengan suara yang bergetar. Dia sudah meneteskan air matanya sejak kedatangan, Shena ke rumahnya.
"Mas, Devan akan segera menikahi aku," sahut, Shena dengan senyuman di bibirnya.
"Kalian tidak bisa menikah tanpa izin dari aku dan sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan, Mas Devan menikahi kamu."
"Kami akan tetap menikah meski tanpa izin darimu." Devan menunjuk wajah, Susan lalu pergi meninggalkan mereka di ruang makan!
"Mas! Mas tunggu! Kamu mau kemana?" Susan mengejar, Devan yang berjalan ke arah luar rumahnya.
Saat itu, Shena masih berdiri di tempat semula. Di dalam hatinya dia tertawa bahagia melihat kehancuran rumah tangga mereka yang mulia mendekat.
"Aku mau ke restoran," sahut, Devan tanpa menghentikan langkahnya.
"Mas! Aku belum selesai bicara. Mas!" Susan terus berteriak meski, Devan sudah pergi dengan menggunakan mobilnya.
Shena berjalan menghampiri, Susan yang masih berdiri di garasi itu.
"Mas Devan tidak akan mendengarkan apapun perkataan kamu karena dia sudah ada dalam genggamanku," ucap, Shena kepada Susan.
Susan berbalik arah dan kini dia menatap wajah Shena.
Susan sangat marah pada wanita yang sedang ditatap nya dia mengepalkan tangannya lalu melayangkan tangan itu ke arah wajah, Shena! Saat itu dia ingin menampar wajah, Shena namun tangannya ditangkis oleh, Shena.
"Jangan pernah menyentuh aku dengan tangan kotor mu itu." Shena membanting tangan, Susan yang sedang digenggam nya.
*******
Di kediaman, Pak Rudy.
__ADS_1
"Pak, Ibu merasa ada yang, Shena sembunyikan dari kita," ucap, Bu Ayu kepada, Pak Rudy.
"Maksud, Ibu?" ucap, Pak Rudy setelah menyeruput kopi hitam kesukaannya.
"Entahlah, Ibu merasa seperti itu tapi, Ibu tidak tahu apa yang sedang disembunyikan oleh dia, Pak."
"Itu hanya perasaan, Ibu saja. Mungkin sekarang, Shena jarang di rumah jadi, Ibu merasa tidak diperhatikan olehnya," jelas, Pak Rudy.
"Mungkin iya, ini hanya perasaan, Ibu saja, Pak."
Pak Rudy sudah tidak bekerja karena, Shena yang memintanya namun sekarang, Shena juga tidak bekerja tapi sampai saat ini, Shena masih mencukupi kebutuhan mereka.
*******
"Apa sudah ada jawaban dari pertanyaan aku?" tanya, Shaka sembari menatap, Dania yang sedang bekerja.
"Mmm," Dania nampak berpikir sejenak.
"Masih berpikir?"
Dania tersenyum lalu mengangguk.
"Apa. Apa itu artinya kamu menerimaku?"
Dania mengangguk lagi. "Ya," ucapnya singkat.
"Yes!" Shaka kegirangan.
"Apaan sih kamu." Dania tersipu malu karena beberapa temannya mengetahui bahwa mereka baru saja jadian.
"Yakin gak ada yang mau ngucapin selamat nih? Kita baru aja jadian loh," ucap, Shaka.
Dania semakin malu dengan perkataan, Shaka yang menurutnya tidak harus dilakukan. Lagi pula ini bukan pernikahan jadi tidak perlu ada yang mengucapkan selamat ataupun doa restu.
"Ciee, udah gak jomblo lagi nih, Dania," goda, Rita.
Shendy dan Rita terus menggoda, Dania meski wajah gadis itu sudah merah bakal kepiting rebus. Sementara, Shaka. Dia bersikap biasa saja karena memang dia sudah berteman lama dengan, Rita dan Shena.
"Kalian apaan sih." Dania mulai kesal dengan perkataan-perkataan yang terucap dari mulut, Rita dan Shendy.
"Udah-udah, jangan godain pacar aku terus," ucap Shaka.
"Udah waktunya makan siang nih. Kita makan siang bareng yuk!" ajak, Shaka kepada, Dania.
"Gak sekalian ngajak kita juga? Anggap aja ini bentuk kebahagiaan kamu, Ka," ucap Rita kepada, Shaka.
"Maksud kamu perayaan?" tanya, Shendy.
"Itu ide bagus, kita harus merayakan hari jadian kalian. Pastinya, Shaka yang traktir," sambung, Shendy.
__ADS_1
"Ih, kapan kita makannya? Aku sudah lapar," ucap, Dania mengalihkan pembicaraan mereka.
*******
Shena menarik kopernya dan memilih kamar yang ditempati oleh, Susan karena memang itu adalah kamarnya. Kamar yang dulu dia isi dengan, Devan saat mereka masih berumah tangga.
Susan terus mengikuti langkah, Shena dan terus memaksa agar, Shena keluar dari rumahnya namun perkataannya tidak dihiraukan oleh, Shena.
"Keluarkan semua barang-barang mu dari kamar ini karena mulai saat ini aku akan menempatinya," ucap, Shena.
"Lancang sekali kamu mengusir aku dari kamarku sendiri." Susan sangat marah dan tidak terima dengan semua perlakuan, Shena padanya.
"Cepat pindahkan semua barang-barang kamu dari kamar ini."
"Aku tidak mau."
Shena berjalan memutari, Susan!
"Kalau kamu tidak mau, aku akan merebut suamimu lebih cepat dari rencana ku. Aku akan meminta, Mas Devan menikahi aku hari ini juga," ucap, Shena.
Entah punya keberanian dari mana, kini Shena menjadi lebih berani dari sebelumnya.
Dahulu, Shena adalah wanita yang lemah. Dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari, Susan namun kini dia menjadi lebih berani dan melakukan apa yang dulu, Susan lakukan padanya.
Saat ini, Shena sedang mengembalikan apa yang, Susan berikan padanya dulu saat, Susan masuk ke dalam kehidupannya.
Susan masih terdiam, dia masih berdiri mematung di tempat semula.
Shena melemparkan foto pernikahan, Susan dan Devan yang terpajang di atas meja!
"Cepat kamu keluarkan barang-barang ini atau aku akan melemparkan semua ini." Shena mulai berteriak kesabarannya sudah habis.
Susan terkejut dengan teriakan, Shena padanya. Dia tidak menyangka bahwa sekarang, Shena bisa menjadi begitu emosional.
Bersambung
Hai teman-teman selamat pagi menjelang siang. Sambil nunggu Dendam Cinta up lagi mampir yuk ke karya temanku ini.
Jangan ragukan tentang kualitas karya ini. Cerita ini pasti seru dan gak akan ngebosenin.
Judul: Un Familiar Brother
Karya: Kaka Shan
Blurb:
Kerumitan hidup membawa tiga saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.
"Kembaran gue suka Kakak tiri gue, Kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"
__ADS_1