DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
TRAUMA


__ADS_3

Fajrina masih memeluk elang , ia menangis tersedu. Ia merasa jijik mengingat apa yang telah Joyo lakukan padanya .


"Tenang lah, pria itu sudah pergi". Ujar elang. Pihak hotel akhirnya menemukan sesosok mayat di gudang belakang hotel. Mayat pemuda itu di yakini telah menjadi korban pembunuhan yang di lakukan oleh Joyo.


Mendengar berita itu membuat Fajrina semakin takut saja, itu juga membuat seluruh anggota keluarga menjadi lebih panik dari biasanya.


"Dia sangat mengerikan". Dini bergidik sambil memeluk bahunya sendiri. Dini tak menyangka pria yang sempat menikahinya itu seorang monster yang sangat ganas. Untung saja dini sudah lepas dari nya, jika tidak mungkin dini bisa saja di bunuh oleh nya. Keadaan Vivian kala itu juga sangat mengerikan, Joyo tak segan melukai vivian, wanita yang telah memberikan nya seorang anak.


"Kita harus lebih waspada, kita juga harus menambah kan keamanan di rumah, dan kau elang.. lebih baik kau pindah kembali ke rumah kami". Ujar agung, sambil menepuk pundak putranya itu.


Fatma yang menyaksikan bagaiman sang putri dalam bahaya tadi masih tak sadarkan diri, dia shock sekali. Ustad dzaki masih senantiasa mencoba membangunkan istrinya itu.


"Kau benar ayah, malam ini aku dan Fajrina akan kembali ke rumah mu, namun apa yang harus aku lakukan dengan Lusi?". Ujar elang.


Di tempat lain, Lusi sedang mengamati indahnya kota lewat balkon apartemen elang. Kemudian ia terperanjat ketika mendengar suara ketukan di pintu. Sudah dapat di pastikan bahwa ia bukan elang atau Fajrina, Karna mereka berdua tau kode kunci apartemen mereka.


Dengan malas Lusi berjalan dan membuka pintu, Lusi terseyum bahagia setelah melihat siapa yang berdiri di sana. Lusi langsung melompat dan memeluk pria itu, Lusi bahkan tak memperdulikan perutnya yang mulai buncit itu.


"Aku merindukan mu". Ujar Lusi sambil mencium pria itu.


"Aku juga sayang". Joyo menyeringai menatap Lusi, ternyata kehamilan Lusi sudah sangat terlihat. Masih dengan Lusi di atas gendongan nya, Joyo melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Lusi masih terus ******* bibir Joyo, wanita itu sangat merindukan ayah dari bayi yang sedang ia kandung itu.


"Anakmu sangat merindukan mu". Ujar Lusi ketika ia melepaskan bibir nya dari Joyo.

__ADS_1


"Benarkah". Joyo membelai perut buncit Lusi, ."aku akan tengok anak ku malam ini". Bisik Joyo di telinga lusi. Wanita itu tersenyum bahagia, akhirnya ia akan mendapatkan sentuhan yang selama ini ia rindukan. Joyo mencumbu Lusi di atas sofa, ia terlihat sangat lapar, bahkan perut Lusi tak jadi masalah dan penghalang baginya, ketika ia secara kasar memasuki tubuh wanita itu


Lusi bahkan menerima perlakuan Joyo dengan senang hati. Baginya Joyo lebih penting dari bayi itu, bahkan ketika nyeri menyeruak di perutnya Lusi lebih memilih membiarkan Joyo melanjutkan aktifitas nya dari pada memintanya berhenti.


Setelah puas dengan permainan pertamanya , joya langsung merebahkan dirinya di samping Lusi.


"Kau sangat memuaskan ". Ujar Joyo sambil mengatur pernafasan nya


"Karna aku sangat merindukan mu sayang, setiap malam.. namun, apa hanya segini sayang, aku masih merindukan mu?". Lusi merengek sambil membelai bagian tubuh pria yang sangat ia sukai itu. Joyo terseyum , ia memejamkan matanya.


"Nanti dulu, aku masih lelah". Bagaimana ia tak lelah, ia harus berlari secepat mungkin dari elang. Dan sesampainya di apartemen itu ia juga harus menuntaskan hasratnya pada Lusi.


"Kau tak asik". Lusi merajuk. Namun Joyo malah tertawa.


"Aku datang sayang".


Fajrina menatap elang, ia sangat frustasi jika mengingat Lusi, namun ia tak bisa meninggalkan Lusi sendirian di apartemen nya.


"Bawa dia ke rumah ayah dan bunda". Ujar Fajrina. Semua mata langsung tertuju ke arah Fajrina. Mengingat keadaan Lusi yang tengah hamil, Fajrina merasa tak bisa meninggalkan dia sendiri.


"Fajrina benar". Cindy menyetujui usul menantu kesayangan nya itu.


"Namun huru hara akan terjadi, kalian harus sabar menghadapi wanita itu". Hendrik mencela percakapan mereka.

__ADS_1


"Itu yang harus kita hindari, kita membutuhkan perawat untuk wanita itu, agar dia selalu meminum obatnya tepat waktu, agar ia tak mengamuk seperti kemarin". Elang menghela nafasnya, ia sebenarnya merasa tak tenang jika memikirkan Lusi.


"Namun apa kalian tidak takut jika suatu saat Lusi membuka pintu agar Joyo bisa leluasa masuk ke rumah kalian". Ustad dzaki angkat bicara, ia takut jika Fajrina kembali di lukai oleh pria itu.


malam itu mereka semua menginap di rumah agung, elang Masih setia memeluk fajrina. kejadian tadi sangat menganggu pikiran elang. joyo bisa saja kapan pun datang ke kehidupan mereka berdua. ia merasa bahwa keselamatan istrinya dalam bahaya, elang tak bisa membayangkan jika tadi fajrina terluka Karna ulah pria itu.


"aku takut elang". fajrina menghela nafasnya , ia mencoba menghilangkan segala kekhawatiran nya , namun semua itu sia-sia.


ia Masih ingat bagaimana pria itu mencium leher nya sebelum pria itu mendorong tubuhnya. ia kembali bergidik ngerih juga merasa jijik secara berbarengan.


"jangan kau fikir kan lagi mengenai Hal itu, aku yang akan jamin keselamatan mu sayang, jadi untuk saat ini kau tek perlu bekerja dulu .. jangan sampai ada celah lagi bagi joyo untuk mendekati mu". elang membelai lembut wajah fajrina.


"aku akan menuruti saran mu elang, aku tak ingin bertemj dengan pria itu lagi, ia sangat nenyeramkan juga menjijikan". tubuh fajrina bergetar hebat, elang langsung mempererat peluk kan nya.


" kau jangan pergi kemana pun, sebelum pihak kepolisian Dan orang-orang ku berhasil menangkapnya, Karna apa yang kulakukan sekarang semata untuk keselamatan dirimu ".


" aku percaya padamu elang, aku sangat percaya padamu.. tapi bagaiamana dengan lusi , ia sendirian di apartemen kita". elang hampir saja lupa pada lusi jika fajrina tak menyebut nama wanita itu.


"apa tak masalah ia tinggal bersama kita disini, bagaimana pun juga, lusi Dan joyo memiliki hubungan yang sangat erat, aku takut lusi membuka celah bagi joyo untuk mencelakaimu". elang merasa jika istrinya itu terlalu baik, hingga ia Masih saja memikirkan keadaan wanita lain yang sudah terang-terangan ingin merusak rumah tangganya.


"aku yakin lusi tak mengetahui bahwa joyo begitu menginginkan diriku elang, buktinya lusi hanya menyerangku Karna dirimu, bukan lah joyo".


"aku akan menjemput dia besok pagi, sekarang kau tidurlah dulu, lupakan kejadian tadi.. aku ada bersama mu sekarang, jadi kau sangat aman sekarang". elang mencium kening fajrina.

__ADS_1


"berhati-hati lah elang, aku takut lusi menggunakan rencana lain untuk menjebak dirimu lagi ".


__ADS_2