DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
BODOH


__ADS_3

Reza menarik nafas panjang, kini ia merasa tenang. Video panas antara dirinya dan dini telah ia dapatkan. Sambil terseyum ia mulai mematahkan dan membakar kartu memori itu.


"Kau terlihat bahagia sekali ya!". Ujar elang ketika melihat asisten pribadinya itu senyum senyum sendiri.


"Tentu saja, akhirnya aku bisa membebaskan kakak mu dari penjahat itu, aku sangat bahagia karna sebentar lagi aku bisa menikahi kakakmu". Reza kembali terseyum


Fajrina dan dini tengah menikmati teh hangat mereka, mereka memutuskan untuk menginap beberapa hari di villa keluarga mereka.


"Terimakasih atas bantuan mu, aku tak percaya, setelah apa yang aku lakukan padamu kau masih mau menolong ku ". Dini menatap kedua pria yang sedang asik mengobrol di pinggir danau itu.


"Aku tak pernah marah padamu kak dini, lupakan lah, bagaimana pun kau adalah kakak ipar ku, kau adalah kakak nya suamiku, berarti kau kakak ku juga, bukan kah begitu". Fajrina tersemyum, kemudian meminum teh nya.


Dari kejauhan Joyo menatap mereka, entah apa yang ada di dalam pikiran Joyo, ia mulai merasa tak tenang , apalagi melihat kedekatan dini dan Fajrina.


Ingin rasanya Joyo menculik Fajrina selagi elang berada jauh dr wanita itu, namun Karna dini, ia tak bisa melalukan itu. Ia mendengus kesal dan berniat untuk pulang ke rumah Vivian. Ia merasa harus menyalurkan hasratnya, ia sangat bergairah sejak siang ketika ia melihat bibir Fajrina.


Ia secepat mungkin mengendarai mobil dini ke arah rumah Vivian. Perjalan yang cukup jauh membuat Joyo sedikit lelah. Ia melangkah memasuki rumah vivian.


Di kamar ia melihat istrinya sedang membaca buku, dan tanpa berkata apa-apa Joyo langsung memeluk Vivian dari belakang dan menciumi leher wanita itu.


"Kau mau apa?". Ujar Vivian ketus.


"Aku menginginkan mu sekarang, saat ini juga". Joyo langsung menarik Vivian ke dalam pelukan nya kemudian mencium wanita itu rakus.


Vivian terlena, namun Joyo tak dapat melihat air mata Vivian telah mengalir deras dari kedua kelopak matanya. Vivian tak kuasa menolak semua sentuhan Joyo, Vivian sangat mencintai pria itu. Permainan Joyo sangat lembut juga menuntut, dan sebagai istri Vivian dengan senang hati melayani Joyo.


"Ya.. kau ternyata sangat nikmat Fajrina". Joyo tak sadar telah menyebut nama Fajrina. Vivian yang mendengar itu langsung menghentikan aktifitas nya, merasa ada yang salah Joyo langsung membuka matanya dan menatap Vivian yang kini tengah berada di atasnya.


"Mengapa kau berhenti". Joyo membelai dada Vivian, Vivian terseyum dan kembali melayani joyo. Bagaimapun Vivian tak bisa menolak Joyo, tak masalah jika Joyo menyebut nama wanita lain asal pria itu masih bersama dengan nya.


Selesai bercinta Joyo langsung tertidur lelap, ia tak menyadari bahwa istrinya sedang menangis terisak di samping nya. Ternyata pria yang ia cintai sekarang mencintai wanita lain. Dan wanita itu adalah Fajrina, ia merasa bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan Fajrina.


Pagi harinya Joyo merasa sangat marah, ia membuka semua kameranya dan mencari keberadaan kartu memory itu.


"Kemana hilang nya? Apa kau menyimpannya?". Joyo berteriak pada Vivian, Vivian sangat takut melihat wajah penuh amarah Joyo.


"Aku tak tau, aku bahkan tak pernah menyentuh kamera mu, mungkin kau lupa dimana meletak kan kartu memory itu". Vivian pura-pura bingung atas pertanyaan Joyo. Namun Joyo sudah lama mengenal Vivian, ia tau wanita itu tengah berbohong.

__ADS_1


Ia langsung menarik Vivian


"Dimana memory nya". Joyo terlihat sangat menyeramkan


"Aku tidak tau". Ujar Vivian, ia meronta ketika Joyo mencengkram kedua lengan nya.


"Kau sedang berbohong Vivian ". Pagi itu Vivan mendapatkan pukulan yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Vivian meringkuk ketika Joyo mulai menginjak injak tubuhnya. Raungan dan tangisan Vivian tak juga membuat Joyo berhenti memukulinya.


"Aku akan bertanya sekali lagi, dimana kartu memorynya?". Joyo mencekik leher Vivian.


"Elang mengambilnya". Mata reza membulat sempurna kemudian melepaskan Vivian begitu saja. Tamat sudah riwayatnya.


"Bodoh ". Joyo berteriak. Vivian berusaha bangkit. Namun Joyo kembali memberikan pukulan ke wajah Vivian, Vivian terjatuh dan tak sadarkan diri .


Joyo tak perduli, ia langsung mengendari mobil nya kembali ke rumah keluarga Manggala, ia mengacak-acak isi lemari, ia mencari barang berharga serta berkas-berkas berharga, ia harus menyelamatkan diri sebelum terlambat.


Ia mendapatkan beberapa cincin berlian milik dini dan bebrapa kalung emas yang memang sengaja dini Simpan. Kemudian ia juga mendapatkan sertifikat rumah dan tanah yang dini beli ketika mereka baru saja menikah. Ia membawa semua pakaian nya kemudian dengan cepat meninggalkan rumah itu.


"dia melarikan diri". Ujar elang, ia mendapatkan telepon dari salah satu pekerja rumah tangga di keluarga Manggala.


"Aku mengapa jadi merasa khawatir pada Vivian". Fajrina menatap elang. Namun elang malah tersenyum.


"Kau kenapa ". Fajrina bingung melihat sikap suaminya.


"Malam ini ya sayang". Elang merengek pada Fajrina. Fajrina menghela nafas, lalu mengangguk. Elang tersenyum. Sebenarnya elang mau mengeksekusi Fajrina tadi malam, namun ternyata istrinya itu tidur dengan dini.


Mereka makan malam kemudian di lanjutkan dengan acara barbeque an di pinggir danau, mereka tertawa bersama. Reza dan dini tak bisa menutupi kebahagiaan mereka, jemari mereka saling bertautan.


"Hari sudah semakin malam, lebih baik kalian istirahat sekarang". Ujar elang, namun kedua orang yang tengah kasmaran itu sepertinya tak mengindahkan ucapan elang.


Fajrina tertawa , ia tau maksud elang, mengapa ia meminta mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Elang kesal kemudian melemparkan botol kosong bekas air mineral ke arah Reza, dan mengenai kaki pria itu.


"Apa yang kau lakukan ". Dini menghardik elang.


"Kalian sungguh tak mendengarkan aku". Elang melengos. Reza tersenyum dan menarik dini agar ikut dengan nya memasuki vila.


"Dia sangat menyebalkan". Ujar dini, namun bukan nya kembali ke kamar, Reza malah mengajak dini ke dapur.

__ADS_1


"Kita ngobrol di sini aja, apa kau ingin aku buatkan makanan". Reza berjalan ke arah lemari es dan mencoba mencari sesuatu yang bisa ia olah menjadi makanan.


"Jika ada,aku ingin mie instan ". Dini tersenyum sambil menatap punggung Reza. Dari dapur mereka berdua melihat elang dan Fajrina berjalan menaiki tangga.


"Aku akan membuatkan mu mie instant yang lezat". Reza mulai memasak mie untuk dini.


"Kau tau, seperti nya ada maksud terselubung dari elang, lihat masih jam 10 malam tapi dia menyuruh kita untuk tidur". Reza terseyum mendengar kata-kata kekasihnya.


"Mereka ingin bermesraan, apa kau tak mengerti juga". Reza mengingat kejadian di mobil kemarin , kemudian ia tersenyum


"Ya kan seharusnya mereka tak usah mengusik kita, mereka bisa masuk ke dalam kamar tanpa harus menyuruh kita". Dini cemberut.


Mereka berdua mendengar elang sudah mengunci pintu kamarnya, dini kemudian menatap Reza. Reza bingung mengapa di tatap seperti itu oleh dini, perlahan tapi pasti dini berjalan ke arah Reza, menarik tengkuk pria itu kemudian mencium nya. Reza memeluk pinggang dini, ciuman itu sangat manis juga lembut namun mereka tetap memasang telinga mereka. Reza tak ingin tertangkap basah oleh elang Ketika mencium kakaknya.


Merasa keadaan aman, Reza mengangkat tubuh dini, dan mendudukan nya di atas meja.


"Kau tunggu di sini, mie nya hampir matang". Reza berbalik kemudian berjalan menuju kompor. Mie nya sudah matang.


"Mengapa cepat sekali". Reza bertanya dalam hatinya, kemudian ia tertawa, bukan mie nya yang cepat sekali matang, tapi ciuman mereka berdua yang terlalu lama.


"Baunya enak". Ujar dini, Reza kemudian membawa nampan berisi 2 mangkok mie ke arah meja.


"Makan dulu". Ujar Reza sambil mencium bibir dini, kemudian melepaskan nya.


Dini turun dari meja kemudian berjalan ke arah Reza dan duduk di samping pria itu. Mereka makan dengan lahapnya, padahal mereka baru saja memakan steak yang di buat Fajrina.


"Aku kenyang". Ujar Reza.


"Aku juga". Dini menambahkan. Kemudian Reza mengalihkan pandangan nya dari mangkok kosong ke arah dini. Ia kembali menarik wanita itu dan mendudukan nya di atas meja.


"Aku rindu". Reza membelai wajah dini.


"Aku juga". Mereka berciuman, merasa kurang Reza langsung menarik tangan dini untuk mengikutinya.


Dini bingung namun ia tetap diam ketika Reza menarik dini masuk ke kamarnya.


"Jangan bersuara". Reza menaruh ibu jarinya di depan bibir dini. Dini terseyum. Reza berjalan menuju ranjang, ia menepuk kasur di sebelahnya.

__ADS_1


"Apa?". Ujar dini


"Tidurlah di sini".


__ADS_2