
Akad nikah itu sudah terlaksana, Lusi terseyum, sekarang ia sudah menyandang status sebagai istri kedua elang Manggala. Lusi sangat bahagia, ia bahkan tersenyum ke semua orang. Ia sangat bangga dengan pernikahan nya, namun bagi Lusi kebahagiaan nya sedikit terusik dengan Fajrina. Istri tua suaminya itu terus mengikuti kemana pun elang pergi.
Merasa sudah menyandang status sebagai istri , Lusi memutuskan mengikuti jejak Fajrina, dia terus saja menempel layaknya benalu pada elang, ia bahkan terang-terangan meminta Fajrina untuk menjauh dari elang yang juga suaminya.
"Ini adalah hari pernikahan ku dengan elang, seharusnya kau memberikan waktu pada ku dan juga elang untuk berbahagia, tapi alih-alih mrmeberiku dan elang waktu kau malah selalu saja mengikuti kemana kami pergi". Fajrian engga menanggapi, ia hanya menganggkat tangan nya sebagai bukti, bukan dia yang mengikuti elang, tapi elang lah yang selalu menggenggĂ m jemari Fajrina tanpa mau melepasnya.
Lusi kalah telak, namun ia tak habis akal. Wanita itu bergelayut dan memegang tangan kiri elang.
"Sayang apa kau mau makan, aku akan mengambilkannya untuk mu". Lusi kemudian berjalan dan menyendok kan nasi berserta lauknya, mulai hari ini ia akan melayani elang sepenuh hati. Namun ketika Lusi berbalik, ia bisa dengan jelas melihat Fajrina tegah menyuapi elang dengan tangan nya.
Elang sepertinya sangat menikmati makanan nya itu , bukan Karna rasanya namun Karna makanan itu di suapi langsung oleh Fajrina menggunakan tangan nya. Elang tersenyum saat menatap netra sang istri tercinta . Fajrina sangat telaten memasukan makanan itu ke dalam mulut elang, semua yang hadir merasa sangat terharu melihat pasangan itu. Fajrina istri yang sangat pengertian , ia bahkan meminta sang ayah untuk menikahi suaminya.
Lusi yang terbakar api amarah langsung berjalan dengan cepat dan menuangkan isi piring itu ke atas kepala Fajrina. Elang dan Fajrina bangkit , hijab Fajrina kotor sudah. Fajrina bingung mengapa Lusi sangat tidak tau diri sekali, setelah ia merelakan suaminya, kini Lusi malah melakukan hal tercela itu pada Fajrina, dan parahnya di depan semua anggota keluarga yang hadir .kali ini Fajrina sudah tak bisa menahan nya lagi, ia mengangkat kepalanya. Mata Fajrina penuh dengan kemarahan , ini kali pertama elang melihat sosok Fajrina yang ini.
Dokter muda nan cantik itu murka Karna mendapatkan perlakuan yang sangat tidak sopan dari madunya itu. Dengan sekuat tenaga Fajrina menampar pipi Lusi, hingga Lusi terhuyung kesamping.
"Kurang ajar sekali kau". Ujar Fajrina, ia menatap gaun yang ia kenakan, gaun putih dengan corak yang sama dengan jas elang itu telah ternoda. Hilang sudah kesabaran Fajrina.
Untuk pertama kalinya elang melihat kemarahan Fajrina, selama ini wanita yang ia cintai itu sangat santun juga lembut. Namun elang tak menyalahi sikap Fajrina, Karna Lusi kali ini sudah sangat keterlaluan.
Elang langsung berjalan ke arah Lusi dan menarik lengan wanita itu. Elang melakukannya dengan sangat kasar kemudian ia mendorong Lusi hingga memasuki kamar.
"Mengapa kau sangat kasar sekali".Lusi meneriaki elang.
"Kau sangat tidak tau diri, kau bahkan berkali-kali mencoba mempermalukan istriku".
"Istrimu? Aku juga istrimu.. kau harus bisa bersikap adil, kau membuatku cemburu, makanya aku melakukan hal itu, kalian menanggapinya secara berlebihan ".
__ADS_1
Ujar Lusi.
"Berlebihan kata mu, kau mamang benar-benar gila". Elang langsung melangkah keluar dan menutup pintu itu dengan keras. Elang kemudian mencari keberadaan Fajrina, namun istrinya itu tak ia temukan di mana pun
"Istri baru mu sangat luar biasa". Capung menepuk pundak elang.
"Ya, dan aku malu mengakui jika dia itu istriku". Elang menghela nafas nya berat.
"Kasihan Fajrina, sejak awal Lusi selalu saja mengganggunya". Kedua pria itu duduk di kursi, sedangkan Hendrik yang sejak tadi menemani mereka harus mengantar cyntia pulang.
"Kemana Fajrina , mengapa aku tak melihatnya ". Elang kembali mengedarkan pandangan nya, ia masih tak menemukan sosok Fajrina.
"Istrimu sepertinya sedang membersihkan diri " capung menanggapi pertanyaan elang.
"Lusi sangat keterlaluan". Elang menutup wajahnya dengan kedua telapa tangan nya, ia sangat menyesali kejadian tadi.
"Ya, Lusi memang sangat keterlaluan , tapi masalah nya setelah ini Lusi akan tinggal diamana?". Capung menatap sahabatnya , dan pertanyaan membuat elang kembali merasa frustasi.
"Tidak, dia akan tinggal di apartemen kami". Fajrina berjalan menuruni tangga, ia sangat cantik menggunakan gaun brukat berwarna hitam dengan hijab berwarna senada.
"Sayang, apa maksudmu". Elang meraih jemari. Istrinya.
"Kita harus terus memantau pergerakan nya elang, aku takut nanti ia kembali membuat masalah". Fajrina memberi pengertian pada suaminya.
"Tapi , apa kau tak merasa terganggu dengan kehadiran nya, kau kan tau dia paling suka membuat kita emosi". Elang memegang bahu istrinya, sedang kan capung terus mencerna kata-kata elang.
"Kau harus kuat mental jika tinggal bersama dengan Lusi". Fajrna tersenyum
__ADS_1
"Aku akan bertahan , tenang saja". Wanita itu terseyum cantik. Ah, elang semakin jatuh cinta saja.
Malam harinya Fajrina dan elang pamit pada agung.
"Apa kalian tidak menginap saja, hari sudah semakin larut sayang". Cindy membelai kepala menantu kesayangan nya itu
"Tidak bunda, nanti akan tambah merepotkan bunda saja". Balas Fajrina.
Dari atas elang terlihat menarik tangan Lusi agar mau ikut dengan nya.
"Lepaskan aku, kau sangat kasar". Lusi menepis tangan elang kemudian berlari manja ke arah agung.
"Ayah, lihat putra mu menyakiti aku, kau harus memarahinya". Alih-alih menanggapi Lusi, agung malam mundur.
"Jaga batasan mu". Agung menggeser posisi tubunya , hingga dia berdiri tepat di samping Cindy.
"mengapa ayah selalu kasar padaku, aku juga anak menantu mu". cindya berdecak kesal.
"Fajrina bahkan tak pernah secara langsung menyentuh suami ku ,Lusi". Cindy menatap wanita yang baru saja mejadi menantu nya itu.
"keluarga kalian terlalu kaku". ujar Lusi, ia terseyum menyeringai.
"bukan kami yang terlalu kaku, tapi kau lah yang terlalu bebas, hidupmu tanpa batasan, ingat Lusi kau berada di Indonesia, dengan begitu banyak aturan dan adat istiadat, jika kau ingin hido bebas kau bisa kembali ke Nagara asal ibu mu". elang mencoba menegur Lusi, bagaiamana pun kini elang adalah suami wanita itu, jika Lusi melakukan kesalahan maka elang lah yang haru mempertanggung jawabkan hal itu.
"iya.. iya.. sayang iya". ujar Lusi, dini muak melihat kelakuan wanita itu. maka dengan sengaja ia berjalan mendekati Lusi, dan mencubit pipi Lusi sekuat tenaga.
"jadilah gadis penurut adik ipar ku yang cantik". Lusi berteriak seketika kemudian melepas kan dirinya dari dini
__ADS_1
"kau menyakitiku". Lusi berteriak.
"itu sedikit pembalasan dari ku".