
Joyo terseyum saat kembali memasuki ruangan kerjanya yang lama. Sepertinya ada gunanya mengancam dini.
"Sepertinya aku harus memegang kartu kunci dari dini, agar dia tidak berani macam-macam padaku". Joyo berbicara dengan dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk bertemu Lusi di restoran terdekat ketika makan siang
Kini Joyo tau gerak geriknya di kantor sedang di awasi, ia tak mau berbuat kesalahan.biasanya ia sangat bebas keluar dari kantor kapan pun ia mau, tapi kali ini ia harus sedikit bersabar dan mengikuti aturan yang memang berlaku sejak dulu.
Joyo terseyum ketika memikirkan bahwa malam ini ia bisa bertemu dengan Fajrina. Mertuanya mengadakan makan malam di rumah mereka. Joyo harus tampil sebaik mungkin agar Fajrina tertarik padanya.
"Sepertinya aku harus potong rambut, wanita pujaan ku akan datang malam ini, aku tak mau membuatnya kecewa". Joyo sudah sangat terobsesi pada Fajrina. Tadinya perhatian Joyo teralihkan setelah ada Lusi, namun ketika Joyo tau Lusi menderita sakit jiwa , Joyo menjadi tak berselera untuk memiliki Lusi.
Bagi Joyo ,Lusi hanya lah alat untuk merebut semua kekuasaan elang. Daan Joyo sudah menyusun segala rencana dengan matang.
Pintu ruangan Joyo terbuka, elang berdiri disana. Melihat wajah elang membuat Joyo takut, sebenarnya Joyo tak memiliki nyali untuk berhadapan langsung dengan elang. Siapa yang mengenal elang. Memang terlihat dia sangat ramah tapi sifat asli elang seperti namanya.
"Elang, ada apa.. mengapa kau mendatangiku, jika kau memerlukan ku, aku bisa mendatangi mu". Ujar Joyo sambil berdiri dan mendekati adik iparnya itu
"Aku hanya ingin melihatmu bekerja". Elang kemudian duduk di sofa. Joyo mengikutinya.
"Aku akan bekerja dengan baik elang". Joyo berdiri di depan elang.
"Baik, sekarang bekerjalah, aku akan mengawasi mu". Elang melipat kakinya , kemudian Joyo berjalan ke arah mejanya dan mulai bekerja.
Jam masih menunjukan pukul 11 siang ketika Joyo masih berkutik dengan segala tugasnya. Sebenarnya kalau soal data dan keuangan hal yang sangat mudah elang kerjakan. Elang lulusan universitas ternama, ia merupakan Sarja ekonomi. Maka dari itu agung memperkerjakan nya hingga ia bisa menarik perhatian dini.
Dia memang berasal dari keluarga biasa, namun ia sangat pintar dan tampan. Sebelum menikah dengan dini ,Joyo pernah menjalin hubungan dengan wanita dari kampung halaman nya, wanita itu telah memberikan segalanya pada Joyo. Namun karna keserakahan Joyo, maka ia lebih memilih menikahi dini, alih-alih menikahi kekasih nya yang saat itu tengah hamil.
Fokus Joyo teralihkan dering dari ponselnya, pandangan elang pun langsung tertuju pada ponsel Joyo yang tergelak di atas meja, namu. Joyo buru-buru mengambil ponselnya
"Kenapa kau sangat gugup, siapa yang menghubungi mu" . Elang yang sejak tadi membaca laporan merasa terganggu dengan dering ponsel itu.
__ADS_1
"Ini.. ini kakak mu, aku akan mengangkat nya, sebentar". Joyo menggulir layar ponselnya
"Kita jadi bertemu kan". Suara Lusi nyaring terdengar,sampai elang mengangkat wajahnya dan menatap Joyo
"Iya sayang kita bertemu saat jam makan siang ya". Joyo tau ia sedang di tatap elang, ia sungguh mengutuk perbuatan Lusi, bagaimana jika elang tau, semua rencananya akan gagal total.
"Aku tunggu". Kini elang yakin, suara itu bukan suara kakaknya, namun elang pura-pura tidak tau. Untuk saat ini elang membiarkan Joyo merasa aman, belum sat nya ia memata-mati kegiatan Joyo diluar sana. Namun keputusan elang akan menjadi bumerang dan mendatangkan badai dalam biduk rumah tangganya bersama Fajrina.
"Kakakmu, meminta ku menemaninya makan siang di luar ". Joyo mencoba meyakinkan elang. Namun elang terlihat tak perduli.
Lusi terlihat di salah satu meja , ia telah memesan beberapa menu makanan, hingga menjanya terlihat sangat penuh . Joyo berjalan mendekati nya.
"Sayang.." Lusi berdiri kemudian memeluk Joyo. Untung saja itu restoran bintang 5 , semua orang bisa memesan meja private.
Mereka berciuman , Joyo meremas bokong Lusi. Lusi terseyum kemudian melepaskan ciumannya.
"Apa kau sudah lama?". Ujar Joyo sambil mengandeng jemari Lusi ke arah meja kemudian menarik Lusi ke atas pangkuannya .
"Maaf aku agak terlambat, elang menganggu ku tadi". Joyo kemudian menghisap leher Lusi
"Tak mengapa, sayang.. apa kita bisa melakukannya sebelum kita makan". Lusi merengek
"Tidak bisa, aku tak bisa lama.. aku tak ingin elang mencurigai ku". Mereka kembali berciuman. Setelah itu menyantap hidangan yang sudah di siapkan.
Elang kembali ke kantor dengan wajah yang cerah dan bahagia. Ia ingat bagaimana mulut dan lidah Lusi membuainya tadi. Lusi sangat mahir membuatnya puas. Semalam ia tak merasakan itu saat bersama dini. Sepertinya dini memang sengaj, ia tak mau lagi melayani hasrat Joyo.
"Kau terlihat sangat bahagia". Joyo berhenti, ia kemudian berbalik. Ternyata agung sudah berdiri di sana, Joyo sangat bahagia sampai ia tak menyadari bahwa ia telah melewati sang mertua.
"Ayah.. sejak kapan ayah di sini". Belum lagi ia kaget karna kedatangan mertuanya, ini kini di buat kaget setelah melihat dini berdiri di belakang agung.
__ADS_1
"Aku sejak tadi berada disini, kau dari mana?". Agung bertanya, Joyo bingung harus menjawab apa. Ia bilang ke elang ingu. Makan siang dengan dini, namun dini ternyata ada di kantor ini . Bagaimana cara Joyo menjelaskan nya ke elang
"Aku baru kembali makan siang dengan teman ku". Belum lagi kedatangan agung dan dini, ia kembali di kejutkan di dengan kehadiran elang .
"Kau bilang, kau mau makan siang dengan kakakku, tapi kakakku malah kesini bersama ayah, jadi kau makan dengan teman. Wanita mu yang mana" . Joyo bingung harus menjawab apa. Ia kemudian menatap dini, merasa mendapat tatapan mengancam dari suaminya. Dini kemudian terseyum
"Tadi kami memang ini makan siang bersama, namun karna ayah mengajak ku ke sini , maka aku membatalkan nya ". Dini memandang penuh permohonan pada elang, ia berharap elang tak memperpanjang masalah ini
"Baiklah". Elang terseyum , ia mengerti apa yang di ingin kan kakaknya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu.. sayang, kau jarang sekali datang kesini, bagaimana jika kau ikut ke ruangan ku". Dini tak bisa membantah, kemudia ia berjala. Mengikuti Joyo.
Dini sangat takut Joyo akan melukainya. Ia tau Joyo sedang marah semenjak tadi malam. Dini tak mau memuaskan hasrat Joyo , maka sejak tadi malam Joyo melarang dini naik ke atas tempat tidur.
Joyo menutup pintu ruangannya dan berjalan mendekati dini. Dini mundur
"Ada apa, mengapa kau terlihat marah" . Dini menatap Joyo yang tengah terseyum menyeringai seram
"Sedang apa kau di sini, kau mau membuatku dalam masalah , hah". Joyo berteriak tepat di depan depan wajah dini
"Ayah memintaku menemaninya, aku tak bisa menolak ". Lain kali jangan pernah kau berani datang lagi. Kemudian Joyo mengambil tas yang di pegang dini, kemudian mengambil ponselnya
"Kembalikan ponselku ". Dini berusaha meraih ponselnya
"Mulai saat ini, aku tak mengizinkan mu memegang ponsel . Dan dengarkan aku, aku menunggu mu di hotel xxxx jam 7 malam ini, kau harus datang". Joyo kemudian memasukan kan ponsel dini ke sakunya
"Kita bisa bertemu di rumah, mengapa kita harus bertemu di luar ?". Entah rencana apa yang terlah Joyo siapkan untuk dini, namun dini tak merasa bahwa dirinya akan di jebak .
"Semalam kau tak mau melayani ku, mongkin kau merasa bosan , jadi aku memilih hotel untuk tempat Kita bercinta". Dini tak tau harus berbuat apa, ia hanya menyetujuinya.
__ADS_1
"Baik".
"Pakai pakaian terbaik mu, jika kau tak datang, aku ingat kan kembali, aku akan membunuhmu". Kemudian dini berjalan mendinggal kan ruangan Joyo.