
"kau sangat cantik". Hendrik mencoba untuk merayu Lusi, sebenarnya bukan hal yang sulit jika hanya untuk merayu wanita itu.
Lusi terseyum manja ke pada Hendrik
"Terimakasih atas pujian nya ". Ujar Lusi.
Hendrik berdiri kemudian berjalan menuju Lusi yang duduk tepat di sebrang nya .
"Apa boleh..". Hendrik menunjuk kursi kosong yang ada di samping Lusi.
"Silahkan ". Dengan sangat senang hati Lusi mempersilahkan Hendrik untuk duduk di samping nya. Lusi sangat bahagia, ia sudah menunggu cukup lama untuk moment ini, moment dimana akhirnya Hendrik mengakui dirinya.
"Apa tak masalah aku malah membawamu ke club' milik elang". Hendrik duduk di samping Lusi, ia mengangkat lengan nya kemudian merangkul pundak Lusi.
Mendapatkan perlakuan yang manis seperti itu membuat Lusi terpana menatap Hendrik.
"Tak masalah". Lusi terseyum menatap Hendrik. Pria di samping nya sangat tampan, jika di lihat-lihat ia mirip sekali dengan salah satu member dari salah satu grup pria terbaik di Korea.
Hendrik terseyum, kemudian perlahan tapi pasti Hendrik membelai punggung Lusi , mendapat serangan yang sangat tiba-tiba membuat Lusi kaget luar biasa. Pria yang sangat dingin tiba-tiba seperti dengan tergila-gila padanya. Lusi terseyum menatap jemari Hendrik yang sedang menari di atas punggung mulus Lusi.
Lusi memang sengaja mengenakan gaun tanpa lengan berwarna merah marun, ia sengaja memamerkan lekuk tubuh nya yang indah, tujuannya agar Hendrik jatuh ke dalam pelukan nya.
"Kau mau minum apa, biar aku pesan kan". Lusi hendak berdiri , namun ia di tahan oleh Hendrik.
"Biar aku saja". Hendrik kemudian berjalan meninggalkan Lusi, Ia menemui capung.
"Berikan ini padanya". Hendrik mengambil gelas yang di berikan capung padanya.
"Apa ini ?". Ujar Hendrik.
"Itu obat tidur, obat akan bekerja setelah beberapa jam di konsumsi, jikapun dia menukar minuman nya dengan mu, kau akan tetap aman". Capung cengengesan sambil menatap Hendrik
"Apa kau yakin?". Hendrik kembali bertanya
"Aku yakin, kenapa kau takut". Capung tertawa.
"Hei, jika dia memperkosaku bagaimana?, Ia sudah melakukan nya pada elang". Kini Hendrik ikut tertawa.
"Wanita itu menyeramkan". Capung bergidik menatap Lusi dari kejauhan.
__ADS_1
"Kau benar, kita sebagai pria harus hati-hati terhadapnya ". Kemudian Hendrik berjalan meninggalkan capung, capung senantiasa memperhatikan gark gerik Lusi dari kejauhan. Ia tak ingin Hendrik menjadi korban Lusi, seperti elang .
"Apa itu untuk ku". Lusi mengambil gelas berisi minuman beralkohol itu pada Lusi.
"Aku harap kau menyukai nya". Hendrik menatap Lusi, ia harap-harap cemas. Ia takut Lusi cerita, namun semua di luar prediksi, Lusi meminumnya hingga habis lalu langsung terseyum ke arah Hendrik.
Hendrik berhasil di tahap awal. Dari kejauhan capung mengangkat ibu jarinya. Hendrik kembali membelai punggung Lusi, lampu yang temaram membuat suasana semakin lama semakin mencekam bagi Hendrik. Apalagi ketika Lusi mulai membelai dadanya.
Capung tertawa terbahak melihat Hendrik yang mulai panik namun tak bisa berbuat apa-apa itu. Lusi mulai mencium leher Hendrik, Hendrik tak bisa menolak ia pasrah dari pada rencananya mendekati Lusi jadi berantakan.
Dengan sekali gerakan Lusi menarik tengkuk Hendrik kemudian mencium nya. Hendrik terpaku, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Lusi memaksa memasuki rongga mulut Hendrik, demi elang Hendrik terpaksa membukanya .
"Sial kau capung, aku akan membunuhmu setelah ini". Hendrik memaki capung yang masih tertawa terbahak di kejauhan itu
Hendrik akhirnya melepaskan ciuman itu.
"Apa kau menikmatinya". Hendrik bertanya lebih dulu.
"Tentu saja". Lusi terseyum lalu memeluk Hendrik.
"Aku menyesal telah bersikap dingin padamu ". Hendrik lebih berani sekarang, sudah terlanjur basah. Pikir Hendrik.
Hendrik membelai paha indah Lusi, Lusi terseyum dan membiarkan Hendrik melakukan hal itu padanya.
"Kenapa tak pindah ke apartemen ku sayang". Lusi berbisik di teling Hendrik. Hendrik was-was, ia takut namun ia dengan tenang menyembunyikan segala ketakutan nya.
"Nanti, sekarang nikmati saja dulu ". Hendrik terseyum kemudian mencium bibir Lusi sekilas.
"Mengapa nanti, aku sudah ingin menghabiskan waktu bersama mu". Jemari Lusi mulai membelai perut sixpack Hendrik, ketika jemarinya makin lama semakin menuju benda pusaka Hendrik, Hendrik buru-buru memegang lengan Lusi
"Jangan di sini, bersabarlah". Hendrik berbisik. Dadanya berdebar hebat, ia takut. Ia gemetaran, namun mencoba untuk menahan nya.
Lusi terlihat seperti hewan buas yang sedang lapar, dan Hendrik adalah mangsanya.
"Aku menginginkan mu Hendrik". Lusi kembali mencium bibir hendrik. Dan parahnya kali ini lesi menaiki Hendrik , hingga Hendrik mau tak mau memangku tubu Lusi.
"Kita akan ke apartemen mu setelah ini". Hendrik kemudian membalas ciuman Lusi, jemari Hendrik membelai kaki Indah Lusi.
Capung terpana melihat pergerakan Lusi yang begitu cepat, ia kembali tertawa, ia sangat tau siapa Hendrik. Pria itu tak berani menyentuh wanita yang bukan kekasih nya, bahkan Hendrik sejak dulu terkenal dingin dengan wanita manapun.
__ADS_1
"Lusi sangat beruntung". Ucap capung di tengah tawanya.
Ketika Lusi menarik bibirnya ia menatap Hendrik, seandainya ia tak hamil anak Joyo dan tak berharap elang kembali kepadanya, mungkin ia akan lebih memilih Hendrik. Pria itu sangat sulit di taklukkan.
"Ada apa". Ujar Hendrik, ia masih terlihat cool saat bertanya pada Lusi .
"Aku seperti bermimpi bisa berciuman dengan mu Hendrik, dulu bahkan ada desa desus bahwa kau tak normal". Lusi malu-malu menatap Hendrik
"Hey aku normal, hanya saja aku sulit untuk tertarik pada seorang wanita, dan kau wanita pertama yang membuat ku tertarik setelah sekian lama". Hendrik terseyum.
"Aku sangat beruntung". Ujar Lusi
"Kalau begitu bisakah kau turun dari pangkuanku, aku merasa tak nyaman, banyak orang yang memperhatikan kita". Lusi mengedarkan pandangan nya, benar saja hampir semua mata gadis-gadis di sana menatap ke arah Lusi.
"Kalau begitu, ayo ke apartemen ku, kita akan lebih bebas di sana". Lusi merengek, seperti anak kecil yang tengah merajuk meminta hal yang ia ingin kan
"Bersabarlah sayang". Hendrik kemudian berdiri.
"Kau mau kemana?". Lusi menatap heran Hendrik.
"Aku mau tambah mimunan, minuman mu juga habis sedari tadi". Hendrik terseyum sambil berjalan meninggalkan Lusi. Ia menatap tajam ke arah capung.
Capung masih tertawa ketika Hendrik sudah sampai di hadapannya. Hendrik langsung memegang dadanya, ia juga gemetaran.
"Ada apa dengan mu". Capung bertanya sambil menatap resah pada sahabatnya , ia bahkan memegang bahu Hendrik yang masih gemetaran.
"Aku tak tau, aku takut ". Hendrik mengatakan hal sebenarnya pada capung, mendengar hal itu capung kembali tertawa.
"Mengerikan". Ujar capung sambil memberikan dua gelas minuman lagi ke Hendrik.
"Berapa lama lagi, aku tak sanggup, wanita itu sangat ganas". Hendrik menatap capung, ia berharap jawaban capung kali ini bisa membuatnya lebih tenang.
"Aku sudah memberikan obat tidur yang lain, ia akan tertidur setelah 15 menit". Hendrik merasa lega, kemudian kembali ke Lusi.
Di pintu masuk club', Cyntia mencoba menetralisir degup jantungnya, ia tadi mendapat pesan singkat dari salah satu teman nya, ia mengatakan Hendrik tengah bermesraan dengan wanita lain di dalam. Cyntia melangkah, berharap isi pesan itu tak benar.
Hendrik kembali ke tempat di mana Lusi berada dan memberikan minuman nya. Lusi meletakkan gelas itu kemudian menarik kembali tengkuk Hendrik.
"Ayo ke apartemen ku". Ujar Lusi kemudian mencium bibir Hendrik kembali. Hendrik hanya mengikuti alurnya saja, lagipula ia tak sebodoh elang, Lusi tak kan bisa memperkosanya.
__ADS_1
Semakin lama ciuman itu semakin membuat Hendrik merasa tak nyaman ia bahkan sama sekali tak menikmati ciuman itu dari awal ,namun ia harus pura-pura menikmatinya. Ia membelai wajah Lusi, bibir mereka masih bertautan. Namun Hendrik dan capung tak menyadari kedatangan Cyntia, gadis itu menatap Hendrik , ia kecewa mendapati sahabatnya juga cinta pertamanya berciuman Dengan Lusi.
Cyntia memalingkan wajahnya kemudian pergi dari sana, air matanya mengalir tanpa henti. Ia patah hati