
"evelyn, apakah terdengar bagus". cindy menatap lewat mata putra kesayangan nya itu. namun elang masih tak mengubris ucapan ibunya.
"sayang". fajrina meremas jemari elang , mencoba menyadarkan elang dari Lamunan nya.
"ya". elang terlihat kaget, dengan cepat ia mengalihkan pandangan nya ke arah cindy.
"anak ini, aku memberikan nama evelyn untuk nya, bagaimana menurutmu". cindy berharap elang bahagia mendengarnya atau hatinya sedikit tersentuh mendengar nama yang ia berikan. namun sepertinya usaha cindy sia-sia belaka.
"terserah bunda saja". ucap elang dengan wajah datar nya.
"baiklah jika begitu". cindy tersenyum kemudian memberikan bayi itu ke pengasuhnya.
"sarapan dahulu, baru antar aku ke rumah sakit ya". fajrina meraih jemari elang.
"baik". elang tersenyum ketika melihat bayi itu pergi menjauh. entah mengapa elang begitu membenci putrinya itu. ia bahkan tak sudi melihat wajah bayi itu.
"mengapa kau terlihat membencinya, ia tak bersalah sayang". ujar fajrina sambil menatap elang yang sedang serius mengendarai mobil nya. elang menatap fajrina kemudian kembali menatap jalan di depannya.
"aku tau dia tidak bersalah, namun jika melihatnya aku merasa melihat mending ibunya, dan itu semakin membuatku merasa sangat bersalah padamu , sayang".
"tapi aku sudah ikhlas elang, percayalah ". jawab fajrina.
"aku tau, tapi rasa bersalah ku lebih besar dari rasa ikhlas mu". elang semakin tak mengerti, wanita seperti apa istrinya ini. ia bahkan menerima dan mau merawat serta membesarkan bayi dari hasil perselingkuhan nya.
"dia anak dari hasil perselingkuhan ku, apa kau masih mau merawatnya?".
"Kau tak berselingkuh sayang, kau di jebak". fajrina mencoba untuk meyakinkan suaminya itu.
"sama saja sayang". elang masih merasa sangat bersalah, ia merasa bahwa apa yang telah ia lakukan sangat keterlaluan. seandainya fajrina tau bahwa kala itu ia sangat menikmati cumbuan lusi, pasti fajrina tak Kan berfikir bahwa elang telah di jebak.
ingatan elang kembali ke masa itu, di mana ia membiarkan lusi menumbuhkan secara brutal. meskipun elang di bawah pengaruh obat peransang namun jiwa dan hasrat lelakinya tak dapat menolak semua yang di lakukan lusi pada dirinya.
kenikmatan dan ******* itu tak dapat di pungkiri oleh elang, maka dari itu elang masih tak bisa memaafkan betapa gejolak dalam tubuhnya mengalahkan logikanya kala itu.
__ADS_1
"aku sudah memaafkan mu elang, maka berhentilah menyalahkan dirimu lagi". fajrina memeluk tubuh elang. ia merasa punya tanggung jawab dalam hal itu, seandainya ia tak kehilangan ponselnya mungkin kejadian itu tak kan terjadi.
"aku tau sayang, hanya saja aku yang tak bisa memaafkan diriku sendiri". mobil elang berhenti karna lampu merah di depannya tiba-tiba menyala. tanpa mereka sadari sepasang mata dengan senyum sinis tengah menatap mereka. dari kejauhan joyo menyeringai melihat kecantikan fajrina.
"oh sayang, kapan kau akan memeluk ku juga seperti itu". joyo sangat berhasrat saat melihat kecantikan fajrina yang tengah memeluk elang. ia sangat terobsesi pada dokter muda dan cantik itu. tanpa ragu, joyo mengenakan topi dan masker kemudian mendekati mobil elang.
joyo mengetuk pintu mobil elang, dan itu sukses membuat fajrina kaget pun dengan elang. joyo menarik maskernya kemudian menempelkan mulutnya ke jendela tepat di sebelah fajrina. elang sangat murka, namun sebelum ia bisa melangkah keluar dari mobil, lampu hijau lebih dahulu menyala. joyo menyeringai kemudian berlari.
"biarkan saja dia sayang". fajrina menahan elang, kemarahan elang semakin menjadi mengingat bahwa joyo merupakan dalang dari semua masalah yang timbul.
"bajingan itu harus di beri pelajaran". ujar elang gram. ia sangat marah, ia rasanya ingin sekali mencincang tubuh joyo menjadi beberapa bagian kemudian mengumpumpan kan nya pada buaya yang ada di taman marga satwa.
"Kau harus tenang".
"aku tak bisa membiarkan mu tetap bekerja, kau dalam bahaya". elang memutuskan agar istrinya berhenti bekerja. fajrina juga berfikir hal yang sama, ia dalam bahaya kini. jadi ia akan menuruti apa yang di kehendaki elang.
"terserah pada mu sayang". fajrina terseyum, namun tidak dengan elang. Siang itu fajrina memberikan surat pengunduran dirinya. pihak rumah sakit tempatnya bekerja dengan sangat terpaksa menerim surat itu.
"pria itu sangat menakutkan". ujar hendrik.
"Kai benar, aku ingin sekali membununya". jawab elang.
"apa pihak yang berwajib belum bisa menangkapnya?". hendrik kembali bertanya.
"belum, entah bagaimana cara mereka bekerja". elang menggelengkan kepalanya, ia juga bingung mengapa pihak yang berwajib belum bisa menangkap pria bajingan itu.
"apa yang sedang kalian bicarakan". cinytia berjalan mendekati kedua pria itu.
"bagaimana hasilnya, apa kesehatan bayi kita baik-baik saja". hendrik membutuhkan istrinya untuk duduk.
"ya, ia sangat sehat". melihat kemesraan kedua sahabatnya itu membuat hati elang hangat.
"kalian , apa kalian begitu bahagia?".
__ADS_1
"tentu saja". Cynthia tersenyum kemudian membelai lembut perutnya yang sudah mulai membesar itu.
"aku ikut bahagia jika begitu".
"omong-omong, mana fajrina?". Cynthia menatap sekeliling namun ia tak bisa menemukan sosoj dokter cantik itu.
"ia masih Berada di ruangan direktur". ujar elang.
"oh, aku dengan dari perawat bahwa fajrina akan berhenti bekerja mulai Hari ini".
"ya, dia dalam bahaya, pria itu bisa kapan saja melukai nya". Cynthia mengerti arti tatapan sahabatnya itu, elang terlihat sangat khawatir jika itu menyangkut joyo. pria itu sudah tidak wars, ia bahkan terang-terangan ingin memiliki fajrina.
"aku mengerti". Cynthia terseyum kemudian menepuk punggung Tangan elang.
"sayang sekali, dokter muda dengan kecakapan sepertinya harus mengalah pada keadaan, kau tau fajrina merupakan dokter muda paling berpengaruh di Kota ini". hendrik menggelangkan kepalanya.
"aku tau, namun apa yang bisa aku lakukan jika sudah begini, keselamatan nya lebih penting". elang meghela nafasnya, ia juga tak ingin karir cemerlang istrinya taman begitu saja.
dari kejauhan elang bisa melihat fajrina berjalan bersama dokter Vivian, mereka bahkan sesekali tertawa bersama.
"terimakasih atas kerja samanya selama ini". ujar fajrina sambil memeluk Vivian.
"berkunjunglah ke rumah ku lain waktu, aku pasti akan menjamu mu sebaik mungkin, mengingat kau sedikit banyak telah menyelamatkan hidupku". Vivian tersenyum sambil melepaskan Pelikan nya.
"pasti". ujar fajrina.
setelah berbasa basi akhirnya fajrina meninggalkan Vivian kemudian berjalan ke arah elang.
"apa sudah selesai Segala urusan nya". elang berdiri menyambut sang istri. tak dapat di pungkiri, istrinya sangat cantik. Jadi wajah saja jika Ada pria lain terobesesi padanya.
"sudah". fajrina tersenyum. namun belum sempat fajrina mendudukan dirinya sebuah tampering mendapatkan tepat di pipi mulus fajrina.
"Kau wanita keji dan hina".
__ADS_1