DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
HENDRIK LARSON


__ADS_3

Hendrik sedang bersenandung sambil mendribble bola dan melemparkan nya ke dalam ring ketika Lusi berjalan memasuki lapangan basket itu.


"Kau sama sekali tak berubah". Lusi berdecak kagum melihat pria yang sedang berdiri membelakangi nya itu


Pria itu adalah pria pujaan nya selain elang. Hendrik salah satu pria paling sempurna versi Lusi. Lusi pernah menyatakan cintanya pada Hendrik beberpa tahun silam, namun Hendrik menolaknya karna Hendrik tau Lusi adalah kekasih elang


"Sedang apa kau disini?". Hendrik bertanya tanpa mau melihat ke arah Lusi


"Aku ingin berbicara dengan mu, hal yang sangat penting". Hendrik terdiam kemudia kembali mendribble bolanya


"Bicaralah, aku mendengarkan". Ucap Hendrik


"Apa kau begitu menginginkan Fajrina, istri elang". Lusi terseyum sambil menghisap rokoknya


"Ke intinya saja". Hendrik menghentikan kegiatan nya, berbalik dan berjalan ke arah Lusi.


"Aku ingin mengajak mu bekerja sama untuk memisahkan mereka" Lusi berdiri dan kini berhadapan langsung dengan Hendrik


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, dan apa keuntungan nya untuk ku". Hendrik menatap Lusi tajam. Hati Lusi melelah di tatap pria tampan itu


"Kau hanya harus menjebak Fajrina, agar semua orang membencinya termasuk elang dan keluarganya, setelah itu kau bisa mendapatkan Fajrina seutuh nya". Lusi terseyum licik namun tidak dengan Hendrik


"Maaf, Hendrik Larson tak tertarik pada hal-hal licik seperti itu".


"Kenapa? Ini kesempatan untuk mu mendapatkan Fajrina". Hendrik tak mendengarkan Lusi ia kembali ke lapangan dan meneruskan latihannya


"Aku tak tertarik, aku akan merebutnya tanpa harus melakukan cara licik seperti itu, dan jangan kau buat Fajrina malu, atau lawan mu adalah aku". Lusi terpaku


"Kalian pria-pria munafik". Hendrik menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Lusi


"Lebih munafik siapa, aku atau dirimu.. aku masih ingat bagaimana kau memohon meminta cinta ku padahal kau masih berhubungan dengan elang, dan kau tau sendiri meskipun sekarang kami bermusuhan tapi bagaimanpun elang adalah sahabat ku". Kata-kata Hendrik telah mengenai harga dirinya

__ADS_1


"Kau". Lusi berteriak


"Kau , kau apa.. aku benar kan, sekarang dengan sangat tidak tau malu kau meminta ku menjebak fajrina agar kau bisa kembali pada elang, sungguh luar biasa". Dengan sangat emosional Lusi berjalan meninggalkan Hendrik. Kemudian Hendrik mengapai gadget nya yang berada di dalam tas nya dan menghubungi capung .


"Sial, pria itu masih saja sangat sombong.. lagi pula apa sih kelebihan Fajrina sampai kedua pria itu tergila gila padanya.. " Lusi mengumpat sambil berjalan ke arah parkiran mobil.


Sebelum ia sempat memasuki mobilnya, suara pesan masuk berbunyi . Ada sebuah pesan dari nomer yang tak ia kenal. Kemudian ia menelepon nomer tersebut


Lusi terseyum, rupanya itu Joyo, suami dari dini. Mengingat bagaimana Joyo menatap liar padanya kemarin , Lusi berfikir untuk sedikit bermain-main dengan pria itu. Lagipula wajahnya juga tampan jadi apa salahnya.


Lusi melajukan mobil nya menuju tempat janjian mereka. Kemudian Lusi memasuki parkiran salah satu hotel bintang lima yang jaraknya tak jauh dari kediaman nya.


"Dasar pria.. memang sih siapa yang tidak tergiur pada wajah cantik ku". Ujar Lusi sambil mengoleskan lipstik kebibirnya.


Lusi berjalan dengan sangat gemulai memasuki hotel itu dan kemudian mencari nomer kamar yang di berikan Joyo. Rupanya kamar itu di biarkan terbuka, Lusi masuk. Didalam nya sudah berdiri Joyo, mengenakan handuk sebatas pinggang. Rambutnya basah, sepertinya ia baru selesai membersihkan dirinya.


"Kau terlihat sangat segar". Ujar Lusi sambil memasuki kamar itu dan menutup pintunya, lalu pintu secara otomatis tertutup


Joyo sangat ingat betul bagaimana Lusi menggodanya tempo hari, jemarinya yang bermain-main di kaki dan pangkal paha Joyo membuktikan bahwa Lusi juga mengingkan nya, jadi Joyo mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan Lusi .


Lusi terseyum melihat Joyo melepaskan lilitan handuknya. Joyo terus berjalan mendekati Lusi kemudian dengan lembut mengunci Lusi di dinding.


"Sepertinya kau sudah sangat siap". Lusi terseyum sambil meraba dada polos Joyo.


"Aku sudah menantikan nya sejak tadi". Joyo mencium bibir Lusi lembut, ciuman yang sangat panas. Jemari Joyo mulai bermain-main di tubuh indah Lusi . ******* Lusi tertahan ketika Joyo memaksakan lidahnya memasuki rongga mulut Lusi.


"Jadi apa yang kau inginkan". Lusi bertanya ketika Joyo melepaskan ciumannya.


"Aku mengingkan dirimu, aku tak perduli meskipun kau sangat menginginkan adik ipar ku". Ujar Joyo sambil membuka resleting baju Lusi. Kemudian ia melempar baju itu kesembarang tempat dan kembali mencium Lusi.


"Kenapa? Apa kau berfikir kau bisa lari dari ku setelah ini". Lusi mengalungkan tangan nya ke leher Joyo. Kemudian Joyo mengangkat tubuh polos Lusi dan membawanya ke atas kasur.

__ADS_1


"Aku rela jika pun kau tak mau melepaskan ku, apapun akan aku lakukan untuk mu".


"Baik lah, lalu bagaimana dengan dini". Lusi memejamkan matanya menikmati sentuhan sentuhan Joyo.


"Jangan sampai ia tahu tentang kita". Siang itu Joyo dan Lusi saling memacu adrenalin . Joyo tau jika sejak tadi istrinya mencoba menghubungi nya. namun Lusi lebih penting.


Di tempat lain dini berkali - kali mencoba menghubungi suaminya. Ia sangat kesal.


"Kemana pria sialan itu". Ujar dini sambil terus menghubungi suaminya.


"Kau sedang apa, mengapa terlihat sangat kesal". Cindy bertanya ketika melihat sang putri memaki suaminya


"Aku sedang menghubungi Joyo, tapi ia Tak juga mengangkat telepon dariku".


"Dini, apa kau tidak merasa aneh pada suamimu ". Cindy menatap putrinya


"Apa maksud bunda?". Dini balik menatap netra ibunya


"Suami mu sering sulit kau hubungi, ia juga sering sekali pulang tengah malam, dengan alasan lembur, tapi menurut elang pekerjaan suami mu itu sangat santai, dan ia tak pernah sekalipun lembur di kantor". Dini menelaah kata-kata ibunya.


Namun selama ini Joyo tak pernah main-main di belakang dini, isi gadget nya pun bersih tanpa cela, dan juga Joyo sangat mencintainya, Joyo bahkan tak ingin jauh dari dari dini. Sejak pertama menikah hasrat Joyo pada dini pun sama sekali tak berubah.


"Suamiku sangat jujur bunda, ia tak kan berlaku kerdil pada ku". Dini mencoba membela suaminya.


"Aku hanya memberi peringatan padamu dini, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari"


"Sebenarnya apa maksud bunda, sepertinya bunda sangat tidak menyukai suamiku". Dini menatap tajam ibunya. Kemudian senyum terukir di bibir Cindy


"Kenapa tak kau cek, kemana saja perginya uang suami mu". Cindy berjalan meninggalkan sang putri.


Dini kembali menelaah ucapan bunda, ada benarnya juga, sepertinya dini terlalu percaya pada suaminya. Lalu mengapa ia tak cek semua transaksi perbankan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2