DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
CELIN & FERDIAN


__ADS_3

Lusi menginjakan kakinya di bandara, kemudian ia berjalan sambil menarik kopernya ke arah lobby bandara tersebut. ia berharap jika ibu nya datang menjemput, ternyata tidak. Lusi kemudian menghubungi sang ibu, namun tak juga di angkat. Lusi berdecak kesal.


mau tak mau Lusi harus menaiki taksi agar bisa sampai ke rumah ibunya. ibunya telah menikah kembali dengan orang pribumi di sana, ayah tiri Lusi masih sangat muda, hanya berbeda 6 tahun dari Lusi. Lusi menatap jalan raya, ia sangat kecewa karna ibunya tak datang untuk menjemputnya.


Lusi menatap sekeliling halaman rumah ibunya, dulu sebelum ayahnya tewas dalam kecelakaan, mereka sering menghabiskan waktu di halaman rumah itu, namun masa-masa indah itu sudah tak ada lagi. sekarang ia merasa sangat merindukan mendiang ayahnya.


"Lusi". lamunan gadis itu buyar ketika ia mendengar ada seorang pria yang memanggil namanya. Lusi menoleh kemudian menatap pria yang sedang berdiri di depan pintu rumah ibunya.


"siapa kau, apa aku mengenalmu". Lusi menatap pria itu, dan bagaiamana pria itu tau nama nya.


"aku Ferdian, suami dari ibumu". Lusi terpana


"suami baru ibu?". Lusi bertanya kembali untuk memastikan.


"iya, aku suami ibu mu". pria itu terseyum, ibunya sepertinya sudah gila, ia menikahi pria yang seharusnya menjadi putra nya. pria itu sangat tampan. Lusi menatap pria itu, ia sangat sempurna. ia sangat bisa di sandingkan dengan elang.


"dimana ibuku?". Lusi berjalan mendekati pria itu.


"dia sedang bekerja, kau bisa masuk dulu, kita bisa mengobrol, aku ingin lebih mengenal anak tiri ku". Lusi sangat menyayangkan jika pria setampan itu menjadi ayah tirinya.


"baiklah". Lusi menarik kopernya.


"biarkan koper mu aku yang bawa, ngomong -ngomong bagaiamana dengan perjalan mu, apakah menyenangkan". Ferdian berjalan mengikuti Lusi.


"lumayan, tapi aku sangat kecewa, ibu bahkan tak menjemputmu di bandara". Lusi mencibir kelakuan ibunya.


"dia tak bisa mendapatkan cuti, mari aku akan mengantarmu ke kamar ". Ferdian berjalan menyusuri lorong rumah, Lusi mengikutinya. punggung pria itu sangat bidang. Lusi terseyum, lamunan nya jauh melayang.


Ferdian membuka pintu kamar yang akan di tempati Lusi. kamar itu terlihat sangat nyaman dengan furnitur yang serba baru. ranjang king size yang berada di tengah-tengah kamar membuat nya terlihat semakin mewah dan elegan.

__ADS_1


"waw, kamar ku sangat indah, apa ibuku yang melakukan ini semua untuk ku". Lusi terseyum sambil mengambil alih kopernya dan berjalan menuju lemari


"tidak, ini adalah tugas ku". Ferdian tersenyum.


"oh benarkah, terimakasih.. ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kau bisa menikah dengan ibu ku?". Lusi mencoba untuk lebih akrab dengan Ferdian.


"aku bertemu dengan nya ketika perusahaan ku tempat bekerja mengadakan akusisi dengan perubahan tempat ibumu bekerja, ibu mu masih sangat cantik meskipun ia tak lagi muda, ia pintar juga berpengalaman , itu lah mengapa aku jatuh cinta". Ferdian terseyum.


"ah, ok..". Lusi menatap Ferdian. di tatap seperti itu membuat Ferdian kikuk. pria itu merasa malu, bagaimanpun usia mereka tak terpaut jauh, dan benar dugaan Ferdian, Lusi lebih cantik dari pada foto yang di berikan oleh.


"celin benar, kau ternyata lebih cantik daripada foto yang pernah ia berikan padaku". Ferdian terseyum. entah mengapa Lusi merasa senyuman Ferdian penuh dengan godaan. namun Lusi tak mau tergoda begitu saja, bagaiaman pun dia adalah suami ibunya.


"terimakasih, aku sepertinya akan istirahat sebentar, sebelum makan malam". Ferdian kembali terseyum.


"kalau begitu, istirahat lah, aku akan membangunkan mu setelah aku selesai menyiapkan makan malam untuk mu". Ferdian berjalan keluar kamar lalu menghilang.


"sayang sekali , seandainya kau bukan suami ibu ku, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku". Lusi merebahkan tubuhnya, kemudian memejamkan matanya.


"ibu.. kau sudah pulang". Lusi mengerjakan matanya, ia melihat wajah cantik milik ibunya ketika ia mulai tersadar dari tidurnya.


"mari kita makan, kau pasti lapar". Lusi kemudian memeluk putri satu-satunya itu.


Lusi berjalan bersama ibunya ke arah dapur, celine merangkul bahu Lusi. ia sangat merindukan putrinya itu.


"jadi, kapan kau mulai kuliah?.". celin bertanya pada putrinya.


"Minggu depan". Lusi menjawab pertanyaan ibunya, sambil melahap makanan nya.


"ibu akan keluar kota, ada masalah sedikit, kau tak masalah kan". celine menggenggam cemari Lusi.

__ADS_1


"tak masalah ibu, kau pergilah". Lusi terseyum


"sayang, aku titip putriku, kau harus mengurusnya dengan baik". kemudian celin mengalihkan pandangan nya ke Ferdian.


"tenang sayang, aku akan mengurus putrimu dengan baik". Ferdian membalas senyum Celine.


setelah makan malam, Celine berpamitan pada suami dan putrinya. Lusi menatap kepergian Celine.


"mari masuk, aku akan membuatkan mu kopi, kita bisa berbincang seperti keluarga di halaman belakang". Ferdian kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lusi. Lusi tak bergeming, ia berfikir kembali, Ferdian bukan pria yang baik untuk ibunya. Lusi bisa melihatnya ketika pria menggoda Lusi dengan tatapan matanya.


"dia harus pergi jauh dari ibu ku". Lusi berkata dalam hati.


kemudian Lusi berbalik dan berjalan ke arah taman. ia melihat Ferdian tengah membuat kopi di dapur. tak ada keinginan Lusi untuk membantu pria itu. ia harus membuktikan bahwa apa yang ia rasakan pada pria itu benar.


selama ini Lusi tak perduli dengan kehidupan ibunya, namun tak bisa di pungkiri bahwa yang Lusi miliki saat ini hanyalah Celine. ia tak bisa membiarkan pria itu membodohi ibunya.


"ini untukmu". ujar Ferdian sambil menyerahkan cangkir kopi pada Lusi, dan duduk di kursi tetap di samping gadis itu.


"terimakasih". Lusi tersenyum sambil memikirkan langkah selanjutnya, bagaimana cara nya mendepak pria itu dari kehidupan ibunya.


Lusi dengan sengaja menyentuh pria itu dengan cangkir kopinya yang masih panas.


"aw". Ferdian berteriak. dengan cepat Lusi meletak kan cangkir kopinya. dan meraih tangan pria itu.


"ah, maaf .. aku tak sengaja, maafkan aku". Lusi membelai punggung tangan Ferdian lalu mengusap-usapnya.


"tak masalah, ini hanya sedikit sakit". Ferdian terseyum sambil menepuk pundak Lusi


"benarkah? aku minta maaf, aku sungguh tak sengaja". Lusi meniup tangan Ferdian. Ferdian menatap gadis itu rakus, namun Ferdian tak berani memulai terlebih dahulu. ia takut salah dalam melangkah.

__ADS_1


Lusi mengangkat kepalanya, pandangan mereka terbentur satu sama lain, Lusi yang memulai kali ini, ia perlahan mendekati wajah Ferdian, kemudian mencium pria itu.


mendapat lampu hijau, Ferdian tak akan sia-siakan kesempatan itu. ia menarik tengkuk Lusi dan mencium gadis itu rakus, Lusi terseyum. Ferdian tak masuk hitungan, ia harus pergi dari hidup Celine.


__ADS_2