DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
BUAH MANGGA


__ADS_3

"apakah ini rumah mu dokter?". Ujar Fajrina ketika ia memasuki halaman rumah Vivian. Ia menatap sekeliling rumah sederhana itu. Kemudian Vivian mempersilahkan Fajrina masuk.


"Anggaplah rumah sendiri, meskipun tak sebesar rumah mu, namun rumah ku tetap akan membuat mu nyaman". Fajrina terseyum melihat betapa ramahnya Vivian.


Fajrina mengedarkan pandangan nya, ia berharap menemukan petunjuk atas segala kecurigaan nya.


"Minumlah". Ujar Vivian sambil memberikan segelas jus jeruk pada Fajrina.


"Rumah mu sangat indah dan nyaman". Fajrina memuji rumah Vivian


"Ini hadiah dari suamiku, ia membelikan rumah ini ketika aku telah lulus menjadi dokter". Vivian mengingat moment indah itu.


"Oh, benarkah.. kau sangat beruntung". Ujar Fajrina


"Ya, dia laki-laki yang baik juga pengertian, meskipun kami tak bisa terus bersama". Vivian terseyum.


"Iya, bahkan aku menjadi seorang dokter pun berkat kerja kerasnya, maka setelah kami menikah aku rela tinggal di kontrakan sempit bersama putriku, asalkan aku bisa menjadi seorang dokter".


"Ah, ngomong-ngomong aku tak pernah bertemu suami mu, seperti apa dia". Fajrina kembali bertanya.


"Ini". Vivian menyerahkan sebuah foto, dan akhirnya rasa curiga Fajrina terbayarkan


"Ini foto pernikahan kalian? ". Fajrina menatap Vivian.


"Ya, ia tampan bukan, meskipun tak setampan suami mu". Fajrina tertawa. Tentu saja pikirnya.


"Boleh aku menumpang ke kamar mandimu". Ujar Fajrina.


"Silahkan". Fajrina berdiri kemudian mengikuti langkah kaki Vivian. Vivian mengantar Fajrina sampai ke pintu kamar mandi. Tak lama kemudian Fajrina keluar dari kamar mandi, pandangan matanya mengarah ke segala sudut rumah itu, benar saja. Fajrina menemukan beberapa kamera yang terletak tepat di atas meja di kamar yang Fajrina yakini adalah kamar Vivian.


Fajrina terseyum, dan kembali ke kursinya.


"Setelah menghabiskan jus ku, aku sepertinya akan pulang".


Kemudian mereka terlibat obrolan panjang, Fajrina sedikit mengorek keterangan dari mulut Vivian.

__ADS_1


"Vivian adalah istri Joyo". Fajrina mengatakan itu ketika elang baru sampai apartemen mereka.


"Jadi itu benar, jadi anak itu memang anak Joyo". Elang menatap Fajrina.


"Benar, dan kamera yang kita cari ada di rumah Vivian". Elang menghela nafasnya. Ia merasa sangat lega mendengar hal itu.


Namun ketenangan mereka tak berlangsung lama, ketika tiba-tiba Lusi menghubungi elang.


Elang sangat malas berhubungan dengan Lusi, ia bahkan sangat muak ketika mengingat bahwa mereka pernah saling mencintai.


"Angkatlah, bagaiamana pun kita belum tau bayi yang ada di kandungan Lusi adalah bayimu atau Joyo, jika ternyata itu bayimu, kau akan merasa sangat bersalah telah mengabaikan nya". Elang menatap Fajrina.


"Hallo..". Raut wajah elang berubah marah ketika mendengar Lusi berbicara.


"Aku sedang mengidam elang, aku mau makan mangga muda yang di belikan langsung oleh mu". Lusi berbicara dengan nada suara yang sangat manja.


"Aku akan meminta Reza membelikan nya padamu ". Ujar elang


"Aku tak mau, mangga itu harus kau sendiri yang mengantarnya ". Lusi merengek.


"Fajrina saja tak keberatan, mengapa kau begitu jahat pada anakmu". Lusi mengambil kesempatan itu.


"Baik". Elang langsung mematikan sambungan telepon nya.


"Pergilah sayang". Ujar Fajrina.


"Kau harus ikut". Elang menatap istrinya, memang istrinya terlihat baik-baik saja, namun elang tau Fajrina pasti sangat sedih saat ini.


"Tak perlu, kau bisa pergi sendiri , lagipula aku sangat lelah, sayang.. aku sangat percaya padamu, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan ku". Fajrina mencium pipi elang. Elang tersenyum, ya senyum yang sangat di paksakan.


Elang mengambil kunci mobilnya lalu berjalan meninggalkan apartemen mereka. Sepeninggal elang, mata fajrina berkaca-kaca. Akhirnya ia menangis.


Bagaiamana pun sebenarnya Fajrina tak ikhlas jika suaminya harus memenuhi kebutuhan wanita lain, meskipun fajrina yakin anak yang di kandung Lusi bukan anaknya, namun ia tak bisa yakin begitu saja sebelum tes DNA itu di lakukan.


Elang mengendarai mobilnya dengan sangat malas. Ia sebenarnya tak tega melihat wajah istrinya. Fajrina sangat ikhlas menerima semua ini. Elang mengelilingi kota untuk mencari mangga muda yang Lusi ingin kan, ia sangat kesal ketika mengetahui bahwa ia tak menemukan mangga muda itu.

__ADS_1


Elang menghubungi Lusi


"Mangga yang kau minta aku tak menemukan nya, apa kau ingin hal yang lain". Elang berkata dengan sangat dingin.


"Bawakan aku ice cream coklat & vanilla". Lusi berkata manja.


"Kau bisa membelinya sendiri". Elang membentak.


"Aku mau kau yang membawanya". Seperti tak tau malu, Lusi malah semakin merayu elang.


Elang sangat marah, hanya saja ia harus ekstra sabar kalau soal Lusi. Mobil elang memasuki apartemen Lusi, ia melangkah malas. Rasanya ia ingin berbalik kemudian berlari pulang ke pelukan Fajrina.


"Ini ice cream mu". Elang berkata sambil menyerah kan sekantong ice cream ketika Lusi membuka pintu apartemen nya.


Bukan nya menerima ice cream itu, Lusi malah memeluk elang dengan sangat erat. Elang mencoba melepaskan pelukan itu, namun Lusi terus saja menahan nya.


"Masuk dulu, suapi aku". Lusi merengek sambil menarik elang. Rasanya elang ingin sekali membunuh wanita itu.


"Makan lah sendiri". Ujar elang. Elang langsung berjalan dan duduk di sofa. Ia sangat lelah, ia belum beristirahat sama sekali.


"Kau tampak lelah". Lusi bergelayut pada elang, elang lantas menatap tak suka.


"Menjauh lah dari ku". Elang mulai naik pitam, Lusi tertawa namun kemudian menangis. Elang bingung, wanita di depan nya seperti bukan lusi.


Lusi menangis, ia terlihat sangat aneh. Elang menatapnya dengan bingung, wanita itu seperti orang gila. Bahkan ketika elang menepuk bahunya, tatapan mata Lusi langsung berubah seketika.


Lusi terus saja menangis bahkan di sertai tawa. elang semakin tak sanggup menghadapi keanehan Lusi. elang yang tadinya mau memberi kabar pada Fajrina akhirnya mengurungkan niatnya, ia meletak kan ponselnya di meja kemudian menghindar ketika Lusi melemparnya dengan gelas yang berisi ice cream itu.


"Lusi kau kenapa". elang berlari. ia tak mau melukai Lusi , makanya ia hanya bisa menghindar.


"kau telah membuat hidup ku menderita, kalian semua". Lusi berteriak sambil tertawa bahagia. Lusi meraih ponsel nya kemudian kembali melemparkan nya ke arah elang.


Lusi makin lama semakin menggila, elang sendiri sebenarnya dalam bahaya, apalagi setelah elang melihat Lusi meraih pisau yang berada di piring buah itu. elang menelan Saliva nya , mungkin jika Lusi sedang tidak hamil mungkin elang sudah memukulnya hingga pingsan sejak tadi.


elang menghindar tepat waktu ketika pisau itu di lemparkan kembali oleh Lusi. kemudian ia melihat ponselnya , Fajrina berusaha menghubungi dirinya.

__ADS_1


"sial". ujar elang sambil terus berlari. namun beberapa saat kemudian Lusi terjatuh kemudian tak sadarkan diri.


__ADS_2