DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
KEMBALI BEKERJA


__ADS_3

Fajrina berjalan gontai ke arah dapur.ia sangat kesal. Ia diam mematung ketika sudah ada elang di sana. Elang terseyum.


"Sudah sholat ashar?". Elang bertanya. Fajrina seperti terkena serangan jantung tiba-tiba. Pria yang berdiri di hadapannya sangat tampan, elang mengenakan baju Koko berwana putih lengkap dengan kopiah nya. Wajahnya sangat bersih. Detak jantung Fajrina semakin cepat kali ini, ia dengan polos memegang dadanya .


"Aku sepertinya akan sakit". Ujar Fajrina , kemudian ia duduk di kursi dan tangan kirinya berpegang an pada sisi meja makan itu. Elang langsung mendekati istrinya.


"Kau tak apa-apa?". Elang langsung membuka cadar sang istri, Wajah Fajrina memerah.


"Aku tak apa-apa, hanya saja setiap melihatmu, jantung ku selalu berdetak lebih cepat". Elang langsung terseyum


"Berarti aku penyebabnya".


"Ya, kau penyebabnya". Fajrina meraih gelas yang berada di tangan elang, dan langsung meminumnya hingga tandas


"Apa kau mencintai aku". Elang menatap dalam-dalam netra Fajrina


"Hem". Fajrina bingung , ia mencintai elang tapi mulut nya terasa sulit untuk mengakui hak itu.


"Apa kau mencintaiku". Elang kembali bertanya.


"Kau tau elang, tadi aku bertemu Lusi". Fajrina mencoba mengalihkan pembicaraan nya. Elang hanya terseyum, Fajrina tak kan mengakuinya begitu saja. Jadi elang mengalah kali ini, ia tak kan memaksa Fajrina mengatakan bahwa ia mencintai elang. Elang mau Fajrina mengatakan nya dengan suka rela


"Benarkah?". Ulang berdiri sambil mengambil tas belanjaan yang tadi di bawa Fajrin


"Ya, tadi ia bahkan menyerang ku, kali ini aku tak tinggal diam, aku melawannya". Fajrina bercerita pada suaminya, semua yang ia alami di supermarket itu. Elang mendengarkan dengan seksama sambil merapihkan semua belanjaan yang di bawa Fajrina.


"Kau hebat ". Ujar elang sambil memegang telapak tangan Fajrina dan membawanya ke kamar mereka


"Kau mau apa ". Fajrina menatap elang, dadanya kembali berdebar ketika elang membuka Khimar yang ia kenakan.


"Bersihkan dirimu, kita sholat ashar bersama". Ujar elang sambil mencium kening istrinya.


Pikiran Fajrina sudah melayang jauh kemana-mana.


"Ah , iya.. tunggu sebentar ya". Kemudian ia memasuki kamar mandi.


"Aku sudah cek semua penerbangan, tak ada nama kakak ku , jika pun keluar kota , kakak ku tak mungkin tak membawa pakaian sama sekali". Elang manatap ponselnya, ia masih tak bisa menghubungi dini


"Mungkin mereka mengendarai mobil, dan dengan uang 3 milyar itu, mereka bisa membeli apapun, seharusnya ".


"Kau benar, tapi kenapa tiba-tiba, aku berfikir kakak ku dan Joyo sedang melarikan diri, karna Joyo sudah mengambil uang perusahaan sebesar 3 miliar, apa menutumu masuk akal".

__ADS_1


Fajrina menutup buku yang berisi tentang dunia kedokteran itu, kemudian menoleh menatap elang.


"Bisa saja". Fajrina membuang nafas secara perlahan.


"Apa kau lelah?" Elang menatap Fajrina, Fajrina tak lelah, hanya ia merasa perutnya sakit


"Aku ke kamar mandi sebentar". Elang menatap kepergian sang istri. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju dapur, dengan cekatan membuat teh hangat untuk sang istri.


"Kau tak apa-apa?" Elang berteriak dari dapur


"Elang, tolong ambilkan pembalut untuk". Fajrina tak menjawab pertanyaan elang, namun malah meminta elang mengambilkan pembalut untuknya.


"Ada di mana". Elang bertanya karna memang ia tak tau dimana Fajrina menyimpannya


"Di lemari kamar". Elang segera berlari memasuki kamar dan mencari pembalut yang tadi Fajrina minta. Kemudian ia segera mendekati pintu kamar mandi, mentuknya


"Ini". Elang memberikan pembalut itu


"Terimakasih". Fajrina meraih pembalut itu kemudian kembali menutup pintu itu. Elang berjalan mundur , ia kembali ke dapur.


"Apa kau sedang haid?" Elang menatap istrinya sambil memberikan segelas teh hangat padanya.


"Ya, ". Elang tertunduk sedih


"Aku harus berpuasa jika begitu, kan". Fajrina terseyum


"Kau benar". Elang mengangkat kepalanya kemudian mencium bibir Fajrina.


"Dengarkan aku, selagi kau haid, jangan pernah memancing ku, kau mengerti" ujar elang di tengah ciuman mereka, kemudian elang kembali mencium Fajrina.


"Aku tak menggoda mu, kau saja yang membiarkan dirimu tergoda". Ucap Fajrina ketika elang menyudahi ciuman mereka.


Elang tertawa," seminggu ini aku izinkan kau beristirahat, setelah itu kau harus menuruti apa mauku".


"Terserah kau saja". Fajrina mencibir kelakuan suaminya. Kemudian ia terseyum.


"Kenapa?". Ulang bertanya ketika melihat Fajrin terseyum.


"Tidak ada". Kemudian mereka kembali ke ruang tamu, Fajrina merebahkan kepalanya di pangkuan elang, elang membelai lembut rambut istrinya.


"Sayang.. apa kau tak merindukan rumah sakit". Mendengar kata rumah sakit Fajrin dengan semangat mengangkat dirinya, ia sudah terduduk dan menatap elang kini

__ADS_1


"Aku sangat merindukan bau rumah sakit sebenarnya ". Fajrina menatap penuh harapan.


"Kembali lah bekerja jika kau mau" elang membelai lembut wajah Fajrina


"Benarkah ?" Fajrina terseyum sumringah menatap elang


"Ya, tapi ingat kau hanya boleh bekerja di siang hari". Fajrina bingung


"Maksudmu?".


"Tak ada sift malam". Elang menatap gemas Fajrina, wajah cantik fajrina membuat nya suka tak sadarkan diri. Elang menyentuh wajah Fajrina dengan telunjuknya. Kening hidung kini bibir Fajrina. Elang lama sekali mengusap biir indah Fajrina dengan jemarinya


Fajrina hanya menatap elang, ia membaurkan suaminya melakukan itu padanya. Kemudian elang menarik tengkuk Fajrina dan mencium nya.


"Kau sangat cantik". Ujar elang, kini Fajrina sudah berada di pangkuan elang.


"Terimakasih". Fajrina terlihat malu-malu


"Aku mencintai mu". Elang mencium leher Fajrina.


"Jangan begitu, aku tak bisa melayani mu untuk seminggu kedepan". Ujar Fajrina ketika elang tengah menjelajahi leher indah nya


"Aku tau". Ujar elang , ia sangat menyukai harus vanila istrinya.


Dini berdiri di depan Joyo dan Lusi


"Sekarang , beri tahu aku di mana alamat elang". Joyo menatap istrinya tajam, sambil merangkul tubuh Lusi sambil *******-***** dada Lusi .


"Kau mau apa?" Dini tau, Joyo pasti telah membuat rencana untuk adiknya


"Katakan saja". Lusi berkata, ia memeluk tubuh Joyo erat, ia tengah menikmati sensasi tangan Joyo.


Kemudian dini menyebutkan nama sebuah apartemen beserta NO unitnya. pasangan itu sangat menjijikan, seandainya bisa, ingin sekali dini menikam kedua orang itu sekarang. dan lagi-lagi ia menyesal Karan tak mendengarkan nasehat ayah dan bundanya.


"Aku akan kesana besok". Lusi mendesah di telinga Joyo. perut dini mual, entah namun sudah beberapa hari ini ia merasa perutnya sering sekali bergejolak.


"Kau masuklah" Joyo mengusir dini. Dini berjalan memasuki kamar. Sebenarnya dini sudah hampir gila, sudah 4 hari ia mendengar ******* suaminya yang tengah bercinta dengan Lusi. Seperti malam ini, Lusi dan Joyo kembali berulah.


"Faster sayang faster". Lusi meracau, ia sengaja mengencangkan suaranya agar dini mendengar nya.


Di dalam kamar dini sekuat tenaga menutup telinganya menggunakan bantal.

__ADS_1


"akan ku bunuh kalian".


__ADS_2