
Fajrina masih sibuk memilih bahan makanan apa saja yang ingin dia beli, kemarin ia dan elang tak jadi berbelanja, entah mengapa Tapi suaminya itu ketika sudah sampai rumah, ia begitu malas untuk di ajak keluar.
Kini ia berada di supermarket terbesar yang berada di pusat kota Jakarta, dan tak ada elang bersamanya. Entah kebetulan atau tidak ia bertemu Lusi di sana. Ia tak mau berurusan dengan wanita itu, hingga akhirnya Fajrina menghindari Lusi.
Sialnya mereka kini sedang memilih bahan makanan di lorong yang sama .
"Ia tak kan mengenaliku". Ujar Fajrina dalam hati. Namun tidak dengan Lusi, ia mengenali Fajrina. Mata Fajrina tak kan bisa dia lupakan. Dengan cepat Lusi berjalan ke arah Fajrina.
"Fajrina". Sialnya karna merasa namanya di panggil, Fajrina langsung menyahut dan berbalik
"Ya". Fajrina kini tengah merutuki kebodohan nya.
"Wah wah.. lihat dirimu sekarang". Lusi mulai berjalan memutari Fajrina. Kemudian berdiri tepat di depan wanita bercadar itu
"Kau mau apa?" Ujar Fajrina
"Ada apa dengan Mus sekarang, memakai cadar begini , apa tujuan mu??". Lusi tertawa sambil memegang ujung cadar Fajrina.
"Ini bukan urusan mu". Fajrina menepis tangan Lusi
"Apa sekarang wajah mu sangat buruk rupa? Atau kulit mu terdapat bintik-bintik hingga kau menutupi seluruh tubuhmu agar orang lain tak melihatnya". Lusi kembali mengejak Fajrina. Kini sudah ramai orang menonton mereka
"Itu sama sekali bukan urusan mu". Fajrina kembali melangkah, Lusi kembali menghalangi Fajrina
"Mau kemana kau". Lusi menarik lengan Fajrin. Sorot matanya tajam, kali ini Lusi tak kan melewatkan kesempatan untuk menghajar Fajrina. Gadis yang telah sukses merebut elang darinya.
Fajrina meronta menarik lengan nya
"Lepaskan aku". Fajrina berdesis. Makin lama lorong itu semakin banyak orang. Mereka seperti sedang menonton pertunjukan sirkus.
"Ah aku tau, kau memekai cadar karna kau malu, video viral kita di Bali sudah tersebar kemana-mana, kau perebut milik orang lain, sampai memakai cadar hanya untuk menutupi kesalahan mu". Nada suara Lusi mulai meninggi , kini semua orang mencibir Fajrina.
"Aku tak merasa malu, apalagi soal video yang ada di Bali, dan untuk apa aku malu, dan aku tak pernah merebut elang darimu, elang sendiri yang datang ke rumah orang tua ku untuk melamar ku, jadi apa hak mu menuduhku merebut elang darimu". Fajrina tak mau kalah
__ADS_1
"Kau sangat pintar berdalih, kau rubah yang sangat licik, lebih baik buka cadar mu Agar orang-orang tau bagaimana wajah mu, sehingga mereka bisa waspada padamu". Lusi mengangkat tangan nya , ia ingin membuka cadar Fajrina. Namun dengan cepat Fajrina memegang lengan nya
"Dengarkan aku , aku memakai cadar bukan karna aku malu, tapi semua ini karna permintaan suamiku, dia sangat mencintai ku, bahkan ia tak rela jika orang lain melihat wajah ku, kau tau betapa posesinya ia padaku, dan satu lagi, jika kau berani menyentuh ku, maka akan ku bunuh kau". Sorot mata Fajrina tak selembut tadi. Sorot mata itu penuh kemarahan. Kemudian ia melepaskan tangan Lusi dengan kasar. Kemudian menarik troli nya agar menjauh dari Lusi.
Lusi berlari mengejar Fajrina,
"Jangan lari dariku pelacur murahan, penggoda , dan perebut milik orang lain, aku tau elang sangat mencintaiku , bahkan elang menangis saat aku meninggalkan nya dulu, ia tak mungkin secepat itu berpaling jika kau tak menggodanya ". Fajrina berteriak.
Fajrina terseyum
"Aku pelacur ?". Kini Fajrina tertawa ."kami menikah tanpa cinta, aku tak menggoda elang atau merebut elang dari siapapun, ia datang ke rumah ku, melamarku kemudian menikahi ku, jadi siapa yang aku goda dan siapa yang aku rebut".
"Tentu saja dirimu, kenapa kau tak menolak". Lusi mendorong tubuh Fajrina.
"Tentu saja aku tak kan pernah menolak jodoh yang di berikan tuhan padaku, sebaiknya kau menyerah saja Lusi, elang sekarang suamiku, dan berhentilah mengganggu kami". Fajrina tak gentar, kali ini ia tak kan tinggal diam jika Lusi bersikap kurang ajar padanya
Lusi kemudian mengangkat telapak tangan nya, ia akan menampar Fajrina, namun Fajrina menangkap tangan Lusi di waktu yang tepat. Ia menarik tangan Lusi , dan kini Fajrina lah yang melayangkan tamparannya ke wajah Lusi.
"Beraninya kau". Lusi berteriak
"Lepaskan elang dia kekasihku ". Lusi berteriak , ia sudah habis akal
"Dia bukan kekasih mu, dia suamiku.. apapun yang aku lakukan dengan nya bukan lah hal yang salah, hubungan kami legal, sah di mata hukum dan agama, kau yang harusnya mengerti".
Dengan anggun fajrina berjalan menjauhi Lusi.
"Oh, jadi itu istri sah nya, dan yang ini mantan pacarnya ". Salah satu pengunjung mulai berkomentar.
"Apa lihat-lihat ". Lusi meneriaki semua orang yang menatapnya
"Jangan dekat2, sepertinya ia tak waras". Kini pengunjung lain juga ikut berkomentar.
Lusi murka , ia tak terima atas apa yang dia dapatkan hari ini, Fajrina membuatnya malu.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Lusi melempar semua barang belanjaan nya .
"Sialan" teriak Lusi. Joyo yang tengah berada di kamar dini panik, ia tak tau Lusi akan segera pulang, ia dengan menarik kepala dini dan cepat memakai celananya. Dini terbatuk, ia hampir saja kehabisan nafas karna ulah Joyo.
"Ada apa sayang". Joyo berlari mendekati Lusi.
"Sedang apa kau , kenapa kau keluar dari kamar itu ". Lusi mencurigai Joyo.
"Aku hanya sedang mengajari dini, bagaiaman cara menjawab pertanyaan keluarga nya nanti". Namun celana yang di pakai Joyo tak bisa menutupi kebohongan nya
"Apa Yang kau bicarakan dengan nya, kau mau berbohong padaku, lihat isi celana mu". Lusi kemudian berjalan memasuki kamar dini. Ia mengambil obat luka dan lebam dari tas nya kemudian melemparkan nya ke arah dini.
Wanita itu tengah memeluk lututnya tepat di kaki ranjang. Dini mengangkat wajahnya menatap marah Lusi
"Apa yang kau lakukan". Joyo menarik bahu Lusi
"Apa yang kalian lakukan di kamar ini, Lusi mendekati dini kemudian memukul kepala dini dengan tas berkali-kali, dini tak bisa melawan ia hanya bisa menutupi kepalanya dengan tangan.
"Sudah.. sudah.." Joyo memeluk Lusi erat.
"Beraninya kau menggoda kekasih ku". Lusi berteriak. Lengkap sudah kekesalan dia haru ini. Ia tak mungkin melempiaskannga pada orang lain, maka ia melampiaskan kemarahan nya pada dini
"Dia suamiku, apapun yang kami lakukan bukan lah dosa". Dini mengangkat kepalanya menatap Lusi. Ia berdiri kemudian menarik rambut Lusi.
"Lepaskan ". Joyo menarik tangan dini, namun genggaman jemari dini lebih kuat kini. Dengan sekali hentak Lusi terjatuh ke lantai. Joyo bingung , apa yang harus ia lakukan. Kemudia dini menaiki Lusi dan mulai menghajar wajah cantik Lusi.
Joyo yang menyadari itu langsung mengangkat tubuh dini dari atas Lusi dan melemparkan nya ke atas kasur. Dini tertawa seperti orang gila
"Sayang kau tak apa-apa". Lusi menjerit marah , tapi Joyo tak mau ada masalah lagi kemudian ia menarik tubuh Lusi agar menjauh dr dini.
"Lepaskan aku, aku akan menghajarnya ". Lusi berteriak meronta.
"Jangan sayang, jika di mati di tangan mu, kita akan berada dalam masalah" . Joyo menatap istrinya, dini sudah seperti orang gila, kini ia tertawa semakin kencang
__ADS_1
" pakai obatnya ". Sambung Joyo Kemudian. Berjalan meninggalkan kamar dini.