
Fajrina menatap Lusi, wanita itu telah berpakaian. Ia terseyum
"Kenapa? Tak perlu berpura-pura.. jika kau ingin menangis maka menangislah". Lusi tertawa mengejek.
"Katakan padaku, mengapa aku harus menangis??". Fajrina masih tetap tersenyum, meskipun ia sangat yakin bahwa hatinya tak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah bercinta dengan Lusi.
Fajrina yakin bahwa elang tak menyentuh apalagi bercinta dengan Lusi, tapi bekas kemerahan di leher dan dada Lusi membuktikan bahwa suaminya telah menghabiskan waktu nya bersama Lusi di tempat tidur.
"Suamimu bercinta dengan ku, benar kan sayang". Lusi menatap genit elang
"Jaga mulut mu". Kelakuan Lusi sudah tak dapat di tolerir lagi, elang kesabaran elang telah habis kini
"Jangan seperti itu sayang, ketika tak ada Fajrina , kau sangat menikmati permainan kita, kau lihat, ini ulah mu". Lusi mengangkat rambutnya dan memamerkan leher nya.
"Kau telah menjebak ku". Elang kembali berteriak. Namun Reza dengan cepat menghalangi elang.
"Kau tak boleh terbawa emosi". Reza menarik lengan elang yang tadinya akan di gunakan untuk memukul Lusi
"Elang, aku memang telah menjebak mu, namun mengapa kau malah meneruskan nya". Elang bungkam. Seingat elang ketika ia melihat Lusi di pintu kamar, ia langsung tak sadarkan diri
"Jadi, selesai bukan.. aku telah memuaskan mu di tempat tidur elang, dan kau dokter, terimakasih telah meminjam kan tubuh suami mu padaku ". Lusi berdiri kemudian melangkah. Ia ingin meninggalkan apartemen elang namun Fajrina lebih dulu menarik lengan nya
"Apa aku sudah mengizinkan mu pergi dari rumah ku begitu saja? Setalah kau mendatangkan badai kesini". Fajrina kemudian mendorong Lusi.
"Sudah lah dokter Fajrina yang terhormat, kau telah kalah". Fajrina sangat marah sehingga tanpa sadar ia menampar wajah Lusi berkali kali. Elang tak ingin menghentikan nya begitupun Reza. Lusi pantas mendapatkan itu dah Fajrina sangat berhak untuk marah.
"Berani nya kau memasuki rumah ku seperti pencuri, maka tunggulah , pihak berwajib akan segera kemari". Fajrina terseyum. Lusi sangat tenang.
"Baik, aku akan menunggu ". Lusi berjalan ke arah elang kemudian memeluk pria itu.
"Kau tau apartemen ku yang lama kan, jadi aku akan menunggu mu malam ini sayang".
Elang langsung mendorong Lusi,
"Wanita gila". Ujar elang.
__ADS_1
"Pencuri ini sungguh tak tau malu". Fajrina membuang nafasnya kasar. Ia teringat akan kata-kata Hendrik tempo hari, rupanya bukan Fajrina lah yang di jebak melainkan elang.
"Kita sama, kau mencuri kekasih ku, lalu aku mencuri suami mu, kita impas " Lusi memprovokasi. Elang kemudian berjalan mendekati Fajrina.
"Reza, awasi wanita ini sampai polisi datang". Reza mengangguk
Elang menarik lengan Fajrina, kemudian membawanya ke kamar tamu.
"Ada apa". Ujar Fajrina, kini ia tak lagi bisa menahan air matanya, ia terisak dalam diam, namun dengan hati-hati elang memeluk istrinya
"Kau bahkan tau jika aku tak bersalah, aku tak kan menyentuhnya , apalagi di rumah kita, di atas ranjang peraduan kita, sekarang hanya kau lah yang bisa mendukung ku sayang, aku percaya padamu ". Fajrin memeluk suaminya erat, ia sangat tak ingin kehilangan elang. Dan elang tau pasti tentang hal itu.
"Tapi kissmarks itu". Fajrina menatap elang, bibir itu, Fajrina tak rela jika bibir indah elang mencium wanita lain.
"Dengarkan aku sayang, aku bahkan tak sadarkan diri ketika aku selesai meminum kopi yang ku pikir adalah buatan mu". Elang berkata dengan jujur.
Tak selang beberapa lama, petugas kepolisian datang, mereka menangkap Lusi.
"Tolong geledah dulu tasnya , dia telah mencuri ponsel ku" . Benar saja, ponsel Fajrina ada di dalam tas Lusi.
"lepaskan aku". Lusi berusaha memberontak.
"Anda sebaiknya bisa bekerja sama dengan kami nyonya , kami tak ingin menyakiti mu". Lusi langsung menatap mata petugas kepolisian tersebut
"lepas kan aku, elang . kau harus bertanggung jawab.. elang". Lusi berteriak sebelum petugas kepolisian itu menarik paksa Lusi.
"kami permisi ".
Dengan cepat Fajrina mengambil ponsel nya lalu menghubungi salah satu dokter forensik terbaik di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Halo dokter mozza, bisa kau datang kerumah ku, aku ingin memeriksa sesuatu".kemudian Fajrina memutuskan panggilan nya.
"Apa yang ingin kau periksa, ?" Elang bertanya pada istrinya
"Dia dokter forensik di tempat ku bekerja, aku ingin ia memeriksa ****** yang tercecer di sofa itu". Fajrina menunjukan di mana jejak cairan itu berada.
__ADS_1
"Kau sangat pintar ". Elang berusaha memuji istrinya . namun pujian dari elang tak membuat hati Fajrina tergugah. ia tetap marah, ia tetap cemburu. bahkan ketika elang menyentuh jemarinya, Fajrina langsung melepaskan nya dengan kasar.
"Besok aku mau furnitur baru, dan aku ingin semua yang ada di kamar kita di rubah". Fajrina menatap dingin mata elang. elang tau jika Fajrina begitu terluka, namun bagaimanapun elang tak bersalah dalam hal ini.
"baik sayang, semua terserah padamu".elang menghembus kan nafas panjang , kemudian berjalan ke arah Reza.
"jadi, apa kau sekarang menyuruhku berbelanja?". ujar Reza.
"tak perlu, Carikan aku apartemen lain saja, kau tak kan maksud ku" elang kemudian menatap Fajrina yang sedang duduk termenung di dapur.
"lalu, malam ini kalian akan tidur dimana ?".
"aku akan menginap di hotel". elang kemudian berjalan mendekati Fajrina. "kita akan menginap di hotel malam ini, aku tau kau tak lagi memasuki kamar kita, jadi besok kita akan pindah ke apartemen baru". elang terseyum sambil mengusap lembut kepala Fajrina.
tak lama kemudian dokter mozza datang. ia heran melihat keadaan Fajrina.
"hei, kau kenapa?" . pemuda tampan itu berjalan mendekati Fajrina kemudian meletakkan punggung tangan nya di kening fajrina.
dokter mozza adalah dokter muda yang sangat berbakat, ia sangat tampan dan juga gagah. elang merasa setelah kejadian ini posisi nya dalam hidup Fajrina semakin terancam.
"aku tak apa-apa". ujar Fajrina sambil menundukkan wajahnya.
"kau demam". mozza menatap Fajrina dengan penuh kasih, elang merasa panas sendiri, maka dari pada terlambat elang langsung berjalan mendekati Fajrina dan memeluk punggung istrinya
"istriku baik-baik saja, anda tak perlu khawatir. dari pada anda mengkhawatirkan istri saya, lebih baik anda melakukan tugas yang terlah istri saya berikan".
mozza sangat mengerti apa maksud elang, namun yang paling ia tidak mengerti adalah tugas yang di berikan Fajrina. mengapa ia menugaskan Mozza mengambil dan menguji ****** yang tercecer di lantai dan sofa.
Dokter Moza telah mengambil sampel itu, dari sofa dan seprei yang berada di ranjang Fajrina.
"Sebenarnya ada apa?". Dokter mozza bertanya sambil meminum kopi yang sudah Fajrina buat.
"Kau harus mencocokan cairan itu dengan suamiku". Mozza menatap Fajrina.
"kalau begitu sebaiknya suami mu ikut bersama ku ke rumah sakit, agar hasilnya cepat keluar". kemudian Fajrina melayangkan pandangan nya pada elang
__ADS_1
"kami akan ikut dengan mu".