
"Apa ini". Fajrina menerima hadiah dari sang ibu mertua
"Ticket ke Bali , berserta semua akomodasinya". Fajrina bingung
"Ticket ke Bali, ada urusan apa di Bali Bun". Fajrina kembali bertanya
"Tikcet honeymoon kalian". Elang tersedak lalu memandang Fajrina.
"Tapi Bun, aku belum dapat cuti". Ujar fajrina,
"Maka cutilah, ". Fajrina menatap elang, mencoba meminta bantuan, namun elang seperti pura-pura tak menyadari
"Baik bun, kami akan berangkat sesuai jadwal".
Fajrina dengan kasar memasuk kan pakaian nya ke dalam koper.
"Kenapa tak kau tolak" Fajrina menatap tajam ke arah elang
"Kalau kita tolak , bunda pasti curiga". Elang berusaha membela diri
"Apa kau sadar, ini honeymoon elang". Kemudian fajrina merebahkan tubuhnya di ranjang
"Ya memang kenapa, siapa tau kita .."
"Kita apa?". Fajrina memandang kesal pada suami nya. Elang cengengesan,
"Jangan marah terus , ayo kesni , biar aku peluk". Namun bukan pelukan yang di terima tapi leparan bantal yang tepat mengenai wajahnya.
"Jangan coba-coba merayuku". Kemudian Fajrina membenamkan wajahnya kebantal dan memukul-mukul kasur di sekitarnya.
"Hey, ". Elang menarik tangan Fajrina, hingga Fajrina menatap nya
"Apa". Ucap Fajrina galak
"Kau galak sekali". Kemudian dengan cepat elang mencium bibir Fajrina, kemudian melepaskan nya
"Kau". Fajrina berteriak. Tapi elang malah menutup wajah nya dengan bantal , agar tak mendengar teriakan istrinya. Elang tersenyum
"Bibirnya sangat manis " ujar elang dalam hati. Akhirnya ia bisa mencium istrinya lagi.
Wajah Fajrina memerah malu, ya bagaimanapun apa yang baru saja diblaukan elang bukan lah dosa , ia suaminya maka wajar saja jika ia mencium Fajrina, bahkan sebenarnya jika elang meminta hak malam pertama pada Fajrina, maka sudah pasti Fajrina akan memberikannya.
Siang itu mereka berdua sudah berdiri di depan hotel rekomendasi sang ibu. Fajrina terbelalak melihat hotel itu
"Pasti harga sewa kamarnya sangat mahal". Ujar Fajrina
"Biarkan saja, bunda yang membayar". Kemudian elang berjalan memasuki hotel
Mereka berjalan mengikuti petugas hotel itu. Kamar yang mereka tempati sangat luas, ada kolam renang private di luar kamar mereka. Di dalam kamar mandi terdapat bathtub yang sangat besar
"Kamar ini sangat istimewa". Ujar elang
"Kau benar". Fajrina menyetujui kata-kata elang.
" Kau lihat ini.." elang menunjuk ke arah kasur berukuran king-size itu, di atas kasur terdapat sebuah lingerie berwarna hitam dengan bentuk yang sangat aneh menurut Fajrina.
__ADS_1
"Apa ini". Ujarnya
"Kau bisa mencobanya jika kau mau , aku siap memberi penilai an". Elang tersenyum jahil
"Lupakan". Fajrina meraih lingerie itu dan memasukkan nya ke dalam lemari
"Hey, cobalah sesekali". Ujar elang , kemudian Fajrina menatap penuh artibke arah elang.
"Aku tak kan memakainya di depan mu, ingat kita tak benar-benar menikah ". Elang terdiam
"Baiklah..". Ia kecewa. Fajrina memasuki kamar mandi, ia membersihkan dirinya. Namun ketika ia keluar dari kamar mandi, ia tak mendapati elang di sana.
Kemudian fajrina merebahkan dirinya di atas kasur lalu tertidur . Menjelang malam elang memasuki kamar , ia terlihat sedikit mabuk.
Fajrina terbangun setelah ia mendengar suara air dari kolam renang. Fajrina bangkit dari tidurnya dan berjalan ke sana
"Sedang apa kau." Fajrina bertanya ketika ia melihat elang sedang menenggelamkan dirinya di sana. Dengan cepat elang menarik tangan Fajrina hingga membuta gadis itu ikut masuk ke dalam kolam
Elang memeluk tubuh Fajrina dan menenggelamkan wajahnya di dada fajrna
"Kau mau apa?". Fajrina mencoba mendorong elang. Elang mengangkat kepalanya menadang Fajrina penuh harap
"Fajrina putri Jasmin, malam ini aku meminta hak ku sebagai suami, dan kau harus melakukan kewajiban mu sebagai istri". Setelah mengatakan itu elang lantas mencium lembut Fajrina.
Malam itu elang menyalurkan hasrat yang selama ini ia tahan pada istrinya.
Fajrina mesih menutupi wajahnya dengan selimut ketika elang memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri
Ia merutuki dirinya sendiri , mengapa ia terbuai oleh sentuhan dan ciuman elang.
"Buka selimutnya". Ujar elang
"Aku belum berpakaian , aku malu". Kata Fajrina sambil mempertahan kan selimut yang membalut tubuh indahnya.
"Kenapa kau malu, aku sudah melihatnya tadi ". Elang mencoba menarik selimut itu. Namun usahanya gagal, tak habis akal akhirnya elang ikut masuk ke dalam selimut itu, jemarinya memeluk tubuh polos Fajrina, tubuh mereka menempel sempurna.
Elang terus saja menciumi punggung mulus istrinya, hingga ia mengulangnya kembali. Ia meminta hak nya kembali, dan Fajrina memberikan kewajibannya dengan baik sebagai seorang istri.
Pagi itu mereka berdua bergandengan tangan menelusuri pantai, cinta mereka tak terbantahkan kini.
"Elang.." seseorang menyapa mereka. Sebenarnya elang sangat malas berbicara dengan orang itu, namun Fajrina memilih berhenti , alih-alih meninggalkan orang yang baru saja memanggil nama suaminya
"Kau mengenal suamiku". Ujar Fajrina
"Iya, aku mengenalnya ". Wanita yang berdiri di hadapan Fajrina sangat cantik, Fajrina menjadi insecure sendiri
"Sayang siapa dia". Fajrina memandang sang suami.
"Aku kekasih elang". Fajrina terpaku , lalu ia mengalihkan pandangan nya ke arah elang
"Ayo kita pergi". Elang malah dengan santainya mengajak Fajrina meninggalkan wanita itu.
"Elang, kau tak bisa pergi begitu saja". Wanita itu menarik tangan elang. Elang berhenti dan menatap wajah kekasihnya itu.
"Ada apa ?". Tatapan mata elang makin lama makin tajam
__ADS_1
"Mengapa kau meninggalkan aku dan menikah tanpa sepengetahuan ku". Elang berjalan mendekati wanita itu, tangannya masih setia menggenggam tangan Fajrina
"Aku sudah tak memiliki kewajiban untuk menjelaskan segalanya padamu, aku sudah menikah, dan semua keputusan yang kubuat tak bisa di ganggu gugat, jika kau marah maka marahlah pada orang tuamu" kemudian elang mangajak Fajrina meninggalakan wanita itu sendirian di pantai
"Siapa dia". Fajrina bertanya pada suaminya
"Ia kekasih ku, sebelum kita menikah". Elang menatap Fajrina , kemudian menarik sang istri agar duduk dibpangkuan nya
"Jika kau punya kekasih, mengapa kau menikahi ku" ujar Fajrina sambil memeluk elang
"Aku tidak bisa menikah dengan nya". Elang membelai kepala istrinya yang masih di balut pasmina hitam itu
"Kenapa?". Sebenarnya hati Fajrina sangat sakit, ia sangat cemburu.
"Orang tuanya sangat materialistis ".
Fajrina mengangkat kepalanya dan menatap elang.
"Matre?".
"Iya, orang tuanya meminta perusahaan ku yang tengah berkembang di kota surabaya sebagai seserahan jika aku ingin menikahi putri mereka".
"Mengapa tak kau berikan". Fajrina kembali memeluk elang
"Hey, aku tak sembarangan memberikan propertiku pada orang lain ".
"Apa kau mencintainya?". Fajrina menutup matanya, ia siap mendengar pengakuan sang suami.
"Dulu , iya.. bahkan aku masih mencintainya ketika kita sudah menikah". Mata Fajrina mengembun, ia ingin menangis.
"Tapi, setelah aku melihat Hendrik menyentuh lengan mu, aku baru sadar jika aku sudah jatuh cinta padamu". Elang melepaskan pelukan nya pada Fajrina, kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil lingerie hitam itu dan menyerahkan nya ke Fajrina
"Untuk apa ini". Fajrina bertanya polos pada sang suami
"Kenakan itu malam ini, tak ada bantahan". Kemudian elang pergi meninggalkan fajrina di kamar itu.
Elang menghubungi capung, meminta nya menghubungi Lusi, wanita cantik yang ia temui di pantai tadi pagi
"Elang". Lusi menatap sendu mata kekasihnya
"Aku harap kau mengerti, aku tak ingin menyakiti istriku". Elang berkata dengan bersungguh-sungguh. Kemudian iàberdiri , dan akan meninggalkan Lusi di sana
"Jangan pergi, jika kau pergi aku akan terjun dari sini". Lusi mulai mengancam elang.
"Jangan bodoh!". Elang membentak Lusi
"Aku bodoh, iya.. aku bodoh karna sangat mencintaimu". Elang memandang kasihan wanita yang pernah sangat ia cintai
Di kamar hotel, fajrina sudah siap menerima elang, lingerie itu sangat cocok di tubuh fajrina. Ia sudah menghias diri secantik mungkin. Namun jam sudah menunjukan pukul 11 malam, namun sang suami masih belum kembali.
Fajrina mersa sangat lucu, untuk apa ia berhias secantik mungkin, pasti suaminya saat ini sedang bersama wanita itu, wanita yang sangat elang cintai jauh sebelum menikahi dirinya.
Fajrina merasa kecewa, matanya mengembun , ia siap menangis ketika pintu kamar terbuka . Elang berjalan memasuki kamar. Ia terpesona melihat istrinya berdiri mengenakan lingerie hitam itu.
Elang tersenyum, kemudian dengan cepat Fajrina berlari ke arah nya dan mencium elang mesra.
__ADS_1