
Elang melemparkan gadget nya ke dinding.ia marah ketika melihat video kiriman salah satu rekan bisnisnya. Rupanya video Hendrik menyatakan cinta pada fajrina telah tersebar kemana-mana. Hendrik seorang atlet basket terkenal maka sudah sewajarnya jika apa yang ia lakukan menjadi sorotan publik.
"Bajingan itu". Ardhi memukul mejanya. Kemudian menyambar jas nya dan berjalan cepat meninggalkan kantornya
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus dengan cepat sampai ke rumah sakit di mana isterinya bekerja.
Elang memarkirkan mobilnya secara sembarangan, kemudian memasuki rumah sakit. Baru saja penghuni rumah sakit di gemparkan oleh kedatangan Hendrik dan pernyataan cintanya. Sekarang seluruh penghuni rumah sakit kembali di gemparkan oleh kedatangan elang.
"Aku ingin bertemu dengan istriku ". Suara berat elang membuat para perawat berdebar.
"Dokter Fajrina sedang berada di roftoop, anda bisa menggunakan lift itu untuk naik ke sana". Salah satu perawat menjawab pertanyaan Ardhi, ia tau Fajrina ada di sana karna, ia sempet bertemu Fajrina sebelum ia turun ke bawah.
"Terimakasih". Ujar elang ia melangkah kan kakinya , memencet tombol lift dan menaiki lift itu.
"Tapi secara tidak langsung kau melibatkan aku dalam rasa dendam mu pada elang". Fajrina menatap Hendrik.
"Tapi aku mendekatimu bukan karena dendam ku padanya". Ujar Hendrik.
"Sedang apa kau disini, mengapa kau mengejar istriku". Suara berat elang mengalihkan pandangan mereka berdua. Hendrik terseyum sinis ketika melihat elang berdiri di belakang nya. Sedangkan Fajrina merasa tak enak pada elang karna harus melihatnya sedang berduaan dengan pria lain .
"Apa aku harus melaporkan semua yang kulakukan pada mu?". Hendrik berkata sinis.
"Kau tak perlu melakukan itu jika yang kau temui wanita lain, tapi apa kau sadar yang kau temui adalah istriku". Elang berjalan melewati Hendrik dan mendekati Fajrina.
"Kau pria yang posesif rupanya". Adam menyeringai menyeramkan.
"Aku berhak melakukannya karna ia istriku ". Elang menarik pinggang Fajrina hingga membentur tubuhnya dan menciumnya. Bukan nya menolak, tapi Fajrina tak bisa melakukannya di depan pria lain.
"Apa yang kau lakukan". Ujar Fajrina setelah berhasil melepaskan ciuman itu.
Hendrik tertawa
"Istrimu saja tak nyaman dengan sikap mu elang".
Elang menatap marah pada Fajrina. Ia marah karna Fajrina berusaha melepaskan ciuman nya tadi
__ADS_1
"Maafkan aku". Fajrin berbisik di telinga elang, ia berharap suaminya tidak marah.
"Istriku hanya tak nyaman berciuman jika ada orang lain di antara kami".
"Oh, benarkah". Hendrik kembali tertawa.
"Tak ada yang lucu dan kau sudah tak ada urusan dinsini. Maka pergilah , aku sangat merindukan istriku ". Hendrik terseyum pada Fajrina
"Kita akan bertemu lagi dokter, aku permisi dulu. Kemudian Hendrik melangkah meninggalkan mereka berdua. Namum Fajrina tak tau jika Hendrik masih berdiri di belakang pintu dan sedang menatap mereka dari celah pintu itu.
Fajrina takut suaminya marah, maka dengan cepat menarik tangan elang dan balik mencium pria itu mesra. Fajrina memegang tengkuk elang dan menekan nya. Jemari elang mulai membelai lembut punggung istrinya sampai ke pinggang , elang tau Hendrik masih berdiri disana. Maka ia dengan sengaja memperlihatkan kemesraan nya dengan sang istri.
Hendrik murka.
"Sial kau elang, kali ini kau menang, tapi lain kali aku yang akan mendapatkan ciuaman itu" Hendrik mengumpat kemudian meninggalkan tempat itu. Ketika elang yakin Hendrik telah pergi ia melepaskan ciuam nya .
Hendrik melepaskan tubuh Fajrina
"Apa kau cemburu?". Fajrina bertanya pada sang suami ketika elang melemparkan pandangan nya ke arah lain.
"Aku cemburu? Yang benar saja". Fajrina menarik tangan elang.
"Aku tak cemburu, aku hanya tak ingin orang-orang berfikiran jelek tentang mu, kau wanita bersuami tapi masih menemui pria lain". Elang menatap Fajrina kemudian membuang pandangan nya kembali.
Fajrina menatap elang, kemudian ia bergeser tubuhnya hingga kini mereka berdiri berhadapan, pria tampan dan sangat tinggi itu masih tak mau menatap Fajrina. Kemudian Fajrin berjalan ke arah pintu , menguncinya , agar tak ada yang masuk kesana.
Kemudian dia berjalan mendekati elang mendorong nya , hingga elang jatuh terduduk di kursi kemudian ia naik ke pangkuan elang.
"Kau yakin bahwa kau tak cemburu". Fajrina menatap elang, namun elang masih tak mau menatap Fajrina.
"Tentu aku yakin". Dada elang bergemuruh hebat, detak jantung nya berdebar makin cepat. Dan sialnya apa yang Fajrina lakukan sukses membuat benda di bawah sana hampir terbangun.
"Hey lihat aku ". Elang masih memalingkan wajahnya. Kemudian Fajrina menarik wajah elang agar menatap nya. Elang tak berdaya kini.
Mereka saling bertatapan kini,
__ADS_1
Ah, sial sial sial. Elang terus mencaci Fajrina dalam hati. Benda pusaka nya akan terbangun sempurna jika Fajrina bergerak sekali lagi. Ardhi dengan cepat menarik tengkuk Fajrina.
"Jangan bergerak, jangan membuatnya terbangun di sini". Ardhi berbisik sebelum ia mencium mesra Fajrina. Ciuman yang tadi nya mesra menjadi semakin panas.Fajrina menggeser tubuhnya, Seketika elang mendesah.
Elang menurunkan tubuh Fajrina dari pangkuan nya kemudian berdiri dan berteriak. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah aku bilang jangan bergerak, kau lihat hasil perbuatan mu". Elang mengarahkan telunjuknya ke bawah. Fajrina tertawa.
"Apa salah ku".
"Kau..jam berapa kau pulang". Elang menatap Fajrina.
"Kenapa ? Aku pulang jam 8 malam. Elang kembali berteriak
"Sial.." dia berjalan mondar mandir , mencoba menetralisir kan hasratnya . Setelah setegah jam akhirnya ia bisa bernafas lega. Fajrina hanya tertawa saja.
"Kau sudah aman". Elang berjalan mendekati Fajrina.
"Aku akan menghukum mu malam ini". Kemudian elang berjalan meninggalkan Fajrina dan kembali lagi ke perusahaannya.
Fajrina menahan nafasnya ketika elang pergi, ia merasa sangat berdebar. Fajrina tau maksud dari ucapan elang barusan.
"Aku harus apa.. harus apa". Fajrina bingung sendiri, mesksipun bukan yang pertama kali, namun Fajrina tetap saja merasa malu jika memikirkan hal itu.
Sedangkan elang, tengah berteriak-teriak di mobilnya.
"Sial.. sial.., kenapa wanita itu sangat menggairahkan , aku tak pernah merasakan hal itu pada wanita lain, apa karna ia istriku?". Elang bertanya pada dirinya sendiri.
Ia sudah sampai di kantornya, kemudian meminta sang sekertaris mengikutiny
"Bagaimana panthouse yang ku pinta". Elang bertanya sambil terus menatap foto panthouse yang memang sangat ia inginkan.
"Anda sudah bisa pindah hari ini pak".
"Baik, terimakasih ".
__ADS_1
"Saya permisi ". Sepeninggal sang sekertaris, elang masih saja uring-uringan. Ia menghubungi ibunya meminta sang ibu untuk membereskan suami pakaian nya dan juga Fajrina. Ia ingin segera pindah dari rumah itu.
"Aku akan menghukum mu Fajrina ". Elang menatap foto Fajrina yang diam-diam ia simpan. Di balik hijab itu terdapat wanita canti, pintar dan polos, wanita yang tak pernah menuntut apapun , di juga wanita yang sangat penurut.