DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
RUMAH SAKIT JIWA


__ADS_3

Lusi menatap elang


"Mengapa kau membawa ku kesini". Lusi merasa tak suka.


"Karna kau seperti orang gila, dan tiba-tiba saja pingsan". Elang bingung, mengapa Lusi bisa seperti itu.


Sebelum elang mengajak Lusi ke rumah sakit, Lusi tertawa dan menangis. Ia bahkan melempar elang dengan benda-benda yang berada di sekitar nya namun akhirnya jatuh pingsan.


"Aku mau pulang". Lusi bersikeras.


"Tidak,kau tetaplah di tempat mu". Elang menatap tajam lusi. Mereka sedang menunggu hasil pemeriksaan nya keluar.


Di tempat lain, Fajrina sedang menunggu kepulangan suaminya, hanya membelikan mangga tapi mengapa hampir jam 1 malam elang tidak kunjung pulang.


Fajrina mulai merasa tidak tenang. Ingin sekali rasanya menyusul elang ke tempat Lusi, namun Fajrina tidak boleh egois, saat ini Lusi lebih membutuhkan elang dari pada dirinya.


"Mengapa belum pulang ". Fajrina mengirim pesan ke elang, namun tidak kunjung di baca oleh elang. Kemudian Fajrina berusaha untuk menghubungi elang, namun elang juga tak mengangkat telepon nya.


Fajrina merasa resah, apakah suaminya sedang menghabiskan ini malam dengan wanita itu. Kemudian air mata mulai menetes dari matanya.


Elang merogoh saku jasnya, ia mencoba mencari ponselnya , namun ia tak kunjung menemukan benda pipih itu. Namun ia ingat, ponselnya ia letakkan di atas meja apartemen Lusi ketika ia mencoba mengembalikan kesadaran Lusi.


Dokter sudah kembali, kemudian memanggil elang.


"Teman anda mengidap gangguan bipolar akut, saya saran kan anda membawa ke dokter yang tepat ".


Elang terpana, kemudian berbalik dan menetap Lusi, wanita itu sedang sibuk memainkan beberapa bungkus permen yang sengaja di sediakan pihak rumah sakit. Dia kadang tertawa, kadang tiba-tiba terdiam.


Elang kasihan melihatnya. Ada apa sebenarnya. Kata elang dalam hati.


Namun ketika Lusi melihat ke arah elang dan mata mereka bertemu, Lusi langsung berteriak.

__ADS_1


"Aku mohon, lepaskan aku , aku mohon". Lusi tiba-tiba saja tersungkur ke lantai kemudian menangis pilu. Elang bingung , ia langsung lari mendekati Lusi.


"Ada apa dengan mu, sadar lah". Elang mengguncang bahu lusi. Kemudian Lusi tertawa.


Dengan cepat elang membawa Lusi ke rumah sakit jiwa terdekat. Lusi di berikan obat penenang ketika ia baru saja sampai, Lusi masih saja berteriak juga menangis ketika mereka sampai.


"Mengapa ia bisa seperti itu?". Elang bertanya kepada dokter yang menangani Lusi.


"Bipolarnya sangat parah, dia sepertinya sudah mengalami trauma yang berat, bisa kita lihat sendiri. Dan mungkin belakangan ini ia mendapatkan tekanan dari orang terdekatnya makanya ia menjadi seperti itu". Mendapat penjelasan dari dokter membuat elang bertanya-tanya. Apa saja yang ia lalui selama ia berada di luar negri.


"bisa saya titipkan dulu dia di sini, saya ada urusan lain sebentar dokter". elang menatap dokter itu.


"dia memang harus dalam pengawasan kami untuk saat ini, jadi tak perlu khawatir".


"terimakasih ". setelah mengatakan itu elang langsung berlari meninggalkan rumah sakit jiwa itu dan mengendarai mobilnya. ia harus pulang , istrinya sedang menunggu.


Fajrina masih terus saja berdoa di sholat sepertiga malam nya, ia berharap suaminya di lindungi dan di jauhkan dari segala bentuk godaan yang pastinya akan di lancar kan oleh Lusi.


air mata Fajrina tak berhenti mengalir, ia mencoba untuk selalu ikhlas , namun hatinya sakit jika membayangkan elang bersama wanita lain. namun doa-doanya terhenti ketika ia melihat elang berdiri di hadapannya.


"aku dari rumah sakit sayang, memangnya apa yang aku lakukan". elang melepaskan pelukan Fajrina.


"rumah sakit, memangnya apa yang terjadi,apa kau terluka". Fajrina menatap elang


"bukan aku sayang, tapi Lusi..". elang melepas jas dan dasi nya.kemudian ia berjalan ke kamar mandi, dan Fajrina menatap nya.


elang membuka pakaian nya kemudian membiarkan air yang mengalir dari shower itu membuat kepalanya dingin. Fajrina membuka pintu kamar mandi , kemudian berjalan ke arah elang. ia membalik kan tubuh suaminya. kemudian mulai mencium harum tubuh suaminya. kemudian ia terseyum. tak ada wangi lain selain wangi parfum yang memang di belikan oleh Fajrina.


Fajrina menoleh dan hendak keluar dari kamar mandi, namun elang menahan nya.


"kau mau kemana?". ujar elang.

__ADS_1


"aku akan kembali melanjutkan ibadahku, kau mandilah". elang terseyum kemudian menundukkan pandangan nya. ia lupa, Fajrina tak kan bisa di ganggu jika sedang melaksanakan sholat malam nya.


"lanjutkan lah, nanti aku akan menceritakan nya ke padamu setelah aku mandi". elang melepaskan tangan istrinya yang masih terbalut muke itu.


ketika mandi elang masih saja memikirkan keadaan Lusi, bagaimana bisa wanita yang dulu sangat riang dan mandiri itu berubah menjadi wanita gila yang tak bisa di kendalikan.


"apa yang telah terjadi padamu Lusi, apa kau mengalami hal yang mengerikan hingga kau berubah menjadi seperti ini ". elang menghela nafasnya.


elang menyudahi mandinya, kemudian berpakaian dan berjalan ke arah ranjang.


"jadi ceritakan ". Fajrina menoleh, elang takjub menatap wajah cantik tanpa hiasan itu.


"sayang.." elang menatap mata Fajrina.


"ada apa?". Fajrina balik menatap wajah suaminya.


"waktu umi mengandung mu, apa yang ia makan dan apa saja yang ia lakukan sehingga ia memiliki putri yang sangat cantik sepertimu".


mendapat pujian yang begitu tiba-tiba membuat wajah Fajrina bersemu merah.


"aih, gombal.. terimakasih atas pujian nya sayang, semua yang ada pada diriku adalah ciptaan dari Tuhan ku sayang, jadi berterimakasih lah padanya". Fajrina tersenyum


"baiklah, aku akan berterima kasih padanya, namun aku juga harus berterima kasih padamu sayang, karna kau sangat mempercayai ku, meskipun semua membuktikan aku juga bersalah ".


Fajrina menundukkan wajahnya


"aku sebenarnya juga tidak ikhlas, aku mungkin egois , tapi itulah aku, aku tak sanggup melihatmu memenuhi keinginan wanita lain yang tengah mengandung anak mu, sungguh aku tak rela". Fajrina akhirnya menangis di hadapan elang.


elang merasa sakit mendengar isakkan tangis sang istri, kemudian ia turun dari ranjang mereka dan memeluk Fajrina.


"akan aku buktikan bahwa anak itu, bukan lah anak ku sayang, aku berjanji". ujar elang sambil berusaha menenangkan hati Fajrina.

__ADS_1


"aku yakin pada mu elang, tapi jika memang kau harus menikahinya, maka menikah lah, untuk masalah bayi itu , bagiku adalah urusan nanti, yang penting tunjukan bahwa kau pria yang bertanggung jawab".


"aku berharap aku bisa menemukan kebenaran itu sebelum aku menikahi Lusi, agar aku tak menyakiti hatimu dan kedua orang tua mu". Fajrina mengangguk kan kepalanya.


__ADS_2