DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
TENANG


__ADS_3

Reza menangkap tubuh Fajrina yang tiba-tiba saja seperti tak bertulang, ia shock setelah melihat suaminya berada di atas ranjang peraduan mereka bersama wanita lain. Lusi terseyum dalam tidurnya. Ia sengaja berpura-pura tidur, ia menunggu elang terjaga lebih dulu.


"Ayo". Reza mengangkat tubuh Fajrina dan memapahnya berjalan keluar. Reza tau ini lah yang telah di rencanakan Joyo, dari bucket bunga sampai ponsel Fajrina yang tiba-tiba menghilang.


Reza menepuk pundak Fajrina agar wanita itu cepat tersadar , Fajrina kemudian menoleh ke arah Reza. Kemudian Reza mencari kertas juga pulpen dan mulai menulis.


"Dokter, kau harus tenang. Seperti yang ku duga, Joyo beserta wanita itu sudah merancang semua ini jauh-jauh hari, dia sengaja menjebak elang, ingat bucket bunga yang mengatas namakan dirimu dan ponsel mu yang tiba-tiba saja menghilang, aku yakin kau mengerti apa maksudku". Begitulah bunyi dari tulisan Reza. Fajrina kemudian menoleh ke arah Reza.


Fajrina mengangguk setuju, kemudian ia berjalan ke arah kamar, mengambil mukena nya lalu masuk ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya sebelum mulai berwudhu.


Fajrina keluar dari kamar mandi setelah itu lalu berjalan keluar kamar, kemudian membentangkan sajadahnya di kamar tamu, ia melakukan sholat Maghrib, ia mencoba meminta bantuan tuhan nya agar bisa menjalani cobaan ini dengan hati yang ikhlas.


Namun tak bisa di pungkiri , meskipun nyatanya mereka telah di jebak namun hati Fajrina sangat sakit melihat Lusi sedang memeluk suami nya tanpa busana. Fajrina mencoba tetap percaya bahwa elang tak bersalah. Tapi siapa yang tau apa yang mereka lakukan sebelumnya.


"Ya Allah, berikan petunjuk mu, tunjukan lah padaku jika memang suamiku tak melakukan zina dengan wanita itu, jikapun iya maka berilah kekuatan padaku untuk menghadapi ini semua, amin ". Fajrina mengusap wajahnya , kemudian ia berdiri.


Reza melihat sang nyonya berjalan keluar dari kamar tamu, tak ingin sang nyonya bersedih, Reza telah membereskan pakaian Lusi yang berserakan.


"Anda baik-baik saja dokter? ". Reza memandang penuh rasa menyesal, seandainya ia ikut elang pulang, hal ini tak kan terjadi.


"Aku baik-baik saja, apa kau mau membantuku menyiap kan makan malam?". Fajrina terseyum, hatinya lebih lega saat ini. Ia sama sekali tak mau melihat ke arah kamarnya, ia tak mau merasakan sakit kembali.


"Baik, mari dokter". Fajrina dan Reza memasuki dapur, mereka mengobrol kadang tertawa bersama kadang juga Fajrina menggoda Reza


"Bagaiaman kau bisa berkenalan dengan kak dini?". Fajrina bertanya sambil terus memotong kentang yang sudah di kupas terlebih dahulu oleh Reza.


"Dia kakak kelasku ketika kami menduduki bangku SMA ". Reza menjawab sambil mencuci sayuran yang lain nya.


"Oh ya, berarti usia kak dini lebih tua dari mu?".


"Ya, kami beda usia, ia lebih tua satu tahun dariku ". Kemudian Reza menyerahkan sayuran yang sudah bersih pada Fajrina .


"Apa kak dini cinta pertama mu". Fajrina kembali bertanya sambil mengambil sayuran dari tangan Reza.


"Ya, aku sangat mencintai nya, namun saat ini aku harus pergi meninggalkan dia, mengingat keluarga ku dari kalangan orang tak berada , sedang kan kau tau sendiri siapa mertua mu". Reza terseyum


"Aku mengerti, apa kau sekarang masih mencintai kak dini?".


"Masih, makanya aku bertekad membongkar kebusukan pria itu, Agara tuan agung mau menerimaku sebagai menantunya ".

__ADS_1


Fajrina terseyum.


"Berpuasalah dengan keras, aku berharap kau bisa mengambil hati mertua ku". Ujar Fajrina.


"Terimakasih dokter". Reja kembali membatu Fajrina untuk menyiapkan meja makan. Reza bingung mengapa piring nya ada 4.


"Tak perlu bingung, wanita itu harus kita beri makan". Fajrina kemudian meninggalkan dapur, ia berjalan menuju kamar, ia mendekati elang. Dan dengan lembut mengguncang tubuh suaminya.


Lusi yang tengah memeluk elang bingung, kenapa Fajrina terlihat biasa saja. Apa yang salah dalam rencananya.


Namun belum juga elang bangun, bel pintu mereka berbunyi. Fajrina langsung melangkah keluar dari kamar, ia melihat siapa yang datang. Namun alangkah terkejutnya Fajrina, kedua orang tua serta mertuanya berdiri di ambang pintu.


"Reza, sembunyi.. mertuaku datang". Namun Fajrina langsung terdiam, apa ini juga rencana Lusi dan Joyo. Mereka mengundang orang tua dan mertuanya untuk menyaksikan ini.


"Ada apa dokter".


"Mereka merencanakan nya secara matang, aku harus bagaiamana, jika mereka melihat suami ku". Fajrina menatap Reza.


"Aku akan mencoba membangunkan suami mu". Reza berlari ke arah kamar, ia kembali mengguncang tubuh elang, sudah Reza duga , elang di beri obat tidur. Buktinya guncangan dari Reza tak berpengaruh padanya. Fajrina menutup pintu kamar, lalu berlari membuka pintu apartemen nya.


"Abi". Fajrina mencium punggung tangan sang ayah , begitu seterusnya


Di kamar Reza terus mengguncang tubuh elang. Namun tangan Lusi menghentikan nya.


"Tak perlu terburu-buru , ia akan bangun setelah efek obat nya hilang". Lusi terseyum melihat Reza.


"Tutup mulutmu". Reza berdiri kemudian menarik paksa Lusi agar ia berdiri. Lusi terjatuh ke lantai.


"Apa-apaan kau ". Lusi berteriak. Teriakan Lusi sayang nya di dengan agung dan Cindy, karna dzaki dan Fatma sedang berada di ruang makan.


"Suara siapa itu". Ujar Cindy sambil berjalan mendekati kamar.


"Diam kau". Reza langsung menarik Lusi ke kamar mandi dan membekap mulutnya. Lusi tak bisa melawan Reza. Pria itu sangat kuat.


Cindy membuka pintu kamar, ia melihat sang putra tertidur sangat pulas, Cindy tersenyum. Ia menutup kembali pintu kamar itu.


"Kenapa kau tersenyum ". Agung bertanya pada istrinya .


"Sepertinya putra kita habis melakukan olah raga bersama istrinya, ia sedang tertidur lelap , maka. Biarkan saja". Agung mengerti kemudian mengikuti Cindy berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi, Reza mencari sesuatu agar bisa mengikat tubuh Lusi. Kemudian ia mendapatkan lakban di dalam lemari , dengan kasar Reza mengikat tangan dan kaki Lusi, serta menutup mulut wanita keji itu.


Reza bernafas lega,


"Kau diam di situ, ". Kemudian Reza berjalan keluar dari kamar mandi dengan air di tangan nya. Ia menyiramkan air itu ke wajah elang. Ia kaget, ia langsung terbangun.


"Apa yang kau lakukan". Elang berteriak. Namun Reza langsung menutup mulutnya.


"Orang tua anda dan mertua Anda ada di depan". Reza perlahan menarik lengan nya.


"Apa?". Elang kemudian melihat tubuhnya, ia mengangkat selimut itu, ia tak berpakaian .


Reza memberikan baju yang baru saja ia ambil dari lemari.


"Kau dan dokter Fajrina , masuk ke dalam jebakan tuan ". Elang menatap Reza, lalu kemudian dia ingat bagaiaman dia bisa datang ke sini, dan bagaimana Lusi bisa berada di apartemen nya.


"Bodoh, sial". Elang mengutuk dirinya sendiri.


"Wanita itu ada di kamar mandi tuan". Mendengar itu, elang langsung mengerti apa maksud ucapan reza. kemudian dia berjalan dan memasuki kamar mandi.


Lusi menatap elang. Reza rupanya telah menutupi tubuh telanjang Lusi dengan handuk. Namun noda kissmarks di dada dan leher Lusi telah menggambarkan segalanya.


"Apa aku telah menyentuhnya". Ujar elang.


"Soal itu saya tidak tau tuan". Elang bingung, noda itu masih terlihat sangat merah, dan baru di buat. Jika elang tidak menyentuh nya, maka siapa yang menyentuhnya.


"Sebaiknya anda bersiap, orang tua dan mertua Anda ada di sini, aku akan menjaga wanita ini". Reza menepuk pundak elang. Elang menarik nafas nya berat kemudian berjalan meninggalkan kamarnya.


"Apa Fajrina tau, apa dia akan marah, meskipun aku telah di jebak, lalu bagaiamana aku bisa menjelaskan segalanya". Banyak pertanyaan yang memenuhi hati elang. Perlahan ia mendekati dapur, ia menatap Fajrina.


Fajrina merasa kikuk , wanita itu tak mau menatap elang.


"Kapan kalian datang". Elang mendekati orang tua serta mertuanya. Ia mencium tangan mereka semua sebelum ia duduk di samping Fajrina


"Kami baru saja sampai, Fajrina mengundang kami untuk datang makan malam di rumah mu". Fajrina terseyum. Jangan kan mengundang mereka, Fajrina saja tidak tau di mana ia meletakkan ponselnya.


"Benar begitu sayang". Elang memegang jemari Fajrina, dengan cepat Fajrina menarik tangan nya. Ia enggan bersentuhan dengan elang.


Fajrina terseyum kemudian menatap elang, dan mendekat lalu berbisik

__ADS_1


"Tolong, mulai saat ini.. jangan sentuh aku".


__ADS_2