DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
ISTRI DARI SUAMIKU


__ADS_3

Vivian sudah sadar kan diri, ia tengah menggenggam jemari Cristian, pemuda itu sangat setia menunggui Vivian.


"Tiara ?". Itu lah kata pertama yang terucap dari mulut Vivian.


"Ia bersama dengan ibuku, jadi tenang lah". Cristian menepuk lengan Vivian. Wanita itu terseyum Pilu, Vivian koma hampir dua bulan lamanya. Itu mengapa ia terlihat begitu kurus dan pucat. Mendengar kabar bahagia itu membuat Fajrina berlari di sepanjang koridor. Ia langsung menangis ketika melihat senyum Vivian.


"Mengapa kau tertidur terlalu lama". Tangis Fajrina pecah begitu saja, ia memeluk dokter cantik itu, Vivian tak kalah terharunya.


Pemuda itu berdiri dan memberikan ruang pada kedua wanita cantik itu untuk melepas rindu . Mereka kemudian tertawa bersama.


Sidang keputusan perceraian dini pun di selenggarakan, dini bebas kini. Ia bisa melanjutkan hubungan nya dengan Reza bahkan setelah masa Iddah nya, mereka akan melangsungkan pernikahan.


Setelah kepergian Joyo hidup dini lebih tentram sedangkan Vivian, memilih untuk kembali ke rumah nya. Cristian terlihat tak setuju atas pilihan Vivian.


"Bagaiamana jika suamimu kembali dan ia berusaha untuk membunuhmu lagi". Cristian memegang bahu Vivian.


"Aku tak punya rumah lagi". Vivian tertunduk, ia juga sebenarnya tak mah kembali ke rumah itu, namun jika bukan ke rumah itu, ia harus kembali kemana.


"Pulanglah ke rumah ku, Tiara dan ibu ku menunggu mu pulang".melihat drama percintaan antara vivian dan Cristian membuat hati Fajrina bahagia. Ternyata yang di katakan elang sangat benar, ada cinta di antara mereka berdua.


Kini hidup Fajrina dan elang saja yang belum bahagia. Di rumah mereka ada wanita licik tak tau diri. Setiap hari Lusi selalu saja mencari gara-gara, ia selalu membuat apartemen Fajrina berantakan. Yang menbuat Fajrina kesal terkadang Lusi sengaja tak memakai baju meskipun perutnya sudah terlihat buncit. Ia hanya memakai bra dan hotpants untuk menggoda elang.


Untuk menghindari Lusi, elang terkadang pulang larut malam, lalu mengendap-endap memasiki kamar Fajrina.


"Aku sangat lelah". Elang melemparkan tas nya ke atas kasur lalu langsung melompat ke arah Fajrina dan memeluknya.


"Mandi dan istirahatlah". Ujar fajrina sambil membuka dasi dan jas elang.


"Setelah mandi aku akan mengambil kan makan untukmu, kau pasti lapar kan". Lanjut wanita itu.


"Ya, aku sangat lapar.. jangan kemana-mana dulu, aku takut Lusi akan masuk jika kau pergi keluar". Fajrina langsung tertawa, suaminya sangat lucu. Mengapa ia takut pada Lusi, sedangkan Lusi istrinya juga.

__ADS_1


"Iya, cepatlah mandi". Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, ketika Lusi mengetuk pintu kamar Fajrina seperti hari-hari sebelumnya.


"Mana suamiku". Lusi meneriaki Fajrina.


"Ia sedang mandi".jawab Fajrina, dokter cantik itu sudah amat lelah meladeni kegilaan Lusi. Apalagi saat belakangan inj Lusi terkadang sengaja memamerkan tubuhnya kepada elang. Itu lah yang membuat elang tak kerasan berlama-lama di rumah.


Pintu kamar mandi terbuka, elang keluar dari sana, ia hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggang. Melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu, Lusi langsung mendorong Fajrina keluar. Fajrina yang tak siap atas tindakan Lusi, jatuh terjerembab. Kini Lusi telah berada di kamar Fajrina dengan elang berdiri di depannya, setelah ia merasa aman karna telah mengunci pintu itu , Lusi langsung bertingkah manja ke pada elang.


"Keluar kau". Ujar elang. Matanya kembali ternoda, Lusi hanya menggunakan bra dan hotpants saja, perutnya sudah semakin membuncit saja.


"Aku membutuhkan mu elang, sekarang juga". Lusi terseyum dan dengan cepat memeluk elang, elang yang sama sekali tak mampu melawan hanya pasrah saja ketika Lusi bergelayut manja padanya. Bisa saja elang mendorong Lusi, namun itu tak mungkin ia lakukan, Karna Lusi tengah hamil. Jadi ia tak bisa melakukan hal kasar pada Lusi.


"Lepaskan aku lusi". Elang memegang bahu Lusi agar menjauh dari Lusi.


"Kau sangat kejam elang, aku juga istrimu, tapi kau bahkan tak mau menghabiskan satu malam pun dengan ku". Mata Lusi berembun, ia menahan tangisnya.


"Pernikahan kita terjadi karna kesalahan Lusi, kau pun tau itu, dan di dalam agama kita, pasangan suami istri yang menikahkan Karna hamil, maka tak di perbolehkan suami untuk menyentuh istrinya sebelum sang istri melahirkan bayinya, di larang Lusi". Pria itu mencoba untuk menjelaskan situasinya kepada Lusi, namun wanita itu sepertinya tak mau perduli.


"Aku tetap mau kamu sekarang di kamar ku, kalau tidak kau akan menemukan mayatku tergantung di sana besok pagi". Lusi berbalik dan langsung membuka pintu kamar , Fajrina yang sejak tadi duduk di lantai tak luput dari serangan Lusi. Wanita tidak waras itu menendang kaki Fajrina sambil memelototinya.


Elang berlari keluar dan mengangkat Fajrina, kaki Fajrina terkilir Karna di dorong oleh Lusi.


"Bagaiamana ini elang, dia akan bunuh diri jika kau tak datang ke kamarnya malam ini". Fajrina mulai mengkhawatirkan keadaan madunya itu, mereka berdua tau segila apa Lusi. Jadi bukannya tak mungkin Lusi benar-benar mengakhiri nyawanya.


"Aku harus bagaiamana?. Aku tak mau berada dekat dengan nya sayang.". Elang merengek seperti anak kecil, namun Fajrina tak mau menanggapi rengekan elang.


"Temani dia tidur, bagaiaman pun kau suaminya, kasihan dia elang"


"Tidak aku tidak mau" . Bukannya pindah ke kamar Lusi, elang malah menaiki ranjang nya dan memejam kan mata. Dari luar terdengar barang-barang yang di hancurkan, elang kembali membuka matanya dan berlari ke luar, Fajrina mengikuti nya.


Rupanya itu ulah Lusi, ia memecahkan semua piring yang ada di dapur, setelah melihat elang dan Fajrina ,Lusi langsung meyambar pisau dan menghunuskan nya ke leher.

__ADS_1


"Jika kau tak mau malayani ku malam ini , maka aku akan membunuh diriku sendiri". Fajrina panik melihat Lusi semakin lama semakin mendekatkan pisau itu ke lehernya.


Fajrina mendorong elang, hingga elang maju . Dengan berat hati elang mendekat dan mengambil pisau itu dan mengangjat tubuh Lusi ala-ala bridal style. Lusi tersenyum dan langsung memeluk leher elang.


Fajrina menatap kepergian suaminya itu, ia bahkan tak mengalihkan pandangan nya sampai elang menghilang di balik pintu kamar Lusi.


Dengan hati-hati Fajrina memunguti serpihan kaca yang berterbaran akibat ulah Lusi. Namun semakin lama matanya semakin berembun, dan kemudian ia terisak. Malam ini, malam pertama bagi Fajrina tidur sendiri Karna elang harus menemani wanita lain.


"Aku tak boleh egois, dia juga istri dari suamiku, elang harus adil". Gumam Fajrina. Sedangkan di dalam kamar, elang tengah terjebak, Lusi rupanya telah mempersiapkan tali untuk menggantung dirinya jika elang tak mau memberikan hak Lusi malam itu juga.


"Jangan kekanak kan". Ujar elang tenang.


"Kau bisa membuktikan ucapaj ku elang,kau hanya perlu berjalan keluar dari kamar ini, maka besok kau akan mendengar berita kematian ku". Lusi terseyum licik.


"Aku akan menemani mu tidur, tapi tidak dengan bercinta". Elang kemudian menaiki ranjang, menarik selimut dan memejamkan matanya.


"Tidurlah elang, tapi ancaman ku tak main-main". Dengan sangag terpaksa elang kembali membuka matanya. Lusi menanggalakn semua yang dia pakai, ia polos sekarang. Sebenarnya bukan sebuah dosa jika elang melihat tubuh Lusi tanpa sehelai benang pun Karna Lusi juga istrinya. Namun elang tak bia menyentuh wanita itu, di dalam agama nya itu di larang.


"Pakai pakaian mu lagi Lusi". Ujar elang,namun bukan nya kembali berpakaian, Lusi malah meraih pisau yang telah ia simpan sebelumnya di laci lemari.


"Layani aku malam ini elang". Darah segar mulai mengalir dari pergelangan tangan Lusi, tak banyak karn baru saja merobek kulit bagian atas Lusi.


Elang ffustasi kemudian menyambar pisau itu dan langsung mencium Lusi kasar. Lusi terseyum. Tak ingin berlama-lama elang langsung membaringkan tubuh Lusi di atas ranjang. Mereka kembali berciuman, namun ketika wajah Fajrina melintasi ingatan nya, elang langsung berdiri dari ranjang. Ia memukul kepalanya berulang-ulang. Lalu dengan cepat meraih apapun yang ada di sana untuk mengikat tubuh Lusi, agar ia tak membahayakan dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan elang". Lusi berteriak ketika elang mengikat tanga dan kaki nya.


"Aku menikahimu Karna kau mengaku mengandung anak ku, aku menikahimu bukan Karna kehendak ku, tapi kau yang memaksakan kehendak mu, jadi maaf Lusi sampai kapan pun aku tak kan Sudi mencumbu dirimu". Setelah selesai mengikat Lusi, elang lagsung berjalan keluar dari kamar itu.


Elang menatap punggung Fajrina yang masih setia memunguti serpihan -serpihan piring itu. Tubuhnya gemetaran dan juga ia menangis , elang bisa melihat hal itu. Elang berjalan mendekati istrinya kemudian mengangkat tubuh Fajrina.


"Mari sayang, kita lakukan ritual pembuatan anak". Elang tersenyum kemudian mencium pipi istrinya itu.

__ADS_1


"Bagaiamana dengan Lusi ". Ujar Fajrina.


"Dia aman". Beberapa saat berikutnya. Lusi bisa mendengar ******* elang dan Fajrina dari atas. Lusi meraung, ia tak terima di perlakukan seperti itu oleh elang.


__ADS_2