
"_Ayo cepat" Fajrina menarik lengan elang. Suminya terlihat malas , ia tak mau bergabung dengan ustad-ustad muda didikan mertuanya . Ia merasa tak sebanding dengan mereka.
"Aku tak mau" elang memohon pada istrinya
"Kenapa tak mau, kau butuh mereka, kau membutuhkan masukan dari mereka". Fajrina menatap kesal suaminya
"Tapi sayang, aku malu.. sudah aku mau di sini saja". Elang duduk kembali di belakang tubuh ayah mertuanya. Fajrina cemberut
Fatma terseyum melihat menantunya itu.
"Bergabung lah dengan mereka". Ujar Fatma. Elang yang tak mau di sebut menantu pembangkang langsung berdiri dan duduk di antara ustad muda itu.
Mereka semua seumuran dengan elang. Elang terlihat cangung namun apa boleh buat,karna ibu mertuanya yang meminta maka ia harus menurutinya.
"Apa anda menantu ustad dzaki?" Umar bertanya pada elang, Umar adalah murid ustad dzaki yang paling di sayangi . Pria itu sangat tampan, juga terlihat cerdas
"Iya". Jawab elang singkat jelas dan padat
"Oh, jadi ini pria yang berhasil meminang fajrina". Kini ustad Akhmad iku berkomentar
"Alhamdulillah, iya". Elang terseyum ia merasa sangat bangga karna bisa mempersunting Fajrina, gadi yang tengah duduk di balik punggung ustad dzaki itu.
"Bagaimana cara mu meluluhkan hati nya , dia sangat sukar di dekati, bahkan ajakan ta'aruf kami semua di tolaknya". Elang terpaku, mengapa istrinya menolak lamaran merek.
"Aku tidak melakukan apapun " elang sedikit tak mengerti arah pembicaraan mereka.
seketika ada rasa tak enak dalam hati elang, para ustad itu terang-terangan membicarakan istrinya. Elang Marasa bahwa mereka tak menghargai elang.
"apa kau yakin?" Umar menatap elang remeh. apa maksud dari perkataan umar yang barusan. elang tau Umar tengah memprovokasi. jadi ia memilih untuk tetap menahan emosinya. kemudian ia terseyum.
"ya tentu saja" elang balik menatap pria itu. namun ustad Akhmad buru-buru memegang pergelangan tangan Umar, mencoba menahan pria itu.
merasa situasi sudah tidak kondusif, elang memilih meninggalkan tempat itu, ia tak mau jika rasa arogan di dalam tubuhnya kembali dan akhirnya menghajar pria itu
__ADS_1
"Permisi, saya tinggal dulu" elang berjalan meninggalkan para ustad muda itu. Ia mengerutu dalam hati. Dari jauh elang memandang istrinya. Lagipula siapa yang tak tertarik pada istrinya, dokter muda cemerlang anak ustad ternama.
Elang menyesal rokoknya di halaman pondok pesantren itu, hatinya tak tenang. Jika suatu saat elang melakukan kesalahan besar yang mengakibatkan ia kehilangan sang istri, bisa di pastikan akan banyak pria yang bersedia mengantikan posisi nya. Membayangkan hal itu semakin membuat elang cemburu.
Kajian hati itu telah selesai. Fajrina mengedarkan pandangan nya mencari elang.
"Kemana suamimu ". Fatma menatap Fajrina
"Entah umi, aku tak menemukannya di mana pun ". Ujar Fajrina, kemudian ia berjalan ke arah parkiran mobil, ia melihat elang tengah duduk di bawah pohon persis di samping mobilnya.
Elang terseyum menatap istrinya.
"Apa kajiannya telah selesai". Elang bertanya pada sang istri.
"Sudah, dan mengapa kau ada di sini ?". Fajrina duduk di sisi elang
"Aku merasa pengap di dalam" elang berbohong
"Benarkah?".
"Dokter Fajrina , apa kabar". Fajrina menudukan kepalanya, seperti janjinya pada elang, ia tak kan menatap lawan bicaranya jika itu seorang pria
"Alhamdulillah, aku baik".
Umar menatap kagum wanita itu. Kemudian ia terseyum
"Apa pernikahan mu bahagia?". Umar bertanya secara terang-terangan. ia ingin sekali memprovokasi elang. ia berharap ustad dzaki melihat sifat asli elang.
"Apa-apaan pria ini, mengapa ia bertanya seperti itu_". Elang memaki Umar dalam hati.
"Aku bahagia". Jawab Fajrina. kemudian Fajrina menyentuh jemari elang kemudian menggenggamnya. Fajrina tau maksud tujuan umar, ustad muda nan tampan itu sedang memprovokasi suaminya.
"Aku dengar kau mengundurkan dari dari rumah sakit tempat mu mengajar, apa kah itu benar". Fajrina menoleh menatap elang. Kemudian kembali menundukkan pandangan nya.
__ADS_1
"Ya, aku sudah tidak bekerja sekarang ".
"Sayang sekali, dokter muda berbakat sepertimu , malah menyia-nyiakan masa muda hanya demi tuntutan dari suamimu". Umar sedikit keterlaluan
"Apa maksudmu". Elang angkat bicara, ia tak suka dengan cara Umar berbicara dengan istrinya
"Aku hanya berbicara sedanya , menjadi dokter adalah cita-cita Fajrina sedari dulu, tak mungkin ia tiba-tiba berhenti bekerja kalau tidak ada campur tangan dari mu". Umar semakin menjadi, dan menurut elang dia tak pantas mengomentari keputusan elang sebagai suami Fajrina.
"Jika memang itu keputusan ku, tak ada urusan dengan mu, aku sebagai suami masih sanggup menafkahi istriku, aku tak ingin istriku lelah bekerja apalagi dibtambaha dengan mengurus rumah tangga dan juga aku sebagai suaminya, jadi berhentilah mengomentari rumah tangga kami". Elang berjalan mendekati Umar. Namun Fajrina menahan elang.
"Aku hanya menuruti apa yang di perintahkan suami ku padaku, dalam agama juga bukan kah ada hadist mengenai hal itu". Fajrina mencoba membela kehormatan elang .
"Tapi aku hanya menyanyangkan nya saja". Umar menatap elang tak suka.
"Sudah tak perlu di perpanjang ".ustad Akhmad mencoba melerai pertikaian mereka. Bagi Akhmad apa yang di lakukan Umar merupakan hal yang salah
"Bawa teman mu agar pergi dari hadapan kami, lagipula ia tak berhak mencampuri kehidupan rumah tanggaku, Fajrina adalah istriku, sudah kewajiban nya mematuhi semua perintahku selama tidak menyalahi norma agama yang berlaku". Elang menatap Akhmad penuh amarah
"Kenapa kau menjadi emosi ". Umar menyeringai tak suka di tatap elang seperti itu.
"Tentu saja, aku tau kau kesal karna Fajrina menolak ajakan ta'aruf dari mu, hingga kau berusaha menjatuhkan ku karna aku yang berhasil menikahinya , jangan mengelak ". Umar merasa sangat merah, pria yang berhadapan dengan nya merupakan pria yang menghancurkan harapan nya untuk mempersunting Fajrina
"Kurang ajar sekali". Umar memprovokasi elang dengan mendorong nya
"Jaga batasan mu". Elang bahkan tak mundur setelah di dorong Umar.
"Kenapa? Kau takut ustad dzaki tau sifat aslimu". Umar kembali memprovokasi elang. Elang terseyum mengejek
"Aku tak takut reputasi ku jatuh jika mengenai istriku". Dengan cepat elang memukul Umar. Akhirnya saling pukul tak terelak kan. Fajrina mencoba menahan elang, namun merasa ada kesempatan Umar membalas pukulan elang.
"Hentikan elang, jangan membuat ayah ku malu" Fajrina menarik tubuh elang, lagi-lagi Umar mengambil kesempatan itu untuk memukul elang
Merasa suaminya tersudut dan Umar selalu mengambil kesempatan untuk memukul suaminya. Fajrina berbalik dan menapat wajah umar.
__ADS_1
"Ada apa ini?". Ustad dzaki berteriak agar mereka berhenti berkelahi. Ustad dzaki menghampiri mereka , raut wajahnya sangat murka.
"Abi". Fajrina menatap takut sang ayah.