
12 tahun yang lalu, Vivian muda baru saja menyelesaikan pendidikan nya di sekolah tingkat pertama dengan nilai terbaik. Ia terlahir yatim piatu, ia di besarkan oleh bibi nya narni. Meskipun hanya seorang keponakan namun, bibinya selalu memperlakukan Vivian seperti anak kandungnya sendiri.
Vivian tinggal di salah satu kota di daerah Jawa tengah, kehidupan nya sangat sederhana. Namun sang bibi terus saja mengusahakan segala yang terbaik untuk Vivian.
Ketika memasuki sekolah menengah atas , Vivian berkenalan dengan Joyo, pria tampan yang terkenal playboy di sekolah, Joyo adalah kakak kelas Vivian dulu. Ketika melihat Vivian ,Joyo langsung jatuh cinta.
"Apa kau Vivian". Joyo terseyum pada Vivian, gadis itu sangat cantik, dan juga sederhana. Makanya Joyo sangat tertarik pada gadis itu.
"Iya". Ujar Vivian , dia malu-malu.
Setelah itu hubungan mereka semakin dekat, Joyo sering mengantar dan menjemput Vivian dengan sepeda motornya. Namun kedekatan mereka tak di sukai oleh keluarga Joyo, keluarga terkenal sangat sombong karna ayah Joyo merupakan pegawai pemerintahan. Jadi gadis yatim piatu itu tak sepadan jika berpasangan dengan putra mereka.
"isin, kita mung wong mlarat, ora pantes berbarengan karo keluarga ne". Ujar sang bibi pada Vivian.
"Aku ngerti lik, mengko aku bakal nyoba menehi pangerten supaya dheweke kepengin adoh saka aku ". Vivian berkata sambil membantu membersihkan rumah sang bibi. Namun belum selesai mereka berbicara, pintu rumah mereka di ketuk dengan kasar.
Vivian buru-buru membuka pintu itu ,ketika Vivian ingin bertanya, wanita tua itu langsung mendorong gadis itu, hingga ia terjungkal kebelakang.
"ana apa, kowe kok ora sopan karo ponakanku". Narni berteriak melihat sang keponakan di dorong dengan kasar.
"ponakanmu ngrayu anakku, wong mlarat ora ngerti awake dhewe". Wanita tua itu meneriaki narni.
"ponakanku ora tau ngrayu anakmu". Narni mencoba membantu Vivian berdiri.
Setelah puas memaki orang tua Joyo langsung meninggalkan rumah narni. Vivian menatap Lik nya, ia merasa sangat bersalah.
"Maafin Vian ya Lik". Narni hanya bisa terdiam saja, ia bingung harus mengatakan apa, ia tak ingin keponakan nya terluka akibat segala hinaan yang di layangkan orang tua Joyo.
__ADS_1
"Pindah sekolah ya nduk". Narni mencoba menjauhkan Vivian dari Joyo.
"Tidak perlu Lik". Setelah kejadian itu Vivian selalu menghindar jika harus bertemu dengan Joyo. Sebenarnya Joyo sangat mencintai Vivian.
Hingga Joyo lulus sekolah terlebih dahulu, Vivian masih enggan bertemu dengan kekasih nya itu. Sebenarnya Vivian sangat merindukan Joyo, pun sebaliknya. Hanya saja Vivian takut jika orang tua Joyo datang dan kembali membuat keributan di rumahnya.
Hingga suatu hari setelah hampir 3 tahun berpisah mereka bertemu kembali, Vivian tengah menempuh pendidikan nya sebagai dokter kandungan, dan Joyo telah bekerja di perusahaan ternama di kota. Secara tidak sengaja mereka bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di kampung halaman Joyo.
Vivian menatap wajah kekasihnya yang sangat ia cintai dan sangat ia rindukan itu.
"Bagaiamana kabar mu?". Joyo menatap wanita itu, setelah tumbuh dewasa Vivian malah terlihat semakin cantik.
"Aku baik-baik saja, bagaiaman dengan mu?". Vivian balik menatap Joyo lembut.
"Ya, aku masih seperti ini". Kemudian mereka terdiam, mereka bingung apa yang harus mereka katakan. Vivian tertunduk malu sedangkan Joyo hanya dapat menatap jemari sang kekasih yang sejak tadi tak henti-hentinya mengaduk kuah soto yang hampir setengah jam yang lalu mereka pesan.
Vivian mengangkat wajahnya
"Aku juga". Gadis itu terseyum, Joyo sangat terpana dengan senyuman Vivian. Setelah makan Joyo mengajak Vivian berkeliling.
Hujan rintik mengguyur kota itu, suasana syahdu mulai terasa ketika mereka berdua berteduh di depan sebuah toko yang sepertinya sudah tak terpakai.
Jalanan sangat sepi, jarang orang berlalu lalang apalagi dalam keadaan hujan. Joyo menatap Vivian yang sejak tadi berdiri di sisinya. Merasa keadaan aman, Joyo semakin lama semakin mempererat pelukamnnya.
Gadis itu mengangkat wajahnya, mereka saling menatap , hingga akhirnya perlahan Joyo mencium bibir Vivian. Rupanya suasana syahdu dan udara yang dingin membuat mereka lupa akan norma yang berlaku di kampung itu.
Joyo mencoba membuka pintu yang sepertinya tak terkunci di belakang nya. Ia merasa beruntung ternyata dugaan nya tepat. Ia kemudian menarik tubuh Vivian ke dalam toko itu kemudian menguncinya.
__ADS_1
"Apa yang kita lakukan di dalam sini". Ujar Vivian ketika melihat Joyo mulai menjelajahi setiap ruangan. Vivian mengikuti langkah kaki Joyo sampai ke kamar yang berada di ujung toko. Kamarnya sudah kusam dan juga kotor. Namun Joyo menemukan beberapa lembar kain di dalam lemari.
Ia tersenyum kemudian membentangkan kain itu ke atas ranjang yang kotor namun masih kokoh itu
"Kemari lah". Joyo menarik lengan Vivian, kemudian mencium kembali gadis itu. Di luar hujan semakin lama semakin deras, petir menyambar di segala arah.
Malam itu Vivian menyerahkan kehormatan yang selama ini ia jaga pada Joyo, cinta pertamanya, mereka menghabiskan malam yang indah bersama, rupanya petir dan gemuruh yang terdengar membuat mereka semakin bersemangat melepas rindu. Setelah selesai melepaskan rindu hingga berkali-kali akhirnya kedua pasangan itu keluar dan pergi dari sana.
Vivian dan Joyo masih berhubungan lewat telepon, karna Joyo bekerja di luar kota. Namun sebulan setelah malam indah itu, Vivian merasa bahwa tubuhnya sering sekali merasa lelah. Ia bahkan terus saja mengantuk padahal ia baru saja bangun dari tidur.
Ia juga jadi tidak konsentrasi saat mengikuti maka kuliahnya. Hingga akhirnya ia ingat, kapan terakhir ia datang bulan.
"Tidak mungkin kan, aku tidak mungkin hamil". Ujar Vivian. Ia kemudian meninggalkan kost-kostan an dan pergi mencari apotik yang lotaknya jauh dari kost dan kampusnya.
Mata Vivian terbelalak ketika ia melihat 2 garis merah di alat testpack itu. Ia menutup mulutnya, kemudian dengan cepat meraih ponselnya dan menghubungi Joyo.
Tanpa Vivian ketahui, Joyo di sana telah melangsungkan pernikahan dengan dini. Setelah Vivian tau dia hamil, dia semakin cemas saja, karna kekasih nya semakin tak bisa di hubungi.
Setiap hari Vivian dengan susah payah menyembunyikan kehamilannya, ia sengaja memakai pakaian yang lebih besar. Bahkan untuk menetupinya Vivian sampai memebli beberapa baju gamis, ia terlihat lebih syar'i dengan pakaian itu, namun teman-teman nya tak tau kalau itu hanya akal-akalan Vivian saja.
Hingga hari kelahiran, Vivian sengaja mengajukan cuti ke kampus, ia izin ingin mengunjungi sang bibi di kampung, kemudian dia mencari tempat tinggal dan rumah sakit untuk nya melahirkan nanti.
Setelah penantian selama 9 bulan akhirnya Vivian melahirkan seorang bayi cantik. Ia dengan sekuat tenaga membagi waktunya untuk kuliah dan merawat bayinya, untung saja tetangga baru nya mau membantu merawat bayinya ketika ia sedang kuliah.
Hingga suatu saat, nomer asing muncul di ponselnya.
"Hallo". Ujar Vivian
__ADS_1
"Ini aku sayang, kau dimana?".