
Elang menelan Saliva nya sendiri.
"itu hanya sebuah kesalahpahaman Abi, saat itu ia mau menabrakkan dirinya ke mobil yang sedang lalu lalang, makanya aku menarik tubuhnya kemudian memeluknya, apa yang aku lakukan hanya karena rasa kasihan saja bi". elang kembali menjelaskan nya.
"apa kau tau kalau itu dosa, kau menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim mu, apalagi kau sudah memilik istri". nada suara ust dzaki mulai meninggi.
"aku tidak berfikir sampai ke sana Abi". elang kembali menundukkan kepalanya.
"elang, jika kau masih belum bisa melepaskan masa lalu mu , maka kau bisa melepaskan Fajrina. kembalikan dia kepada kami". kata-kata ustad dzaki sukses membuat hati elang sakit, ia mengangkat kepalanya dan menatap lekat mata sang mertua.
"sampai kapanpun aku tak kan meninggalkan Fajrina Abi, dia akan menjadi istriku selamanya sampai aku mati". di ruangan sebelah, Fajrina meneteskan air matanya, kata-kata elang yang barusan membuat hatinya berbunga dan bahagia.
Ternyata elang sungguh tak mau kehilangan dirinya. Sekarang tugas Fajrina hanya satu, membuat elang jatuh cinta padanya.
"sekarang kau bisa tenang ya sayang, suamiku tak kan meninggalkan mu demi masa lalunya". umi memeluk Fajrina.
"baik, akan aku pegang kata-katamu.. namun jika sekali lagi kau menyakiti putriku, maka aku yang akan datang ke rumah mu dan membawanya kembali ke rumah ini" elang mengangguk tanda bahwa ia mengerti. Keadaan menjadi hening seketika
Elang merutuki dirinya sendiri, andai saja ia tak memperdulikan Lusi, pasti keadaan menjadi baik-baik saja, namun ia juga bingung seandainya dia tau menolong Lusi, mungkin saja Lusi akan mati.
"mari kita makan". umi memecahkan keheningan di antara mereka, pembicaraan antara mertua dan menantu itu berakhir dengan baik, namun elang masih mengingat kata-kata sang ayah mertua , mertua nya akan menjemput Fajrina langsung jika ia menyakitinya lagi .
Keadaan diruang makan itu sangat hangat, dengan hati-hati Fajrina menatap mata elang, elang yang tengah menikmati masakan sang ibu mertua tak memperhatikan hal itu.
"Apa kau suka masakan umi, elang " umi bertanya ketiika mereka telah selesai menyantap makan malam mereka.
"Sangat suka umi, masakan yang umi buat enak sekali". Elang terseyum
"Apa kau tak mau tambah sayang, biasanya kau selalu tambah jika umi membuat gulai untukmu". Fatmah menatap mata sang putri.
"Tidak umi, aku sudah kenyang". Jawab Fajrina
"Putri mu sudah sangat kenyang, bahkan hanya dengan menatap wajah suaminya saja ia sudah merasa kenyang ". Ustad dzaki mulai menggoda putrinya .
Mendengar itu elang langsung menatap Fajrina. Wanita itu tersipu malu, rupanya sejak tadi sang ayah memperhatikan Fajrina.
__ADS_1
"Apaan sih Abi, aku tak melakukan itu ". Fajrina cemberut, dia malu
"Abi lihat, sangat jelas". Kemudian ustad dzaki tertawa lepas.
"Jangan menggodanya terus , dia sangat malu". Fatmah berusaha membela sang putri
"Apa salah nya jika ia menatap elang". Kemudian ustad dzaki mengarahkan pandangan nya ke sang menantu.
"Padangan putriku selalu terjaga, ia tak pernah menatap lelaki lain yang bukan muhrim nya , maka berbahagialah elang, kau pria pertama yang di tatap olehnya penuh cinta".
Elang terseyum dan kembali mengalihkan pandangan nya ke Fajrina, istrinya sangat manis jika sedang malu-malu seperti itu. Entah mengapa, perut elang sepeprti tergelitik, banyak kupu-kupu berterbangan di sana. Jantungnya pun berdebar cepat tak karuan. Ia kemudian meraba dadanya,
Apa aku jatuh cinta?. Elang bertanya pada dirinya
"Aku sangat beruntung Abi, memiliki istri seperti dia". Elang kemudian dengan malu-malu memegang jemari Fajrina
"Kalian serasi sekali". Umi terseyum
"Jika putri ku melakukan kesalahan tegur dia, jika memang dia tetap membangkang maka datang lah kemari, adukan perbuatan nya pada ku, maka aku yang akan menasehatiny, jangan kau bentak dia ataupun kau memukulnya , karna bagaimanapun dia putri kami, dan sudah tanggung jawab ku untuk memberinya hukuman jika dia melakukan kesalahan pada suaminya, maka itu berarti didikan ku gagal". Ustad dzaki memberikan pencerahan pada sepasang pengantin baru itu.
"Kita pindah, mari mengobrol di ruang tamu". Fatmah berkata sambil tersenyum pada sang suami . Kemudian mengikuti langkah nya.
"Kau tertangkap basah sedang menatapku penuh cinta". Elang berbisik ketika mereka berjalan di belakang ustad dzaki.
Fajrina sangat malu, ia berusaha melangkah lebih cepat untuk menghindari elang, namun dengan sekali sentak elang langsung menarik lengan Fajrina.
"Kau mau apa?" Fajrina berbisik
"Berjalan dengan ku, kau tak boleh menolak perintah suami". Fajrina mendegus kesal.
Elang terseyum, kemudian menggandeng jemari Fajrina , mesra.
"Jadi kalian ingin pindah?". Fatmah menatap mereka berdua.
"Iya umi, kami ingin lebih mandiri , tak ingin menyusahkan ayah dan bunda, lagipula bukannya lebih baik seperti itu, ya kan Bu dokter?".. elang berkata sambil menoleh ke arah Fajrina dan terseyum.
__ADS_1
Mendapatkan senyuman semanis itu , hati Fajrina meleleh, bukannya menjawab pertanyaan elang, Fajrina malah terdiam dan terus menatap suaminya.
Ah, kenapa suamiku tampan sekali. Ujar Fajrina dalam hati.
Elang bingung , kemudian menyenggol punggun Fajrina. Fajrina akhirnya sadar.
"Ah, iya umi". Fajrina langsung menatap ibunya. Namun kedua orang tua itu malah tertawa . Fajrina bingung apa yang lucu , kenapa mereka tertawa seperti itu.
Fajrina menoleh ke arah suaminya, elang menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Rupanya Fajrina sangat menggemas kan ketika jatuh cinta. Seandainya saja mereka sedang berduaan , mungkin elang akan langsung mencium Fajrina.
"Putri kita akhirnya tau apa artinya cinta ,nya kan bi". Umi menggoda Fajrina
"Ah umi, kenapa umi bisa bilang begitu". Fajrina bertanya
"Kau tertangkap basah tengah menatap suami mu ketika kau makan, sekarang kembali tertangkap basah ". Ustad dzaki menimpali sang istri.
Elang hanya bisa terseyum, ia sangat bahagia. Entah ia pernah melakukan kebaikan apa hingga ia bisa mendapatkan istri yang cantik, pintar juga lugu itu.
"Ah, Abi ga asik". Fajrina cemberut. Namun bukannya membela, elang malah mengangkat tangan nya lalu merangkul mesra Fajrina. Apa yang elang lakukan sakses membuat Fajrina tak dapat bernafas.
"Kau lihat umi, wajah putri mu memerah". Gelak tawa kembali terdengar dari rumah itu.
"Kau kenapa?". Elang bertanya karena semenjak masuk ke dalam mobil Fajrina cemberut saja
"Kau sama sekali tak membelaku". Ujar Fajrina
"Loh, apa yang harus aku lakukan, kau memang tertangkap basah sedang memandang ku". Elang tertawa melihat sikap kekanakan sang istri
"Tidak, kau terlalu percaya diri ". Fajrina membuang pandangan matanya ke segala arah
"Hey, lihat ke sini". Fajrina tak mengindahkan perkataan elang . Elang memegang leher Fajrina dan menariknya kemudian mencium nya.
Fajrina kaget mendapatkan serang yang tiba-tiba. Matanya melebar sempurna ketika lidah elang memaksa masuk ke rongga mulut Fajrina. Tak perlu waktu lama, Fajrina memejamkan matanya menikmati ciuman yang sangat manis itu.
"Hukuman mu, karna kau telah membuatku hampir terkena serangan jantung ketika kau menatap ku tadi". Ujar elang setelah ia melepaskan ciuman itu kemudian kembali mengemudikan mobilnya.
__ADS_1