
Cindy heran, sudah dua hari putrinya tak keluar dari kamar, Joyo bilang bahwa istrinya sedang demam. Namun anehnya mengapa Joyo tak membawa istrinya ke rumah sakit.
Cindy gelisah, gerak geriknya di perhatikan oleh agung
"Ada apa, mengapa kau terlihat gelisah". Agung bertanya pada Cindy
"Sudah dua hari dini tak keluar kamar, Joyo bilang bahwa dini demam, tapi mengapa ia tak membawa istrinya ke dokter".
"Benarkah? Apa sebaiknya kau lihat dia ke atas". Cindy merasa apa yang di katakan nya benar, kemudian ia berdiri meninggalkan sarapannya dan berjalan ke arah kamar dini. Namun ketika ia ingin mengetuk kamar itu, Joyo lebih dulu membuka pintu.
"Bunda, sedang apa bunda di sini". Joyo sedikit panik, ia tak mau semua orang tau jika dini sakit akibat dirinya. Dini mengalami peradangan karna luka yang ia terima dari Joyo.
"Aku ingin melihat dini, apa dia baik-baik saja". Cindy bertanya pada menantunya.
"Dia baik-baik saja, dia hanya demam bunda tidak perlu terlalu khawatir". Sebisa mungkin Joyo menahan agar ibu mertuanya tidak masuk ke dalam kamar mereka. Namun ada yang janggal, dini merasa Joyo sedang mengelabuinya.
"Kali begitu kau bisa minggir , aku ingin melihat putriku ". Cindy memperlihatkan kekuasaan nya pada Joyo, dan jika itu terjadi maka Cindy tak menerima penolakan .
"Tapi dini sedang tidur bunda, bunda bisa kembali nanti". Joyo sekuat tenaga menghalangi Cindy untuk melihat istrinya. Ia takut semua nya terbongkar.
"Minggir kau". Suara cindy meninggi. Dan itu mengundang kecurigaan agung, agung pun meninggalkan sarapan nya dan menyusul sang istri.
"Ada apa?" Agung bertanya, ia menatap istri dan menantunya
"Dia menghalangiku untuk menemui dini". Cindy meminta dukungan sang suami.
"Kenapa?" Agung menatap heran Joyo, mengapa pria itu melarang istrinya menemui putri mereka.
"Bukan begitu ayah, dini sedang sakit, ia sedang istirahat, jadi aku meminta bunda datang lagi nanti". Joyo mencoba menjelaskan.
"Kenapa kau tak bawa dia ke dokter?". Joyo gugup, dan sebisa mungkin menutupi kegugupan nya
"Aku sudah memberikan obat padanya".
"Hubungi Fajrina, suruh ia kesini" Joyo panik, jika sampai Fajrina datang terbongkar sudah kebejatan ia selama ini.
"Tidak perlu ayah". Joyo mencoba menghentikan agung.
"Kenapa kau takut, santai saja". Kemudian dini menghubungi Fajrina.
__ADS_1
Joyo menatap benci kedua mertuany, namun ia langsung mengalihkan pandangan nya ketika agung balas menatapnya.
"Ia akan segera datang". Namun Joyo sedikit bahagia, karna ia bisa melihat wanita pujaan nya.
Kemudian agung dan Cindy berjalan meninggalkan pintu kamar itu, Joyo sedikit bisa bernafas lega. Kemudian dengan cepat ia masuk ke kamar dan membangunkan dini.
"Ada apa?" Suara dini terdengar sangat lemah
"Sebentar lagi Fajrina dan elang datang, ingat jangan sampai kau mengadukan ku pada mereka, atau ku sebar video mu , agar orang tuamu malu dan jijik menatap mu, apa kau mengerti". Joyo mencengkram lengan dini. Dini meringis sakit.
"Iya.. lepaskan aku". Dini berusaha meronta, kemudian Joyo menghempas kan tubuh dini begitu saja. Joyo menunggu dengan hati yang was-was. Ia takut ketahuan , maka dari itu ia tak jadi berangkat bekerja.
Tak beberapa lama, pintu kamar Joyo di buka , di sana berdiri Fajrina dan elang. Fajrina sangat cantik, ia mengenakan setelah berwarna hitam, tubuhnya sangat proporsional , di belakangnya elang berdiri dengan angkuh.
Sebelum mereka masuk, Fajrina sudah meminta elang agar membawa Joyo pergi dari sana, agar Fajrina bisa leluasa memeriksa keadaan dini.
"Aku ingin memeriksa kak dini, apa kau bisa keluar?". Fajrina menatap Joyo, dada pria itu berdesir. Ia tak sanggup menyembunyikan kebahagiaannya ketika melihat Fajrina berdiri di sana.
"Silahkan, aku akan menemai nya". Ujar Joyo.
"Tidak perlu, kau ikut dengan ku" betapa kagetnya Joyo ketika elang memintanya untuk keluar dari kamar itu
"Aku ingin menemani istriku ". Joyo bersikukuh tak mau ikut dengan elang. Elang semakin curiga bahwa keadaan kakaknya akibat ulah Joyo.
"Aku tidak bisa meninggalkan nya, ia membutuhkan ku". Joyo juga ikut meninggikan suarany
"Jika begitu, aku akan memanggil ambulance dan membawa kak dini ke rumah sakit tempat ku bekerja, agar kau bisa lebih tenang". Joyo sudah kehabisan akal, sesaat kemudian Fajrina sudah menelepon pihak rumah sakit agar mengirim sebuah ambulance ke kediaman Manggala.
Joyo berharap elang dan Fajrina menunggu kedatanga ambulance di luar, agar dia bisa mengancam dini, agar dini menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Fajrina sedang duduk di samping dini, ia meraba pergelangan tangan sang kakak ipar. Denyut nadinya melemah.
"Sejak kapan ia begini". Fajrina bertanya sambil mengeluarkan stetoskop nya, kemudian mengarahkan nya ke dada dini, detak jantung nya juga melemah.
"Sudah dua hari". Ujar Joyo , ia sudah sangat ketakutan
"Mengapa kau membiarkan istrimu dalam keadaan seperti ini, apa kau sudah gila". Fajrina panik, kemudian membentak Joyo
"Jaga bicaramu , aku kakak iparmu" Joyo balik membentak fajrina.
Elang hanya menatap kejadian itu, ia tersenyum rupanya Fajrina bisa galak juga.
__ADS_1
"Jika terjadi hal - hal yang membuat nyawa kak dini melayang aku akan memenjarakan mu". Joyo mundur, ia sedikit takut dengan ancaman sang adik ipar.
"Aku tak mengerti apa maksudmu". Joyo mencoba membela diri
"Denyut nadi dan detak jantung kak dini melemah, ia bisa saja mati jika kau terus mengurung nya tanpa ada keinginan membawanya ke rumah sakit". Mendengar hal itu, elang jadi mengerti mengapa sang istri terlihat sangat marah.
Dini tak dapat mengatakan apa-apa , yang ia tau adik ipar yang sangat ia benci sedang berusaha menyelamatkan nyawanya, dari binatang yang berkedok suami nya itu
"Apa maksudmu? Kak dini dalam bahaya? Nyawanya terancam". Elang menarik lengan Fajrina
"Kau benar, dan dia mencoba mnghalangi pengobatan untuk kak dini, aku jadi curiga padanya". Agung dan Cindy yang mendengar perdebatan dari kamar dini segera mendatangi nya
"Ada apa?" Cindya bertanya
"Nyawa kak dini dalam bahaya". Ujar elang
"Kenapa? Kenapa bisa terjadi". Cindy histeris kemudian berlari mendekati dini. Putrinya terkulai lemah, suhu tubuhnya sangat tinggi
"Ia tak apa-apa bunda, Fajrina hanya berlebihan menanggapinya". Tanpa di duga cindya berbalik dan langsung menampar wajah Joyo
"Apa yang telah kau lakukan pada anakku". Cindy murka
"Apa maksud bunda, aku tak melakukan apapun padanya, ia seperti itu setelah ia pulang tempo hari, mengapa bunda malah menyalahkan aku". Joyo tipe pria yang pintar membalik kan kata-kata. Namum Cindy tak mau diam saja.
"Kau mencurigakan , sejak pagi aku ingin menemui dini tapi kau melarang ku". Joyo bingung harus menjawab apa. Kini elang yang berjalan mendekati Joyo, ia mengangkat tangan nya kemudian mencengkram kerah kemeja Joyo.
"Kau dengar, jika memang keadaan kak dini ini akibat ulahmu, aku akan memenjarakan mu, kau dengar itu". Joyo hanya terdiam, ia tak bisa melawan elang, ia sangat takut pada elang. Tak beberapa lama ambulance datang, para petugas medis membawa dini ke rumah sakit
"Lakukan semua tahap pemeriksaan, aku ingin hasilnya ada di depanku sekarang". Fajrina memerintahkan beberapa perawat, bagi elang istrinya sangat keren.
Kemudian denga sangat terlatih, Fajrina memasangkan selang infus ke tangan dini. Kemudian memasangkan oksigen.
"Aku ingin laporan perkembangan kakak ku setiap setengah jam, nyawanya dalam masalah, jangan sampai kita lengah , apa kalian mengerti". Kini para dokter muda yang menerima perintah Fajrina.
Kemudian Fajrina memandang Joyo, pria itu duduk dengan tenang di kursi tunggu, di sana juga ada Cindy dan agung. Sedangkan sang suami yang sangat susah di atur berdiri di samping nya
"Sedang apa kau disini". Fajrina berbisik
"Aku sedang mengawasi istriku yang keren". Kemudian elang terseyum, namun tidak dengan Fajrina. Sekuat tenaga Fajrina mendorong elang agar keluar dari igd
__ADS_1
"Kau merepotkan ". Ujar Fajrina , kemudian ia berjalan meninggalkan elang .
"Istriku sangat keren".