DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
BERKELILING KOTA


__ADS_3

"jadi apa yang harus kita lakukan padanya, ia bisa saja membahayakan nyawa fajrina, kau lihat tadi kan, ia menyerang fajrina ketika kita semua berkumpul disini, jadi bisa kau bayangkan jika fajrina sendirian tadi, mungkin istrimu bisa saja mati elang". ujar Hendrik.


" itulah yang tengah aku fikirkan , apa yang harus aku lakukan sekarang". elang sangat bingung ia tak Mau terlihat sebagai pria yang jahat Karna menelantarkan istrinya yang sedang hamil.


" atau biarkan saja ia tinggal di apartemen nya sendiri, agar ia tak bisa melukai siapapun, ia bisa menjaga dirinya sendiri, Selamat ini dia sudah melakukan Hal itu, benarkah". Cyntia ikut menanggapi.


" sepertinya itu lebih baik, aku akan mengantarkan nya kembali ke apartemen nya besok, namun sebelum itu aku akan membawanya ke rumah sakit, guna memeriksa keadaannya". ujar elang, ia menghela nafasnya. ia bingung apakah ini keputusan terbaik yang bisa ia ambil.


" itu benar.. lagi pula elang, kau sudah Tau jika anak itu bukan anak mu, mengapa kau Masih menikahinya". mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat fajrina menatap mata elang. pertanyaan Hendrik benar, memang sampai saat ini fajrina Dan elang Masih tidak yakin jika anak yang ada di perut lusi adalah anak elang, namun sebelum anak itu lahir Dan sebelum tes DNA di lakukan maka elang harus menikahi lusi.


"aku hanya berusaha menjadi pria yang bertanggung jawab, meskipun aku yakin anak yang ia kandung bukan anak ku, namun sebagai pria aku tak bisa melepaskan lusi begitu saja".


"aku mengerti, namun lihat lah sekarang.. ia menyerang istri mu, dia terlihat sangat bar-bar.. dia sangat liar". Cyntia mengangkat bahunya, ia bergidik ngerih. bagaimana rasa nya hidup bersama dengan orang yang tidak waras seperti lusi.


sepeniggal Hendrik Dan Cyntia, fajrina Masih memikirkan kata-kata elang mengenai seorang anak. fajrina merasa sangat merasa bersalah pada elang, apakah ia mandul? sehingga sampai saat ini tak ada tanda-tanda kehamilan pada tubuh fajrina.


melihat istrinya sedih membuat elang bertanya-tanya, mengapa fajrina terlihat begitu murung, ia bahkan tak Mau membuka mulut nya untuk sekedar berbicara dengan dirinya.


"ada apa dengan mu, mengapa kau terlihat sangat sedih". elang membelai lembut rambut fajrina.


"apa kau sangat meninginkan seorang anak?". ujar fajrina.


"iya, memang nya kenapa?". elang Masih juga tak peka, bahkan ucapannya yang barusan menambah rasa sedih di hati fajrina.


"ah, jika pada akhirnya aku tak bisa memberikan anak padamu, apa kau akan meninggalkan ku elang". setelah mendengar perkataan fajrina, elang baru menyadari kesalahan nya.

__ADS_1


"sayang, maafkan aku, aku tak bermaksud berkata seperti itu, ya aku memang menginginkan anak hanya jika memang kita belum di karuniai seorang anak tak masalah untuk ku, kau tak perlu menayalalahkan dirimu, lagi pula kita baru menikah usia pernikahan kita saja belum genap satu tahun". elang menyelasi kata-katanya tadi, ia juga menyesali betapa tak pekanya dia.


"tapi, aku merasa iri.. Hendrik yang baru menikah Selamat 4 bulan saja istrinya sudah mengandung, lalu bagaiamana dengan ku". fajrina memeluk elang dengan sangat erat. ia juga mengingat kata-kata yang di ucapan lusi.


"jangan berkata seperti itu, kau membuat ku merasa berdosa Karna menyatakan Hal seperti tadi siang, maafkan aku ya". ujar ekang.


"jika aku juga tak kunjung hamil, apa kau akan meninggalkan ku, atau kau akan meneruskan pernikahan mu dengan lusi, ia terbukti bisa mengandung, meskipun kita berdua tak yakin bahwa anak yang ia kandung adalah anak mu, tapi jujur saja jika ia bisa mengandung sekarang sudah bisa di pastikan ia bisa langsung memiliki anak Dari mu elang". kini fajrina mulai terisak, ia memyalahkan dirinya Karna belum bisa melakukan tugas nya sebagai seorang istri.


" aku tak kan meneruskan pernikahan ku dengan nya, kau harus Tau itu.. lagi pula dari pada kita membicarakan lusi, alangkah baiknya kita memulai program pembuatan anak". elang menarik turun kan kedua alisnya.


lavender langsung memukul bahu elang, kemudian ia tertawa . elang Tau fajrina sangat sensitif jika mengenai Hal itu.


"apa yang kau pikir kan, aku sedang bersedih sekarang.. kau malah mulai membicarakan acara pembuatan anak, sungguh tak Tau malu". fajrina mendorong elang.


"aku mengagakan yang sesungguhnya, ayolah.." elang menarik tubuh fajrina hingga ia duduk di atas pangkuan elang.


"ayo kita mulai". elang membuka kancing baju tidur fajrina satu persatu. fajrina tersenyum melihat kelakuan suaminya, namun acara romantis mereka kembali di usik oleh gedoran pintu yang di lakukan oleh lusi.


dengan raut wajah yang sangat kecewa elang membuka pintu itu.


"aku Mau makan sushi malam ini". ujar lusi.


"mana ada yang jual sushi malam-malam begini, apa kau tak lihat jam berapa sekarang". elang menghela nafas nya kesal


"aku tak perduli, belikan aku sushi sekarang". elang yang merasa kesal langsung mengalihkan pandangan nya ke arah fajrina.

__ADS_1


"ayo ikut sayang". elang tak Mau begitu saja meninggalkan fajrina disana bersama lusi , ia takut apa yang di katakan Cyntia juga Hendrik menjadi kenyataan. fajrina langsung meyambar hijab nya Dan dengan cepat memakai nya.


"ayo". ujar fajrina sambil menarik lengan elang. mereka berjalan meninggalkan lusi di sana. malam itu mereka berkelilig kota mencari sushi yang di minta lusi.


"kita tak kan menemukan nya elang, ini sudah jam 1 malam". elang tersenyum kemudian menatap fajrina.


"jika tak ada, kita bisa memghabiskan malam di jalanan, apa kau tidak ingin memghabiskan malam ini bersama ku".


"kau benar ". mereka berhenti hanya untuk sekedar makan sate di pinggir jalan kemudian kembali berkeliling kota. ponsel elang sejak tadi bergetar, ia manatap layar ponselnya .


"dia sangat mengganggu, apa memang kerjaan nya hanya itu saja". elang berdecak kesal. namun tiba-tiba elang membawa mobilnya memasuki sebuah hotel bintang 5 yang sangat terkenal di Sana.


"mengapa kita kesini, apa di sini ada yang jual sushi".fajrina dengan sangat lugu mempertanyakan apa yang telah di lakukan elang.


"tentu saja tidak". elang tersenyum. akhirnya fajrina memahami apa maksud elang.


"kau sangat niat sekali".


"tentu saja, demi bersama dengan dirimu". elang merangkul bahu fajrina, ia berjalan mereka berjalan menyusuri koridor hotel Dan memasuki kamr yang sudah elang pesan.


"kamar ini sangat mewah". ujar fajrina.


"sudah jangan mengalihkan pembicaraan". elang langsung menarik tubuh fajrina hingga ia ikut terjatuh ke atas ranjang.


"apa aku perlu membersihkan diriku lebih dahulu". ujar fajrina.

__ADS_1


"tak perlu, tubuhmu sudah sangat wangi meskipun kau tak mandi".


__ADS_2