
Joyo memasuki apartemen Lusi, ia mencari keberadaan wanita itu. ia terlihat bingung Karna kondisi apartemen yang sangat berantakan. hari ini keadaan hatinya tak cukup baik. keuangan nya sudah menipis, sedangkan dini tak mau bekerja sama dengan nya hingga ia sangat marah dan kembali melakukan kekerasan pada Lusi.
ia membuang nafasnya kasar, kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. ia mengingat kembali dini, wanita itu sangat mengesalkan bagi Joyo.
"minta uang pada orang tua mu, aku membutuhkan uang". Joyo menarik baju dini, ia sangat marah.
"aku tak bisa meminta uang pada ayah, ayah pasti akan curiga , aku tak di izinkan keluar dari rumah meskipun hanya sebentar saja, jadi mereka pasti curiga". dini memegang tangan Joyo, ia mencoba untuk melepaskan dirinya dari pria itu.
"banyak alasan". Joyo mendorong dini hingga istrinya itu membentur tembok.
"mengapa kau sangat kasar, apa salah ku". dini berteriak, ia sudah tak sanggup bertahan lebih lama dari ini, dia merasa Joyo sudah sangat keterlaluan.
"masih bertanya apa salahmu hah!". Joyo kemudian memukul wajah dini, hingga bibirnya berdarah.
"adik mu telah memecat ku, aku tak punya pekerjaan bahkan sekarang aku memiliki istri tak berguna seperti mu". Joyo kembali memukul dini.
"lebih baik kau bunuh saja aku". dini menatap tajam Joyo, rasa takutnya hilang sudah kini.
"jika kau mau mati, maka matilah, aku tak mau mengotori tangan ku dengan membunuh wanita bodoh dan tak berguna sepertimu". Joyo berdiri dan langsung meninggalkan dini.
Joyo masih sanagat kesal, di tambah lagi ia tak bisa menemukan Lusi di mana pun. ia sudah tak sabar untuk menghancurkan elang.
"kemana perginya wanita gila itu, dia makin membuat ku marah saja". Joyo melemparkan vas bunga yang berada di depan meja. kemudian ia berusaha untuk menghubungi Lusi. namun telepon Lusi tak aktif.
sepeninggal Joyo, dini berjalan ke arah lemari dan meraih ponsel yang di berikan elang beberapa hari lalu.
"apa kau belum menemukan kamera itu? ". ujar dini ketika ia berhasil menghubungi Reza.
"aku sudah tau kamera itu berada di mana, namun kau harus mendengar sebuah rahasia besar yang Joyo sembunyikan selama ini dari mu, elang akan memberitahukan nya nanti, Karna rahasia ini akan membuat kita selangkah lebih dekat untuk mengirim suami mu ke penjara". jawab Reza.
__ADS_1
"rahasia apa, apa ada rahasia lain yang lebih besar lagi?" . dini kembali bertanya.
"ada, dan kau pasti akan kaget jika mendengar nya, aku akan meminta adik mu untuk membawamu keluar dari rumah itu, Karna ayah dan bunda mu sedang berada di luar kota, maka tak mungkin kau keluar sendiri, apalagi jika pria itu tau".
setelah mendengar penjelasan Reza , dini langsung memutuskan sambungan telepon nya. agung dan Cindy harus berangkat ke Singapura selama 2 Minggu , demi kepentingan bisnis mereka, itulah mengapa Joyo bisa bertindak sesuka hati pada dini.
sementara di rumah skit jiwa, lusi terdiam ketika melihat elang dan Fajrina di hadapan nya. ia tak ingat apa yang telah terjadi padanya, dan mengapa ia bisa berada di rumah sakit.
"apa keadaan mu sudah lebih baik?". Fajrina menatap Lusi.
"aku baik-baik saja, mengapa aku berada di sini?". Lusi bertanya pada Fajrina.
"apa kau tak ingat, apa yang telah kau lakukan?". Fajrina mengalihkan pandangan nya ke elang, ia bingung, mengapa Lusi bisa lupa atas apa yang telah ia lakukan sebelum ia di bawa ke rumah sakit itu.
"memang nya aku kenapa?". Lusi menatao elang bingung.
"kau mengamuk, dan hampir saja membunuhku". elang menyeringai, ia bisa membayangkan jika ia benar-benar menikahi wanita itu.
"sudahlah, tak usah di bahas, sekarang yang terpenting kesehatan mu terlebih dahulu, jika kau tak sehat akan berdampak pada kandungan mu nanti". Fajrina mencoba menenangkan Lusi, ia tak mau jika Lusi kembali lepas kendali.
"tak usah sok khawatir, lepaskan topeng mu, kau wanita yang sangat munafik". Lusi menunjukan ekspresi tak suka ketika Fajrina mengkhawatirkan keadaan nya.
"kau orang yang paling tak bisa di kasihiani rupanya". elang menatap Lusi, ia tak suka Lusi menghina istrinya.
"terserah kalian, aku ingin pulang, sekarang".
"kau tak bisa pulang sebelum keadaan mu t
benar-benar stabil". Fajrina kembali mencoba menenangkan Lusi
__ADS_1
"tak perlu bersandiwara Fajrina". Lusi bedecak marah, kemudian ia bangun dan berjalan ke arah pintu.
"kau mau kemana?". ujar seorang dokter , dokter itu datang untuk memeriksa keadaan Lusi.
"bukan urusan mu dokter". Lusi terseyum sinis, kemudian mendorong dokter wanita itu.
"tentu saja ini urusan ku, kau kembali ke kasur mu". dokter wanita itu memegang lengan Lusi.
"lepaskan aku!". Lusi berteriak, terikan nya membuat beberapa perawat pria mendatangi dan memegang lenga nya.
"bawa dia kembali ke ranjangnya". perintah dokter wanita itu kepada para perawat yang tegah memegangi lengan Lusi.
"lepaskan aku, sialan ". Lusi berteriak dan memciba untuk memberontak.
"aku akan melepaskan mu, dan membiarkan kau pulang setelah aku rasa kau sudah lebih baik dari sekarang". Lusi di tarik paksa. sebenarnya Fajrina tak tega melihat keadaan Lusi, namun dengan keadaan yang seperti itu Fajrina merasa terlalu berbahaya untuk wanita itu.
"aku baik-baik saja, aku merasa sehat.. mengapa kau memperlakukan aku seperti ini". Lusi kembali mencoba untuk melepaskan diri
"tenang lah dulu". elang melangkah mendekati Lusi, kemudian membelai rambut wanita itu. elang mencoba sebisa mungkin agar Lusi tenang. dan dia berhasil
"aku ingin pulang elang, aku merasa tak tenang berada di sini". mata Lusi berkaca-kaca. Lusi merasa kejadian di Australia kembali terulang. ia tak mau ada di rumah sakit jiwa itu terlalu lama.
"kau akan pulang jika keadaa mu lebih baik dari sekarang". elang kembali membelai rambut Lusi, kali ini Fajrina menatap elang dengan tatapan yang tak bisa di artikan sama sekali.
elang sedang fokus pada Lusi, hingga tak memperhatikan bahwa Fajrina sedang cemburu.
"bawa aku pulang elang, aku tak mau berada di sini". Lusi mulai terisak, wanita itu lantas memeluk elang, ia mencari perlindungan.
"kau tenanglah dulu, ok.. aku akan membawa mu kembali ke apartemen mu, jika kau berjanji untuk mencoba lebih tenang dari ini". melihat suaminya di peluk Lusi membuat hati Fajrina panas. ia sangat cemburu.
__ADS_1
akhirnya Lusi terlihat lebih tenang, kemudian dokter wanita itu memberikan obat pada Lusi, dan Lusi dengan cepat meminumnya. Lusi tersenyum pada elang. ia merasa sangat bahagia, elang sangat lembut padanya saat ini.
elang menatap Lusi, ia merasa sangat kasihan pada wanita itu. namu ketika ia berbalik, ia bisa melihat Fajrina melengos dan tanpa berkata apa-apa Fajrina berjalan meninggalkan ruangan itu.