DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
TAK INGIN BERCERAI


__ADS_3

fajrina tertegun menatap elang menangis sambil terus saja memegangi kakinya. Sebenarnya hati fajrina sangat tak tega karna membuat pria yang sangat ia cintai menjadi seperti itu. namun ini lah yang fajrina inginkan, ia ingin elang lebih menghargai dirinya.


"hentikan elang". ujar fajrina sambil menarik kakinya.


"jangan tinggal kan aku sayang". renggek elang.


"sudah ada lusi di sisi mu, kau bahkan menikmati kebersamaan kalian, semenjak kalian bersama kau bahkan kau sama sekali menganggap aku tidak ada lalu sekarang kau merengek padaku setekah aku kehilangan bayi ku". ujar fajrina, ia sangat tenang ketika mengatakan hal itu.


"bayi kita sayang.. iya aku tau aku bersalah padamu, aku sangat tau.. aku sudah menalak lusi kemarin, aku buktikan bahwa hanya kau yang aku butuh kan". elang kembali memohon pada istrinya.


"kau selalu seperti itu elang, apa kau lupa kalian begitu mesra, kau bahkan tak pernah semesra itu terhadap ku".


"aku melakukan itu hanya untuk membuatmu merasa cemburu sayang, hanya itu.. percayalah sayang". elang kembali memeluk kaki fajrina, ia bahkan terisak.


"tapi caramu salah, kau tau aku tak suka". fajrina melengos, ia ingin tertawa. di ambang pintu telah berdiri ustad dzaki. tapi fajrina memberi isyarat pada ayahnya, agar ayah nya mengikuti sandiwara fajrina.


tadi malam fajrina telah mengatakan pada sang ayah bahwa ia tak ingin bercerai dari elang. ia ingin kembali memberikan kesempatan pada pria itu. fajrina sangat mencintai elang, jadi ia tak mau berpisah dengan pria itu.


fajrina memohon pada sang ayah agar mau memaafkan suaminya. bahkan fajrina tau bahwa semalam elang telah mengantar lusi ke apartemennya. lusi terlihat kacau, ia bahkan meraung saat elang menyeretnya keluar dari kediaman manggala.


ia sebenarnya merasa kasihan pada lusi, namun apa yang lusi lakukan sudah sangat keterlaluan. ia bahkan melaporkan segala sesuatu yang terjadi pada fajrina dan elang ke sang ayah.


"lepaskan putri ku elang". mendengar suara ayah mertuanya membuat elang kaget, ia langsung mengangkat kepalanya lalu langsung menatap ustad dzaki.


"tidak abi, aku tak mau". seperti anak kecil elang menghentak kan kakinya berkali-kali. elang merasa bahwa posisinya sebagai suami fajrina terancam.ia tak mau berpisah dari wanita itu.


"kau harus mau, terima atau tidak". elang berhadapan langsung dengan ustad dzaki, hingga ia membelakangi fajrina. fajrina terseyum, rupanya sang ayah sangat bisa di ajak kerja sama.


"tidak abi" elang langsung memeluk kaki mertuanya.

__ADS_1


"harus, dan tolong lepaskan kakiku". ustad dazki mengusir elang . namun pria itu tetap tak mau melepaskan keki ustad dzaki. is seperti anak kecil ketika tak di belikan mainan yang ia inginkan.


fajrina hampir saja tertawa ketika melihat elang seprti itu . pria yang terkenal sangat tegas dan tampan itu bak anak kecil di hadapan ayahnya.


"tidak abi, pokoknya aku tak mau bercerai dengan fajrina. tidak mau, kalau aku harus bercerai dengannya maka aku mati saja". elang berkata dengan sangat serius. ia langsung berbalik menatap fajrina. fajrina langsung membuang muka nya, ia takut elang menangkap basah dirinya yang tengah terseyum.


"pria sepertimu tak pantas untuk di maafkan" . dini masuk, bagi elang kedatangan dini bagai api yang dapat menbakar sumbu dan kapan pun bisa menghanguskan elang kapan pun ia mau.


"kenapa kau kesini". elang menghentikan tangisnya kemudian ia melengos, ia tak mau melihat kakaknya.


"aku mau melihat keadaan adik iparku". ujar dini enteng.


"ia akan berhenti menjadi adik iparmu jika kau tak berhenti memojok kan ku". elang kesal sekali melihat dini.


"aku akan mengenalkan nya pada teman-teman ku jika kalian sudah bercerai". mendengar ucapan dini menbuat elang tambah panik.


"kau, tega sekali". elang langsung berdiri dan berjalan mendekati fajrina.


"aku tidak perduli". mendengar ucapan fajrina membuat elang menghembuskan nafasnya dengan berat. ia pasrah, kemudian berjalan menuju jendela.


"apa kau fikir aku bercanda?". ujar elang. melihat elang yang sudah sampai di depan jendela membuat fajrina panik.


"apa kau ingin mengakhiri hidup mu elang, apa kau tau bunuh diri merupakan sebuah dosa besar elang, dan kau pikir setelah kau mati aku dan fajrina akan memaafkan mu". elang terdiam kemudian ia menundukan kepalanya.


"lalu apa yang harus aku lakukan abi?, aku tak bisa melihat fajrina pergi dari ku, aku tak sanggup". ujar elang


"apa kau yakin elang, kau bahkan mendiami fajrina selama seminggu". dini terseyum mengejak


"jangan memperburuk keadaan kak dini, lebih baik kau pergi saja dari sini". elang bedecak kesal pada dini, ia kemudian menghubungi reza, agar pria itu cepat-cepat membawa istrinya pergi.

__ADS_1


"maaf elang, aku sedang meeting menggantikan mu, apa kau lupa". jawab reza di sebrang sana.


"istrimu membuat diriku dalam kesulitan reza, selesai meeting langsung kesini". ujar elang sambil menutup teleponnya.


"semesta ku sangat pintar". dini kembali terkekeh.


"diam kau". ujar elang.


"jaga sopan santun mu, dia kakak mu elang". ustad dzaki menegur anak menantunya itu.


"maaf". untuk pertama kalinya elang mengatakan kata maaf pada kakaknya dan itu membuat dini terlihat sangat bahagia.


"bagus". ujar dini sambi menepuk-nepuk punggung elang.


"kau pulang lah elang, aku akan menemani putriku di sini, dan nanti sore kemungkinan aku akan membawa nya kembali ke rumah ku". ustad dzaki tersenyum puas apalagi saat melihat ekspresi elang.


"tidak, aku ikut pokoknya aku ikut". elang kembali merengek.


"apa-apaan kau elang, fajrina sudah tak mau dengan mu, kenapa kau masih saja memaksa". dini terkekeh sambil menepuk pundak elang.


"terserah, pokoknya aku akan terus di sini, aku juga akan ikut abi dan istriku ". elang berjalan mendekato fajrina, kemudian kembali memegangi kak fajrina.


"lepaskan elang, kau berat". ujar fajrina.


"sayang, apa kau tak lagi mencintai aku?, apa kau sudah menyerah akan pernikahan kita". sekarang wajah elang benar-benar seksi dan menggemaskan.


"hmm.. aku bingung harus mengatakan apa elang..". fajrina menghela nafasnya kemudian menatap pria yang sedang menegangi kakinya itu.


"katakan lah sayang, aku rela kehilangan apapun asal jangan kehilangan mu, beri aku kesempatan sekali lagi, aku tak kan mengecewakan mu, aku berjanji". ujar elang dengan mata yang berninar.

__ADS_1


"akan aku pikirkan lagi". fajrina kembali menggoda elang.


"aku akan mati jika begini". elang menundukan kepalanya, ia tak mau menatap fajrina. apalagi ustad dzaki, pria tua yang merupakan mertuanya itu terlihat sangat galak tak seramah biasanya.


__ADS_2