
Pagi itu mereka berempat terlihat sangat bahagia, elang akhirnya bisa membuat istrinya tak berdaya, tapi bukan itu masalah nya. Namun elang akhirnya bisa bercinta dengan Fajrina di saksikan oleh keindahan bulan dan alam di sekitarnya.
Fajrina pun terlihat bahagia, Karna ia bisa melayani suaminya dengan baik. Ia bahkan rela mengikuti semua kemauan elang, semua gaya yang di pinta elang ia lakukan, dan Fajrina melakukan nya dengan sangat profesional.
Dini dan Joyo juga merasa bahagia, krna setelah beberapa bulan akhirnya mereka bisa kembali mereguk kenikmatan yang telah mereka idam-idam kan. Reza terus terseyum, jemarinya memainkan jemari dini di kolong meja.
Reza membiarkan hal itu.
"Setelah makan, kita kembali ke Jakarta, ada beberapa hal yang harus kita selesai kan". Ujar elang sambil menggenggam jemari Fajrina.
"Kau benar, aku juga ingin langsung mendaftarkan perceraian ku dengan Joyo, aku sudah tak sabar untuk menceraikan pria itu". Dini sangat antusias jika membicarakan soal perceraian. Ia sudah tak sanggup bertahan sebagai istri Joyo.
"Kau akan mendapatkan apa yang kau ingin kan kakak, aku akan memberikan pengacara terbaik di perusahan ku untuk mengurus perceraian mu dengan pria itu". Ujar elang sambil mengunyah sarapan nya.
"Namun, bagaimana dengan Lusi, apa kau akan tetap menikahinya? Sedangkan kita semua yakin, anak yang di kandung wanita itu bukan anak mu". Lusi menatap elang, ia sungguh kasihan pada adiknya serta iparnya itu. Bagaimana pun juga semua ini adalah kesalahan nya. Andaikan saat itu ia tak mengajak Lusi bekerja sama, keadaan tak kan semrawut seperti sekarang.
"Aku sudah meminta pertolongan Hendrik, jadi kau tenang lah". Ujar elang.
"Kalian harus secepatnya mencari bukti jika itu bukan anak elang , jangan sampai kalian terlambat, wanita itu sangat jahat, aku masih ingat bagaimana ia melukai aku". Dini mengingat kejadian 3 bulan yang lalu ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Lusi dan Joyo bercinta, bahkan bagaimana sadis nya Lusi memukuli nya tanpa rasa iba.
"Tenang lah kak, kau tak perlu memikirkan hal itu, yang harus kau pikir kan adalah perceraian mu dengan Joyo dan juga bagaimana caranya agar kau bisa membuat pria bajingan itu mendekam di penjara". Elang kembali menanggapi kata-kata sang kakak.
"Kau benar elang, namun hanya dengan bercerai saja aku akan sangat bahagia, ia tak perlu di penjara, aku kasihan pada istri dan anak nya". Dini menghela nafas, rasa keibuan nya timbul ketika mengingat Tiara. Pantas saja Joyo selalu meminta dini meminum pil kontrasepsi, rupanya memang sejak awal Joyo tak menginginkan anak darinya.
Selama 7 tahun pernikahan mereka, dini hanyalah alat penghasil uang untuk nya. Ia bahkan meminta dini agar suaminya itu di berikan posisi yang bagus serta gaji yang besar. Karna di butakan oleh cinta dini bahkan tak pernah mempermasalahkan soal gaji pria itu. Karna dini telah mendapatkan keinginan dan kebutuhan nya dari sang ayah. Maka dini tak berminat dengan uang yang tak seberapa itu.
__ADS_1
"Untuk hal itu terserah padamu kak, aku akan selalu mendukung mu". Elang tersenyum, kemudian ia menangkap hal yang aneh di antara dini dan Reza. Ia menatap leher Reza, leher itu terlihat merah sama persis dengan hasil kissmarks nya di leher Fajrina.
"Ada apa?". Reza bertanya ketika ia melihat tatapan menyelidik dari elang.
"Lehermu?,". Tanya elang, dengan sangat tenang Reza terseyum dan menghela nafasnya.
"Di sini banyak sekali nyamuk, nyamuk hutan besar-besar, sepertinya aku di gigit oleh salah satu nyamuk betina penunggu hutan ini, ini sangat gatal dan menyiksa". Reza menggaruk tepat di atas kulitnya yang memerah.
"Ah, kau benar". Elang setuju, Karna semalam nyamuk-nyamuk itu mengganggu aktifitas bercinta nya dengan Fajrina.
"Apa kau tak menutup pintu dan jendela mu yang berhadapan langsung dengan hutan itu". Akting dini kali ini lebih bagus dari sebelumnya.
"Ya aku lupa menutup jendela ". Reza tersenyum.
Ia berjalan dengan tertatih, tubuh nya remuk redam, luka yang di tinggalkan Joyo juga mulai membiru, ia sudah tak sadarkan diri selama 2 hari. Namun Joyo sepertinya tak ingin menolong dirinya. Ia kemudian berjalan ke luar kamar, Vivian melihat sang putri tengah asik mengobrol dengan suaminya.
Vivian sangat merasa kecewa, Joyo bahkan membiarkan dirinya tak sadarkan diri semala dua hari di lantai. Mata Vivian berembun, ia hampir saja menangis ketika mendengar suara khawatir keluar dari mulut Tiara
"Mamah, apa mamah baik-baik saja". Ujar Tiara sambil berjalan mendekati ibunya
"Mamah tidak apa-apa sayang, kau sedang melakukan apa?". Vivian membelai rambut Tiara, namun matanya jelas menatap Joyo dengan tajam.
"Aku baru saja selesai makan". Tiara terseyum, namun tidak dengan Joyo. Pria yang telah hidup bersamanya bersama 7 tahun itu telah menjelma menjadi sesosok iblis yang sangat menakutkan. Joyo yang selalu lembut dan manis itu tega menghajar dirinya tanpa ampun dan belas kasih.
Tatapan mata Joyo begitu menyeramkan, Vivian menundukan kepalanya, ia tak mau berlama-lama menatap suaminya. Jika Joyo kembali menghajarnya sudah bisa di pastikan Vivian akan meregang nyawa di tangan suaminya.
__ADS_1
"Mamah, mau makan dulu ya sayang, kau bisa bermain di luar". Vivian kembali membelai rambut putrinya, kemudian dia berjalan menuju dapur, dengan susah payah ia menyalakan kompor dan mebuat mie instant. vivian tak melihat ada makanan untuk nya di atas meja, jadi mau tak mau Vivian kali ini harus memsak untuk dirinya sendiri.
Vivian menyendok kan sesendok mie instant ke dalam mulut nya, namun Karna jemarinya sakit, ia tak bisa seluasa seperti biasanya. Jari kelingking dan jari maisnya bengkak, mungkin juga patah. Joyo menginjak jemari Vivian kemarin dengan sepatunya.
Belum hilang rasa laparnya, ia kaget ketika Joyo mengambil mangkuk itu dan menumpahkan isinya ke kepala Vivian. Rasa panas tiba-tiba saja Vivian rasakan, ia berteriak. Namun Joyo malah tertawa.
Vivian berjalan ke arah kamar mandi kemudian mengunci nya dari dalam, ia langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Akan ku bunuh kau Joyo". Ujar Vivian, ia mengetuk apa yang telah di lakukan Joyo padanya. Ternyata semua hal yang di ceritakan Fajrina benar adanya.
Joyo tertawa di luar, ia sangat bahagia Karna sudah berhasil menyiksa istrinya.
"Keluar kau ******, dasar wanita tidak tau diri". Joyo lantas memukul pintu kamar màndi itu. Sekuat tenaga Vivian menahan pintu itu, ia pasti mati jika ia membuka pintu itu.
"Apa salahku , aku telah melakukan apapun yang kau inginkan". Vivian beteriak dari dalam kamar mandi.
"Kau wanita bodoh, Karna mu semua impian ku musnah, kemewahan yang kudapatkan di rumah itu hilang begitu saja akibat ulah bodoh mu". Joyo kembali memukul pintu itu. Otak Vivian mulai berfikir, ia harus keluar dari rumah itu, kemudian ia menatap jendela di dinding atas kamar mandi itu.
Ia menaiki meja yang berada di samping wastafel, kemudian meraih pengait di jendela itu, ia menaikinya dengan susah payah, tepat ketika ia berhasil keluar dari sana, Joyo mendobrak pintu kamar mandi itu. Vivian berlalri sebisa mungkin, dari kejauhan ia melihat putriny.
"Mamah mau kemana". Tiara memeluk ibunya, ia menangis melihat keadaan ibunya.
"Ikut mamah, ayo kita lari.. ayah mu ingin membunuh mamah, ayo cepat". Vivian berlari bersama Tiara di sisinya. Dari dalam rumah Joyo meneriaki Vivian, ia mencoba mengejar wanita itu, namun sosok Vivian sudah menghilang di atara mobil yang berlalu lalang.
"Sial".
__ADS_1