
Lusi berteriak , ia terus saja memukuli dada elang. Sepertinya lusi tak lagi meminum obatnya.
"Sudah ku katakan padamu, minum obat mu". Elang menagkap pergelangan tangan lusi.
"Aku sama sekali tak lupa untuk meminum obatku, tapi kau yang selalu membuat bipolarku kambuh, kau Dan istrimu itu". Lusi menarik tangan nya dengan kasar.
" Jika kau Masih melakukan hal-hal yag memalukan, Dan Masih tak bisa mengendalikan dirimu , Maka dengan sangat terpaksa aku akan mengirimmu kembali ke rumah sakit jiwa".
" Memang itu tujuan mu sebenarnya kan elang, apa Salah ku padamu elang, hingga kau memperlakukan ini padaku". Elang tertawa mendengar ucapan lusi
" Ayolah lusi, jangan playing victim, kau menjebak ku , apa kau lupa.. kau bahkan mengaku telah hamil dengan ku, apa kau lupa? Kau sebisa mungkin sekuat tenaga, kau juga bahkan berfikiran jahat seperti itu untuk menghancurkan rumah tanggaku dengan fajrina".
" Aku melakukan itu Karna aku sangat mencintai mu elang , kau saja yang tak mengerti perasaan ku". Lusi mulai berderama, ia menangis meraung.
" Jika kau mencintai aku, kau tak kan mungkin tidur dengan mantan suami kakak ku, sudahlah tak usah bersandiwara begitu". Lama kelamaan elang semakin muak melihat air mata lusi.
" Aku begitu Karna kau menolak ku, aku hanya ingin membalaskan Rasa sakit Karna kau telah menolak ku elang, makanya aku melimpahkan itu semua pada dini". Tanpa rasa bersalah lusi mengatakan itu semua pada elang.
" Kau hanya sedang membelai dirimu, Dan alasan mu melakukan semua kesalahan itu hanya Karna aku menolak mu, luar biasa kau sangat keji".
" Semua Karna mu". Lusi kembali berteriak.
" Semua Karna latar belakang ku, perusahaan yang ku miliki Dan harta kekayaan keluarga ku, benarkah lusi.. mengakulah". Elang menatap tajam ke arah wanita itu.
__ADS_1
" Tidak elang, aku memang sangat mencintai mu". Lusi memohon Dan mengiba agar elang Mau mempercayainya, namun elang tak akan mempercayai apa yang di katakan oleh lusi .
"Sekarang begini saja lusi, jika kau Masih ingin tinggal bersama ku di rumah ini Maka jagalah sikap mu, hargai kedua orang tua ku juga keluarga ku, terutama fajrina.. dia lah orang yang paling kau sakiti, jika kau tidak Mau mendengar kata-kata ku, Maka aku akan mengirim mu kembali kerumah sakit jiwa itu ". Lusi merasa keberadaan nya terancam, ia belum berhasil membuat fajrina di tendang keluar Dari rumah itu.
Lusi kembali berfikir, dia harus mengalah Kali ini demi memisahkan elang Dari fajrina. Jika ia kembali ke rumah sakit jiwa, ia tak kan mendapatkan kesempatan lagi seperti saat ini.
"Baiklah elang, aku akan menjaga sikap ku". Tentu saja elang tak kan percaya begitu saja. Ia akan terus mengawasi lusi, jangan sampai wanita itu merusak kebahagiaan rumah tangganya.
"Aku pegang kata-katamu, jangan kau ulangi lagi". Elang langsung meninggalkan lusi di kamarnya. Setelah elang keluar lusi langsung menghubungi joyo. Ia menceritakan apa yang ia alami tadi.
Setelah meninggalkan lusi, elang langsung mencari keberadaan fajrina. Ia mengelilingi rumah namun tak juga menemukan sosok istrinya.
"Apa kau mencari fajrina?". Ujar Cindy ketika ia bertemu elang di tangga.
"Ada di mana istriku, bunda".
Perlahan pria itu membuka pintu kamar orang tuanya, di atas sofa ia bisa lihat fajrina sedang menangis tersedu. Elang merasa sangat bersalah melihat Hal itu.
" Kenapa kau menangis". Ujar selang sambil duduk di samping fajrina
" Aku hanya sedang sedih saja". Fajrina langsung menyeka air matanya, kemudian tersenyum menatap elang.
" Maafkan aku sayang, aku tak brmaksud memarahi mu tadi".
__ADS_1
" Tak masalah elang, aku Tau semua ini terjadi Karna ulah ku, aku yang bersalah elang makanya sangat lah pantas jika aku mendapatkan teguran Dari mu". Elang merasa semakin bersalah ketika melihat istrinya tersenyum menahan Luka.
" Ini semua salahku, seandainya saat itu tak lebih berhati-hati malas semua ini tak kan terjadi, aku pasti tak kan menikahi lusi ". Ujar elang
" Elang, kau harus bersikap adil pada ku Dan lusi , bagaiamana pun kau tetap suaminya , terlepas siapapun anak yang ada di perut lusi, kau tetap suaminya.. temanilah ia tidur elang, tak perlu menyentuh nya namun berilah kasih sayang Dan perhatian yang sama antara aku juga lusi". Mendengar itu elang menjadi gusar, ia tak sanggup berbagai tempat tidur dengan lusi . Bahkan ia tak ingin, apalagi berpura-pura perhatian pada wanita itu.
"Aku tak bisa". Ujar elang
"Kau harus bisa, kau harus mencoba hidup dengan nya, Maka untuk itu aku akan kembali ke rumah orang tua ku elang, sampai kau terbiasa dengan lusi". Rahang elang mengeras ia terlihat sangat marah.
"Jadi kau Mau meninggalkan aku demi wanita itu lavender". Elang lantas berdiri , namun lavender langsung menarik jemari elang.
"Aku tak bermaksud meninggalkan mu elang, namun sadarkah kau, apa yang kita lakukan pada lusi Salah Dan kau sebagai suami sudah mendzolimi istrimu sendiri dengan bersikap cuek Dan acuh ". Lavender berusaha mencoba membuat elang mengerti.
"Kau tak perlu kembali ke orang tuamu, tetap lah di rumah ini, Maka demi mengikuti anjuran mu, malam ini aku akan tidur dengan lusi". Elang langsung menepis jemari lavender kemudian meninggalkan ia sendirian di Sana.
"apa kau tak menyesal akan keputusan mu ?". dini memeluk tubuh fajrina , gadis itu menangis.
"tidak, apa yang kulakukan sudah benar, elang tak bisa terus melakukan dosa, ia tak boleh tak adil pada istrinya, aku juga tak boleh menguasai elang". ujar fajrina, ia Masih terisak ketika ia mengatakan itu pada dini
"kau harus sabar, ini tak lama lagi fajrina.. kau akan menjadi istri satu-satu nya elang".
fajrina duduk di atas sajadahnya, ketika selesai berganti pakaian lalu meninggal kan kamar fajrina. elang berjalan menuju kamar lusi , sedangkan fajrina mulai membuka kitab suci al-quran yang selalu ia bawa itu kemudian mulai mebaca nya.
__ADS_1
elang sampai di depan pintu lusi , namun sebelum ia sempat menegatuk pintu itu, sang kakak menghampirinya.
"aku harap kau bisa memegang kepercayaan yang adik iparku berikan.. aku hanya akan memberitahu mu sekali ini saja elang, jika kau sampai kehilangan fajrina Maka aku pastikan penyesalan akan selalu membayangi kehidupan mu". ujar dini, sebelum ia meninggalkan elang , elang mencerna kata-kata sang kakak, namun bukan nya pergi Dari kamar lusi , elang malah memebuka pintu kamar itu kemudian menutupnya.