DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
ELANG MANGGALA PRAWIRA


__ADS_3

Elang Manggala prawira merupakan putra dari pengusaha properti paling kaya di Asia. Mereka memiliki puluhan hotel bintang 5 yang tersebar di seluruh asia. Bahkan mereka memiliki beberapa rumah sakit internasional di beberapa tempat. Orang tuanya bernama agung Manggala putra & Tiara Cindy Putri tharick. Ayahnya kelahiran Jogja asli sedangkan ibu nya memiliki darah Portugal.


Elang sangat tampan, ia memiliki wajah ibunya , sepak terjang nya dalam dunia bisnis tak di ragukan lagi, ia salah satu pria muda berpengaruh dalam dunia properti. Sedangkan sang kakak yang bernama dini merupakan gadis biasa dan terkenal senang menghamburkan uang.


Mereka kakak beradik yang berbeda sifat dan prinsip. Jika elang sangat hemat, dini sangat borons , jika elang sangat pintar maka dini akan sangat bodoh. Begitu seterusnya.


Setelah dini menikah 2 tahun lalu, agung sang ayah selalu memaksa elang untuk segera menikah. Sejak saat itu elang sangat sering membawa gadis ke rumah mereka. Namun tak satupun dari mereka di restui.


"Bukan gadis-gadis seperti itu yang ayah ingin kan". Ujar agung sambil membaca koran paginya


"Lalu ayah ingin aku memperistri wanita seperti apa". Elang sudah pusing dengan sikap orang tuanya


"Bunda mau wanita cantik berhijab, dengan latar belakang yang baik, tak perlu kaya atau pun modern seperti gadis-gadis yang sering kau bawa kesini". Ujar cindy sambil meletakan kopi di hadapan agung.


Rumah kaca itu terlihat indah, mereka memang sering menghabiskan waktu di sana, tapi tidak dengan dini. Dia hanya tau bagaimana cara menghabiskan uang dan berfoya-foya dengan suaminya.


"Aku tidak punya teman wanita yang berhijab bunda". Adam berteriak sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Bunda tidak bilang kau harus menikahi teman mu". Cindya menjawab


"Lalu aku bisa mendapatkan gadis seperti itu di mana, bunda tau sendiri ruang lingkup pekerjaan dan pergaulan ku". Elang menutup matanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa santai.


Cindi terseyum , namun tidak dengan agung


"Dengar kan aku elang, waktumu 2 Minggu, menikah dengan gadis yang sesuai kriteria kami, atau semua perusahaan atas namamu akan ku alihkan ke Kakak iparmu". Elang melotot.


"Ayah, apa yang ayah lakukan, perusahaan itu berkembang atas usahaku, kerja keras ku". Elang memandang tajam sang ayah.


Namun tanpa mereka ketahui, dini dan Joyo tengah menguping pembicaraan mereka.


"Kau dengar tadi sayang, ayahmu bilang jika dala waktu 2 Minggu adik mu tak menikah, maka semua perusahaan akan jatuh ke tangan ku". Joyo memeluk istrinya bahagia


"Kau benar sayang, elang tak kan menemukan wanita seperti itu". Dini satuju dengan suaminya


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang". Ujar Joyo.


"Menikmati hari-hari kita sayang sambil menunggu kejatuhan elang". Dini terseyum.


Siang itu elang sedang mengadakan pesta di salah satu club miliknya. Ia sudah hampir mabuk ketika salah seorang teman nya menghampirinya.


"Apa kau sudah menemukan gadis yang tepat". Ujar capung padanya

__ADS_1


"Belum..". Elang menghembuskan nafas berat.


"Sulit menemukan gadis seperti itu, lihat saja, kita selalu menghabiskan waktu di tempat sperti ini, dan mana ada wanita berhijab dari keluarga baik-baik menghabiskan waktu di sini". Capung berkata sambil menuangkan segelas minuman beralkohol pada elang.


"Kau benar". Namun di tengah-tengah pembicaraan mereka ,tiba-tiba seorang bartender berteriak


Elang dan capung dengan cepat berlari menuju bartender itu. Sesampainya di sana elang bisa melihat salah satu temannya kejang-kejang, dengan mulut berbusa. Dengan jarum suntik masih menempel di lengan nya .


"****.." elang memaki. Namun dengan cepat mengangkat wanita itu . "Aku ingin rekaman cctv kejadian ini ada di meja ku besok, kalian mengerti". Elang berteriak pada semua karyawannya lalu berlari membawa gadis itu .


Capung mengendarai mobil itu secepat mungkin, Karna gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan busà. Wajahnya pun sudah pucat.


Sesampainya di rumah sakit, elang langsung memapah wanita itu, dan di situlah ia bertemu dengan Fajrina, sang dokter muda.


"Dia kenapa?". Tanya Fajrina sambil memeriksa gadis itu.


"Dia overdosis". Jawab elang enteng. Fajrina menatap elang, lalu meminta staf administrasi rumah sakit menghubungi pihak kepolisian.


"Apa yang kau lakukan". Elang membentak Fajrina.


"Teman wanita anda oberdosis, saya rasa nyawanya tak kan tertolong , denyut nadinya sangat lemah, tangannya mulai membiru, saya tak mau mengambil resiko". Ujar Fajrina dengan wajah datar. Tak lama kemudian tanda-tanda kehidupan menghilang dari gadis itu.


"Dokter, dia sudah meninggal dunia". Elang kemudian menatap wajah wanita yang berusaha ia selamatkan itu.


Elang menatap gadis cantik berhijab itu, ia bisa dengan jelas membaca nama yang tertera di jas kebesaran wanita itu


"Dokter Fajrina". Fajrina mengangkat kepalanya menatap elang. "Kita akan bertemu lagi". Ujar elang sambil berjalan ke arah administrasi sambil menunggu pihak kepolisian datang.


"Dokter itu sangat cantik". Ujar capung


"Iya, menurutmu bagaimana jika dia orangnya". Elang menatap ke arah Fajrina


"Dia tak kan mau menikah dengan pria seperti mu elang, sadar dirilah sedikit". Capung terbahak melihat tingkah laku sahabatnya itu


"Aku tau, mungkin jika aku melamarnya langsung ia tak kan menerima ku, tapi besar harapan jika aku melamar langsung ke orang tuanya". Elang terseyum dan menatao capung.


"Kau mengenal orang tuanya". Capung balik menatap sahabatnya


"Iya, orang tuanya guru mengaji kedua orang tua ku, aku sudah bebarapa kali melihat gadis itu, namun ia sama sekali tak pernah melihat ku". Elang berkelakar


"Benarkah? Artinya hanya dia yang tak tertarik pada mu elang, luar biasa sekali".

__ADS_1


"Mungkin sudah ajaran orang tuanya agar selalu menundukan pandangan ny". Ujar elang.


"Tetapi ia tadi menatap mu tajam".


"Itu beda cerita, ia bekerja di sini, sangat tak mungkin jika ia tak menatap para pasien nya". Capung mengangguk kan kepala nya tanda ia mengerti situasinya.


"Baiklah, kau akan memulai nya dari mana?" Capung kembali bertanya


"Aku akan mulai dari orang tuanya". Elang msih memandang Fajrina dari kejauhan. Dokter itu sangat cantik, tegas dan berwibawa. Usianya masih sangat muda tapi aura yang terpancar dari dirinya bukan aura yang biasa.


Ia mampu menaklukkan hati setiap pria, namun tak sembarang pria dapat menakhlukan nya.


Fajrina sangat terkenal akan kesantunan nya, ia sangat menjaga martabat sang ayah. Ia juga merupakan anak yang sangat penurut . Jadi tak kan sulit bagi elang untuk melamarnya. Tugasnya hanya satu, meyakin kan orang tua Fajrina bahwa ia serius dengan putrinya dan akan menikahinya.


"Jika kau mampu lakukan".


Elang dan capung kembali ke club' itu, pesat telah di bubarkan. Elang memasuki ruang cctv, dengan seksama ia memindai segala sesuatunya. Sampai di mana ia bisa melihat kedatangan wanita itu bersama dua orang pria .


"Kau lihat, obat-obatan itu di bawa dari luar, bukan dari tempat kita". Ujar capung ketika melihat salah satu pria memberikan obat itu.


"Sepertinya kita harus memperketat keamanan club', aku tak ingin nama baik club' ku tercoreng Karna hal ini". Elang menarik nafas panjang.


"Kau benar sekali, lalu bagaimana dengan wanita itu, apa kau tau nama dan alamatnya?". Capung mengambil sebatang rokok dan menghisapnya


"Aku sudah membayar semua biaya rumah sakit, aku juga menemukan kartu identitas wanita itu di dalam tasnya, usianya baru 16 tahun". Elang terbelalak


"Apa.. ".


"Ya 16 tahun, aku sudah menitipkan sejumlah uang pada pihak rumah sakit untuk di berikan kepada keluargany". Elang menatap capung tajam


"Panggil semua petugas keamanan, aku ingin memberikan peraturan baru pada mereka". Capung berdiri dan meninggalkan elang.


2 Minggu kemudian elang mendatangi rumah ustad Zaki, ia bertekad bulat akan melamar Fajrina hari ini, waktu yang di berikan orang tuanya sudah hampir habis.


Elang mengambil nafas panjang sebelum melangkah menuju pintu utama rumah itu, rumah sederhana namun indah. Elang ta Fajrina merupakan putri kesayangan dan kebanggaàn kelurga itu, jadi ia tak mau ada kesalah dalam hal ini.


Dengan gugup dan hati-hati elang mengetuk pintu rumah itu. Dan sangat kebetulan sekali bahwa yang membuka pintu adalah ustad Zaki.


"Assalamualaikum". Ujar elang


"Waalaikumsalam ". Ustad dzaki membalas salam elang.

__ADS_1


"Apa saya mengganggu waktu yang ustad saat ini". Dengan berhati-hati elang membuka pembicaraan.


Ustad dzaki terseyum.


__ADS_2