
"datang ke tempat ku, kau harus menjadi saksi atau perselingkuhan Joyo". Ujar elang saat Hendrik mengangkat panggilan teleponnya setengah jam yang lalu. Tanpa pikir panjang Hendrik langsung bergegas menuju tempat elang berada. Namun ketika ia melewati rumah orang tua elang, ia merasa harus mengikut sertakan dini.
"Ikutlah dengan ku kak, kau harus menceritakan segalanya pada ayahmu, bukan hanya elang saja yang dalam masalah, bahkan kekasihmu pun dalam masalah". Hendrik menatap dini. Sebenarnya dini takut jika Joyo tau maka video nya dengan Reza akan menyebar ke sulur negri itu. Namun semua itu harus di hentikan .
"Baiklah". Ujar dini.
Itu mengapa dini bisa datang di waktu yang tepat.
"Apa ini idemu". Elang menatap sahabatnya
"Ayahmu harus tau penderitaan putrinya, agar ia tak selamanya menjadi buta karna pria itu". Kata Hendrik sambil berjalan mendekati agung
"Kau, apa kabar". Agung menatap Hendrik
"Kabar ku baik-baik saja om". Hendrik menyalami agung kemudian dengan lembutnya mengangkat dini, agar dini berdiri dan mengajak dini duduk di samping agung.
"Terimakasih ". Ujar dini, agung kemudian memegang tangan dini.
"Mengapa kau tak memberitahu ayah dini, mengapa kau tak mengatakan yang sebenarnya". Agung bertanya kepada dini.
"Joyo mengancam ku akan menyebarkan video yang sudah ia rekam ayah, jika ia melakukan nya, hal itu akan mencoreng nama baik ayah dan keluarga besar kita, aku tak mau itu terjadi". Agung menunduk sedih, putrinya rela menerim kekerasan itu demi melindungi nama baik nya..
"Jadi Joyo memegang video itu sekarang".
"Ya ayah".
"Lalu Hendrik, apa yang ingin kau katakan padaku". Agung lantas menatap Hendrik.
"Joyo dan Lusi berselingkuh om, aku tak yakin anak yang di kandung Lusi adalah anak elang, aku sangat yakin, anak yang di kandung Lusi adalah anak Joyo". Hendrik kemudian menceritakan apa yang ia lihat di apartemen Lusi.
Agung tambah murka. Ia bingung harus berkata apa pada elang.
"Sekarang kau tau segala kebenaran nya bukan ayah, aku bilang pada Lusi akan menikahkan nya dengan elang 3 bulan lagi, aku ingin membuktikan terlebih dahulu jika anak yang Lusi kandung bukan anak elang, lalu bagaiamana cara kita mendapatkan rekaman itu dari Joyo, agar kita bisa melempar mereka berdua agar pergi jauh dari kehidupan keluarga kita ayah, aku mohon ayah mau bekerja sama, anggaplah ayah tak mengetahui hal ini, berpura-pura lah di Depan Joyo ayah". Fajrina menatap sang mertua.
"Baiklah". Kemudian ia menatap Reza.
__ADS_1
"Ayah, aku mohon restui kamu". Agung langsung mengalihkan pandangan nya ke arah dini
"Jadi kau ingin ayah merestui kalian". Agung bertanya kepada dini
"Dialah alasan ku untuk tetap bertahan ayah, aku bahkan hampir mengakhiri nyawaku karna ayah dan bunda tak lagi mempercayai aku, namun karna ia lah aku tak melakukan nya, ia memberikan kehidupan baru untuk ku ayah". Dini mencoba meyakinkan sang ayah
"Baik, aku akan merestui kalian, maka buktikan padaku bahwa kau layak mendapatkan restu dari ku ". Reza mengangkat kepalanya , ia menatap agung dengan penuh percaya diri.
"Aku akan melakukan yang terbaik ". Ujar Reza. Mereka semua terseyum, masalah dengan agung terselesaikan ..kini tinggal Lusi dan Joyo.
"Lalu bagaimana cara kita mengambil video itu dari Joyo". Ucap Fajrina
Mereka semua terdiam
" selama ini aku tak bisa menemukan kartu memori itu, aku sudah memeriksa seluruh kamarku, namun tak menemukan nya". Dini berfikir sejenak, kemudian menatap elang
"Sepertinya kartu itu ada di tempat Lusi ". Hendrik memotong pembicaraan mereka
"Kau benar ". Ujar elang
"Bagaimana caranya?". Elang menatap bingung Hendrik
"Elang, kau sangat naif.. asal kau tau saj, Lusi sangat tergila-gila padaku , aku akan mengambil kesempatan itu". Hendrik terseyum. Elang tau maksud Hendrik
"Terimakasih". Elang menepuk pundak Hendrik. Namun tiba-tiba fajrina memberikan sebuah foto pada dini.
"Kak, apa kau mengenal anak ini, aku melihat Joyo bersama anak ini di restoran tadi siang". Dini menatap foto yang di berikan fajrina.
"Aku tak mengenalnya ". Dini langsung mengembalikan ponsel itu ke fajrina.
"Lalu siapa dia". Fajrina menatap foto itu.
"Kita juga harus menyelediki gadis itu". Ujar elang.
"Kalian diam sebentar, aku ingin menghubungi Lusi". Hendrik mencoba menghubungi Lusi, namun tak lama panggilan telepon itu tersambung dan di angkat Lusi . Kemudian Hendrik memencet tombol speaker di ponselnya.
__ADS_1
"Halo, Hendrik".* Ujar Lusi
"Halo, apa kabar Lusi ". Hendrik mulai berbasa-basi .
"Aku baik, ada apa kau menghubungi ku". Lusi terdengar seperti sedang jual mahal.pads Hendrik
"Aku ingin bertemu dengan mu, bagaiaman jika malam ini kita bertemu". Ujar Hendrik, ia sangat to the points sekali
"Ada apa dengan mu Hendrik, apa kau baru menyadari bahwa aku menarik" . Lusi sangat percaya diri
"Kau benar, jadi aku ingin membayar rasa bersalahku padamu, kau bisa menemui ku". Hendrik terseyum menatap elang .
"Baiklah, aku akan memberikan kesempatan padamu sekali lagi". Kemudian Lusi menutup sambungan telepon itu
"Sudah ku katakan padamu". Hendrik menatap elang, elang menyesal dulu tak percaya pada Hendrik .
"aku dulu sangat mencintai Lusi, maka aku tak tau jika dia seperti itu ". elang menggaruk kepalanya yang tak gatal, namun tiba-tiba Fajrina memukul bahu elang dengan sangat kencang. elang mengusap bahunya dan langsung menoleh ke arah fajrina
"mengapa kau sangat kasar, bahuku bisa patah akibat pukulan mu". elang meringis menatap Fajrina, namun tatapan mata Fajrina seolah ingin membunuhnya.
"beraninya kau bilang kau begitu mencintainya di depan ku". Fajrina menggerutu. elang akhirnya sadar bahwa istrinya sedang sangat cemburu.
"aku bilang itu dulu.. dulu sebelum aku bertemu dengan mu, sangat tidak adil jika kau cemburu pada masa lalu ku". elang berujar sambil terus mengusap bahunya
"tapi bagaimanapun masa lalu mu sedang menghantam perahu yang sedang kita taiki sekarang, apa kau sadar itu". Fajrina mencibir kelakukan suaminya.
"baiklah-baiklah aku minta maaf". elang membelai punggung istrinya, namun Fajrina mundur, ia tak mau elang menyentuhnya.
"apa kalian tidak bisa bermesraan di tempat lain, kalian membuat ku merasa iri". Hendrik mendorong elang hingga pria itu terhuyung ke samping dana membentur tubuh Fajrina.
"sebentar lagi kau akan pergi berkencan Hendrik, bersabarlah". ujar elang sambil tertawa terbahak-bahak, ia sedang membayangkan bagaimana nanti Hendrik menghadapi wanita agresif seperti Lusi .
"hey, aku melakukan ini untuk kalian, seharusnya kalian berterimakasih padaku". Hendrik kemudian pamit pada agung, ia harus pergi, karna nanti malam ia harus bisa mendekati Lusi . itu satu-satu nya cara agar ia bisa mencari kartu memori itu di rumah Lusi.
"jangan kecewakan aku Hendrik".
__ADS_1