
"jadi, apa yang harus kita lakukan elang". Fajrina menatap Mata indah suaminya. Fajrina dapat menangkap aura kesedihan di mata itu meskipun elang tak memperlihatkan nya secara terang-terangan.
"aku akan meminta Reza untuk mempersiapkan pemakaman nya, dan untuk bayi itu.. bisakah kita melakukan test DNA sekarang". elang balik memandang Fajrina.
"tentu saja". Fajrina tersenyum kemudian berjalan meninggalkan elang dengan bayi mungil itu di tangan nya. di lorong Fajrina bertemu dengan capung juga Hendrik. mereka tersenyum secara bersamaan.
"bayi yang cantik". ujar capung sambil mengusap hidung bayi malang itu.
"kau mau kemana?". Hendrik menatap wajah sayu wanita yang pernah ia idolakan itu.
"elang memintaku untuk membawa semple darah bayi ini, ia ingin melakukan test DNA ".
"oh, ok". Hendrik mengerti ,ia kemudian pamit pada Fajrina.
Fajrina kembali melangkahkan kakinya menyusuri koridor , kini ia bertemu dengan Vivian
"gadis kecil yang malang". ujar Vivian
"kau benar". Fajrina terdengar sangat sedih.
"apa yang akan kau lakukan setelah ini, lalu bagaimana dengan bayi ini?".
"aku akan mengadopsinya, aku harap elang akan setuju". Fajrina terseyum. test DNA di lakukan langsung di depan Fajrina juga Vivian. bayi itu sangat mengerti situasi yang sedang ia hadapai. bahkan ia tak menangis ketika tajamnya jarum suntik mendarat di kulitnya
"kau lihat, dia tak menangis". Vivian tersenyum kemudian mengambil bayi itu dari tangan perawat yang sejak tadi memangku ya.
"dia sangat pengertian". mereka berdua kemudian tertawa. di kamar jenazah, elang tengah menghubungi Reza guna mempersiapkan pemakaman Lusi.
"lalu, apa jenazahnya akan di bawa ke rumah kalian elang?". capung berkata sambil menatap wajah Lusi.
"ya, ia tak punya keluarga di sini, dan aku belum bisa menghubungi ibunya". elang menghela nafas, ia merasa sedikit bersalah karna sering bersikap kasar pada Lusi.
"apa yang membuatnya meninggal?". gandrik menatap elang.
__ADS_1
"ada memar di beberapa bagian perutnya, aku pikir itu sebuah tendangan yang di lakukan Joyo sebelumnya, itu yang membuat ia kontraksi secara tiba-tiba kemudian tak sadarkan diri". kini Hendrik yang menghela nafasnya.
"mengapa ada pria seperti itu, lalu apa pihak kepolisian belum bisa menangkapnya?". capung ikut berkomentar
"entah, aku juga tak tau bagaimana cara kerja pihak kepolisian itu, lagi pula Joyo sangat cerdik". elang kemudian berjalan mendekati Lusi dan menutup kepalanya dengan kain.
"kasihan sekali dia , karna ambisinya memilikimu ia malah kehilangan nyawanya". capung menggelang kan kepalanya, ia tak habis fikir, pria seperti apa Joyo itu.
beberapa tahun lalu, capung mendatangai pesta pernikahan dini. Joyo yang ia ingat pria tampan dan lugu dari kampung, ia bahkan tak berani menatap langsung mata para tamu. bahkan dini terlihat lebih dominan.
Joyo beberapa kali terintimidasi , dini juga sangat kasar bersikap jika bersama dengan Joyo. ternyata pria lugu itu tidak ada, Joyo hanya menampilkan wajah yang penuh kepalsuan itu. semua yang ia lakukan hanyalah sandiwara semata.
tak lama kemudian, Fajrina dan Vivian memasuki kamar jenazah. namun ia tak membawa bayi itu ikut serta.
"apa kalian sudah makan?" Fajrina menatap ketiga pria tampan yang sedang berdiri di hadapan nya.
"kami sepertinya tak berselera untuk makan". ujar capung.
"baiklah". Fajrina tersenyum kemudian melangkah mendekati elang kemudian berbisik dengan pelan. "apa kau tak lapar".
"apa kau sangat sedih , sayang?". pertanyaan Fajrina tentu saja membuat Hendrik dan capung ikut menatap elang.
"sepertinya akan ada badai". bisik capung
"tidak, tapi perang dunia ke 3 akan segera di mulai". jawab Hendrik.
"apa kita harus pergi?". tanya capung
"tidak, mari kita menonton pertunjukan yang sangat jarang terjadi ini". mereka berdua terkekeh, itu membuat elang mengalihkan pandangan nya ke kedua sahabatnya itu.
"apa yang kalian tertawakan". elang mengerutkan dahinya.
"tidak". jawab mereka berdua bersamaan. elang kembali menatap istrinya, ada gurat cemburu dan kecewa di mata Fajrina. elang perlahan menarik nafasnya kemudian tersenyum.
__ADS_1
"apa kau tidak sedih sayang, meskipun ia kerap membuat onar tapi ia tetep bagian dari perjalanan rumah tangga kita, apa kau cemburu?". elang terseyum. namun senyum manis suaminya tak dapat menghilangkan kegundahan Fajrina.
"aku tak mungkin cemburu pada jenazah yang tengah terbujur kaku di hadapan ku, namun alangkah baiknya kau mengakui meskipun sedikit kau telah kembali mencintai nya.
"aku tidak mencintainya sayang". Hendrik berdehem kemudian berjalan mendekati elang.
"sudah jangan di perpanjang, lagipula orang yang sedang kalian bicarakan sudah tidak ada .. jadi bersikaplah dewasa". Hendrik tersenyum ke arah Fajrina pun juga elang.
"apa aku terlalu kekanak kan". Fajrina bertanya sambil memegang jemari elang.
"ttidak, tapi kau sangat manis". mereka kemudian tertawa, wajah Fajrina memerah malu. suaminya sangat tau bagaimana cara untuk membuat hati Fajrina berbunga.
"kau gombal sekali".
"tentu saja". beberapa saat kemudian ambulance yang akan mengantarkan jenazah Lusi ke kediaman Manggala sudah siap. sedangkan agung beserta Cindy telah mempersiapkan segalanya.
"kapan hasil tes DNA nya keluar". ujar elang, ia masih fokus menatap jalan di depannya.
"besok sudah keluar". balas Fajrina.
"lalu sayang, bagaimana dengan anak itu". elang menoleh menatap istrinya yang sangat cantik itu.
"apa bisa jika kita mengadopsinya elang?". Fajrina menatap elang, ada sorot mata penuh makna di sana.
"aku serahkan semuanya padamu sayang, tenanglah". elang tersenyum
"terimakasih sayang, aku tau kau pasti akan menuruti apa keinginan ku". para pelayat sudah berdatangan, pun dengan keluarga besar elang. setelah di mandikan ustad dzaki memimpin sholat jenazah siang itu. tak ada rasa haru terlihat dari para pelayat. mereka bahkan banyak yang mencemooh dan juga menghina Lusi. bagi mereka apa yang terjadi pada Lusi adalah balasan atas apa yang telah ia lakukan pada Fajrina.
"keluarga kalian sangat murah hati, kalian bahkan mengurus semua nya padahal kami semua tau apa yang telah di lakukan wanita ini pada menantu perempuan kalian". ujar salah satu sahabat agung.
"dia tidak punya keluarga di sini, jika bukan kami siapa lagi yang mengurus, namun bagaimana pun ia pernah menjadi anggota keluarga ku". dengan tenang agung menanggapi beberapa omongan tak mengenakan saat itu.
jenazah Lusi telah di kebumikan. Fajrina meneteskan air matanya, ia tak menyangka bahwa Lusi akan berakhir seperti itu. namun di antara pohon yang rindang, ada sorot mata kebencian dan senyum menyeringai menyeramkan menatap Fajrina.
__ADS_1
"oh, sayang.. aku akan mendapatkamu".