
Hendrik memapah Lusi yang sudah tak sadarkan diri, ia membantu Lusi masuk ke dalam mobil.
Dari kejauhan mobil Cyntia sudah siap di posisinya, ia akan mengikuti Hendrik dan Lusi. Ia berharap setelah ciuman itu tak ada lagi hal-hal menyakitkan lain nya.
Hendrik mengendarai mobilnya, sedangkan Cyntia mengikutinya dari belakang. Air matanya kembali menetes ketika Hendrik memasuki apartemen Lusi. Ia bahkan mengikuti Hendrik sampai Hendrik memasuki lift. Ia menatap lift yang perlahan naik itu, Lusi tau di mana letak apartemen Lusi karna elang pernah memintanya menemani elang untuk menjemput Lusi dulu.
Cyntia menaiki lift di sebelahnya. Ketika lift terbuka,ia melihat Hendrik memasuki apartemen Lusi. Cyntia terpaku kemudian berjalan mendekati unit Lusi. Ia akan menunggu sampai Hendrik selesai beraktifitas di dalam.
Dengan hati yang hancur ,Cyntia duduk termenung di depan pintu sambil memeluk dengkulnya .
Dalam pikirannya ia sedang membayangkan Hendrik dan Lusi sedang bercinta di dalam. Tanpa Cintya tau bahwa di dalam Hendrik sedang mencari kartu memory yang di duga di simpan di rumah Lusi.
Hendrik dengan perlahan dan dengan seksama mencari di semua tempat , namun ia tak menemukan kartu memori, bahkan kamera yang di pakai Joyo untuk merekam pun tak ada di sana.
Di tempat lain Fajrina sedang merajuk, ia marah pada elang, karna elang terang-terangan mengatakan bahwa dulu ia sangat mencintai Lusi
"Mengapa kau marah, aku sudah katakan berulang kali, itu dulu sayang.. dulu ". Elang terus mengikuti kemanapun Fajrina melangkah.
Fajrina sendiri sepertinya enggan dan tak mau menatap wajah elang, ia terlihat sangat murka .
"Tapi seharusnya kau menghargai perasaan ku, kau malah mengatakan hal itu secara terang-terang dan tanpa ras berdosa di hadapanku". Fajrina terus saja berjalan meninggalkan elang
"Aku hanya mencoba jujur sayang". Elang semakin lama semakin tak sabar menghadapi kelakuan kekanakan istrinya. Ia kemudian langsung mengangkat tubuh Fajrina kemudian melemparkan tubuh itu ke atas ranjang.
Elang langsung memegangi lengan Fajrina.
"Kau membuatku kehilangan kesabaran". Fajrina melengos
"Lepaskan aku". Ujar Fajrina
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu padamu, agar kau berhenti merajuk". Elang langsung membuka pakaian Fajrina satu persatu .
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan". Fajrina mencoba meronta ketika elang menciumi leher Fajrina. Fajrina berpura-pura sangat marah dan tak ingin di sentuh oleh elang.
"Tak usah bertanya, tak usah sok jual mahal, mulut mu berkata tidak tapi tubuhmu malah meminta lebih". Elang menyeringai. Wajah Fajrina merona menahan malu.
"Kau sok tau". Fajrina masih menyangkalnya.
"Benarkah". Elang terseyum. Fajrina masih tak mau menatap elang, sampai elang berhasil memasukinya. Dan ******* yang tak bisa di tahan itu akhirnya lolos begitu saja dari mulut Fajrina.
"Yang barusan bukti bahwa kau tak bisa menolak ku". Malam itu untuk membuat Fajrina berhenti merajuk, elang mengerahkan segala tenaga nya membuat Fajrina merasa terpuaskan di atas tempat tidur .
Elang dan Fajrina tengah menikmati surga dunia , sedangkan di tempat Lusi , Hendrik mulai frustasi , ia sudah mencari ke segala arah, namun hasilnya nihil. Ia sudah mencari selama 3 jam, dan selama 3 jam juga Cyntia menangis tersedu di luar pintu.
"Sudah 3 jam, apa yang kau lakukan di dalam sana selama 3 jam". Cyntia tak mau menunggu lebih lama, ia sudah bisa menebak apa saja yang di lakukan Joyo di dalam sana. Ia kemudian berdiri, namun ia tak sadar bahwa jam pemberian Hendrik saat ia ulang tahun terjatuh ketika ia berusaha berdiri.
Dengan hati yang amat terluka, Cyntia berjalan meninggalkan apartemen Lusi.
Hendrik menyerah, setelah pencarian nya ia pun menyerah, kemudian duduk di sofa. Ia akan pulang namun sebelum itu ia berjalan ke arah kamar Lusi, ia melihat wanita itu.
Hendrik mendekati Lusi, ia memalingkan wajahnya ia tak mau melihat tubuh Lusi , ia kemudian membuka seluruh pakaian Lusi, terakhir adalah benda segitiga itu. Keringat bercucuran di kening Hendrik.
Dengan jijik Hendrik membukanya, kemudian menutupi tubuh Lusi dengan selimut, ia mundur perlahan.
"Selesai". Ujarnya sambil mencari kertas dan pena, kemudian menempelkan sebuah pesan manis di pintu lemari Lusi.
Hendrik berjalan mendekati pintu kemudian membuka nya, ketika ia ingin melangkah pergi dia tak sengaja menendang sesuatu, ketika ia melihat benda itu akhirnya ia tau siapa pemilik jam tersebut. Ia terpana kemudian langsung berlari secepat mungkin.
Ia mencari-cari keberadaan Cyntia, namun ia tak menemukannya di mana pun, kemudian Hendrik meraih ponselnya dan menghubungi Cyntia , namun hasilnya nihil. Jangan kan di angkat, Cyntia bahkan mematikan ponselnya.
Hendrik kemudian dengan cepat mengendarai mobil nya, ia menuju rumah Cyntia, rumah sudah terlihat sepi, karna sudah pukul 2 dini hari , pasti keluarga Cyntia sudah tertidur .
Namun yang pasti , Hendrik tak menemukan mobil Cyntia terparkir di sana , itu berarti Cyntia tak ada di rumah itu.
__ADS_1
"Di mana kau". Ujar Hendrik frustasi. Entah mengapa Hendrik merasa harus meluruskan ke salah pahaman ini, padahal Hendrik sadar bahwa selain persahabatan tak ada lagi hubungan di antara mereka. Namun dalam hati , Hendrik harus tetap menjelaskan duduk perkaranya, agar gadis itu tak salah paham.
Hendrik menelusuri setiap jalan kita itu , ia berharap dapat menemukan Cyntia. Hendrik merasa sangat bersalah dan sangat khawatir .
Cyntia, gadis itu adalah sahabat elang dan dirinya, mereka bertiga seakan tak terpisahkan. Mereka membutuhkan satu sama lain, namun Hendrik bisa merasakan perasaan Cyntia padanya lebih dari itu. Namun Hendrik berusaha untuk membohongi drinya sendiri, mereka bersahabat. Persahabatan itu tak boleh pecah hanya karna perasaan cinta yang Cyntia miliki untuknya.
Cyntia sudah berkali-kali memberikan kode pada Hendrik, sebenarnya Hendrik sadar namun Hendrik pura-pura tidak mengetahuinya. Hendrik bahkan sebenarnya tak tertarik sama sekali pada gadis itu, baginya Cyntia adalah adik perempuan yang harus dia lindungi, bukan wanita yang harus di cintai.
Di sisi lain, Cintya tengah menatap jauh ke arah laut, angin laut yang begitu kencang terus saja menerpa rambutnya yang ikal dan panjang. Ia sangat cantik, ia tak mengerti mengapa Hendrik tak pernah tertarik padanya alih-alih malah tertarik pada Lusi.
Hendrik pernah bercerita bahwa Lusi mengungkapkan perasaan nya, namun Hendrik berkali-kaki menolak Lusi. Tapi sekarang mengapa Hendrik malah berciuman dan bercinta dengan Lusi. Air mata Cyntia kembali mengalir. Tanpa di duga beberapa pria mabuk tengah menatap lapar ke arah gadis cantik itu.
Setelah hampir 2 jam ia mengelilingi kota, hati kecilnya memanggil Hendrik untuk memasuki area pantai yang ada di depannya, dengan perasaan yang campur aduk antara khawatir dan takut Hendrik memasuki area pantai,benar saja ia mendapati mobil Cyntia terparkir Di sana.
Hendrik terseyum lega. Dengan cepat ia turun dari mobilnya dan berlari mencari keberadaan Cyntia.
"Siap kalian.. MUNDUR ". Cyntia bergerak mundur saat 5 orang pria mabuk berjalan mendekatinya
"Lihat, dia sangat cantik". Ujar pria yang terlihat paling muda di antara mereka ber 5.
"Ya kau benar, aku yang pertama yang boleh mencicipinya ". Kini pria yang berperawakan paling tinggi dan berbadan besar itu angkat bicara . Cyntia gemetaran, ia terus berjalan mundur dan dengan cepat berlari dari mereka .
Merasa buruan nya kabur, kelima pemuda itu mengejar Cyntia, Cyntia berlari secepat mungkin untuk menghindari mereka, namun Cyntia salah arah, ia malah memasuki area gudang.
"Ah kau tertangkap". Mereka tertawa. Gudang itu sangat sempit tak ada jalan keluar kecuali pintu yang tadi ia masuki.
"Tolong lepaskan aku". Cyntia mengatupkan kedua telapak tangan nya memohon agar ia di lepaskan
"Oh, aku akan melepaskan mu sayang, segala kau melayani kami berlima".
Hendrik terus berlari mencari keberadaan gadis itu, ia berlari mengikuti feeling nya, sampai ia menemukan sepatu flatshoes milik Cyntia. Hatinya merasa sangat khawatir. Ia menatap gudang yang tak jauh dari nya berdiri. Ia hendak meninggalkan tempat itu namun teriakan Cyntia membuatnya berbalik dan menatap gudang itu.
__ADS_1
Dengan perasan yang campur aduk, Hendrik berlari ke arah gudang lalu dengan sekali tendang pintu gudang terbuka .